RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label berita pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita pertanian. Tampilkan semua postingan

Berita Pertanian : Petani Resah, Harga Jagung di Karo Rp 1.400 per Kg

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Kabanjahe. Setelah harga kentang anjlok kini giliran harga jagung kering di Kabupaten Karo yang tergerus akibat masuknya jagung impor. Saat ini harga jagung di tingkat petani hanya Rp 1.400 per kg. padahal sebelumnya harga sempat bertengger di angka Rp 2.200 per kg.
Agus Sinulingga, salah seorang petani jagung di Desa Kacaribu, Kecamatan Kabanjahe saat di temui, Selasa (20/12) di sela-sela panen jagungnya mengatakan, setelah mendengar banyaknya jagung impor beredar pasar lokal harga jagung lokal pun langsung turun.

“Kami tidak mengerti apa itu perdagangan bebas yang kami tahu adalah bagaimana harga sayur mayur termasuk jagung ini laku terjual dengan harga menguntungkan, paling tidak balik modal,” ungkap Agus.

Sementara Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Karo Duddy S Utomo kembali mengkeritik kebijakan pemerintah yang tidak pro petani. Di mana setiap ada harga yang menguntungkan petani, di situ pula masuk produk impor seperti kentang yang di datangkan dari Pakistan.

“Begitu harga kentang lokal sudah di atas Rp 4.000 per kg di saat itu pula kentang impor masuk, sehingga hancurlah harga kentang kita di pasaran yang sampai hari ini hanya berkisar Rp1.700 per kg,” jelasnya.

Duddy kembali mempersalahkan pemerintah, dimana selama ini harga jagung bertahan di atas Rp 2.000 per kg tapi tiba-tiba turun tak karuan, sehingga membuat petani jagung di beberapa sentral produksi seperti di Kecamatan Tiga Binanga, Kecamatan Lau Baleng, Kecamatan Mardindidng dan Kecamatan Payung resah. “Tak sedikit petani yang mempertanyakan anjloknya harga ini kepada pengurus HKTI baik di kabupaten maupun di tingkat kecamatan,” katanya.

Duddy mendukung apa yang sudah dilakukan para pengurus asosiasi jagung melalui anggota DPD RI Parlindungan Purba di Jakarta untuk bisa menghentikan jagung impor tersebut. “Karena jika kita tinjau dari hasil produksi jagung lokal masih mencukupi untuk pasar di Sumatera Utara ini, dan impor itu hanya menguntungkan seseorang saja. Jadi tidak baik untuk dilanjutkan,” ungkapnya.
0

Berita Pertanian : Pengusaha Asing Incar Produk Holtikultura Tanah Karo

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,
















Berastagi
. Hasil pertanian holtikultura dari Tanah Karo kini mulai banyak diincar para pengusaha luar negeri seperti dari Korea,Taiwan, Singapura dan Malaysia. Hal ini terlihat dengan adanya sejumlah kontrak kerja sama yang terjalin antara pengusaha luar negeri dengan petani melalui sistem kerja sama bercocok tanam. Adapun komoditas holtikultura dari Tanah Karo yang diminati kalangan investor dari sejumlah negara itu diantaranya brokoli, kentang, ubi jalar, ubi kayu, terong besar, kol, sawi putih, lobak, asperagus dan sayur peleng.

Salah satu staf penghubung antara pengusaha dan petani di Tanah Karo, Sugono dari perusahaan CV Bintang Anugerah yang berlokasi di Berastagi, mengatakan kini minat pengusaha luar negeri untuk menanamkan modalnya di bidang holtikultura semangkin tinggi.

"Penanaman modal oleh pengusaha luar negeri itu telah banyak dilakukan untuk penanaman sejumlah komoditas holtikultura di Kecamatan Merek, Kecamatan Naman Teran dan Kecamatan Barus Jahe. Kerja sama mereka lakukan dengan petani langsung ataupun melalui sejumlah perusahaan pengelola tanaman di Tanah Karo ini," katanya, Selasa (27/9), yang ditemui di Berastagi.

Dikatakannya, para pengusaha itu langsung teken kontrak dengan petani dengan terlebih dahulu memberikan bibit dan pinjaman pupuk, yang di bayar saat panen. "Dalam kontrak itu seluruh hasil panen petani akan ditampung pengusaha bersangkutan. Sedangkan mengenai harga pembelian produk yang diminati telah ditetapkan dahulu, dan harga itu tidak akan naik ataupun turun saat panen telah tiba," ujarnya.

Sugono mencontohkan seperti yang sudah dilakukan sebuah perusahaan asal Korea. "Perusahaan itu berminat pada komoditas brokoli, ubi jalar, kentang dan sayur peleng. Perusahaan ini pun kemudian melakukan kontrak kerja sama penanaman dengan petani. Bibit yang dibutuhkan semua mereka yang sediakan dan hasil panennya mereka yang tampung. Sedangkan harga yang ditetapkan sebesar Rp 1.000 untuk setiap batang brokoli, kemudian ubi jalar Rp1.300 per kg, kentang Rp4.500 per kg, dan sayur peleng Rp5.000 per kg," ujarnya.

Selain perusahan ini, sebut Sugiono yang juga dikenal sebagai staf ahli pengolahan hasil ubi jalar dan asperagus ini, masih banyak lagi perusahaan lainnya yang juga telah menjalin kerja sama untuk menampung hasil pertanian holtikultura petani di Tanah Karo.

Dengan cukup tingginya minat pengusaha luar negeri akan produk hasil pertanian dari Tanah Karo, pihaknya selaku pendamping para petani mengaku bangga karena dengan system ini masa depan pertanian di Tanah Karo diyakini akan mudah berkembang.

"Namun kita tetap berharap adanya campur tangan dari pemerintah agar kerja sama seperti ini semakin banyak terjadi dan dapat melindungi petani pada setiap kontrak yang terjadi," ungkapnya.

Sementara itu, Surya Sitepu, salah seorang petani asal Desa Gong Pinto, yang telah menjalin kontrak kerja sama dengan investor luar untuk penanaman brokoli saat ditemui MedanBisnis, kemarin, di lokasi perladangannya mengatakan, ia mengaku tertarik menjalin kerja sama ini karena ia anggap lebih menguntungkan disebabkan harga jual komoditas yang ia tanam telah diketahui sejak awal. Selain itu ia juga terbantu dalam pengadaan bibit dan pupuk.

"Di desa kami, selain saya, ada 9 petani lainnya yang juga ikut menjalin kontrak kerja sama penanaman dengan investor luar dengan luas lahan 8 hektare yang sudah siap tanam, dan masih banyak yang sedang dalam pembibitan," sebutnya.

Menurut Surya, sistem kerja sama ini sangat membantu mereka, karena selain lahan bisa semuanya terpakai karena adanya bantuan bibit dan pupuk, harga yang ditawarkan kepada petani juga cukup menguntungkan.

Berita Pertanian : Petani bukan buruh dalam "food estate"

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Jakarta. Kementerian Pertanian menjamin pengembangan kawasan pangan skala luas atau food estate tidak akan menjadikan petani sebagai buruh karena program tersebut dilakukan secara kemitraan.

Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Senin mengatakan, selama ini program food estate sering disalahartikan seolah-olah petani akan menjadi buruh sedangkan pengusaha yang akan menguasai lahan tersebut.

"Petani tetap menjadi motor dalam food estate. Tidak benar jika petani nantinya menjadi buruh," katanya ketika menyampaikan hasil kunjungan ke Kabupaten Bulungan Kalimantan Timur.

Dalam kunjungan ke Kabupaten Bulungan, Mentan Suswono sempat melakukan launching food estate Delta Kayan di SP 8 desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Selor.

Menurut dia, nantinya petani tetap mengelola lahan food estate, namun dengan skala yang luas melalui sistem intensifikasi sehingga produktivitas bisa dinaikkan.

Menyinggung pengembangan food estate secara nasional, dia menyatakan sudah ada di Merauke Papua, namun masih terkendala lahan dan infrastruktur.

Oleh karena itu, food estate akan dimulai dari mana saja yang memungkinkan untuk dikembangkan.

Dia menegaskan food estate itu tidak akan mendistorsi harga produk petani. Sementara itu, jika produk pangan di dalam negeri, kata dia, akan diekspor, mengingat kondisi pangan global sudah mulai kekurangan. "Jadi, berapapun jumlah pangan, pasti akan laku di pasar," katanya.

Sementara itu Pemkab Bulungan, Kaltim, menyediakan lahan 30 ribu ha untuk kawasan pangan terpadu skala luas (food estate) Delta Kayan, yang hingga saat ini sudah ada tiga investor yaitu PT Miwon Indonesia, PT Sang Hyang Seri (Persero) dan Solaria.

Bupati Bulungan Budiman Arifin mengatakan ada potensi lahan di Delta Kayan Bulungan seluas 30.000 ha yang dapat dikembangkan menjadi kawasan pangan terpadu skala luas atau food estate.

Lokasi tersebut, kata dia, sudah ada yang ditempati oleh masyarakat dan petani setempat serta ada yang dicadangkan untuk transmigran, namun, sebagian besar lahan di Delta Kayan masih kosong.

Miwon Indonesia telah membuat demplot 10 ha untuk jagung dan sudah pernah panen dari total lahan yang diberikan 3.245 ha.

PT Sang Hyang Seri (persero) sudah membuat lahan 20-50 ha untuk pabrik benih untuk kebutuhan di Kalimantan selain itu BUMN tersebut akan mengembangkan pabrik benih.

Bupati mengatakan, dari sisi infrastruktur pengangkutan, maka dalam sebulan ada tujuh kapal Surabaya dengan kapasitas 1.500 ton.

"Selama ini, petani bingung dalam memasarkan produk pertanian. Oleh karena itu, dengan adanya investor itu, maka sudah tidak kesulitan lagi," katanya. (ant)

Berita Pertanian : Petani Jeruk Karo Lirik Pupuk Organik

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,














Kabanjahe
. Prospek agribisnis jeruk di Sumatera Utara (Sumut), terutama di Kabupaten Karo cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Namun seiring waktu, produksinya terus mengalami penurunan. Hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan serta inovasi petani jeruk yang masih tetap mempertahankan penggunaan pupuk pestisida.
Kenyataan bahwa pasar Eropa tidak lagi menerima komoditas yang menggunakan pupuk pestisida, membuat petani Karo mulai melirik penggunaan pupuk organik agar produk mereka kembali bisa diterima pasar Eropa.

"Namun, tidak mudah meyakinkan petani di Tanah Karo ini yang sudah bertahun-tahun bertani dengan menggunakan pupuk pestisida untuk beralih ke pupuk organik. Apalagi, rata-rata petani ini tidak banyak yang mengenyam pendidikan tinggi. Karena itu sulit jika menjelaskan bahwa pertanian organik itu aman bagi lingkungan. Bahkan, nutrisi tanaman yang dapat dibuat sendiri lebih baik dibandingkan pupuk pestisida," ujar Ketua Forum Pengembangan Karo, Petrus Sitepu, disela-sela acara Penanaman Perdana Penangkaran Bibit Kentang Granola G1 dan Penyerahan Green House Bantuan Bank Indonesia (BI), serta sarasehan dengan tema "Permasalahan dan Solusi dalam Budidaya Kentang", di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabanjahe, Rabu (21/9) lalu.

Hadir juga dalam acara tersebut Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, Pemimpin BI Kantor Regional Sumut dan Aceh Nasser Atorf, Ketua DPRD Karo Siti Aminah Perangin-angin, pimpinan bank se-kabupaten Karo serta Gapoktan Tanah Karo.

Secara garis besar, terang Petrus, petani jeruk dikelompokkan menjadi dua yaitu petani kelas menengah ke atas yang memiliki karakter mandiri, mudah menerima inovasi teknologi, dan menjadikan usahatani jeruk sebagai salah satu mesin ATM (pencetak uang) sehingga pengelolaan kebun dilakukan secara optimal. Sebaliknya bagi petani kecil, permodalannya lemah, biasanya menanam jeruk karena mendapat bantuan benih dari pemerintah, pengetahuannya tentang budidaya jeruk yang baik dan benar kurang memadai dan tidak mudah menerima inovasi teknologi.

Menurut Petrus, pupuk organik bisa didapatkan dengan beternak cara alami. Tujuan utama peternakan ini adalah untuk mendapatkan kooran hewan, khususnya sapi yang digunakan sebagai bahan utama kompos. "Metode peternakan alami ini bisa dipelajari secara alami juga. Saya dan sejumlah petani lainnya di Tanah Karo ini sudah mencobanya. Saya hanya butuh 7 ekor sapi untuk mendapatkan kompos yang bisa digunakan untuk lahan tanaman jeruk seluas 1 hektare. Petani memang harus menjalani proses belajar beternak, terutama bagian-bagian mana yang harus diperbaiki dan bagian mana yang perlu adaptasi lokal. Hal ini dilakukan supaya dapat kompos yang bagus untuk tanaman jeruk," terang Petrus.

Beternak untuk mendapatkan kompos bisa dilakukan dengan memberikan pakan rumput terfermentasi atau jerami terfermentasi. Selain itu, lanjutnya, juga bisa memberikan minuman ternak nutrisi dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh kambing atau sapi.

Begitupun, diakui Petrus, untuk mendapatkan kompos dengan cara beternak ini memang butuh modal yang tidak sedikit. "Kalau petani jeruknya yang bermodal kecil, tentu harus mendapat sokongan dari pemerintah dan perbankan. Jadi tujuannya bisa tercapai," ujar Petrus.

Namun di sisi lain, kata Petrus, tumbuh kembangnya praktik bisnis benih jeruk "asalan" yang telah mencapai lingkup antar propinsi tidak lepas dari berlakunya hukum pasar, yaitu penangkar yang memproduksi benih jeruk bermutu (bebas penyakit) jumlahnya sangat terbatas, sedangkan permintaan pasar terus bertambah. Harusnya pemerintah memperhatikan kondisi tersebut sehingga produksi jeruk Tanah Karo bisa tercapai sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan Sumut.

Berita Pertanian : Kab. Karo Targetkan Produksi 49.826 Ton Kentang

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,












Kabanjahe
. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo menargetkan produksi kentang sepanjang tahun 2011 sebanyak 49.826 ton dari lahan seluas 3.110 hektare. Peningkatan target produksi ini didasarkan pada pengembangan benih kentang dari Granola G0 ke Granola G1 oleh Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) di Tanah Karo.

"Pengembangan benih kentang dari Granola 0 ke Granola 1, menjadi dasar Pemkab Karo dan Gapoktan untuk menargetkan produksi kentang sebanyak 49.826 ton kentang untuk masa tanam 2011 ini. Tanah Karo juga masih menyimpan potensi yang besar untuk pengembangan kentang dan itu tidak boleh disia-siakan," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemkab Karo, Agustoni Tarigan, pada acara Penanaman Perdana Penangkaran Bibit Kentang Granola G1 dan Penyerahan Green House Bantuan Bank Indonesia (BI), serta sarasehan "Permasalahan dan Solusi dalam Budidaya Kentang", di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabanjahe, Rabu (21/9).

Hadir juga dalam kegiatan tersebut Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, Pemimpin BI Kantor Regional Sumut dan Aceh Nasser Atorf, Ketua DPRD Karo Siti Aminah Perangin-angin, Ketua Forum Pengembangan Karo Petrus Sitepu, pimpinan bank se-Kabupaten Karo serta Gapoktan Tanah Karo.

Dikatakan Agustoni, total lahan kentang di Karo seluas 4.139 hektare. Namun untuk tahun 2011, sasaran untuk produksi hanya 3.110 hektare. Sementara sisanya seluas 1.029 hektare untuk target produksi 2012.

Menurutnya, selain untuk konsumsi Karo dan Sumut, kentang produksi daerah ini juga untuk ekspor. Meski diakuinya, beberapa tahun belakangan ada penurunan ekspor akibat petani di Karo yang masih tergantung pada penggunaan pestisida, sementara pasar Eropa yang merupakan tujuan ekspor sudah beralih kepada tanaman kentang organik. Begitupun petani Karo, tambahnya, akan kembali melirik pasar ekspor dengan melakukan pengembangan bibit kentang. Dengan pengembangan ini, dikatakan Agustono, produksi kentang Tanah Karo bisa naik menjadi 30 ton per hektare dari rata-rata 16 ton per hektare.

Meski diakuinya, untuk pengembangan benih kentang masih ditemukan masalah seperti kucuran modal yang masih cukup sulit dari perbankan, namun Gapoktan di Tanah Karo akan tetap komitmen untuk melakukan pengembangan secara kontinu untuk bisa kembali menguasai pasar ekspor.

Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, mengungkapkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian serta penyuluh untuk membantu Gapoktan dalam pengembangan produksi kentang di Tanah Karo.

"Kita akan terus bersinergi dengan Dinas Pertanian maupun penyuluh untuk menyokong Gapoktan supaya produksi kentang bisa mencapai target. Ini juga akan menjadi satu titik balik bagi petani Karo untuk kembali bisa menembus pasar ekspor, dimana belakangan semakin susah untuk mengirim dalam jumlah yang besar," katanya.

Pemimpin BI Kantor Regional Sumut dan Aceh Nasser Atorf, mengungkapkan, kebutuhan benih kentang bermutu untuk daerah Sumut khususnya daerah Karo belum terpenuhi sehingga perlu dilakukan pengembangan atau pun pemulihan benih tanaman kentang agar produksi tercapai.

"Dengan adanya varietas unggul dan alur benih yang jelas, bisa menjadi faktor penentu dalam sistem agribisnis dalam meningkatkan produksi kentang di Sumut. Ini juga akan mengurangi benih palsu dan kwadaluarsa yang beredar di pasaran," ungkapnya. Ia menambahkan, perbankan juga akan konsisten untuk membantu skim kredit bagi petani guna menyokong permodalan.

Dalam kesempatan tersebut, BI juga menyerahkan bantuan berupa screen house. Menurut Nasser, permasalahan dalam budidaya kentang granola juga disebabkan tidak tersedianya screen house atau media pembibitan kentang yang steril. "Dengan screen house ini, kemungkinan pengembangan bibit kentang akan bisa menghasilkan produksi kentang yang berkualitas ekspor," pungkasnya.

Berita Pertanian : Beras Impor Thailand akan Masuk Oktober

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,







JAKARTA. Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, impor beras dari Thailand akan masuk pada bulan Oktober. Sementara ini, realisasi impor berasal dari Vietnam

"Impor kita yang sudah tanda tangani, (yaitu) kontrak 800.000 ton. Dari Vietnam 500.000 ton, dari Thailand 300.000 ton. Itu bulog sudah teken kontrak dengan dua negara itu," ujar Sutarto di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (7/9/2011).

Untuk realisasi impor, akan masuk lebih dari 200.000 ton hingga September ini, yang berasal dari Vietnam. "Karena Vietnam lebih dulu kita kontrak (dari) yang 500.000 ton. Thailand masuknya mulai Oktober," tambah Sutarto.

Ia pun menyebutkan, beras impor sudah masuk ke Palembang sebanyak 3.800 ton. Beras impor tersebut pun sudah masuk ke Sumatra Barat dan Surabaya. Namun, ia tidak menyebutkan jumlah detailnya. Sutarto menambahkan, realisasi impor beras ini akan berlangsung sampai dengan Desember 2011.

Berita Pertanian : Irigasi Jemair Rusak, Cetak Sawah Baru Terancam

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

PAGAR ALAM--MICOM: Irigasi Air Jemair di Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam, Sumatra Selatan, yang mengalami kerusakan parah mengancam program pencetakan puluhan hektare areal sawah baru.



"Program pembuatan petak sawah baru di Kelurahan Jangga, Kecamatan Dempo Tengah, seluas sekitar 42,7 hektare terancam gagal," kata Mersi, warga Dusun Sumberjaya, Kelurahan Jangga, Pagaralam, Jumat (19/8).



Irigasi Jemair menjadi sumber pemasok air hingga kini masih rusak dan belum diperbaiki.



Rencananya, Pemkot Pagaralam memprogramkan pengembangan sekitar 1.000 hektare areal sawah baru di daerah tersebut. Jadi, bukan tidak mungkin pelaksanaan program ini akan terkendala jika irigasi masih rusak.



Pembangunan irigasi Air Jemair sudah dilakukan sejak tahun 2008 lalu dengan dukungan dana mencapai Rp5,4 miliar lebih.(ant)

Berita Pertanian : Pupuk Organik NPK Plus "Daunic" Berhasil Meningkatkan Hasil Produksi Bunga

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,



























Tanah Karo. Pupuk Organik NPK Plus "Daunic" memang baru sekitar empat bulan memasuki pemasaran pupuk di Kabupaten Karo dan sebagian besar petani Karo belum mengenal merk pupuk NPK organik tersebut.



PT. Buana Mitra Lestari sebagai agen tunggal di Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Karo masih membuat lahan percobaan di beberapa titik lokasi pertanian Tanah Karo disamping juga memasarkan pupuk NPK Plus "Daunic" ini, dikatakan Ricky Peranginangin, STP sebagai Field Agronomis PT. BML.



Beberapa demplot atau lahan percobaan yang sudah ada menunjukkan akan keberhasilan pemakaian pupuk Daunic ini karena telah menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Dari umur tanaman 15 hari sampai 40 hari setelah tanam sudah menunjukkan pertumbuhan tanaman memuaskan, itu dapat dilihat dari akar, batang, daun tanaman yang lebih baik dengan penggunaan pupuk Daunic daripada tanaman yang menggunakan pupuk lain, katanya, Selasa 9/08-2011.



Hasil panennya juga lebih tinggi produksinya seperti tanaman kentang, kol , bunga dan jeruk yang dapat dilihat dan ditanyakan pada petani pemilik lahan demplot dan petani pengguna pupuk Daunic ini. Dan masih banyak demplot yang baru dibuat di beberapa daerah di kabupaten Karo yang menyebar di setiap jalaj utama lintas kecamatan Karo, demikian dikatakannya.



Demikian juga ditambahkan Ibu beru Depari ketika dijumpai di kebun bunganya di sekitar Simpang Kopri Jalan Berastagi-Kabanjahe, bunga ini menghasilkan batang, daun dan bunga yang besarnya dua kali lipat dari sebelum dia memakai pupuk Daunic ini.



"Yang penting saya panen bunga jauh lebih meningkat setelah pakai pupuk organik Daunic ini. Jumlah bunga yang saya panen dua kali lipat banyaknya dan besar bunganya jauh lebih besar sehingga keuntungan panen saya jauh meningkat. Padahal dosis pemupukannya tidak tinggi dan modal pupuk saya lebih rendah dari sebelumnya, ujar Bu Depari yang telah berhasil menggunakan pupuk Organik NPK Plus "Daunic" ini (Rabu,10/08-2011).



Begitu juga dikatakan Bapak Sitepu, petani Desa Naman yang berhasil meningkatkan produksi tanaman kentangnya, " Pas saat kentang mahal, panen kentang saya meningkat setelah pakai pupuk ini, padahal saat mulai tanam sampai panen musim kemarau, hanya sekali hujan itupun tak deras".







Berita Pertanian : Ketersediaan Pangan Hingga Lebaran Aman

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Medan. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan ketersediaan stok pangan yang ada saat ini mencukupi untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadhan dan Lebaran 2011.



"Saya kira soal kenaikan harga itu rutin terjadi setiap menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran karena kebutuhan yang meningkat.Tetapi masyarakat tidak perlu gusar karena itu bisanya tidak akan terjadi lama dan stok kita juga cukup untuk beberapa bulan ke depan," katanya di Medan, Senin.



Mengenai ketersediaan stok pangan selama Ramadhan ini, ia mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir karena stok yang ada saat ini sudah sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan secara nasional.



Terjaminnya stok pangan tersebut, lanjutnya, mengingat saat ini cadangan beras yang ada di bulog jumlahnya mencapai 1,4 juta ton, ditambah lagi akan masuknya beras impor dalam waktu dekat untuk menutupi jika terjadi kekurangan.



"Beras di gudang bulog saat ini sudah cukup yakni mencapai 1,4 juta ton, ditambah lagi dari impor yang akan segera masuk. Saya kira ini cukup untuk memenuhi standar nasional yakni 1,5 juta ton untuk stok kebutuhan nasional," katanya.



Ia mengatakan, bukan hanya pada beras, tetapi kebutuhan sembilan bahan pokok lainnya seperti minyak goreng dan gula pasir, pemerintah juga telah melakukan antisipasi agar tidak terjadi kelangkaan di pasaran khususnya selama Ramadhan.



Pada kesempatan itu ia juga berharap kepada pihak-pihak tertentu untuk tidak memanfaatkan momentum Ramadhan dan Lebaran tersebut untuk mencari keuntungan yang sebesarnya dengan menaikkan harga berbagai kebutuhan pokok.



"Kita harapkan tidak ada upaya-upaya spekulasi dari berbagai pihak yang ingin memanfaatkan momentum Ramadhan dan Lebaran untuk untuk menaikkan harga. Mudahan-mudahan kenaikan harga saat ini tidak terlalu lama dan bisa turun lagi secepatnya karena persediaan cukup hingga berapa pun permintaan bisa diantisipasi," katanya.



Untuk mengantisipasi kelangkaan bahan pokok di pasaran, lanjutnya, pihaknya juga telah memikirkan soal pendistribusian bahan pokok tersebut.Meski pun persediaan cukup, tetapi jika pendistribusian terhambat juga akan memacu kelangkaan di pasaran.



"Yang perlu dipikirkan bukan hanya stok saja, tetapi bagaimana dengan distribusinya. Karena itu Kementerian Perhubungan juga telah berupaya mengamankan jalur-jalur distribusi tersebut baik jalur darat maupun laut," katanya. (ant)

Berita Pertanian : SBY Dinasehati soal Teknologi Pangan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Jakarta. Strategi kebijakan dalam rencana induk percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia, sudah tepat. Namun Indonesia harus memacu inovasi teknologi pangan untuk bisa bersaing di era kebangkitan Asia.
"Tadi dikatakan kita harus genjot pengembangan inovasi dan itu soal teknologi pangan," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Pernyataannya di atas merupakan masukan dari pada narasumber International Conference on Futurology kepada Presiden SBY. Pertemuan berlangsung di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (27/7).

Lebih lanjut Hatta menyatakan, di dalam pertemuan para futurulog menyebut Asia pada 2050 akan menjadi kekuatan ekonomi. Di saat itu mayoritas PDB dunia akan berputar di negara-negara Asia.

"Nah kita ada di situ kan? Jadi soal program cluster dan koridor dalam MP3EI sudah tepat," sambung Hatta.

Inovasi teknologi yang sebaiknya Indonesia pacu terutama masalah produksi pangan. Sebab masalah pemenuhan kebutuhan pangan masih merupakan ancaman yang makin serius bagi dunia di masa mendatang.

Sementara Indonesia mempunyai potensi sumber daya pangan yang melimpah. Hanya dengan inovasi teknologi sumber daya itu bisa menjawab tantangan masa depan.

"Salah satu pakar tadi berbicara tentang pemanfaatan teknologi dalam hal pangan. Tantangan keamanan pangan dihadapi dunia, lalu bagaimana peran teknologi mengatasi masalah ini," sambung Jubir Kepresidenan T Faizasyah pada kesempatan sama.

Para futurolog yang Presiden SBY terima siang kemarin adalah Prof Donald K Emmerson, Prof Thomas Fingar, DR George Friedman, James Canton, Robert D Kaplan, Roger Beachy dan Zubaid Ahmad. Mereka akan menjadi narasumber dalam konferensi internasional yang digelar hari ini di Hotel Shangri-La, Jakarta.

Berita Pertanian : Pemulihan Pertanian di Lereng Merapi Butuh Tiga Tahun

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

KLATEN. Pemulihkan sektor pertanian di lereng Gunung Merapi wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pascaerupsi pada tahun lalu memerlukan waktu sedikitnya tiga tahun.

"Lahan pertanian di kawasan lereng Gunung Merapi setelah erupsi 2010 kondisinya masih memprihatinkan, karena upaya penghijauan yang dilakukan selama ini belum sepenuhnya berhasil dan cenderung gagal karena tidak ada keberlanjutan dalam perawatan," kata Pelaksana Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Wachju Adhy Pratomo di Klaten. Senin (18/7).

Ia menjelaskan, lamanya upaya merehabilitasi sekaligus merekonstruksi lahan pertanian itu disebabkan faktor kondisi lahan yang masih tertutup abu vulkanik Merapi setebal kira-kira 40 sentimeter (cm).

Menurut dia, selama ini memang banyak donatur yang mengupayakan kehidupan tanaman di Merapi melalui penanaman berbagai jenis pohon. Jumlahnya mencapai ratusan ribu batang. "Tetapi coba lihat hasilnya, sebagian besar bibit pohon tersebut mati karena dalam penanaman tidak memperhatikan kondisi tanah yang masih tertutup abu vulkanik," ujarnya. (ant)

Berita Pertanian : Karantina Pertanian Optimalkan Perlindungan Komoditas Ekspor

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Medan. Balai Besar Karantina Pertanian Sumatera Utara (Sumut) terus mengoptimalkan perlindungan terhadap komoditas ekspor dan impor untuk menjaga kesehatan produk-produk yang diekspor maupun diimpor oleh para pelaku usaha.

“Kami terus menjaga komoditas ekspor dan impor yang masuk dari berbagai penyakit hewan ataupun tanaman baik yang akan diekspor ataupun yang diimpor,” kata Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Arief Setyawan, dalam kegiatan Sosialisasi Peningkatan Karantina Pertanian dalam Perlindungan dan Akselerasi Ekspor Produk Pertanian di Hotel Grand Antares Medan, Kamis (30/6).

Hadir sebagai pembicara, Kepala Balai Karantina Kelas II Medan Guntur, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati dan Nabati BKP Pusat Arifin Tasrif, serta Kepala Dinas Pertanian Sumut M Roem S.

Dikatakan Arief, adapun persyaratan yang harus dipenuhi para eksportir maupun importir adalah, komoditas jenis apa pun yang akan diekspor harus melalui karantina dengan peraturan yang telah ditetapkan. Tidak hanya itu, para eksportir dan importir juga harus melengkapi sertifikat dari negara asal dan surat izin dari Kementerian Pertanian setempat.

Balai Karantina juga terus memasok benih baik tanaman maupun hewan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia seperti untuk budidaya, diperdagangkan atau untuk ditanam sendiri. "Sebagian besar benih tersebut masuk melalui Bandara Polonia Medan, seperti benih kelapa sawit, sayur-sayuran dan benih tanaman liar," paparnya.

Arifin mengaku dalam melaksanakan tugasnya, BKP juga berhak melakukan 8P dalam tindakan karantina, yakni tindakan pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penolakan, pembebasan, pemusnahan dan penahanan. “Petugas BKP memiliki hak penuh untuk melakukan 8P tersebut, apabila terdapat produk-produk yang diekspor," ungkapnya.

Sementara, Kepala Balai Besar Karantina Kelas II Medan, Guntur, mengatakan, bagi eksportir ataupun importir harus memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Untuk hewan misalnya, wajib memiliki sertifikasi kesehatan, begitu juga dengan komoditas tumbuhan. Namun kalau untuk benih harus ada izin dari Dinas Pertanian.

"Kalau untuk pengusaha baru, akan diarahkan dalam waktu seminggu sebelum mengekspor atau mengimpor sudah mengetahui ketentuan dan persyaratan yang berlaku, sehingga memudahkan proses yang berjalan," tambahnya.

Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian acara yang tergabung dalam satu agenda besar Bulan Bhakti Sosial BKP, yang berlangsung dari 8 Juni hingga 8 Juli setiap tahunnya.

Berita Pertanian : Peternak Lele di Pamekasan Merugi

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , , ,

PAMEKASAN. Peternak ikan lele di Pamekasan, Madura, Jawa Timur rugi, akibat harga jual ikan di tingkat petani turun.

Peternak lele di Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Fauzi Jumat (3/6/2011) menjelaskan, harga jual ikan lele di tingkat peternak saat ini Rp9.500 per kilogram, turun Rp2.500 per kilogram dibanding sebelumnya.

“Dulu harga ikan lele di tingkat peternak mencapai Rp12.000 per kilogram,” katanya menjelaskan.

Turunnya harga jual ikan lele di tingkat peternak ini membuat para peternak di wilayah itu rugi, hingga jutaan rupiah.

Sebab, sambung dia, turunnya harga ikan lele tersebut tidak diimbangi dengan harga pakan. Bahkan harga pakan terus meningkat, dari sebelumnya hanya Rp210 ribu per sak, kini menjadi Rp220 per sak.

Jika turunnya harga ikan lele di tingkat peternak seimbang dengan harga pakan, kemungkinan peternak tidak akan banyak mengalami kerugian.

Berita Pertanian : Produksi Benih Unggul Musi Rawas 20 Ton Per Tahun

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Musi Rawas. Produksi benih padi yang dihasilkan Balai Benih Unggul (BBU) Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan, saat ini mencapai 20 ton pertahun.

"Benih yang ditangkar kelompok pembibit dibawah naungan BBU Musi Rawas jenis Mikonga yang benih induknya berasal dari Suka Mandi, Jawa Barat, dimana pembenihannya dilaksanakan diatas lahan seluas 6,3 hektare," kata kepala BBU Musi Rawas, Gito Surono, Sabtu.

Produksi benih yang dihasilkan BBU daerah itu, kata dia, di jual kepada petani dalam 21 kecamatan di Musi Rawas, juga kepada petani dari daerah lainnya seperti kabupaten Muara Enim, Lahat, Empat Lawang, Kota Lubuklinggau, serta ke Provinsi Jambi dan Bengkulu.

Sedangkan permintaan benih unggul untuk 21 kecamatan di Musi rawas dalam setiap musim tanam mencapai 1.250 ton.

Dari produksi benih tersebut, pihaknya dalam setiap tahunnya berhasil menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp50 juta.

Untuk memenuhi kebutuhan benih ini dalam setiap tahunnya, BBU daerah itu tambah dia, mengembangkannya melalui 14 kelompok tani binaan dengan luasan lahan pembenihan mencapai 174 hektare yang tersebar di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Muara Beliti, Tugumulyo, Purwodadi, Megang Sakti, Sumber Harta dan Kecamatan Suku Kengah Lakitan Ulu Terawas.

Kelebihan benih unggulan jenis Mikonga, karena menghasilkan tekstur nasi yang pulen dengan potensi hasil 8,4 ton per hektare, serta lebih tahan terhadap serangan hama penyakit.

Selain itu pihaknya juga mengembangkan benih padi jenis Inpari 1 yang memiliki keunggulan tekstur nasi yang pulen dan potensi hasil panen bisa mencapai 10 ton per hektare dengan umur tanaman 108 hari. (ant)

Berita Pertanian : Pemerintah Sewa 25.000 Hektare Lahan Petani Kalsel

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Banjarmasin. Pemerintah memprogramkan menyewa lahan petani Kalimantan Selatan (Kalsel) seluas 25 ribu hektare melalui empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait yang ditunjuk sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional di daerah itu.

Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Selatan Sriyono di Banjarmasin, Rabu (25/5), mengatakan, pemerintah pada 2011 menargetkan penghimpunan beras petani melalui Bulog hingga 3,5 juta ton namun hingga April masih jauh dari yang diharapkan.

Menurut Sriyono, salah satu kendala sulitnya pemerintah melalui Bulog menghimpun beras petani adalah karena harga beras ditingkat petani lebih tinggi dibanding harga yang ditetapkan pemerintah. Seperti di Kalsel, Bulog mendapat jatah penghimpunan beras untuk menyangga ketahanan pangan nasional sebesar 25 ribu ton selama 2011.

Namun kata dia, hingga April 2011 Bulog baru barhasil menghimpun beras petani sekitar 540 ton atau masih jauh dari target yang ditetapkan. Hal tersebut terjadi karena HPP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp3.300 per kilogram sedangkan harga beras ditingkat petani bisa mencapai Rp5 ribu/kilogram bahkan lebih.

Hal tersebut membuat petani Kalsel memilih untuk menjual ke pedagang pengumpul atau ke pihak lainnya dengan nilai yang lebih tinggi. Mengantisipasi hal tersebut, kata dia, pemerintah memprogramkan untuk menyewa lahan petani melalui empat BUMN terkait antara lain adalah adalah PT SHS sebanyak 200 ribu hektare, PT Sriwijaya 200 ribu hektare, PT Perhutani 70 ribu hektare.

Khusus Kalsel, kata Sriyono mendapat jatah seluas 25 ribu hektare yang kini sedang dalam proses untuk dilakukan sosialisasi ke petani. "Kita belum menetapkan daerah-daerah yang lahannya bakal disewa karena sedang dalam tahap proses penghimpunan data," katanya.

Menurut Sriyono ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan dalam program tersebut, antara lain yaitu pemerintah akan meyewa lahan yang belum pernah ditanami sama sekali oleh petani atau meningkatkan produksi dari satu kali tanam menjadi dua kali tanam.

Program pertama, kata dia, terkendala pada ketersediaan lahan pertanian yang kini sudah semakin sempit, sehingga sulit dilaksanakan. "Jadi kemungkinan lain yang bisa kita lakukan adalah yang kedua yaitu meningkatkan produksi dari satu kali tanam menjadi dua kali tanam," katanya.

Pada panen pertama, hak petani dan panen kedua dihitung dengan sewa pemerintah yang pengerjaannya juga dilakukan oleh petani pemilik lahan. Dari garapan sewa tersebut, petani wajib menyetor ke Bulog sebesar 5 ton per hektare dan bila ada sisa menjadi hak petani dan perusahaan penyewa.

Rata-rata dalam satu hektare lahan di Kalsel mampu menghasilkan 5-7 ton padi, tergantung daerah dan lokasi pertaniannya. "Kalau melihat untung rugi, harus dilihat dulu lokasi pertaniannya, kalau lahan yang disewa sebelumnya merupakan lahan tidur, tentu menguntungkan petani," kata Sriyono. (ant)

Berita Pertanian : Sumut Masuk Daerah Berhasil dalam Swasembada Pangan

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

HKTI Sumut: Anggaran Pertanian Perlu Ditingkatkan

Medan
. Ketua Tim Peneliti Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat (Sekjen DPR) RI Mandala Harefa mengatakan, Propinsi Sumatera Utara (Sumut) termasuk daerah yang berhasil dalam swasembada pangan untuk kawasan barat Indonesia.

Namun, begitupun masih ada juga ditemukan beberapa daerah yang masuk dalam kategori rawan pangan. “Kita tidak menyangka ternyata masih ada juga daerah yang masuk dalam kategori rawan pangan. Padahal, kami tahu Sumatera Utara termasuk daerah yang berhasil dalam menciptakan swasembada pangan,” kata Mandala kepada wartawan, Selasa (24/5) di kantor Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumut, Jalan Gatot Subroto, Medan.

Tim peneliti dari Sekjen DPR RI yang terdiri dari 8 orang tersebut melakukan penelitian ke Sumut antara lain ke Dinas Pertanian Sumut, HKTI Sumut dan Fakultas Pertanian USU, Medan untuk menggali berbagai informasi tentang pertanian, ketahanan pangan dan pelaksanaan UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan.

Pertemuan dengan pengurus HKTI Sumut tersebut dipimpin langsung oleh Ketua HKTI Sumut Zaman Gomo Mendrofa, Wakil Ketua Tosim Gurning, ME Girsang, Sekretaris Yan Toguh Damanik dan Bendahara Nova Juli Rosanna.

Menurut Mandala, di balik kesuksesan Sumut dalam pencapaian swasembada beras ternyata masih ditemukan beberapa kendala. Selain masih adanya daerah rawan pangan, koordinasi antar instansi baik di tingkat propinsi maupuan kabupaten/kota dalam menjalankan suatu kebijakan masih lemah, misalnya dalam hal pengadaan lumbung beras.

Selain itu, alih fungsi lahan yang terus terjadi tidak saja di Sumut tapi di propinsi lain juga menjadi kendala atau ancaman dalam menjaga ketahanan pangan. “Di Sumut saja, dari laporan yang kami terima alih fungsi lahan terus terjadi tiap tahunnya. Nah, ini merupakan salah satu ancaman bagi kita dalam menjaga ketahanan pangan dalam negeri,” jelasnya.

Karena itu, persoalan-persoalan yang terjadi di Sumut, menurut Mandala, akan disampaikan ke DPR RI untuk dikaji lebih dalam persoalan yang ada serta dicarikan solusinya termasuk masalah minimnya anggaran yang dialokasikan untuk sektor pertanian.

Sebelumnya, Ketua HKTI Sumut Zaman Gomo Mendrofa menyampaikan sejumlah masalah pertanian dan ketahanan pangan di Sumut. Di antaranya, mengenai pergeseran atau alih fungsi lahan pertanian karena sektor pertanian dianggap tidak lagi menguntungkan bagi petani.

Kemudian, penetapan anggaran APBD baik propinsi maupun kabupaten yang belum mendukung pengembangan pertanian.

“Karena itu, kami berharap kedatangan para tim peneliti dari Sekretariat Jenderal DPR RI ini dapat menampung seluruh aspirasi ataupun persoalan yang dihadapi para petani di daerah ini sehingga surplus atau swasembada beras yang kita peroleh selama ini bisa dipertahankan,” katanya sembari menambahkan HKTI Sumut pada prinsipnya siap bekerja sama dengan instansi terkait dalam menjalankan program-program pemerintah dalam bidang pertanian khususnya masalah ketahanan pangan.

Terkait minimnya anggaran yang dialokasikan untuk sektor pertanian, Sekretaris HKTI Sumut Yan Toguh Damanik mengatakan, pemerintah harus meningkatkan anggaran tersebut. Paling tidak 15% dari dari total anggaran mengingat lebih dari 50% rakyat hidup dari sektor pertanian serta sistem pertanian yang masih bersifat konvensional.

“Pertanian kita belum masuk era industrilisasi, padahal kita memiliki potensi yang besar tidak hanya tanaman pangan dan hortikultura saja tapi sektor perkebunan juga memiliki potensi yang luar biasa besarnya, seperti kelapa sawit, karet dan kakao,” jelasnya.(MB)

Berita Pertanian : Gubernur Sumbar Imbau Masyarakat Kurangi Konsumsi Cabai

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,


Padang
. Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Irwan Prayitno mengimbau masyarakat propinsi itu agar mengurangi konsumsi cabai, karena salah satu faktor yang memicu terjadinya inflasi di daerah itu.

"Salah satu upaya menekan angka inflasi dengan mengurangi konsumsi cabai oleh masyarakat. Bahkan, saya punya ide mengumumkan melalui media massa mengajak warga Sumbar berpuasa sehari makan cabai," kata Irwan Prayitno di Padang, Selasa (24/5).

Gubernur menyampaikan itu seusai membuka pertemuan tim ekonomi Sumbar di gubernuran, yang membahas perekonomian Sumbar, salah satunya mencegah inflasi menghadapi hari besar dan Lebaran mendatang.

Menurutnya, gagasan untuk berpuasa sehari makan cabai memungkinkan, karena tidak akan mati masyarakat kalau tidak mengonsumsi cabai dalam satu hari. Selain itu, kalangan pedagang pun tidak akan dirugikan dengan diterapkan gagasan berpuasa sehari makan cabai di daerah tersebut.

Gubernur mengatakan, cabai di Sumbar masih menjadi salah satu kebutuhan pokok selain beras sehingga permintaan besar dari masyarakat untuk dikonsumsi. Sementara produksi tidak bisa memenuhi/mengikuti permintaan konsumen karena panen cabai sedikit, akibat kian berkurangnya masyarakat menanamnya.

Berkurang masyarakat menanam cabai, faktor seringnya mengalami kerugian, sementara untuk pemeliharaannya sulit dan hamanya pun banyak akibatnya produksi berkurang, dan permintaan tetap banyak sehingga memicu inflasi.

Karena itu, kata Gubernur, pihaknya sudah meminta merekomendasikan kepada tim ekonomi, agar dipersiapkan stok cabai untuk pemenuhan permintaan pada hari besar (liburan, lebaran) dari dalam maupun dari luar daerah. Selain itu, diminta masyarakat untuk mengembangkan tanam cabai di perkarangan rumah masing-masing, sekitar lima hingga enam pohon sehingga bisa memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga.

"Konsumsi cabai untuk Sumbar ratusan ton per hari, akibatnya menyebabkan inflasi yang berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi serta pengangguran," katanya. (ant)

Berita Pertanian : Hama Bubuk Buah Serang Kakao NTT

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,


Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Komba, Stefanus Anggal dikebunnya, Selasa (24/5/2011) bersama dengan seorang petani, Robert Tifoon sedang menunjukkan Buah Kakao yang rusak diserang Hama Bubuk Buah. Kakao milik petani di Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur diserang hama Bubuk Buah.

BORONG. Hama Bubuk Buah serang Kakao milik petani di seluruh Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Hama Bubuk Buah menyerang buah kakao dalam tahun 2011 ini sehingga panenan Kakao menurun dibanding dengan tahun sebelumnya. Petani di desa Komba dan di seluruh wilayah Kecamatan Kota Komba sangat terganggu dengan hama ini.

"Penyakit Bubuk Buah menyerang buah Kakao sehingga penghasilan Kakao tahun ini sangat menurun dibanding tahun sebelumnya," Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Komba, Stefanus Anggal didampingi petani Robert Tifoon dikebunnya, Selasa (23/5/2011).

Anggal mengakui semua tanaman Kakao milik petani di Desa Komba juga di desa lain di wilayah Kecamatan Kota Komba mengalami hal yang sama di mana buah kakao sangat rusak akibat diserang hama tersebut.

"Tahun 2010 lalu, hasil Kakao di kebun saya seluas satu hektar sebanyak dua ton, tapi tahun ini menurun sekali yakni 1,5 ton. Saya sangat terganggu dengan hama Bubuk Buah yang menyerang Kakao. Bahkan petani di seluruh desa Komba menyampaikan keluhan kepada saya sebagai ketua kelompok Tani," jelasnya.

Anggal mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui dinas terkait diminta segera mengatasi Hama ini dan secepatnya menanggulangi pemberantasan penyakit yang sudah sangat mengganggu petani. "Semua masyarakat mengeluhkan hama Bubuk Buah Kakao di seluruh kebun petani,"ungkapnya.

Sementara Tifoon menjelaskan, di kebunnya juga mengalami gangguan yang sama terhadap buah Kakao yakni Penyakit Bubuk Buah. Hama ini menyerang buah Kakao sehingga menimbulkan kerusakan dan isi dari buahnya hancur

"Saya berkunjung di kebun Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Komba untuk melihat buah Kakao yang rusak akibat diserang Hama. Saya juga menyampaikan keluhan melalui Ketua Kelompok tentang Hama yang menimba buah kakao milik petani," ungkapnya.(kompas)

Berita Pertanian : Program SL Padi Hibrida 2011 Dibatalkan , Khawatir Wereng

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

SUKOHARJO. Ketakutan petani Sukoharjo, Jawa Tengah, terhadap serangan hama wereng coklat yang masih tinggi pada musim tanam sekarang ini, membuat pemkab setempat tidak berani memaksakan pelaksanaan puluhan unit sekolah lapang
pengelolaan tanaman terpadu ( SLPTT ) padi hibrida tahun 2011 yang dibiayai APBN.

"Ada sekitar 1.200 hektare lebih dari rencana 50 unit SLPTT Padi Hibrida yang akan dilaksanakan di Sukoharjo. Tetapi petani tidak berani ambil risiko, sehingga menolak melaksanakan program itu," tukas koordinator petani pengguna irigasi air Dam Colo Timur, Sarjanto Jigong, Senin (23/5).

Karena petani tidak berani melaksanakan SLPTT Padi Hibrida itu, maka dana bantuan APBN pun dikembalikan lagi ke kas negara. Sedianya, kelompok tani atau unit SLPTTt akan mendapatkan bantuan benih dan biaya operasional sebesar Rp2,995 juta.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tugas Pembantuan APBN 2011 Dinas Pertanian Sukoharjo, Netty Harjianti, kepada wartawan menjelaskan, kegiatan SL padi hibrida tahun 2011 yang dibiayai APBN dibatalkan karena petani tidak berani mengambil risiko kegagalan yang lebih besar akibat serangan hama.

"Karena tidak jadi dilaksanakan, ya dananya dikembalikan lagi ke kas negara," tukasnya.

Dia merinci, selain dana operasional sebesar Rp2,995 juta per unit, bantuan benih yang diberikan sebanyak 625 kg untuk areal seluas 25 hektare. (MI)

Berita Pertanian : Produk Pertanian Indonesia Diminati di Serbia

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

London. Berbagai produk pertanian Indonesia seperti kopi, teh, rempah-rempah, mie instant dan karet diminati pengusaha di Serbia dan negara lain pada pameran Pertanian Internasional ke-78 yang diadakan di Novi Sad, Serbia.

Sekretaris Tiga KBRI Beograt Ance Maylany kepada Antara London, Minggu mengatakan Pameran Pertanian Internasional terbesar di Serbia itu diikuti 1500 perusahaan dari 55 negara berlangsung selama seminggu.

Ance Maylany menjelaskan dengan mengusung tema "Remarkable mIndonesia Products" Indonesia berupaya memperkenalkan potensi komoditas dan produk pertanian serta perkebunan unggulan kepada pengusaha Serbia dan kawasan.

Presiden Serbia, Boris Tadic yang membuka pameran Pertanian di Novi Sad berkunjung ke stand Indonesia serta berbincang-bincang dengan Dubes RI untuk Serbia, Semuel Samson.

Keikutsertaan KBRI dalam pameran terbesar di Serbia dan Eropa Tengah ini merupakan yang kedua kalinya dan stand Indonesia setiap harinya, mengusung tema yang berbeda-beda seperti minyak kelapa sawit, teh, kopi, coklat, kelapa, rempah-rempah dan mie instant.

Pada pameran kali ini, KBRI menggandeng tiga perusahaan besar yaitu Sinar Mas Group yang diwakili Chief Operating Officer yang juga Wakil Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia, Harry Hanawi.

Kemudian, PT. BT Cocoa yang diwakili Country Manager, Koray Saban Aksaru selaku dan Manajer Pemasaran yang berkedudukan di Istambul, Turki, Caglar Ciftci serta PT Indofood yang diwakili Manajer Keuangan Oktovianus Damia, dan Manajer Penjualan kantor cabang Serbia dan Balkan Nebojsa Panic.

Keikutsertaan Indonesia dalam pameran pertanian kali ini adalah dalam upaya meningkatkan kerja sama Indonesia- Serbia di bidang ekonomi dan perdagangan yang tercantum dalam Rencana Strategis KBRI Beograd 2010-2013.

Setiap harinya stand Indonesia mengadakan koktail guna menarik perhatian pengunjung sekaligus kesempatan bagi para pengusaha Serbia untuk lebih mengenal komoditas dan produk dari Indonesia.

Keragaman acara yang diadakan di stand Indonesia selama pameran berhasil membawa Indonesia memenangkan salah satu penghargaan, yaitu sebagai stand berpenampilan terbaik dalam visualisasi identitas.


Alternatif pasar

Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar dalam acara coktail party yang diadakan di stand Indonesia mengemukakan perlunya alternatif pasar bagi komoditas dan produk Indonesia serta upaya peningkatan kerja sama antara Indonesia dan Serbia.

Bersama dengan Wamendag, hadir Direktur Pemasaran Produk Pertanian dan Kehutanan, Kemendag, Yamanah yang juga berkesempatan berkunjung ke berbagai perusahaan yang berpartisipasi pada pameran pertanian tersebut.

Selama kunjungan kerja di Serbia, Wamendag dan tiga pengusaha Indonesia mengadakan pembicaraan dengan Kamar Dagang Serbia, Wakil Menteri Perdagangan dan Pertanian , pimpinanpParlemen dan Kamar Dagang Novi Sad serta Institute for Agriculture and Vegetable Crops NS Seme pusat penelitian benih unggul Serbia.

Berbagai pembicaraan dirancang guna menggambarkan pemangku kebijakan dan kepentingan Serbia untuk memberikan dukungan dan membuka diri kemungkinan kerja sama dengan Indonesia.

Para pengusaha Indonesia yang dipimpin Dubes RI di Beograd dan staf KBRI mengunjungi pabrik utama Serbia, di bidang hasil pertanian terkait dengan komoditas minyak sawit dan kakao.

Untuk minyak sawit, pembicaraan dilakukan dengan perusahaan Victoria Group, salah satu kelompok perusahaan besar di Serbia yang memproduksi minyak nabati dan biodiesel.

Sementara Dijamant dari Agrokom Group yang merupakan pabrikan minyak sayur dan berbagai produk makanan yang menggunakan minyak nabati seperti minyak sawit dan kakao berkunjung ke stand Indonesia.

Para pengusaha dari berbagai negara seperti Kroasia, Bosnia dan Herzegovina menyatakan ketertarikan mereka atas minyak sawit.

Sementara itu pengusaha dari Macedonia, Bosnia dan Herzegovina serta Mesir menyatakan ketertarikan dengan produksi kakao Indonesia.

Komoditas dan produk Indonesia lainnya seperti kopi, teh, rempah-rempah, mie instant dan karet memperoleh perhatian dan permintaan dari berbagai pengusaha tidak hanya di Serbia tapi juga negara lain.

Sebanyak 11 media diantaranya kantor berita Yanjug, Biznis News, Blic, E-kapija-portal pengusaha Serbia, Fair News, MC Portal, Poljopartner-portal khusus dibidang pertanian, Press, Portal Ravnica-portal para petani mendatangi stand Indonesia.

Selain itu Radio Televisi Vojvodina, Vecernje Novosti menyanjikan artikel mengenai kehadiran Indonesia di pameran terkait dengan promosi dan juga kehadiran pengusaha Indonesia pada pameran ini. (ant)

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul