RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label Kakao. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kakao. Tampilkan semua postingan

Berita Pertanian : Harga Kakao Anjlok 40% karena Stok Menumpuk

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Jakarta. Produksi kakao lokal yang turun menjadi 450.000 ton di 2011 dibarengi dengan harganya yang anjlok hingga 40%. Pasalnya, pasokan di negeri "surga" kakao seperti Pantai Gading masih menumpuk hingga lebih dari 500.000 ton.
"Kondisi ini membuat harga kakao dunia jatuh, termasuk juga harga kakao Indonesia. turunnya harga mencapai sekitar 40%, pada 2010 harga kakao mencapai 340.000 dolar/ton saat ini (2011) hanya 210.000-220.000 dolar/ton," kata Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi Sikumbang, kepada detikFinance, Sabtu (24/12).

Jatuhnya harga kakao ini, kata dia, karena negara-negara pemasok dan produksi kakao terbesar di dunia seperti Pantai Gading dan negara di benua Afrika kelebihan produksi.

"Untuk Pantai Gading saja, sudah kelebihan produksi sebanyak 500.000 ton hampir sebanding dengan total produksi Indonesia yang mencapai 450.000 ton, itu belum dari negara lainnya di Afrika," ujarnya.

Selain itu, ekspor kakao Indonesia juga agak sedikit menurun yakni hanya sekitar 200.000 ton biji kakao dan 250.000 ton biji kakao yang diolah di dalam negeri.

"Hal ini dikarenakan situasi perekonomian di Amerika dan Eropa yang sedang krisis, dan sebagaimana diketahu Amerika dan Eropa adalah pasar utama kakao Indonesia," ucapnya. Makanya, pada 2012, Zulhefi menargetkan ekspor biji kakao hanya mencapai 150.000 ton, sisanya sebanyak 350.000 ton lagi diolah di dalam negeri.

"Tapi positifnya tahun depan, harga kakao bisa naik antara 220.000-280.000 dolar/ton seiring berkurangnya produksi negara-negara penghasil kakao di Afrika dikarenakan mengenjot produksinya tahun ini. Dan bisa dipastikan tahun depan produksi mereka akan turun," tandasnya. (dtc)

Sosialisasi Program Revitalisasi Perkebunan Karet, Kakao dan Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Kisaran,- Bank Sumut Cabang Kisaran bersama Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) setempat menggelar sosialisasi tentang program revitalisasi perkebunan karet, Kakao dan kelapa sawit di Desa Pulau Pule Kecamatan Sei Dadap , baru-baru ini. Kegiatan ini untuk mendorong peningkatan usaha perkebunan bagi masyarakat di Kabupaten Asahan.
"Sosialisasi menawarkan
bagi masyarakat petani sistem kredit KPN-RP dan KKS dengan jangka waktu kredit maksimum 13 tahun," ungkap Kepala Bank Sumut Cabang Kisaran Amirin Harahap ketika ditemui Analisa, Minggu (23/10) di Gedung Olahraga (GOR) Kisaran.

Dikatakannya, pertemuan atau sosialisasi yang diikuti beberapa petani perkebunan yang bersal dari beberpa kecamatan antara lain, Kecamatan Air Batu, Sei Dadap dan Kecamatan Tinggi Raja bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat petani pekebun untuk dapat memilih tanaman yang tepat, misalnya kalau dirata-ratakan luas tanah yang dimiliki masyarakat kita hanya seluas 5.000 m2 atau setengah hektar. Kalau ditanam sawit hanya menghasilkan sekitar Rp 1 juta per bulan, kalau karet sekitar Rp 2 juta per bulan dan kakao bisa mencapai Rp 3,5 juta per bulan.

"Masyarakat jangan tergiur dengan sosok tanaman sawit, dengan lahan yang tidak seberapa," paparnya sembari mengatakan bila masyarakat demam terhadap sawit maka jawabannya adalah petani di desa akan tetap menjadi buruh di kampung sendiri.

Padahal, katanya, dengan lahan yang tidak begitu luas bisa menghasilkan pendapatanyang besar, tapi masyarakat hanya tergiur dengan satu tanaman yaitu tanaman sawit.

"Ini harus kita dorong untuk meningkatkan tarap hidup masyarakat kita di desa dan kita lihat saat ini akibat masyarakat demam sawit, harga karet dan kakao melambung tinggi karena itu Pemkab Asahan dan Bank Sumut merasa perlu memberikan dorongan kepada masyarakat bagaimana upaya meningkatkan kesejahteraan petani di desa-desa melalui program skim kredit lunak dan jangka panjang," papar Amirin.

Dia berharap dengan sosialisasi itu, petani kebun dapat terbuka wawasannya, hingga tidak terfokus kepada satu tanaman saja, akibat trend yang ada. Padahal, dengan kondisi lahan yang hanya setengah hektar lebih cocok dan pantas untuk menanam tanaman lain, seperti karet dan juga kakao.

 "Mudah-mudahan dengan fasilitas yang ditawarkan pemerintah ini, kesejahteraan petani dapat lebih meningkat," paparnya lagi sembari mengatakan bahwa sosialisasi itu akan dilakukan juga di kecamatan lainnya.(aln)ANA

Tarif Bea Keluar CPO dan Kakao Nopember turun

Posted by Flora Sawita Labels: , ,

JAKARTA: Tarif bea keluar (BK) minyak sawit mentah atau CPO (crude palm oil) untuk pengiriman November ditetapkan sebesar 15%.

BK CPO untuk bulan depan tersebut turun dari bulan ini yang tercatat sebesar 16,5%.
"Harga referensi CPO untuk November US$1.009,51 per metrik ton atau turun dibanding harga Oktober sebesar US$1.072,63 per metrik ton. Dengan demikian tarif Bea Keluar untuk November turun dari 16,5% menjadi 15%," ujar Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh malam ini.

Sementara itu, harga referensi biji kakao untuk November adalah US$2.649,83 per ton.

Harga referensi tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan harga bulan ini sebesar US$2.979 per ton.

 "Dengan demikian, tarif BK biji kakao untuk November adalah 5% atau turun dari tarif BK Oktober sebesar 10%," kata Deddy. (sut) KOMPAS

Produksi Kakao Tahun Ini Diprediksi Turun 21,74%

Posted by Flora Sawita Labels: ,

JAKARTA: Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) memprediksi produksi Indonesia pada tahun ini merosot 21,74% atau 125.000 ton dibandingkan 2010.

Penurunan ini membuat total produksi kakao di Indonesia hanya 450.000 ton. Sedangkan pada tahun lalu, Askindo mencatat, produksi kakao Indonesia mencapai 575.000 ton. Ketua Umum Askindo Zulhefi Sikumbang menjelaskan produksi merosot karena produktivitas kakao di Pulau Sulawesi terganggu cuaca. Pulau Sulawesi merupakan daerah produksi kakao terbesar di Indonesia

“Juga karena sangat banyak hama. Kalau terlalu basah dia mati karena banyaknya jamur,” katanya.
Selain cuaca dan hama, perhatian pemerintah terhadap perawatan kebun kakao kurang. Menurut Zulhefi, gerakan nasional (gernas) produksi kakao tidak memberikan tindakan konkret kepada petani kakao. Misal, dana Gernas dipakai membeli pupuk formula untuk dibagikan ke petani. Satu tahun pemberian pupuk gratis, tahun berikutnya petani tidak dapat pupuk lagi.

“Harusnya Gernas memberikan program penyuluhan kepada petani. Gernas tidak sesuai yang kami harapkan. Harusnya perbanyak tenaga penyuluh, mereka harus tidur di rumah petani,” tuturnya.

Zulhefi mensinyalir produksi turun lantaran banyak petani kakao mengalihkan lahannya menjadi lahan kelapa sawit dan karet. Pengalihan ini karena produktivitas kakao rendah dibandingkan komoditas lain. Produktivitas yang rendah ini menyebabkan pendapatan petani ikut rendah.

Askindo menghitung produktivitas kakao hanya 500 kg/ha/tahun. Dengan harga kakao Rp22.00/kg, maka pendapatan petani hanya Rp11 juta/ha/tahun. Adapun komoditas sawit dapat mencapai produktivitas 30Mt/ha/tahun. Dengan harga Rp1.250/kg, maka pendatapan petani Rp37,5 juta. Produktivitas karet yang mencapai 1.000 kg/ha/tahun dan harganya Rp45.000/kg, maka pendapatan petani karet Rp45 juta. Begitu juga dengan petani jagung yang pendapatannya bisa mencapai Rp45 juta/ha/tahun.

“Dengan situasi produktivitas yang rendah ini, kapan saja petani dapat beralih. Produktivitas kakao tidak gampang naik,” ujar Zulhefi.

 Dengan peralihan kakao ke komoditas lain, dia memprediksi produksi kakao dua hingga tiga tahun mendatang tidak naik banyak. Pada 2012 hanya 500.000 ton dan 2013-2014 tidak lebih dari 600.000 ton.(api)(BI)

Kakao Indonesia Kembali Bergairah

Posted by Flora Sawita Labels: , ,

JAKARTA-Pasar kakao Indonesia kembali bergairah. Dalam beberapa tahun ke depan, investasi perkebunan kakao akan makin kompetitif dan ekonomis. Selain karena konsumsi kakao di dalam negeri sekitar 200 ribu ton per tahun belum tertutupi dari kapasitas yang ada baru 170 ribu ton, Nesttle SA bakal mendirikan pabrik kakao di Indonesia. Nesttle SA, perusahaan asal Swiss itu bakal berinvestasi senilai USD 200 juta.
“Apabila investor lainnya juga ingin investasi seperti yang dilakukan Nesttle, maka pasar kakao di dalam negeri akan tumbuh besar,” kata Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi Sikumbang di Jakarta, Jumat (7/10).

Ia mengatakan, pasar kakao di Indonesia akan tumbuh signifikan dengan masuknya sejumlah investor asing ke industri tersebutn selain pasar yang besar juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi. “Kami optimis industri kakao akan kembali berkembang, karena sejumlah produsen kakao di dalam negeri cenderung mati suri,” katanya.

Nesttle sebelumnya mendirikan pabrik kakao di Malaysia, namun pasarnya dinilai kecil, sehingga sulit berkembang, karena itu berusaha untuk melebarkan sayapnya dengan masuk ke pasar Indonesia. Produk kakao dari Malaysia pada umumnya diekspor ke Indonesia seperti Milo (susu bubuk coklat). Pasar kakao Indonesia yang besar itu menarik Nesttle untuk melakukan ekspansi usaha di Asia khususnya di Indonesia, karena jumlah penduduknya yang besar.
Meski saat ini produksi kakao Indonesia merosot hampir 50 persen, akibatnya banyak petani kakao yang mengalihkan kegiatannya ke karet dan kelapa sawit. “Kalau menanam kakao banyak menemui kesulitan karena banyak penyakit, apalagi saat ini iklim tak menentu, dibanding menanam karet, jagung dan kelapa sawit,” jelasnya.
Lantaran para petani harus mendapat penyuluhan dan pemerintah juga harus giat melakukan promosi agar investor asing lebih aktif melakukan ekspansi di pasar domestik. (lum/jpnn)/HSP

5.000 ton bubuk kakao palsu

Posted by Flora Sawita Labels: ,

JAKARTA. Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) memperkirakan peredaran bubuk kakao palsu di Indonesia mencapai 5.000 ton dalam setahun. Selain merugikan industri, bubuk kakao palsu juga berbahaya bagi kesehatan konsumen.
Ketua Umum AIKI Piter Jasman mengatakan keberadaan bubuk kakao palsu sangat meresahkan. Bagi industri, bubuk kakao palsu tersebut bisa memicu persaingan yang tidak sehat karena konsumen tidak mampu membedakan yang asli dan palsu. "Harganya juga 50% lebih murah dari bubuk kakao asli," kata Piter, Jumat (3/6).

Piter mengatakan yang paling berbahaya justru orang yang mengkonsumsi bubuk kakao palsu itu. Maklum, bubuk kakao palsu yang beredar itu diolah dari kulit biji kakao yang seharusnya dibuang. WHO juga sudah menyatakan produk bubuk coklat palsu itu berbahaya untuk dikonsumsi.

Kulit biji kakao sebenarnya sampah dalam proses pengolahan kakao. Kulit biji kakao juga tidak steril karena biasanya dijemur oleh petani di tempat terbuka. Selain kotor, kulit kakao juga seringkali berjamur. Biasanya dalam proses pengolahan biji kakao, dilakukan fumigasi dengan obat kimia.

Piter mengatakan, sampah berupa kulit biji kakao itu masih mengandung obat kimia yang dipergunakan menghilangkan bakteri. "Biasanya kulit biji kakao dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti sapi," imbuhnya. Karena itu dia sudah meminta BPOM dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) untuk memperketat pengawasan peredaran bubuk kakao palsu ini.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menambahkan, beredarnya bubuk kakao palsu ini karena pengawasan penerapan SNI Wajib yang kurang ketat. "Peran Kementerian Perdagangan dan BPOM dalam pengawasan barang beredar harus ditingkatkan," kata Adhi.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian Arryanto Sagala mengaku akan bersikap tegas jika menemukan produsen yang memproduksi bubuk kakao dari kulit biji kakao. "Sanksinya bisa berupa penghentian produksi untuk pembinaan selama 6 bulan hingga pencabutan izin produksi," kata Arryanto.

Catatan saja, total produksi industri pengolahan kakao dalam negeri mencapai 280.000 ton per tahun. Dari jumlah itu, yang dikonsumsi di dalam negeri hanya mencapai 40.000 ton, sisanya diekspor. Konsumsi bubuk kakao di dalam negeri masih terbilang kecil dengan hanya 0,06 kilogram per kapita. Angka itu sangat jauh dari konsumsi di Eropa yang mencapai 10 kilogram per kapita.

Berita Pertanian : Kebijakan BK Dorong Peningkatan Produksi Industri Kakao

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Jakarta. Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia Piter Jasman mengatakan penerapan kebijakan pengenaan bea keluar (BK) dalam ekspor biji kakao telah mendorong peningkatan kapasitas produksi industri kakao nasional.

"Produksi industri kakao yang tahun lalu 150.000 ton akan meningkat menjadi 280.000 ton tahun ini. Tahun 2012, bisa naik lagi menjadi 400.000 ton," kata Piter yang juga Presiden Komisaris PT Bumitangerang Mesindotama Cocoa Processing, pada peresmian BT Chocolate Academy di Tangerang, Banten, Senin (30/5).

Ia menjelaskan, pengenaan bea keluar ekspor biji kakao sejak 1 April 2011 telah memberikan kontribusi bermakna terhadap pertumbuhan industri pengolahan kakao dalam negeri.

"Setahun setelah penerapan bea keluar biji kakao, sudah terlihat dampak positifnya. Beberapa industri yang semula berhenti produksi saat ini sudah berjalan kembali," katanya.

Saat ini, dia menjelaskan, beberapa industri pengolahan kakao juga melakukan ekspansi dan pabrik-pabrik pengolahan baru mulai dibangun, salah satunya di Batam. "Sekarang sudah ada 14 industri pengolahan," kata dia.

Padahal, ia menjelaskan, industri pengolahan kakao yang tahun 2000 ada 40 pabrik dengan kapasitas 300.000 ton pernah menurun drastis menjadi hanya lima pabrik dengan kapasitas 120.000 ton pada 2009 karena beberapa kebijakan yang kurang kondusif.

Selain itu, pertumbuhan industri pengolahan biji kakao juga terlihat dari peningkatan konsumsi biji kakao oleh industri dalam negeri. Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) memperkirakan konsumsi biji kakao untuk industri pengolahan dalam negeri yang pada 2010 sekitar hanya 150.000 ton meningkat menjadi 220.000 ton pada 2011.

Selanjutnya, Piter berharap, separuh dari produksi biji kakao nasional yang pada 2010 sekitar 600.000 ton bisa diserap industri dalam negeri sehingga lebih banyak nilai tambah yang bisa dinikmati.

Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar dan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah secara berlanjut mendukung upaya untuk meningkatkan pertumbuhan industri hilir kakao.

"Supaya nilai tambahnya tidak malah dinikmati negara lain," kata Bayu. Dukungan, menurut dia, antara lain diberikan melalui penghapusan pajak pertambahan nilai untuk hasil olahan kakao dan pengenaan bea keluar dalam ekspor biji kakao. Pemerintah, lanjut dia, sejak tahun 2007 juga menjalankan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao untuk meningkatkan produksi biji kakao nasional. (ant)

Serbia, Pintu Masuk Sawit & Kakao ke Eropa Timur

Posted by Flora Sawita Labels: , ,

Foto KAKAO by cfddago.
JAKARTA- Pemerintah Indonesia melihat adanya potensi Serbia akan menjadi pintu perdagangan yang strategis bagi ekspor sawit dan kakao dari Indonesia ke kawasan Eropa Timur.

“Setelah kemarin kami mengadakan kunjungan ke wilayah Beograd-Serbia, kami melihat bahwa Serbia dapat menjadi semacam transit bagi perdagangan sawit dan kakao kita,” ujar Wakil Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu kala ditemui di kantornya, akhir pekan kemarin.

Dengan dijajakinya kemungkinan ini, Mari menyatakan pintu perdagangan ke Eropa tidak lagi datang melalui kawasan Eropa barat. “Selama ini, komoditas ekspor kita kalau ke Eropa masuknya lewat Rotterdam dan Hamburg. Mungkin ke depannya, kita bisa masuk lewat Balkan” lanjutnya.

Ketika dikonfirmasi masalah sertifikasi dan kualitas sawit yang sering menjadi masalah ketika memasuki kawasan Eropa, dia menyatakan bahwa proses kesalahanpahaman terkait masalah {palm oil sustaibility} ini akan segera akan segera diselesaikan.

Selain itu, ia juga meyatakan bahwa proses hilirisasi komoditas kakao juga berjalan dengan baik. “Kemarin, saya meninjau pabrik olahan kakao baru di Batam yang bisa memproduksi Kakao sebanyak 60 ribu ton per tahun, itu menunjukkan bahwa proses hilirasasi kita berjalan baik” tutupnya. (mrt)
(ade) sumber okezone.

Berita Pertanian : Marak, Konversi Lahan Kakao

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Makassar. Konversi lahan sejumlah tanaman sering terjadi di daerah. Di sentra produksi kakao di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, semakin banyak lahan kakao dikonversi ke lahan sawit. Banyak petani berspekulasi mengonversi lahan karena ada informasi bahwa sawit lebih menjanjikan.

”Saya belum punya data luas lahan yang terkonversi. Namun, konversi kian terlihat di beberapa tempat,” kata Sekjen Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) yang juga Sekretaris DPD Askindo Sulawesi Selatan, Dakhri Sanusi, Minggu (24/4) di Makassar.

Dakhri menyebutkan, sejumlah lahan milik petani di Mamuju, Palopo, dan Palu telah dikonversi menjadi lahan sawit. Para petani mengaku, tanaman kakao tidak banyak menjanjikan. Mereka beralih ke tanaman sawit karena mendapat informasi dari sejumlah pihak mengenai keuntungan yang ada.

”Kami menyayangkan konversi itu. Apalagi, petani hanya mendapat informasi yang tidak memadai mengenai sawit. Akan tetapi, kalau hanya punya 1 hektar lahan kakao, petani hanya mendapat uang Rp 10 juta setahun. Uang ini tidak mungkin mencukupi kebutuhan hidup mereka. Untuk perawatan tanaman saja, dananya pasti tidak mencukupi. Hal seperti inilah yang membuat petani lari ke tanaman lain,” kata Dakhri.

Ia juga mengatakan, BUMN lebih melihat tanaman sawit ketimbang tanaman kakao. Buktinya, tidak ada BUMN perkebunan yang mengelola tanaman kakao besar-besaran. Hal seperti ini juga dilihat petani, yang lalu beralih ke tanaman sawit.

Sementara itu mengenai dampak cuaca terhadap tanaman kakao, Dakhri mengatakan, perubahan cuaca belakangan ini menyebabkan panen kakao, dahulu dua kali dalam setahun, kemungkinan akan berubah. Panen, yang biasanya pada April-Juni dan September-Oktober, kini mungkin merata sepanjang Mei-Oktober. Tahun lalu produksi kakao di sana sekitar 400.000 ton.

Mundurnya masa panen dan waktu panen yang tidak menentu itu sampai sekarang tidak berdampak pada komitmen pedagang terhadap pembeli. Dakhri mengatakan, para pedagang dan pembeli sudah mengetahui masalah ini sehingga para pedagang tidak terkena penalti karena ada penjadwalan ulang pengapalan.

”Yang menjadi masalah adalah pengenaan bea ekspor sebesar 15 persen. Pedagang lebih memilih pengapalan setelah April untuk menghindari bea ekspor sebesar itu,” kata Dakhri.

Berita Pertanian : Rehabilitasi Tanaman Kakao Dilakukan dengan Sambung Samping

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Medan. Pasar ekspor menuntut mutu biji kakao yang lebih baik. Padahal saat ini, mutu biji kakao yang rendah (biji-bijinya kecil), sangat banyak dijumpai di perkebunan besar maupun perkebunan rakyat sehingga tidak bisa menembus pasar ekspor.

"Untuk mengatasi inilah dilakukan rehabilitasi tanaman kakao dengan sambung samping," kata Dwi, staf anjungan Kabupaten Asahan kepada MedanBisnis, Kamis (7/4), di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).

Menurut Dwi, kecilnya biji kakao yang dihasilkan karena berbagai faktor seperti penggunaan bahan tanaman yang mutunya kurang baik. Padahal, sudah ditemukan klon dengan produktivitas yang lebih tinggi dengan kualitas biji yang lebih seragam dan cukup besar.

"Hal terpenting dalam rehabilitasi tanaman kakao ini sebenarnya pemeliharaan. Pemeliharaan akan berhasil jika dilakukan secara teratur. Tunas palsu dibuang secara berskala dan pemangkasan dibentuk setelah umur 6 bulan agar permukaan tajuk lebih besar,” ujar Dwi.

Menurutnya, rehabilitasi sambung samping ini memang sedang digiatkan petani-petani kakao di Asahan. "Pasar ekspor kakao saat ini memang cukup besar. Peluangnya terbuka lebar. Jadi selain produk kelapa sawit, kakao juga menjadi andalan dari daerah Asahan," ujarnya.

Memang diakuinya, keterbatasan lahan petani juga menjadi salah satu kendala pengembangan tanaman kakao. Padahal, rehabilitasi tanaman kakao ini bisa meningkatkan produksi hingga 50% dari produksi sebelumnya.

Berita Pertanian : Harga Kakao Dalam Negeri Masih Mahal

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Medan. Harga kakao di pasar dalam negeri masih menguat, meski harga ekspor cenderung turun karena pasokan dari Pantai Gading mulai banyak menyusul gejolak politik di negara produsen utama kakao itu mulai reda.

"Meski turun juga, tapi harga kakao di lokal yang Rp23.000 per kg pekan. Ini dinilai masih tinggi dibandingkan harga ekspor yang sudah tinggal sekitar 2,9-3 dolar AS per kg dari sebelumnya 3,5 dolar," kata Suryo Pranoto, pengusaha ekspor berbagai komoditas Sumut, di Medan, Senin (4/4).

Dirut PT.Sarimakmur Tunggalmandiri itu mengatakan, mahalnya harga kakao di pasar lokal karena produksi tidak terlalu banyak bahkan tren menurun setiap tahun Penurunan produksi bukan hanya karena faktor cuaca, tetapi juga akibat banyak tanaman petani yang sudah tua sehingga produktivitasnya semakin rendah.

Produksi semakin minim karena pasokan dari kebun swasta dan Perkebunan Nusantara semakin sedikit karena tanamannya dikonversikan ke sawit. "Pasar kakao masih cukup bagus di masa yang akan datang, harusnya Indonesia mempertahankan komoditas itu," katanya. (Ant)

PROSES PRODUKSI BENIH KAKAO

Posted by Flora Sawita Labels: ,


Poses produksi benih kakao adalah menyiapkan buah kakao yang dipetik dari kebun benih bersertifikat atau yang ditetapkan oleh pemerintah menjadi benih siap salur. Buah kakao yang memenuhi standar untuk benih adalah :

a. Masak fisiologis
b. Sehat
c. Bentuk dan ukuran normal

Buah kakao yang telah memenuhi syarat tersebut diatas, dilakukan penyiapan benih sebagai berikut :

1. Pemecahan Buah Kakao

Buah kakao yang terpilih dipecah dan bijinya dikeluarkan dari buah, kemudian biji yang digunakan untuk benih dapat berasal dari bagian ujung, tengah dan pangkal buah kecuali yang terlalu kecil. Perkecambahan benih kakao asal bagian ujung tengah, dan pangkal buah tidak berbeda nyata ( Rahardjo dan Soedarsono, 1986). Biji cacat, memar, lunak, tidak digunakan untuk benih.

2. Pengupasan Kulit Benih

Biji berdaging buah sangat licin untuk itu digumpalkan dengan air kapur 2,5 % (25 gr per 1 liter air) selama ± 30 detik. Satu liter air untuk 1.000 butir benih kemudian biji dikeluarkan dari air kapur, dan dicuci air untuk menghilangkan kapu yang menempel pada biji. Pengupasan kulit biji dilakukan dengan tangan biasa sedapat mungkin dihindari biji terluka.

3. Pemberian Fungisida

Sebagai pelindung benih dari serangan jamur simpan digunakan fungisida, dan fungisida sistemik-kontak berbahan aktif carbendazim+mankozeb (Delsene MX-200) memiliki kemampuan melindungi benih dari serangan jamur simpan lebih baik dibandingkan fungsisida sistemik saja (Rahardjo dan Sukamto, 1987). Konsentrasi larutan fungisida 0,5-1 % (0,5-1 g dilarutkan dalam 1 liter air), dan benih direndam selama 5-10 menit larutan fungisida. Selanjutnya benih ditiriskan untuk menurukan kadar air benih.

4. Pengering-anginan Benih


Kadar air benih kakao basah sekitar 50 % dan untuk dikirim perlu diturunkan dengan
mengeringanginkan pada tempat yang teduh sampai mencapai kadar air 35-40 %. Pada keadaan cuaca cerah lama pengeringanginan sekitar 1-2 jam. Untuk mempercepat pengering-anginan benih dibantu dengan blower atau kipas angin, dan benih dihamparkan rak dengan alas kawat kasa, kertas koran, tempe.

5. Pengemasan Benih

Benih yang telah mencapai kering angin dimasukkan dalam kantung plastik transparan berukuran panjang 30 cm, lebar 20 cm dan tebal 0,1 cm. Setiap kantung diisi 500 butir ditambah 25 butir benih sebagai rafraksi, dan ditutup rapat. Kemudian dimasukkan peti karton berukuran panjang 45 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 25 cm. Setiap peti karton diisi 10 kantung plastik dan diantara kantung plastik diberi serbuk gergaji kering untuk penyangga suhu agar relatif tetap. Dengan demikian setiap karton akan berisi 5.250 butir benih, dan peti karton ditutup rapat.

PROSES PRODUKSI BENIH KAKAO

Posted by Flora Sawita Labels: ,


Poses produksi benih kakao adalah menyiapkan buah kakao yang dipetik dari kebun benih bersertifikat atau yang ditetapkan oleh pemerintah menjadi benih siap salur. Buah kakao yang memenuhi standar untuk benih adalah :

a. Masak fisiologis
b. Sehat
c. Bentuk dan ukuran normal

Buah kakao yang telah memenuhi syarat tersebut diatas, dilakukan penyiapan benih sebagai berikut :

1. Pemecahan Buah Kakao

Buah kakao yang terpilih dipecah dan bijinya dikeluarkan dari buah, kemudian biji yang digunakan untuk benih dapat berasal dari bagian ujung, tengah dan pangkal buah kecuali yang terlalu kecil. Perkecambahan benih kakao asal bagian ujung tengah, dan pangkal buah tidak berbeda nyata ( Rahardjo dan Soedarsono, 1986). Biji cacat, memar, lunak, tidak digunakan untuk benih.

2. Pengupasan Kulit Benih

Biji berdaging buah sangat licin untuk itu digumpalkan dengan air kapur 2,5 % (25 gr per 1 liter air) selama ± 30 detik. Satu liter air untuk 1.000 butir benih kemudian biji dikeluarkan dari air kapur, dan dicuci air untuk menghilangkan kapu yang menempel pada biji. Pengupasan kulit biji dilakukan dengan tangan biasa sedapat mungkin dihindari biji terluka.

3. Pemberian Fungisida

Sebagai pelindung benih dari serangan jamur simpan digunakan fungisida, dan fungisida sistemik-kontak berbahan aktif carbendazim+mankozeb (Delsene MX-200) memiliki kemampuan melindungi benih dari serangan jamur simpan lebih baik dibandingkan fungsisida sistemik saja (Rahardjo dan Sukamto, 1987). Konsentrasi larutan fungisida 0,5-1 % (0,5-1 g dilarutkan dalam 1 liter air), dan benih direndam selama 5-10 menit larutan fungisida. Selanjutnya benih ditiriskan untuk menurukan kadar air benih.

4. Pengering-anginan Benih


Kadar air benih kakao basah sekitar 50 % dan untuk dikirim perlu diturunkan dengan
mengeringanginkan pada tempat yang teduh sampai mencapai kadar air 35-40 %. Pada keadaan cuaca cerah lama pengeringanginan sekitar 1-2 jam. Untuk mempercepat pengering-anginan benih dibantu dengan blower atau kipas angin, dan benih dihamparkan rak dengan alas kawat kasa, kertas koran, tempe.

5. Pengemasan Benih

Benih yang telah mencapai kering angin dimasukkan dalam kantung plastik transparan berukuran panjang 30 cm, lebar 20 cm dan tebal 0,1 cm. Setiap kantung diisi 500 butir ditambah 25 butir benih sebagai rafraksi, dan ditutup rapat. Kemudian dimasukkan peti karton berukuran panjang 45 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 25 cm. Setiap peti karton diisi 10 kantung plastik dan diantara kantung plastik diberi serbuk gergaji kering untuk penyangga suhu agar relatif tetap. Dengan demikian setiap karton akan berisi 5.250 butir benih, dan peti karton ditutup rapat.

HEBATNYA KAKAO SULAWESI 1

Posted by Flora Sawita Labels: ,

Beginilah tampilan Sulawesi 1 ketika berbuah optimal. Konon dalam 1 pohon bisa mencapai 100 buah atau setara 3 kg kakao kering. Pemanen dilakukan tiap minggu sesuai dengan kematangan buah. Benih Sulawesi 1 dapat diperoleh di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember.

HEBATNYA KAKAO SULAWESI 1

Posted by Flora Sawita Labels: ,

Beginilah tampilan Sulawesi 1 ketika berbuah optimal. Konon dalam 1 pohon bisa mencapai 100 buah atau setara 3 kg kakao kering. Pemanen dilakukan tiap minggu sesuai dengan kematangan buah. Benih Sulawesi 1 dapat diperoleh di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember.

KLON UNGGUL KAKAO GENERASI KETIGA

Posted by Flora Sawita Labels: , ,


Walaupun klon generasi pertama dan kedua masih layak digunakan mengingat produktivitas dan mutu hasilnya baik, namun tetap masih diperlukan klon kakao yang lebih unggul. Oleh karena program pemuliaan kakao dengan sasaran diperolehnya bahan tanaman unggul yang lebih baik dari klon unggul sebelumnya.

Sehubungan dengan itu Puslitkoka Jember telah melakukan seleksi dan uji multilokasi terhadap beberapa klon kakao mulia dan lidak. Dengan tujuan memperoleh klon unggul yang memiliki sifat: produksi tinggi, mutu hasil baik, tahan terhadap hama dan penyakit utama seperti hama helopeltis dan penggerek buah kakao (PBK). Sedangkan mengenai peyakit, misalnya busuk buah (Phytopthera palmivora) dan penyakit vascular streaj dieback (VSD).

Adapun klon kalao unggul generasi ketiga terebut antara lain:

Pertama, kakao mulia ICCRI 01, dan ICCRI 02 yang memiliki sifat daya hasil tinggi >2 ton/ha/tahun. ICCRI memiliki daya hasil 2,51 ton/ha dan ICCRI adalah 2,34 ton/tahun dan mempunyai daya adaptasi yang baik, serta tahan terhadap hama Heleopeltis dan penyakit busuk buah (Phytopthera palmivora)

Disamping itu klon ICCRI 01 dan ICCRI 02 meunjukkan sifat komponen hasil yang lebih baik, yaitu biji/tongkol 30, berat per satu biji kering di atas 1 gram. Hasil analisa kadar lemak pada biji menunjukkan > 50 persen yaitu kadar lemak biji klon ICCRI 01 sebesar 59 persen dan klin ICCRI 02 sebesar 58 persen.

Kedua, kakao mulia ICCRI 03, dan ICCRI 04 yang memiliki sifat daya hasil tinggi >2 ton/ha/tahun. ICCRI 03 memiliki daya hasil 2,09 ton/ha dan ICCRI) adalah 2,06 ton/tahun dan mempunyai daya adaptasi yang baik, serta tahan terhadap hama Heleopeltis dan penyakit busuk buah (Phytopthera palmivora)

Hasil analisa kadar lemak pada biji menunjukkan > 50 persen yaiotu kadar lemak biji klon ICCRI 03 dan klin ICCRI 04 sebesar 55 persen.

Sumber: Puslitkoka Jember

KLON UNGGUL KAKAO GENERASI KETIGA

Posted by Flora Sawita Labels: , ,


Walaupun klon generasi pertama dan kedua masih layak digunakan mengingat produktivitas dan mutu hasilnya baik, namun tetap masih diperlukan klon kakao yang lebih unggul. Oleh karena program pemuliaan kakao dengan sasaran diperolehnya bahan tanaman unggul yang lebih baik dari klon unggul sebelumnya.

Sehubungan dengan itu Puslitkoka Jember telah melakukan seleksi dan uji multilokasi terhadap beberapa klon kakao mulia dan lidak. Dengan tujuan memperoleh klon unggul yang memiliki sifat: produksi tinggi, mutu hasil baik, tahan terhadap hama dan penyakit utama seperti hama helopeltis dan penggerek buah kakao (PBK). Sedangkan mengenai peyakit, misalnya busuk buah (Phytopthera palmivora) dan penyakit vascular streaj dieback (VSD).

Adapun klon kalao unggul generasi ketiga terebut antara lain:

Pertama, kakao mulia ICCRI 01, dan ICCRI 02 yang memiliki sifat daya hasil tinggi >2 ton/ha/tahun. ICCRI memiliki daya hasil 2,51 ton/ha dan ICCRI adalah 2,34 ton/tahun dan mempunyai daya adaptasi yang baik, serta tahan terhadap hama Heleopeltis dan penyakit busuk buah (Phytopthera palmivora)

Disamping itu klon ICCRI 01 dan ICCRI 02 meunjukkan sifat komponen hasil yang lebih baik, yaitu biji/tongkol 30, berat per satu biji kering di atas 1 gram. Hasil analisa kadar lemak pada biji menunjukkan > 50 persen yaitu kadar lemak biji klon ICCRI 01 sebesar 59 persen dan klin ICCRI 02 sebesar 58 persen.

Kedua, kakao mulia ICCRI 03, dan ICCRI 04 yang memiliki sifat daya hasil tinggi >2 ton/ha/tahun. ICCRI 03 memiliki daya hasil 2,09 ton/ha dan ICCRI) adalah 2,06 ton/tahun dan mempunyai daya adaptasi yang baik, serta tahan terhadap hama Heleopeltis dan penyakit busuk buah (Phytopthera palmivora)

Hasil analisa kadar lemak pada biji menunjukkan > 50 persen yaiotu kadar lemak biji klon ICCRI 03 dan klin ICCRI 04 sebesar 55 persen.

Sumber: Puslitkoka Jember

KERAGAAN KLON UNGGUL SULAWESI 1

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Keragaan Klon Sulawesi 1 dengan perbanyakan sambung pucuk. Dalam kondisi optimal 1 pohon mencapai 100 buah setera 3 kg kakao kering. Pemanen bisa dilakukan setiap minggu.

Ingin mendapatkan informaasi tentang klon Sulawesi 1 dan bibit hubungi pengelola blog ini.

KERAGAAN KLON UNGGUL SULAWESI 1

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Keragaan Klon Sulawesi 1 dengan perbanyakan sambung pucuk. Dalam kondisi optimal 1 pohon mencapai 100 buah setera 3 kg kakao kering. Pemanen bisa dilakukan setiap minggu.

Ingin mendapatkan informaasi tentang klon Sulawesi 1 dan bibit hubungi pengelola blog ini.

DUA KLON KAKAO UNGGUL DALAM GAMBAR

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Klon ini bisa didapatkan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember dan di sumber benih kakao yang tersebar di sejumlah Propinsi di Indonesia.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul