RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label mengatasi krisis pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengatasi krisis pangan. Tampilkan semua postingan

Berita Pertanian : Pemerintah Harus Dukung Hortikultura Sebagai Subtitusi Beras

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,












Jakarta
.Pemerintah diminta lebih tegas dan mendukung upaya menjadikan produk hortikultura sebagai subtitusi pangan selain beras dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional. "Masih banyak kendala yang harus diselesaikan bersama antara pemerintah dan produsen kalau ingin menjadikan produk hortikultura sebagai subtitusi beras menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia," kata Ketua Asosiasi Produsen Benih Hortikultura Indonesia (Hortindo), Afrizal Gindow di Jakarta, Kamis (15/9).

Afrizal mengatakan, komoditas seperti jagung dan pisang bisa menjadi substitusi beras, sedangkan untuk sayuran dan buah-buahan menjadi pelengkap dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Sebelumnya dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional Kadin Indonesia mengundang Hortindo, praktisi industri hortikultura serta Dirjen Hortikultura Kementrian Pertanian dalam diskusi yang diselenggarakan Rabu (14/9).

Afrizal mengatakan, pemerintah sejak awal 2010 seharusnya telah mempersiapkan program pengembangan hortikultura sebagai subtitusi beras.

Dia mengingatkan, siklus perkembangan varian tanaman hortikultura lebih cepat dibandingkan padi sehingga membutuhkan riset yang kuat untuk mengasilkan bibit unggul yang tahan penyakit dan kuantitas produksi yang lebih baik.

"Kalau tanaman padi membutuhkan waktu lima tahun sebelum ditemukan varietas baru yang lebih baik. Sementara, untuk hortikultura hanya dalam hitungan bulan sudah bisa ditemukan jenis yang lebih unggul," ujar dia.

Afrizal juga mengungkapkan salah satu kendala yang membutuhkan dukungan pemerintah dalam pengembangan bibit unggul terkait biaya investasi yang tinggi. Untuk itu, pemerintah seharusnya lebih terbuka kepada investor asing di sektor hortikultura dengan tujuan agar tingginya biaya investasi untuk teknologi dapat diatasi.

Persoalan lain pemerintah haruslah mulai menyediakan lahan di dekat sentra perdagangan untuk ditanami produk hortikultura sehingga dapat mengurangi kesulitan transportasi.

"Seperti buah jeruk Indonesia selalu dianggap lebih mahal dibandingkan jeruk asal Cina. Hal itu semata-mata dipicu persoalan transportasi yang menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan," ujar Afrizal.

Studi Asian Foundation menunjukkan biaya transportasi di Indonesia bisa mencapai US$0,34 per kilometer padahal standar Asia US$0,22 per kilometer, jelas Afrizal.

Afrizal mengatakan Hortindo juga mendorong penerapan teknologi rumah plastik sebagai pelindung untuk meningkatkan produksi. Ia mencontohkan, cabai yang tidak diberi pelindung hanya sanggup dipanen 1-2 kali setahun sedangkan yang diberikan pelindung bisa mencapai 3 kali dalam setahun.

"Kalau dari sisi pendapatan tanaman cabai yang diberikan perlidungan untuk ukuran luas 1 hektare bisa menghasilkan Rp24-34 juta, sedangkan yang tidak dilindungi hanya mengasilkan Rp10-12 juta saja," kata Afrizal.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Hasanuddin Ibrahim mengatakan, Indonesia sudah saatnya memiliki produk-produk hortikultura unggulan untuk dikembangkan sehingga tidak lagi tergantung impor.

Menurut dia, produsen benih unggul hortikultura seperti PT East West Seed Indonesia (Ewindo) diharapkan menghasilkan produk unggulan seperti kita memiliki mangga Indramayu atau Thailand yang memiliki durian montong.

Kendala transportasi, menurut dia, merupakan persoalan yang harus dipecahkan untuk pengembangan hortikultura, faktanya perdagangan di dalam negeri Indonesia jauh lebih mahal dibanding luar negeri. (ant)

Kawasan Hutan Dapat Memperkuat Ketahanan Pangan Kalbar

Posted by Flora Sawita Labels: , ,













Pontianak
. Luasnya kawasan hutan di Provinsi Kalimantan Barat bisa memperkuat ketahanan pangan di provinsi itu kata, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Prof Dr Abdurrani Muin, MS.

"Untuk pencapaian ketahanan pangan dari hutan diperlukan perumusan kebijakan, evaluasi dan pengendaliannya melalui pemanfaatan potensi sumber daya hutan bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya di dalam dan sekitar kawasan hutan," kata Abdurrani Muin, di Pontianak, Senin.

Ia menjelaskan, tujuan dan sasaran pencapaian ketahanan pangan dari sektor kehutanan yakni memberikan informasi dan faktualisasi tentang kebijakan strategi serta implementasi kegiatan pembangunan kehutanan melalui penyuluhan berbasis pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan.

Langkah itu dilakukan guna mendukung terciptanya pengelolaan sumber daya hutan yang lestari dan ketahanan pangan nasional, melalui identifikasi potensi dan permasalahan strategi sektor kehutanan terkait ketahanan pangan nasional, pengembangan strategi kontribusi sektor kehutanan terhadap ketahanan pangan nasional yang komprehensif dan menyamakan persepsi para pihak yang peduli dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Menurut Abdurrani Muin, dengan kondisi saat ini, yaitu tingkat konsumsi masih di bawah kecukupan energi minimal (2.200 kilo kalori/hari dan protein sebesar 57 gram/hari per kapita. Di mana kondisi tersebut belum memenuhi kaidah gizi, baik dari segi kualitas maupun keragamannya serta akses masyarakat dalam memperoleh sumber pangan masih terbatas akibat kemiskinan maka harus ada upaya pengembangan strategi kontribusi sektor kehutanan terhadap ketahanan pangan.

Ia menggambarkan, realita dan persepsi tentang pangan dari hutan bahwa masyarakat sudah melakukannya secara tradisional sejak lama dan turun temurun.

Pola pemanfaatan beragam, mulai dari memanen langsung jenis-jenis komoditas hutan hingga mengusahakan lahan hutan untuk memproduksi pangan.

Ia mengingatkan sejak dahulu fungsi hutan begitu penting sebagai penyangga sistem kehidupan di mana peran hutan sebagai pengatur tata air, pengatur iklim mikro dan penyerap karbon serta sumber plasma nutfah baik flora maupun fauna.(ant)

Cetak Sawah bukan Solusi Peningkatan Produksi Beras

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

JAKARTA. Penambahan luas sawah baru dari 100 ribu hektare (ha) menjadi 200 ribu hektare tidak menjadi solusi peningkatan produksi beras.

Peningkatan produksi melalui penambahan cetak sawah baru tidak akan pernah berhasil selama tidak ada perlindungan lahan pertanian petani.

"Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memang harus melakukan pembenahan untuk peningkatan produksi. Namun, bukan melalui cetak sawah baru. Itu hanya kebijakan orde baru yang bersifat pragmatis," ujar pengamat agraria Gunawan Wiradi di Jakarta, Sabtu (16/7).

Permasalahan utama pertanian, lanjut Gunawan, adalah kepemilikan lahan pertanian yang sebagian besar dikuasai oleh perusahaan besar. Akibatnya, terus terjadi konversi lahan pertanian menjadi perumahan, dan pembangunan lainnya.

"Selama pemerintah tidak mampu mengendalikan laju konversi tersebut, usaha peningkatan produksi pertanian melalui cetak sawah baru akan sia-sia," tandasnya.

Berita Pertanian : BKP Medan Ajak UKM Kembangkan Tepung Mocaf

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , , , ,

Medan. Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kota Medan mengajak usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mengembangkan tepung Modified Cassava Flour (Mocaf). Hal ini diperuntukkan menjadi pengganti alternatif tepung terigu yang selama ini digunakan pedagang makanan ringan.
Kepala BKP Kota Medan Eka R Yanti Danil, mengatakan, pembuatan tepung mocaf sangatlah mudah dan tidak memerlukan biaya produksi yang mahal.

"Potensi pasar besar mengingat perbedaan harga antara tepung mocaf dengan terigu sekitar Rp1500 per kg, sehingga bisa membuat pedagang makanan ringan tertarik dan beralih dari terigu," ujarnya, Rabu (6/7).

Dikatakannya, tepung mocaf memiliki prospek pengembangan yang bagus dilihat dari ketersediaan singkong sebagai bahan baku yang berlimpah. Ini sangat memungkinkan terjadinya kelangkaan produk dapat dihindari.

Selain itu, harga tepung mocaf relatif lebih murah dibanding dengan harga tepung terigu maupun tepung beras, sehingga biaya pembuatan produk dapat lebih rendah. Harga Mocaf Rp5.500 per kg, sedangkan terigu Rp7.000 per kg.

"Pasar lokalnya sangat prospektif karena begitu banyak industri makanan yang menggunakan bahan baku tepung," ucapnya.

Hal ini tentunya, lanjut Eka, memberikan peluang bisnis yang besar bagi pengembang tepung mocaf, karena hal ini dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi industri pengolahan makanan nasional.

"Jenis dan karakteristik yang hampir sama dengan terigu, namun dengan harga yang jauh lebih murah membuat tepung mocaf menjadi pilihan yang sangat menarik," katanya.

Tim Teknis Dewan Ketahanan Pangan Kota Medan, Prof Posman Sibuea, menyatakan tepung mocaf dikenal sebagai tepung singkong yang dimodifikasi sebagai alternatif pengganti terigu.

"Tepung mocaf memiliki karakter yang berbeda dengan tepung ubi kayu biasa dan tapioka, terutama dalam hal derajat viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi dan kemudahan melarut yang lebih baik," jelasnya.

Secara umum, lanjutnya, bahan baku singkong yang digunakan bisa dari varietas apa saja namun lebih baik gunakan yang berkadar asam sianida rendah. Atau bahan baku singkong yang didapat dari daerah dataran tinggi akan menghasilkan randemen yang bagus dibandingkan singkong dari dataran rendah.

Untuk membuat 1 kg mocaf diperlukan sekitar 3 kg singkong, dan ini tentunya dapat mengurangi kebutuhan tepung terigu oleh masyarakat, Medan harus mampu mengembangkan salah satu komoditas pangan yang patut dipertimbangkan seperti singkong atau ubi kayu.

Menurutnya, prinsip pembuatan tepung mocaf dengan memodifikasi sel ubi kayu atau singkong secara fermentatif, sehingga menyebabkan perubahan karakteristik yang lebih baik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut.

Secara umum proses pembuatan mocaf meliputi tahap-tahap penimbangan,
pengupasan, pemotongan, perendaman (permentasi), dan pengeringan. Selama proses fermentasi terjadi penghilangan komponen penimbul warna, seperti pigmen (khususnya pada ketela kuning), dan protein yang dapat menyebabkan warna coklat ketika pemanasan.

Dampaknya adalah warna MOCAF yang dihasilkan lebih putih jika dibandingkan dengan warna tepung ubi kayu biasa dan juga berbau netral atau tidak berbau apek khas singkong," tuturnya.

Terpaksa, Petani Dukung Rencana Impor Beras

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,

Jakarta. Petani dapat memahami kesulitan pemerintah untuk menyediakan pasokan beras nasional. Sehingga meskipun berat, petani mendukung rencana impor beras yang akan dilakukan pemerintah tahun ini.

"Pemerintah harus menyediakan sekira 3,5 juta ton beras agar tidak lagi mengimpor beras, ternyata susah karena hanya bisa menyediakan 1,3 juta ton beras dan harus mengimpor beras sekira 1,5 juta ton. Petani keberatan, tetapi kami mencoba memahami alasan Bulog," ungkap Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, di Jakarta, Selasa (5/7).

Ia juga melanjutkan, jika rencana impor beras jadi dilaksanakan, petani mewanti-wanti pemerintah untuk mengatur pengeluaran beras sehingga tidak menghancurkan harga beras petani. "Transaksi impornya harus diatur, jangan langsung dikeluarkan ke pasar semuanya, jadi harga beras petani tidak jatuh," lanjutnya.

Meski begitu, dengan adanya rencana impor beras, pemerintah kelihatan tidak serius dalam menangani masalah pangan yang terjadi di Indonesia. "Kalau serius, pemerintah harus konsen di bidang permodalan bagi petani, pendampingan ke petani seperti bagaimana mereka menaklukkan perubahan iklim, dan jangan membuat bea masuk bagi barang-barang impor menjadi nol persen, itu membuat kita kebanjiran impor," tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan jika Bulog diberikan kewenangan untuk meningkatkan cadangannya demi menjaga ketahanan pangan.

Hal tersebut untuk mengantisipasi cadangan beras dalam negeri, dan jika memang diperlukan impor beras bisa saja dilakukan. "Kita akan meningkatkan stok Bulog, pengadaan maksimal dari dalam negeri. Tapi, dari mana pun kita ambil, kalau perlu dari luar," terang Hatta.

Lima Agenda

Pada kesempatan yang sama, Winarno Tohir juga mengungkapkan bahwa Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) yang diselenggarakan di Kutai Kartanegara akhir Juni lalu,dengan dihadiri ribuan petani dari seluruh Indonesia, telah merumuskan lima agenda penting untuk meningkatkan produk pertanian di Indonesia.

"Penas di Kutai Kartanegara kemarin, kita sepakat akan melakukan lima langkah untuk meningkatkan produktivitas pertanian seperti akses permodalan dan pembenahan pada distribusi pupuk," ungkap Winarno Tohir.

Ia melanjutkan, bahwa kelanjutan tataniaga hasil produksi pertanian, mengurangi kehilangan hasil panen dan terus berusaha meningkatkan potensi hasil pertanian adalah tiga resolusi KTNA selanjutnya. "Adaptasi terhadap perubahan iklim itu yang paling susah dan meresahkan petani," lanjutnya.

Menurutnya, Kementerian Pertanian (Kementan) juga telah menjanjikan pengefektifan beberapa program yang telah dilakukannya. "Asuransi gagal panen mencapai 70% dan pengintensifikasi Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang diberikan kepada Gabungan Kelompok Tani (Gubuktani) berupa pemberian hibah senilai Rp100 juta" tutupnya mengakhiri pembicaraan.

Berita Pertanian : Pemerintah Diminta Perhatikan Data Base Distribusi Pangan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Jakarta. Anggota Komisi IV DPR RI Ma`mur Hasanuddin meminta pemerintah agar memperhatikan data base pangan dan pola transportasi dalam penyaluran pangan antar provinsi di Indonesia.

Dalam siaran pers Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin, Ma`mur Hasanuddin yang juga anggota FPKS mengatakan, Prancis sebagai Ketua G20 untuk urusan pangan sudah mengajukan proposal untuk menerapkan data base pangan tiap negara guna memudahkan memetakan pola distribusi pangan global agar kondisi pangan dunia lebih terkendali.

Ia mengatakan, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 33 provinsi dan jumlah penduduk sekitar 237.556.363 jiwa (berdasarkan sensus penduduk 2010), dapat diumpamakan sebagai miniatur dunia.

Karena itu, katanya, untuk mengelola Indonesia, perlu menerapkan pola pikir seperti mengelola dunia, khususnya dalam masalah pangan.

"Apabila kemampuan Indonesia dalam memetakan data pangan dan mampu mendistribusikan hingga ke pelosok di tiap wilayah negara ini, sesungguhnya Indonesia layak untuk mengatur pangan dunia," ungkap Ma`mur.

Namun pada kenyataannya, kata dia, pengelolaan pangan di dalam negeri ini masih sangat banyak yang perlu dibenahi, terutama pada data base maupun sarana transportasi.

Pada 2010, lanjut dia, sering terjadi distribusi pangan lambat akibat kemacetan, terutama di daerah pelabuhan. Kondisi jalan yang buruk dan pengendalian kemacetan menjadi faktor utama pada lambatnya distribusi pangan.

"Kondisi penanganan pangan yang buruk dalam negeri ini, kemungkinan Indonesia belum dipercaya untuk memimpin FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada pemilihan tiga pekan lalu, padahal Indonesia mengirimkan kandidat," keluhnya.

Ma`mur juga mengingatkan pemerintah, terutama menjelang lebaran, pelanggaran-pelanggaran distribusi pangan harap diantisipasi. Tahun lalu, terbukti 510 sarana distribusi pangan melakukan sejumlah pelanggaran. Pengawasan Badan POM di 30 provinsi di Indonesia, mengawasi 1.950 sarana distribusi dan 26,15 persen melanggar atau sebanyak 510 sarana.

Pemerintah juga diminta tidak terlalu percaya diri untuk membuat target-target pertumbuhan ekonomi yang mencapai enam hingga enam koma lima persen. Kenyataan yang terjadi adalah tingkat pertumbuhan yang ada didominasi oleh pola konsumsi masyarakat, bukan atas kestabilan ekonomi.

Ma`mur mengatakan, pangan sangat menyumbang inflasi cukup signifikan. Terbukti di bulan juni 2011, inflasi yang di awal-awal pekan hanya nol koma satu hingga nol koma dua persen, namun di akhir bulan merangkak hingga nol koma lima persen akibat gejolak pangan.

"Perbaikan di semua aspek untuk mengendalikan pangan perlu dilakukan sangat serius seperti mengelola dunia, terutama pada aspek data base dan transportasi, akan sangat membantu Indonesia dalam mengendalikan pangan dalam negeri, sehingga kedaulatan pangan yang dicita-citakan bukan hanya mimpi belaka," pungkas Ma`mur Hasanuddin. (ant)

Peranan Berita Pertanian : Perguruan Tinggi Diperlukan Ciptakan Sumber Pangan Alternatif

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Medan. Peranan perguruan tinggi (PT) sangat diperlukan dalam menciptakan sumber pangan alternatif selain beras. Hal tersebut dapat memerangi rawan pangan dan kemiskinan di Kota Medan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kota Medan, Eka R Yanti Danil, mengatakan, pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang (3B) dan aman harus dapat dinikmati oleh masyarakat dalam jangka panjang dan berkesinambungan. Sehingga tidak akan ada kekhawatiran jika terjadi naiknya harga sari salah jenis pangan khususnya beras.

"Peran pemerintah daerah, perguruan tinggi, mahasiswa dan media pers sangat dibutuhkan untuk mengubah pola pikir masyarakat agar pangan pokok bukanlah beras saja melainkan ada alternatif lainnya dengan potensi gizi yang sama," ujarnya kepada wartawan, Senin (27/6) di Medan.

Dikatakannya, dengan keadaan produksi beras 32 juta ton, singkong 19 juta ton, dan jagung 13 juta ton per tahunnya dapat membuat Indonesia surplus pangan. Sebab pangan non beras akan tercipta dan merangsang produksi pertanian sehingga dapat meningkatkan perekonomian pedesaan lokal.

Dicontohkannya, beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, makanan pokok masyarakat adalah tiwul. Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Madura biasa makan jagung dan pisang. Penduduk di Papua dan Maluku, Maluku Utara makanan pokoknya sagu dan umbi-umbian lokal.

Dewan Ketahanan Pangan Kota Medan, Prof Posman Sibuea menambahkan, sasaran percepatan peragaman konsumsi pangan adalah tercapainya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman yang dicerminkan tercapainya skor pola pangan harapan (PPH) sekurang-kurangnya 93 pada 2015 (saat ini 83) dan mendekati ideal 100 pada 2020.

“Konsumsi umbi-umbian, sayuran, buah-buahan pangan hewani ditingkatkan dengan mengutamakan produksi lokal. Dengan begitu konsumsi beras turun sekitar satu persen per tahun,” ujarnya.

Jika pangan pokok masyarakat lokal diartikan secara sempit atau hanya beras maka terciptalah dikotomi beras dan non beras. “Bagi masyarakat yang daya belinya rendah terhadap beras menyebabkan mereka kekurangan kalori dan protein. Padahal masih ada alternatif lainnya untuk mengganti sumber gizi selain beras tersebut,” terangnya.

Untuk itu, lanjutnya, jika mau bebas dari rawan pangan atau kelaparan, lingkaran setan kemiskinan harus diputus yakni bisa dengan proses pemberdayaan untuk memandirikan masyarakat agar mampu mengatasi persoalannya dengan memberikan akses terhadap sumber daya produktif, terutama di pedesaan. "Bukan dengan derma yang menciptakan kemalasan," tuturnya.

Ayo Makan Singkong

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,

Oleh : Mei Rosseliny Gultom

Kemiskinan Negara Indonesia seperti kisah klasik yang jika didengar bagaikan hembusan angin lalu, terpatri dalam benak masyarakat untuk menikmati kondisi tersebut bukan menyelesaikannya.

Kondisi kemiskinan seperti ini hanya berujung pada pemikiran "ini salah siapa?" jawaban pun kembali menyalahkan pemerintah. Atau pemikiran lain, "Dasar rakyatnya yang bodoh, malas, tidak mau bekerja keras, sehingga kondisinya miskin dan kelaparan". Pemikiran ini telah menjadi paradigma di masyarakat sehingga tidak ada solusi dan keyakinan bahwa masalah kemiskinan dan kelaparan ini dapat teratasi.

Kelaparan, kemiskinan, kekurangan pangan dan ketertinggalan sudah menjadi kondisi yang dianggap biasa terjadi di Indonesia. Dan benarlah pepatah yang mengatakan "bagaikan tikus mati di lumbung padi". Gambaran tikus mati di lumbung padi sesungguhnya sangatlah tragis. Ada tikus yang mati di tempat yang berlimpah makanan. Kondisi tersebut merupakan deskriptif dari kondisi masyarakat sekarang. Banyak masyarakatnya miskin, kelaparan dan menderita kekurangan pangan di negara subur yang berlimpah kekayaan alamnya.

Beras vs Singkong

Rakyat dan pemerintah sangat menyibukkan diri dengan konsumsi beras yang berlebih. Bahkan pemerintah sibuk sekali dengan impor beras dengan jumlah yang sangat besar, Padahal wilayah kita dikenal sebagai wilayah subur dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani yang menanam padi. Kesuburan tanah kita juga telah membuahkan hasil yang baik sehingga beberapa tahun yang lalu, Negara Indonesia menjadi Negara swasembada beras. Namun, kini kita harus mengimpor beras dari negara lain agar kebutuhan akan beras terpenuhi. Alasan klasiknya adalah gagal panen yang disebabkan karena cuaca yang saat ini tidak dapat diprediksikan, serta maraknya hama tanaman padi. Selain itu, maraknya masyarakat mengubah lahan pertaniannya menjadi lahan tanaman produksi seperti kelapa sawit juga menjadi ancaman terbaru akan kekurangan beras.

Keadaan impor beras, bukanlah keadaan yang baik malah menjadi image yang buruk bagi Negara kita, mengingat tanah kita subur. Oleh karena itu, sudah seharusnya bahan pangan masyarakat beralih kemakanan alternatif yang setara kadar dan kegunaannya dengan beras (nasi). Kita juga telah tahu bahwa beberapa daerah di Negara ini bahan makanan pokoknya bukanlah beras tetapi sagu, jagung atau singkong. Beras (nasi) menjadi sumber karbohidrat utama bagi tubuh, sama halnya dengan sagu, jagung atau singkong. Sagu memang sangat jarang kita jumpai, demikian juga jagung yang perawatannya sedikit rumit. Namun, singkong dapat menjadi makanan alternatif pengganti beras.

Singkong juga sering menjadi tanaman yang ditanam diladang-ladang masyarakat. Perawatannya pun sederhana serta kecil kemungkinan terkena hama penyakit tanaman. Jika kita membandingkan singkong dan beras, sesungguhnya tidak terlalu banyak perbedaan yang didapat mengenai kelebihannya, justru singkong lebih banyak keuntungannya dilihat dari segi ekonomisnya. Untuk jenis-jenis kandungan yang ada didalamnya, beras dan singkong sama-sama sumber karbohidrat, air, fosfor, vitamin, protein walaupun hanya berbeda kadarnya saja. Jika beras harus dimasak dengan direbus, singkong juga bisa direbus ataupun dibakar.

Jika beras dapat dicampur dengan lauk pauk dalam penkonsumsiannya, seperti ikan dan sayur, singkong juga dapat dicampur dengan ikan, sayur, atau lauk pauk lainnya. Malah keunggulan singkong dari beras yaitu harganya yang cukup murah yaitu kurang lebih seperempat dari harga beras. Sehingga sejumlah uang yang seharusnya dibelikan beras dapat dialihkan menjadi membeli lauk pauk yang dapat menambah gizi bagi tubuh manusia. Singkong juga dapat divariasikan menjadi bahan pangan lain, sepeti jenis kue-kuean dan menjadi tepung. Sangat mungkin untuk mengkonsumsinya menggantikan beras sebagai bahan pokok, karena kondisi kehadiran beras yang semakin menyiksa masyarakat.

Dibatasi Gengsi

Masalahnya, masyarakat saat ini malah "ngotot" harus makan nasi dan mengorbankan dana yang besar untuk mendapatkannya, padahal sesunggunya dana itu bisa dialokasikan untuk hal yang lain. Misalnya untuk lauk pauknya. Lidah masyarakat telah dimanjakan oleh nasi dan menilai orang miskin apabila ia makan singkong. Akibatnya, demi gengsi tersebut rela kelaparan atau makan tidak menentu. Padahal, kita telah tahu bersama bahwa masyarakat Indonesia dikatakan miskin karena penghasilannya yang sangat rendah bukan karena ia makan singkong atau makan beras.

Andai saja masyarakat yang tergolong miskin mau sedikit rendah hati dengan menkonsumsi singkong sebagai bahan pangan pengganti beras maka masyarakat tidak kesulitan untuk makan pagi, siang atau malam. Masyarakat juga tidak perlu kelaparan atau menerapkan makan sehari dua kali, bahkan makan nasi aking. Akan tetapi, masyarakat dapat menikmati enaknya singkong ditambah lauk pauknya karena singkong sangat mudah terjangkau dan harganya relatif murah.

Selain harga singkong yang relatif murah, singkong juga sangat gampang didapat bahkan ditanam sendiri. Tidak ada kamus atau istilah gagal panen dalam menanam singkong. Jika saja rakyat miskin mau sedikit rendah hati dan sabar dengan menanam singkong di halaman depan, belakang, atau samping rumahnya (jika mereka tidak mempunyai lahan), kurang lebih empat bulan mereka sudah dapat memanen singkong tersebut dan dapat mereka konsumsi. Seperti sebuah lagu yang menggambarkan kesuburan tanah Indonesia, bahwa batang kayu diletakkan atau "dicocokkan" ke tanah saja akan tumbuh menjadi pohon karena suburnya tanah Indonesia. Sesungguhnya itu juga menggambarkan gampangnya menanam singkong. Hanya tinggal memotong–motong batangnya, lalu "mencocokkannya" ke tanah maka akan tumbuhlah pohon singkong dan menghasilkan umbi, yang dapat dikonsumsi. Dan kelaparan tidaklah menjadi masalah yang mengglobal bahkan sampai merenggut nyawa manusia.

Demi pemulihan perekonomian Negara, sudah sepatutnya pemerintah tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengimpor beras. Akan tetapi dapat mensosialisasikan singkong sebagai ganti beras. Pemerintah perlu belajar dari cara hidup orang tua dahulu yang setiap harinya hanya bisa makan singkong untuk memenuhi perutnya, namun tetap cerdas dan bertenaga. Beras (nasi) hanya dimakan pada saat-saat tertentu saja atau sebagai variasi dari singkong.

Jika memungkinkan seluruh masyarakat Indonesia yang lain (di luar rakyat yang tidak mampu tadi) sepakat untuk memvariasikan makanan pokoknya dengan singkong sekali dalam satu minggu untuk mengurangi konsumsi beras dan dapat mengurangi impor beras. Jika saja 350 juta jiwa penduduk tidak mengkomsumsi beras satu hari dalam satu minggu, yang rata–rata konsumsi beras per orang dalam satu hari (tiga kali makan) 500 gr, kita dapat menghemat beras sekitar 175 ribu ton dalam seminggu dan dalam setahun ada 2,1 juta ton beras yang bisa kita hemat. Jika dirupiahkan, kita dapat menghemat sekitar 1,47 triliun rupiah dengan asumsi harga beras Rp 7000 perkilogram.

Masyarakat sudah seharusnya mandiri dan bijaksana dalam mengatasi kekurangan pangan, jangan hanya menunggu subsidi dari pemerintah berupa raskin. Dengan memakan singkong selama satu hari dalam satu minggu, telah menolong pemerintah untuk lebih focus pada persoalan bangsa yang lain. Selama ini rengekan rakyat telah membuat pemerintah gamang dalam mengambil kebijakan, sehingga kebijakannya hanya sebatas jangka pendek saja sebagai respon atas rengekan rakyat.

Singsingkan gengsi, demi perbaikan perekonomian bangsa dan mulailah makan singkong hanya satu hari dalam seminggu. Mari kita tetapkan hari makan singkong nasional. Ayo makan singkong.

Penulis adalah Alumnus Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan dan Aktif di UKMKP UNIMED.

Indonesia tidak Miliki Jaringan Data Stok Pangan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

JAKARTA. Para Menteri Pertanian yang tergabung dalam G-20 menyepakati transparansi ketersediaan stok dunia lewat bank data. Permasalahannya, Indonesia hingga kini belum memiliki jaringan data tentang ketersediaan stok dalam negeri.

Dirjen Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Pertanian Zaenal Bachruddin mengakui, Indonesia memang belum memiliki informasi tentang ketersediaan pangan tiap daerah. Hal ini menyebabkan maraknya spekulan di pasar pangan domestik.

"Tidak ada informasi tentang ketersediaan pangan secara nasional. Karena ketersediaan di Perum Bulog dan swasta belum terkoneksi dengan baik. Mereka belum ada keterbukaan tentang ketersediaan pangan yang dimilikinya," ujar Zainal, Sabtu (25/6).

Menurut Zainal, pihaknya telah membuat model jaringan untuk memberikan informasi tentang data pangan. Jaringan tersebut sekaligus mengkoneksikan antara ketersediaan Perum Bulog dengan swasta.

"Namun, kami masih terkendala pada sistem pendanaan. Diperlukan dana untuk penyediaan hard ware dan software pada tiap dinas pertanian di Indonesia. Bila ada APBNT, maka sistem jaringan pangan itu akan segera selesai. Pokoknya target jaringan informasi selesai pada tahun 2012," tandasnya.

Selain itu, kata Zainal, pihaknya masih bingung untuk melakukan ujicoba penerapan. Jaringan informasi itu akan diterapkan pada daerah lumbung pangan atau langsung di seluruh wilayah Indonesia.

"Yang pasti untuk sementara ini, kita menjalin kerjasama dengan lembaga I-Pasar (Indonesia Pasar). Dengan adanya informasi ketersediaan produksi nasional, bisa jadi Indonesia dapat melakukan ekspor dan mengurangi para spekulan," klaimnya.

Kebijakan berbeda justru diberikan oleh Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurti. Dia mengatakan, deklarasi Action Plan para Menteri Pertanian G20 bersifat umum. Penerapannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara.

Menurutnya, Indonesia sudah mengambil beberapa inisiatif. Indonesia mengusulkan agar lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan membentuk jaringan regional di Asia Timur dan Asia Tenggara.

"Jaringan lembaga penelitian dan pengembangan tersebut akan berkolaborasi dengan Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) dan perlu didukung oleh Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI). Jaringan penelitian dan pengembangan ini diharapkan mampu mengembangkan GM Seed (bibit-bibit hasil modifikasi genetis)," terang Bayu.

Berita Pertanian : Petani Minta Pemerintah Tekan Impor Produk Pangan

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

JAKARTA. Para petani dan nelayan meminta pemerintah untuk menekan laju impor produk pangan sehingga memberi peluang kepada petani dalam negeri untuk lebih leluasa memasarkan produk mereka dalam pasar domestik.

Permintaan tersebut disampaikan oleh petani holtikultura dari Lembang, Jawa Barat, Ishak, dalam video conference antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan petani nelayan peserta Pekan Nasional (Penas) XIII Petani Nelayan 2011 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/6).

Menurut Ishak, petani dan nelayan membutuhkan jaminan keberlangsungan usaha di lapangan yang salah satunya harus dilakukan melalui pengendalian impor produk pertanian dan perikanan oleh pemerintah.

Hal senada disampaikan oleh Lukman, petani asal Jambi yang mengeluhkan peredaran gula rafinasi impor di pasaran yang merugikan petani tebu.

"Petani tebu selalu dirugikan dengan beredarnya gula rafinasi," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Presiden berjanji untuk mengawasi peredaran produk impor sehingga tidak merugikan sektor tertentu.
Ia juga berjanji agar pemerintah selalu mengeluarkan kebijakan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional melalui impor dan upaya peningkatan produktivitas pangan.

Namun, Kepala Negara mengingatkan bahwa perekonomian Indonesia sudah terintegrasi dengan perekonomian global dan karena itu terdapat kerja sama dengan banyak negara lain yang melibatkan kebijakan ekspor dan impor.

"Kita sebenarnya tidak boleh terlalu batasi kerja sama global tapi manakala ada sesuatu yang sangat merugikan komunitas tertentu, pemerintah tidak diam," ujar Presiden.

Pemerintah, menurut Presiden, juga berupaya melakukan intervensi agar tidak terjadi gejolak harga pangan melalui tata mekanisme niaga yang adil sehingga tidak merugikan petani dan konsumen. (ant)

Pemerintah Diminta Jadikan Ubi Kayu Komoditas Andalan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Jakarta. Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) meminta pemerintah untuk menjadikan ubi kayu atau singkong sebagai komoditas andalan nasional.
Sekretaris Jenderal HIPPI Herman Heru Suprobo di Jakarta, Jumat (10/6) mengatakan, hingga saat ini ubi kayu belum dimanfaatkan secara optimal padahal memiliki potensi ekonomi yang tinggi. "Dari segi penanaman, singkong di Indonesia termasuk "secondary crops", komoditi kelas dua," katanya dalam seminar bertajuk "Optimalisasi Potensi Ubi Kayu sebagai Komoditi Andalan Nasional" yang digelar HIPPI bekerja sama dengan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Nilai gizi singkong sebagai sumber karbohidrat lebih tinggi dibanding beras, meski memang nilai protein dan lemaknya lebih rendah. "Tapi kalau diolah dengan pangan lain yang mempunyai nilai gizi lebih tinggi, maka sangat bermanfaat sebagai bahan pangan," katanya.

Menurut Herman, para petani ubi kayu hingga kini masih enggan menggunakan benih unggul, pupuk, teknologi dan penerapan pemeliharaan tanaman yang baik dan benar.

Petani ubi kayu banyak yang berpindah ke tanaman lain yang mana hal itu terlihat dalam lima tahun terakhir, luas areal panen ubi kayu terus menurun hingga 0,63%. "Masalahnya adalah harga jual ubi kayu yang rendah dan cenderung fluktuatif, serta harga beli produk rendah dan penerapan teknologi yang minim," katanya.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian dan Perdagangan HIPPI Muhammad Syahrial mengingatkan, agar pemerintah segera berperan dalam mengklasifikasi berapa banyak porsi ubi kayu yang digunakan untuk pangan, pakan dan industri.

Menurut dia, upaya untuk meningkatkan produksi tidak dapat dilepaskan pada ketersediaan lahan dan jenis bibit yang digunakan. Apalagi komoditas ini dapat diproses lebih lanjut menjadi produk yang bernilai jual lebih tinggi, seperti biofuel dan tepung tapioka, yang prospektif laku di pasar internasional.

Tentunya, dengan ketersediaan lahan yang terjamin dan penerapan teknologi pemicu produktivitas, Indonesia bisa bersaing dengan Thailand dan Vietnam. "Memang tidak dapat dipersaingkan dengan kelapa sawit, karet atau kakao, tetapi singkong juga bisa menguntungkan jika ada komitmen membangun industri terintegrasi," katanya.

Presidium ICMI Marwah Daud Ibrahim mengatakan, Indonesia banyak menghasilkan dan membutuhkan ubi kayu. Bahkan ke depan, kebutuhan ubi kayu dalam negeri akan meningkat dan peranannya semakin strategis sebab terkait dengan penyediaan sumber karbohidrat untuk pangan dan bahan baku aneka industri yang terus berkembang.

Marwah menilai, ubi kayu umumnya diusahakan oleh petani kecil pada lahan kering yang umumnya mempunyai kesuburan sedang sampai rendah. Rata-rata produktivitas ubi kayu nasional masih rendah yaitu 15,5 ton per hektar umbi segar, sebab petani baru sedikit yang menanam varietas unggul (10%) dan tidak atau sedikit menggunakan pupuk.

Kini telah tersedia teknologi inovatif untuk mendukung pengembangan dan peningkatan produksi maupun produktivitas ubi kayu hingga 30-40 ton/ha umbi segar. Nigeria, saat ini menjadi produsen ubi kayu terbesar di dunia dengan angka produksi sekitar 99,1 juta ton, sementara Thailand memasok hampir 70% pangsa pasar internasional. (ant)

Berita Pertanian : Desa Harus Miliki Cadangan Beras 50 Ton

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,

PALEMBANG. Desa-desa di Sumsel kini diwajibkan memiliki cadangan (stok) pangan berupa beras sebanyak 25-50 ton per tahun sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di desa itu.

Program ini harus dilakukan secara terus menerus, sehingga gejolak ekonomi seperti apapun, desa sudah siap karena sudah memiliki ketahanan pangan sendiri.

Hal ini dikatakan Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Sumsel Samuel Chatib di Palembang, Selasa (7/6).

Menurutnya, program ketahanan pangan desa harus dilakukan secara terus menerus sebagai bentuk standar pelayanan minimal pemerintah.

Dikatakan, cadangan pangan tidak hanya berlaku di desa yang menjadi sentral produksi pangan, seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Musi Rawas (Mura).

Sementara daerah yang bukan produsen juga harus mempunyai cadangan pangan sesuai dengan Permendagri No 30 tahun 2008.

Berita Pertanian : Pemprov Segera Bangun Gudang Pangan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,











Pernan Bulog Dinilai Tak Maksimal

MAKASSAR
. Tak puas dengan kemampuan daya serap Perum Bulog Sulsel, Pemerintah Provinsi Sulsel bernencana membangun gudang pangan alternatif. Gudang tersebut, untuk memaksimalkan serapan komoditas pangan terutama beras.

Rapat persiapan pembentukan gudang alternatif digelar, Jumat, 29 April, di Kantor Gubernur Sulsel diikuti SKPD terkait, antara lain Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Badan Ketahanan Pangan Nasional dan beberapa UPTD.

Sekretaris Provinsi Sulsel Andi Muallim usai menggelar rapat mengungkapkan, Sulsel segera mencari solusi jika memang Bulog tidak bisa memaksimalkan penyerapan beras produksi petani Sulsel tahun ini. Menurutnya, sistem pengelolaan gudang pangan alternatif tersebut sudah sangat dibutuhkan karena pada saatnya nanti kemampuan Bulog.

Menurut dia, Bulog hanya menyerap beras berdasarkan kemampuan keuangan atau anggaran yang kucur dari APBN. "Ini sering tidak seimbang antara jumlah kemampuan dengan keinginan petani. Adakalanya juga faktor cuaca atau faktor lain, rakyat menghendaki dibeli seketika padahal Bulog tidak bisa seperti itu," katanya.

Muallim memimpin rapat pembahasan rancangan pembentukan gudang pangan alternatif tersebut dengan membahas anggaran yang harus disiapkan serta struktur organisasi pengelolaannya. Bentuknya belum dipatenkan, namun menurut Muallim, alternatifnya bisa dibuatkan semacam Unit Pelaksana Tugas Dinas (UPTD) di bawah kendali Badan Ketahanan Pangan (BKP) atau Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikulura atau ke Perusahaan Daerah (Perusda) bekerjasama dengan bank pembangunan daerah.

"Jika hasil rancangannya telah disepakati, tinggal memikirkan pendistribusian beras yang telah diserap. Persoalannya ini kan ketataniagaan nasional. Kalau kita yang mengadakan selanjutnya bagaimana, setelah beras dibeli dibawa kemana," ujarnya.

Di berbagai kesempatan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo sering mengeluhkan minimnya daya serap Bulog Sulsel. Karena itu wacana untuk mengambil alih peran Bulog di daerah terus mengemuka.

"Bulog jangan lagi mempersoalkan kualitas beras dan membelinya sesuai dengan harga yang ditetapkan terutama pada saat kondisi cuaca tak menentu seperti sekarang. Inilah saatnya Bulog mengambil peran dengan membantu petani," kata Syahrul.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul