RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label Info Sawit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Sawit. Tampilkan semua postingan

Pemerintah di Minta Jaga Harga TBS

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

RMOL. Kenaikan harga bahan bakar minyak dipastikan akan berdampak langsung kepada para petani kelapa sawit, terutama petani yang menjual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke pengumpul, bukan langsung ke pabrik kelapa sawit (PKS).

Karena itu, petani kelapa sawit berharap ada kebijakan antisipatif dari pemerintah. Pertama diharapkan, pemerintah menjaga stabilitas harga jual TBS, memberikan kompensasi bagi ongkos angkut sekaligus mengawasi dan memberikan sanksi tegas kepada pengumpul yang memanfaatkan isu penaikan BBM dengan menekan harga jual TBS ke titik terendah.

Hal itu disampaikan Dewan Pakar DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Seluruh Indonesia (Apkasindo), Dahnil Anzar Simanjuntak, kepada Rakyat Merdeka Online.Selain itu, sambung Dahnil, karena nilai tukar petani (NTP) khusus petani sawit kecil, petani kelapa sawit harus menjadi target penerima bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) dari pemerintah. Karena petani kelapa sawit dan juga petani-petani komoditas lainnya sangat terpukul dengan inflasi yang tinggi.

"Karena fakta empirik selama ini inflasi tinggi di komoditas, tidak selalu pararel dengan peningkatan harga jual dan pendapatan petani. Malah selalu terbalik. Pemicu inflasi muncul kerap menjadi alasan spekulan membeli komoditas petani di titik harga yang paling murah dan ini juga terjadi pada harga jual TBS," tandas Dahnil, yang juga pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banteng ini. [zul]

Boalemo Sediakan Kebun Sawit untuk Agro Ata Surya

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

GORONTALO--MICOM: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boalemo Provinsi Gorontalo dalam waktu dekat akan membuka areal perkebunan kelapa sawit pada sejumlah wilayah di daerah tersebut.

Bupati Boalemo Rum Pagau, Senin (2/4), mengatakan saat ini pihaknya sudah melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan nasional yang bergerak khusus untuk kelapa sawit yakni Agro Ata Surya.

"Kami telah menyediakan lahan untuk areal perkebunan kelapa sawit di daerah ini," Kata Rum.

Dia menjelaskan, untuk tahap awal pihaknya sudah menyediakan lahan di tiga kecamatan yakni Wonosari, Paguyaman, Paguyaman pantai dengan luas sekitar 20 hektar setiap wilayah.

Berdasarkan hasil pembicaraan dengan pihak perusahaan, Kabupaten Boalemo sangat cocok untuk perkebunan kelapa sawit, sehingga ke depan nanti akan terus dkembangkan.

Saat ini pemerintah daerah terus melakukan berbagai kerja sama dengan para investor, khususnya yang ingin menanamkan modalnya di Boalemo, sebab masih banyak wilayah areal tanahnya kosong.

"Kami membuka diri kepada investor untuk melakukan investasi di Boalemo dalam berbagai macam usaha," kata Rum. (Ant/OL-5)

Prof Endang Gumbira Sa’id, Obsesi Memajukan Sawit Indonesia

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Prof Dr Ir Endang Gumbira Sa’id MADev yang menghabiskan masa kecil di Subang, Jawa Barat, ini sudah terbiasa dengan rantai nilai komoditas pertanian, seperti tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Kelapa sawit sebagai anugerah besar bangsa Indonesia merupakan tanaman terpenting bagi peradaban dunia.

Prof Egum, demikian sapaan akrab Prof Dr Ir Endang Gumbira Sa’id MADev, berasal dari keluarga sederhana di daerah Subang, Jawa Barat. Semasa kecil, dia mendapatkan pendidikan langsung dari ayah tercinta, yang kala itu bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Usai bekerja, sang ayahanda kerap mengajak Prof Egum ke ladang atau sawah milik keluarga untuk bekerja menggarap lahan.

Sejak masih Sekolah Dasar (SD), Egum kecil sudah membantu keluarga menggembala domba di lapangan sepakbola dekat rumah. Bahkan, di pekarangan rumah, keluarga Egum punya “kebun binatang” mini yang terdapat ayam kampung, ayam kate, ayam hutan, burung merak, burung kutilang, kelinci, bebek, serta ayam kalkun. Rutinitas yang dilakukan setiap hari, yakni memberi makan dan minum hewan peliharaan, lalu  membersihkan kandang.

Lantaran terbiasa dengan hewan peliharaan, Egum sejak kecil sudah jatuh hati pada dunia pertanian. Bahkan, pengalaman yang pernah diserap semasa duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), yakni berkemah di kebun teh dan mengunjungi pabrik pengolahan teh di Ciater, Subang, kian mempertebal rasa cintanya pada dunia pertanian.

Dengan mata telanjang, dia menyaksikan transformasi daun teh menjadi produk konsumsi yang segar dan menyehatkan. Pengalaman itu memompa semangat kuat bagi dirinya, untuk menekuni ilmu pendidikan jurusan teknologi hasil pertanian. Dengan semangat pantang menyerah, Egum  menjalani pendidikan akademik Strata 1 hingga Strata 3 dengan spesialisasi jurusan teknologi hasil pertanian. “Pengalaman berkunjung ke pabrik pengolahan teh kala itu, benar-benar menjadi pengalaman batin yang sangat berkesan hingga sekarang,” tuturnya kepada InfoSAWIT.

Bahkan, berkat kepandaian dan ketekunannya, pada 1999 Egum diangkat menjadi Guru Besar Teknologi Industri Pertanian (TIP) yang pertama di Indonesia. IPB merupakan kampus pertama yang memiliki jurusan TIP sejak 1984. Hingga dewasa ini jurusan TIP, IPB sudah memiliki beberapa Guru besar lainnya. “Menjadi Guru Besar jurusan TIP pertama di Indonesia, merupakan bentuk penghargaan yang sangat besar artinya,” kata dia.

Ketekunan dan kerja keras tanpa pamrih yang dilakoni Prof Egum sejak dahulu, menjadi pelajaran berharga bagi generasi penerus sekarang. Pasalnya, tidak mudah menekuni satu bidang jurusan tanpa kenal lelah demi kemajuan dunia yang ditekuninya.

Bukti Keunggulan Minyak Sawit

Belajar dari ilmuan senior dan sang mentor, Prof Tien R Muchtadi, Egum  mengenal dunia kelapa sawit dan menekuni lebih dalam tentang pemanfaatannya. Berdasarkan pengalamannya sebagai seorang agro industriawan, ketika diajak bergabung ke Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (MAKSI) tahun 2011 oleh Prof Tien, dia langsung terlibat aktif dalam setiap kegiatan organisasi ini.

Menurut Prof Egum, kelapa sawit merupakan tanaman terpenting bagi peradaban dunia. Walaupun berasal dari Benua Afrika, namun kelapa sawit sangat memberikan berkah bagi kehidupan masyarakat Indonesia dan dunia. Pasalnya, berawal dari kelapa sawit, mampu menghasilkan beragam produk pangan, pakan, farmasi, kosmetik, bahan bangunan, energi dan sebagainya. “Kelapa sawit merupakan sumber kehidupan bagi produk-produk konsumsi yang menyehatkan,” ujarnya.

Meskipun kelapa sawit kerapkali  kalah dibandingkan bahan pangan pokok, seperti padi, jagung, gandum atau ubi kayu, tetapi secara kegunaan yang komprehensif justru minyak sawit sebagai pemenang.

Minyak sawit sebagai pemasok terbesar kebutuhan minyak nabati dunia, merupakan gambaran jelas bagi keunggulannya terhadap minyak nabati lainnya. Pasalnya, keberadaan minyak sawit berasal dari pohon kelapa sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dan paling efisien menggunakan lahan di dunia, bila dibandingkan tanaman kedelai, kanola, bunga matahari, dan rapak.

Maka itu, minyak sawit mengalami tudingan yang tidak berdasar, karena pengembangan industri kelapa sawit akan mengancam kemapanan sumber-sumber minyak nabati dan produk lainnya, terutama di benua Eropa dan Amerika. Lebih jauh minyak sawit sangat kompatibel dengan teknologi produksi dan pengembangan produk-produk modern yang berbasis penemuan ilmiah. “Minyak sawit memiliki prospek yang sangat cerah di masa depan,” katanya, bersemangat.

Tantangan global pengembangan industri kelapa sawit Indonesia ke depan, menurut Prof Egum, terletak pada isu perusakan dan penggundulan hutan serta rusaknya ekosistem hutan yang menghilangkan keanekaragaman hayati. Berikutnya, tuduhan penggunaan lahan gambut yang dalam, dengan alasan melepaskan emisi karbon ke udara sebagai pemicu pemanasan global.

http://www.infosawit.com/index.php?option=com_content&view=article&id=142:prof-endang-gumbira-said-obsesi-memajukan-sawit-indonesia&catid=46:profil

Job Vacancies | Lowongan Kerja Ganda Sawit Utama

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Jobs Oportunity
Lowongan Kerja Ganda Sawit Utama
Tax Supervisor
Jakarta Utara (Pluit)

Responsibilities:

    To verify and analyze the amount of tax reported and the amount of tax that is inputted inthe system to ensure the correctness and accuracy of data.
    Plan and organize the steps in the inspection taxes, provide and verify the data desiredby the tax, to anticipate problems that may result in a tax audit and determine solutions to problems.
    Maintaining good relations with the external tax to boost cooperation in both the tax andregulatory information in tax reporting.


Requirements:

    Candidate must possess at least a Bachelor's Degree, Accountancy / Tax.
    Male or female, age max 35 years.
    At least 5 year(s) of working experience in the related field is required for this position.
    Preferably Supervisor / Coordinators specializing in Finance - Audit/Taxation or equivalent.
    Full-Time position(s) available.
    Understand SAP and Microsoft Office.
    Attended training : Brevet A, B, B, & C.
    Know the Law and the latest tax laws.
    Experience in dealing with tax audits.


Please send application and CV (max 200 kb) to:

PT. GANDASAWIT UTAMA
Human Resource Department, Ganda Group - Agro Division

Jl. Raya Pluit Selatan Blok S No 8 Pluit Penjaringan Jakarta Utara

P +62 21 2358 6666
F +62 21 2358 6661 / 62

or email to :
recruitment@gandasawit.com

Perajin Tegal Garap Mobil Khusus Kebun Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Pabrikan Automotif Viar di Semarang
TEMPO.CO, Tegal - Pemerintah Kabupaten Tegal menjajaki kerja sama pembuatan mobil khusus perkebunan kelapa sawit dengan pabrikan otomotif PT Viar Semarang. Menurut Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Tegal, Toto Subandrio, pihaknya akan memproduksi bagian badan kendaraan roda empat berkapasitas 600 cc tersebut.

"Sekaligus untuk meningkatkan serapan pasar bagi industri logam di Tegal,” kata dia di kantornya, Kamis, 8 Maret 2012.

Saat ini pemerintah Tegal dan Viar tengah menyelesaikan skema kerja sama yang akan dijalin. Toto yakin perajin logam di daerahnya mampu mengerjakan komponen otomotif yang dipesan Viar motor. Hal ini, menurut dia, terbukti dengan adanya ekspor suku cadang kendaraan ke beberapa negara sahabat senilai Rp 219 juta per tahun.

Selain itu, komponen mobil perajin logam di Tegal mampu memproduksi bodi dan sasis kendaraan roda tiga yang telah diproduksi oleh Viar. Meski begitu, Bendahara Koperasi Paguyuban Pengusaha Industri Kecil (KOPPIK) Kabupaten Tegal, Supandi, mengaku perlu dukungan untuk bisa menggarap proyek ini.

Menurut dia, kemampuan para perajin masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, mereka terbiasa menggarap mesin diesel kapal dan sejumlah mesin industri tekstil. “Kami perlu tahu kerja sama produksi secara konkret. Jangan sampai mengecewakan mitra yang hendak diajak bisnis,” ujarnya.

Supandi menambahkan, pengerjaan mesin mobil memerlukan uji kekuatan dan kualitas berstandar tinggi, seperti dalam hal emisi dan keamanan pemakai. Ia mengaku selama ini mesin yang diproduksi perajin Kabupaten Tegal masih perlu penyempurnaan sebelum dikirim ke pemesan.

EDI FAISOL

Talk Show | Selamatkan Gambut dan Jangan Fitnah Kelapa Sawit Kami

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Acara SOILIDARITY 2012 merupakan salah satu acara besar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HMIT) Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Acara ini sudah menjadi acara rutin yang diadakan setiap tahun sekali oleh anak tanah. Selain sebagai acara tahunan, SOILIDARITY 2012 ini juga merupakan ajang bekumpul dan pertunjukan bakat seni oleh seluruh anak tanah yang ada di IPB.

Adapun SOILIDARITY 2012 terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan yang diawali dengan :

Charity Kegiatan bakti sosial (charity) yang diadakan bertepatan dengan hari kartini yaitu tanggal 21 April 2012, diawali dengan lomba mewarnai di Sekolah Dasar yang terdapat di Ciampea.

Tanah dalam Kanvas Acara ini merupakan acara melukis bersama yang dilaksanakan tanggal 29 April 2012. Para pelukis merupakan seluruh mahasiswa ilmu tanah. Lukisan akan menggunakan tanah sebagai alat lukis di atas kanvas raksasa berukuran 4×8 meter.

Lomba Fotografi dan LKTI Pada hari yang sama diadakan pula lomba fotografi bertemakan “Lingkungan” yang ditujukan untuk umum dan lomba karya tulis ilmiah bertemakan “Pemanfaatan Gambut untuk Kelapa Sawit dalam Pembangunan Berkelanjutan” yang ditujukan kepada seluruh siswa sekolah menengah atas se-Indonesia.

Lorong Setan (Lorong Seni Tanah) Lorong Setan ini merupakan galeri seni yang memamerkan berbagai jenis karya seni dari mahsiswa Ilmu Tanah. Acara ini akan dlaksanakan pada tanggal 30 April-2 Mei 2012.
Talk Show “Selamatkan Gambut dan Jangan Fitnah Kelapa Sawit Kami”
Talk show dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Mei 2012.Talk show ini bertemakan “Pemanfaatkan Gambut untuk Kelapa Sawit dalam Pembangunan Berkelanjutan”. Acara ini menghadirkan instansi pemerintahan serta beberapa ahli dibidang tanah dan perkebunan kelapa sawit. Isu yang diangkat merupakan dampak dari keberadaan gambut dan kelapa sawit terhadap lingkungan dan ekonomi..

Malam Puncak Setelah penutupan kegiatan talk show, pada malam harinya acara Soilidarity ini dilanjutkan dengan berbagai penampilan kreativitas dan kolaborasi seni dari seluruh civitas terkait dari berbagai fakultas di Institut Pertanian Bogor. Kegiatan SOILIDARITY ini akan diramaikan dengan penampilan Maliq and D’essential.

Informasi lebih lanjut : http://soilidarity2012.blogspot.com

Kelapa Sawit Boleh Ditanam di Hutan Produksi

Posted by Flora Sawita Labels:

Jakarta (ANTARA News) - Kementrian Kehutanan mempersiapkan Peraturan Menteri yang memperbolehkan penanaman kelapa sawit menjadi bagian dari pembangunan hutan tanaman.

"Peraturan Pemerintah (PP)-nya sudah ada, tinggal peraturan menteri saja. Kita akan segera mengeluarkannya," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Produksi Kehutanan (BPK) Kementrian Kehutanan, Hadi Daryanto, di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, Permenhut yang mengatur tentang tata laksana usaha perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan ini diharapkan dapat menekan kerusakan.

Hadi menambahkan Permen itu merujuk PP yang memperbolehkan dimasukkannya perkebunan sawit sebagai bagian dari usaha sektor kehutanan, namun, bukan berarti akan menarik kewenangan Kementerian Pertanian di sektor tersebut.

"Melalui peraturan ini diharapkan investasi di kelapa sawit tidak akan mengorbankan kawasan hutan, namun tetap berjalan," katanya.

Dia mencontohkan kebijakan negara tetangga Malaysia yang memasukkan system pengelolaan perkebunan kelapa sawit sebagai bagian dari kegiatan sector kehutanan. Bahkan organisasi dunia Food and Agriculture Organization (FAO) mendifinisikan pengelolaan perkebunan kelapa sawit sebagai bagian dari kegiatan di kawasan hutan.

"Ketentuan ini akan mendorong dan menaikkan investasi di sektor kehutanan. Namun kalau Badan Pusat Statistik (BPS) memasukkan kelapa sawit dalam subsektor pertanian tidak masalah," katanya.

Menurut dia, sangat bodoh jika pemerintah Indonesia menggunakan dikotomi atau membedakan antara perkebunan dan kehutanan. Apalagi diatur perundang-undangan, seperti UU 41 tahun 1999 tentang kehutanan dan peraturan seperti PP 6 tahun 2007 memperbolehkan penanaman pohon perkebunan dalam kawasan hutan tanaman.

"Dalam peraturan tersebut dikatakan, tanaman berbagai jenis bisa dimasukkan dalam sektor kehutanan."

Apabila sektor perkebunan kelapa sawit masuk menjadi bagian kegiatan kehutanan, lanjutnya, akan ada HTI mozaik yang tidak hanya berisi tanaman keras di seluruh hamparan, tetapi juga ada tanaman kelapa sawit.

"Jika masuk kebun maka semua sawit, tapi di kehutanan ada mozaik, 70 persen tanaman pokok, 25 persen tanaman kehidupan dan 5 persen tanaman pangan," katanya.

Menurut dia, izin yang diberikan untuk perkebunan sawit di hutan produksi nantinya bukan berupa hak guna usaha (HGU), karena dengan HGU seperti menjadi milik pribadi, sehingga investor akan melakukan efisiensi sehingga semua ruang akan ditanami sawit.

Ia mencontohkan, di kehutanan ada Hutan Tanaman Industri (HTI) yang lebih bagus dari segi lingkungan karena ada zoning. Ketentuan ini akan diberlakukan untuk investasi kelapa sawit yang baru dan kepada regenerasi dari investasi yang sudah jalan.

"Aturan ini susah diterakan untuk hutan tanaman yang sudah jalan. Pada waktunya nanti, regenerasi baru akan diberlakukan," katanya. (A027/K004)

RI-Jerman Kerjasama Investasi Industri Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels:

Berlin (detik.com) - Indonesia-Jerman sepakat mengembangkan kerjasama investasi di bidang industri berbasis minyak kelapa sawit secara terintegrasi mencakup biodisel, surfaktan, beta karoten dan alkohol lemak.

Kerjasama melibatkan perusahaan Jerman Ferrostal AG, PT Perkebunan Nusantara III dan PT Nusantara Bio Energy.

Disaksikan Dubes RI Berlin Eddy Pratomo, nota kesepahaman kerjasama tersebut telah ditandatangani oleh Presiden Direktur PTP Nusantara III Amri Siregar, Dewan Eksekutif Ferrostaal AG Prof. Stephan Reimelt dan Presiden Direktur PT Nusantara Bio Energy Sabri Basyah di KBRI Berlin, Rabu (28/7/2010).


"Sebagai tahap awal dalam rangka implementasi nota kesepahaman akan dilakukan studi kelayakan bersama, kemudian akan dikembangkan ke arah pembentukan executive joint operation atau joint venture company," demikian seperti disampaikan Counsellor Pensosbud Agus Priono kepada detikfinance.

Disebutkan, lokasi yang dipilih untuk proyek kerjasama yakni di Sei Mangkei, Sumatera Utara, dengan target areal awal seluas 104 ha dan dapat dikembangkan menjadi 3000 ha.

Studi kelayakan akan mencakup antara lain evaluasi teknologi dan proses produksi, presentasi konsep teknologi, serta model pendanaan dan penilaian ekonomi terhadap konsep yang diajukan.

Isu Lingkungan

Terkait penandatanganan kerjasama, Dubes RI Berlin Eddy Pratomo menyampaikan sekilas kondisi industri kelapa sawit di Indonesia saat ini beserta berbagai tantangannya, terutama terkait dengan isu-isu lingkungan.

"Penandatanganan ini mempunyai makna penting karena bukan hanya menyangkut masalah pengembangan investasi, namun juga menunjukkan bahwa industri yang dikembangkan tidak bertentangan dengan isu-isu lingkungan," tegas Eddy.

Terlebih lagi, lanjut Eddy, pengembangan kerjasama di bidang industri kelapa sawit tersebut dilakukan dengan mitra perusahaan besar dari negara maju seperti Jerman, yang sangat peduli dengan masalah lingkungan.

Sementara itu Presiden Direktur PTP Nusantara III Amri Siregar secara khusus menyampaikan prospek yang sangat baik dari kerjasama, karena di samping meningkatkan nilai tambah dari produk kelapa sawit, juga akan meningkatkan kesejahteraan para petani.

"Ini sekaligus menepis keraguan pihak-pihak di luar negeri khususnya Jerman yang mempertanyakan dampak terhadap lingkungan dari pengembangan industri tersebut," terang Amri.

Ferrostaal AG adalah perusahaan besar Jerman yang telah menanamkan investasinya di lebih dari 60 negara dengan kompetensi inti di bidang kontraktor umum di berbagai sektor, antara lain industri petrokimia, solar dan gas, energi listrik, energi surya, kertas, dan bahan bakar nabati (BBN).

Kelapa Sawit Primadona Ekspor Indonesia ke Tunisia

Posted by Flora Sawita Labels:

Tunisia (ANTARA News) - Komoditas minyak sawit masih menjadi primadona ekspor Indonesia ke Tunisia dengan nilai ekspor mencapai 8,23 juta dolar AS pada kuartal pertama 2010, yang berperan besar dalam volume perdagangan RI-Tunisia.

Hal itu disampaikan Dubes LBBP RI untuk Tunisia Muhammad Ibnu Said, didampingi jajaran KBRI Tunisia terdiri fungsi ekonomi B Dharmawan, fungsi komunikasi Helmi Hawani, fungsi Konsulat Sri Mulatsi dan fungsi social budaya Sugiri Suparwan kepada koresponden Antara London, di ruang kerja KBRI Tunisia, Selasa.


Dikatakannya nilai ekspor minyak kelapa sawit diharapkan akan terus meningkat sampai ahkir tahun sehingga berdampak positif terhadap nilai ekspor Indonesia ke Tunisia untuk tahun 2010.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik Tunisia, volume perdagangan RI-Tunisia pada kuartal pertama 2010 dari Januari hingga Maret mencapai 18,9 juta dolar AS.
 

Sementara Ekspor Indonesia ke Tunisia berjumlah 18 juta dolar AS , dan impor senilai 900 ribu dolar AS. Angka tersebut meningkat sekitar 18 persen dibanding periode yang sama tahun 2009 yang mencapai 15,97 juta dolar AS, sedangkan surplus Indonesia untuk kuartal pertama 2010 mencapai 17,1 juta dolar AS, ujar Dubes.
 

Meningkatnya volume perdagangan RI-Tunisia pada kuartal 2010 diharapkan akan terus berlanjut sampai dengan akhir tahun , meskipun volume perdagangan kedua negara sempat mengalami penurunan sebesar 38 persen dari 122 juta dolar AS menjadi 76 juta dolar AS pada tahun 2009 akibat krisis keuangan global yang turut melanda Tunisia.

Dikatakannya berdasarkan informasi dari Badan Pusat Statistik Tunisia, terdapat sekitar 218 komoditi yang diimpor dari Indonesia atau menurun dibanding 2009 yang mencapai sekitar 231 produk. Sampai pada kuartal pertama 2010, kelapa sawit dan produk turunannya menduduki peringkat pertama, ujarnya.
Komoditi yang diekspor Indonesia meliputi kelapa sawit, tembakau, fiber, metal, karet, katun, pakaian, bahan pakaian, produk karet dan lain sebagainya.


Produk utama Indonesia yang masuk ke pasar Tunisia bervariasi namun secara umum dikenakan tarif berkisar antara nol persen hingga 40 persen.


Diakuinya tarif tersebut relatif tinggi dibanding dengan negara yang telah memiliki Preferential Trade Agreement yang dikenakan rata-rata nol sampai lima persen .
Sebagai perbandingan, produk utama Indonesia yang diekspor ke Tunisia pada Januari-Maret tercatat 15 Komoditas ekspor utama Indonesia.


Dubes mengatakan pulihnya ekonomi Tunisia dari dampak krisis keuangan global yang juga berdampak positif terhadap kinerja ekonomi Tunisia. Hal tersebut diindikasikan oleh Central Bank of Tunisia (BCT) pada April 2010 lalu.


Hal tersebut terlihat pada sektor industri yang mulai membaik dengan meningkatnya permintaan terhadap produk Tunisia. Peningkatan terjadi sektor manufaktur pada kuartal pertama 2010 yang naik sebesar 14 persen.


Pemerintah memperkirakan pertumbuhan GDP meningkat sebesar 4,5 persen pada tahun 2010. Membaiknya sektor manufaktur, berdampak terhadap ekspor khususnya sektor agro-food yang naik 9,7 persen pada kuartal pertama 2010, dibanding periode yang sama tahun 2009 yang menurun 16,2 persen.
Impor Tunisia juga meningkat khususnya untuk produk material dan semi-finished product, dan energi.

Pasar tradisional

Dubes Ibnu Said mengatakan terkait dengan pulihnya ekonomi Tunisia dari dampak krisis keuangan global diharapkan akan meningkatkan ekspor Indonesia ke Tunisia yang sempat turun dari 103,3 juta dolar AS tahun 2008, menjadi 67,82 juta dolar AS tahun 2009, atau turun 33 persen.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu kiranya Indonesia untuk memberikan perhatian terhadap pasar Tunisia sebagai salah satu alternatif untuk pasar non-tradisional.


Negara pesaing Indonesia, seperti China dan India, sangat gencar melakukan promosi pada pasar Tunisia dan memanfaatkan Tunisia sebagai gateway untuk memasuki pasar di kawasan Afrika Utara, Afrika dan Uni Eropa.


Salah upaya yang dilakukan India adalah dengan menyediakan tiket gratis dan tarif hotel murah kepada pelaku usaha Tunisia yang menghadiri pameran di India. Demikian halnya dengan produk China yang memiliki daya saing tinggi di pasar Tunisia.


Munculnya produk phosfat dari mata dagang ekspor Tunisia ke Indonesia meningkatkan ekspor Tunisia dan sekaligus mengurangi defisit perdagangan Tunisia terhadap Indonesia. Produk phosphat yang merupakan salah satu produk unggulan Tunisia ke Indonesia yang sampai kuartal pertama 2010 mencapai sekitar 898 ribu dolar AS. 


Untuk meningkatkan ekspor, Tunisia mulai melirik pasar pada negara-negara Magribi yang hanya menyerap delapan persen produk Tunisia dan pasar Afrika. Pemerintah juga melakukan perjanjian dagang secara bilateral dan multilateral termasuk melalui perjanjian preferential trade untuk mendiversifikasi ekspor.(*)
(U-ZG/R009)

Pengembangan Sawit Tidak Berimbang

Posted by Flora Sawita Labels:

25 Mar 2009.
MAKASSAR - Komoditas kelapa sawit yang menjadi salah satu primadona sektor pertanian belum berimbang pengembangannya. Perluasan lahan masih terfokus di kawasan barat Indonesia.Padahal, menurut Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Anizar Simanjuntak, potensi lahan di wilayah timur Indonesia sangat luas. Sebagai perbandingan, luas areal perkebunan sawit di bagian timur hanya sekira 570 ribu hektare.

Di sisi lain, luas lahan perkebunan sawit di bagian barat telah mencapai 2,3 juta hektare. "Perkembangan perkebunan sawit di kawasan barat lebih pesat dibandingkan di wilayah timur Indonesia," katanya pada seminar nasional Apkasindo di Hotel Sahid Makassar, Selasa, 24 Maret.

Kelangkaan serta mahalnya harga pupuk untuk pertanian kelapa sawit menjadi salah satu permasalahan bagi petani. Belum lagi masalah sulitnya petani mengakses dana kredit dari perbankan untuk pengembangan modal usaha.

Koordinasi Dewan Pengurus Wilayah (DPW) maupun Dewan Pengurus Daerah (DPD) Apkasindo dengan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menindaklanjuti permasalahan sertifikasi perkebunan rakyat. Jika masalah ini dapat terselesaikan, maka petani bisa lebih mudah memeroleh kredit perbankan dengan menjadikan sertifikat tanah sebagai agunan.

Sekretaris Provinsi Sulsel, Andi Muallim, mengemukakan, animo petani untuk mengembangkan tanaman kelapa sawit sebenarnya cukup tinggi. Ini bisa terlihat dari banyaknya petani yang menanam kelapa sawit meskipun sumber benihnya tidak jelas.

Kendala lain yang dihadapi petani Sulsel untuk mengembangkan kelapa sawit adalah terbatasnya investor yang ingin bermitra dengan petani pemilik lahan. Petani juga kesulitan memeroleh bibit berkualitas dengan terbatasnya penangkar bibit sawit.

Luas areal perkebunan kelapa sawit di Sulsel pada 2008 hanya mencapai 15.408 hektare. Dari luas lahan perkebunan tersebut, menghasilkan produksi tandan buah segar (TBS) 112.374 ton atau sekira 22.507 ton crude palm oil (CPO).

Produksi CPO yang melibatkan 5.377 kepala keluarga itu menghasilkan nilai Rp 268.802.500.000. Pabrik CPO di Sulsel saat ini hanya ada dua unit dengan kapasitas 60 ton TBS/jam.

Andi Muallim mengakui, luas areal perkebunan sawit di Sulsel masih sangat kecil dibandingkan luas areal perkebunan yang ada di wilayah Sumatera. Luas lahan yang ada bahkan lebih kecil dari perkebunan yang ada di satu kabupaten di Provinsi Riau.

Potensi lahan kosong yang dikuasai masyarakat sesuai agroklimat tanaman kelapa sawit mencapai 85 ribu hektare. Jika potensi ini termanfaatkan dengan baik, jumlah tenaga kerja yang terserap minimal 45.000 kepala keluarga.

Pemprov Sulsel berjanji memberikan kemudahan fasilitas dalam perizinan serta menyiapkan regulasi bagi investor yang berminat mengembangkan tanaman kelapa sawit. Kebijakan yang diterapkan menggunakan pola kemitraan.

Menteri Pertanian, Anton Apriantono, mengatakan, mendukung pengembangan sawit dengan pola kemitraan. Apalagi setelah melihat potensi yang ada, kawasan timur Indonesia dapat menjadi masa depan kelapa sawit di Indonesia.

"Tanaman kelapa sawit memiliki prospek yang sangat cerah. Selain sebagai bahan pangan, lebih dari 100 produk menggunakan kelapa sawit sebagai bahan dasarnya. Kelapa sawit juga bisa digunakan untuk pengembangan biodiesel," terangnya. (rif)
sumber : fajar online

2010 – 2014, Riau Prioritaskan Industri Hilir Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels:

Pemerintah Propinsi (Pemprop) Riau akan memprioritaskan pembangunan industri hilir kelapa sawit mulai 2010 hingga 2014 mendatang.
“Mulai 2010 hingga 2014 Riau akan fokus pada pembangunan industri hilir kelapa sawit,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Riau, Herliyan Saleh di Pekanbaru, Rabu (18/3).

Herliyan menjelaskan, rencana pembangunan industri hilir sawit merupakan tindak lanjut dari penetapan hasil perkebunan Riau itu sebagai produk unggulan. Penetapan itu berdasarkan hasil tinjauan yang dilakukan Pemerintah Pusat melalui Departemen Perindustrian beberapa waktu lalu.

Herliyan mengatakan, Riau memiliki dua produk unggulan di bidang perkebunan untuk dijadikan industri hilir yakni kelapa sawit dan kelapa. Tapi karena Pemerintah Pusat hanya meminta pemprop untuk menetapkan satu produk unggulan saja maka Riau menetapkan kelapa sawit untuk dikembangkan menjadi industri hilir.

Ia juga menambahkan untuk menetapkan suatu produk unggulan, daerah diharuskan untuk mengkaji sejumlah aspek yakni sektor ekonomi, daya saing dan penyerapan tenaga kerja.
Dijelaskannya, setelah ditetapkannya kelapa sawit sebagai unggulan Riau maka tindak lanjutnya adalah dengan penyusunan rencana pengembangan industri hilir dalam kurun waktu lima tahun kedepan. “Karena itu dari tahun 2010 hingga 2014 mendatang Riau akan fokus ke industri hilir sawit,” katanya. (ant)

1,5 Juta Bibit Sawit Palsu Dimusnahkan

Posted by Flora Sawita Labels:

BANDA ACEH, SELASA — Sebanyak 1,5 juta bibit sawit dan kecambah palsu temuan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Nanggroe Aceh Darussalam serta Tim AntiKorupsi Pemprov NAD dimusnahkan di Desa Lee U, Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (17/2).

Seluruh benih ini dipastikan palsu karena tidak memiliki sertifikat asli yang dikeluarkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan, Sumatera Utara. "Pemusnahan ini serentak di delapan kabupaten/kota yang kemarin menerima bibit palsu," kata kepala dinas kehutanan dan perkebunan NAD Hanifah Affan di lokasi pemusnahan.

Delapan kabupaten kota yang melaksanakan pemusnahan massal, di antaranya Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, dan Kabupaten Aceh Besar.

Hanifah mengatakan, tindakan ini diperlukan untuk mengindari menurunnya angka produktivitas kelapa sawit yang nanti berdampak pada menurunnya pendapatan petani kelapa sawit.

Mahdi Muhammad
http://bisniskeuangan.kompas.com

Sertifikasi Diharapkan Dorong Produksi Minyak Sawit

Posted by Flora Sawita Labels:

JAKARTA, SELASA — Menteri Pertanian Anton Apriantono menyatakan, sertifikasi produksi minyak sawit berkelanjutan sangat penting untuk pengembangan pembangunan kelapa sawit. Hal tersebut dinyatakannya pada acara penyerahan sertifikat produksi minyak sawit berkelanjutan pertama di Indonesia kepada PT Musim Mas, Jakarta, Selasa (17/2).


Menurut Anton, selama ini pengembangan kelapa sawit selalu dihadapkan pada isu-isu negatif, seperti merusak lingkungan, keanekaragaman hayati, degradasi lahan, deforestasi, dan menjadi salah satu penyebab emisi gas rumah kaca.

Untuk menjawab semua isu-isu negatif tersebut, maka kalangan perkelapasawitan internasional menyepakati terbentuknya asosiasi nirlaba, Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) yang terdiri dari tujuh sektor industri minyak sawit dan pekebun kelapa sawit, pengolah dan penjual, penghasil produk konsumen, pengecer, bank dan investor, serta LSM lingkungan hidup dan sosial. Menurutnya, RSPO memegang peranan penting untuk mengimplementasikan standar global untuk minyak sawit berkelanjutan.

Ia berharap dengan adanya standar RSPO ini dapat meminimalisasi dampak-dampak yang dikhawatirkan pada isu-isu negatif yang ada. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa sertifikasi produksi minyak sawit berkelanjutan sangat sejalan dengan UU No 18 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa pembangunan perkebunan harus dilaksanakan dengan azas pembangunan yang berkelanjutan.

"Kita kan ingin segalanya berkelanjutan, oleh karena itu ini merupakan bagian dari upaya kita kepada dunia untuk memproduksi minyak sawit yang berkelanjutan," tegas Anton.

Ia mengatakan, pemerintah telah menerbitkan pedoman pemanfaatan lahan gambut untuk budi daya kelapa sawit pada tanggal 16 Februari 2009 dalam rangka mendukung usaha produksi minyak sawit berkelanjutan dan memberikan kepastian berusaha dengan tetap menjaga kelestarian fungsi gambut.

C3-09
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/

Charoen siap bangun 10.000 ha kebun sawit

Posted by Flora Sawita Labels:

Berita ini sudah lama, sekitar awal tahun 2008 namun bisa menjadi referensi perusahan mana saja yang melakukan investasi di indonesia.

JAKARTA: PT Central Plasma Plantation (CPP), perusahaan di bawah grup agribisnis terintegrasi Charoen Pokphand, menyiapkan penanaman perdana perkebunan sawit barunya di Landak, Kalbar yang ditargetkan hingga 10.000 hektare sepanjang 2008.


Melibatkan tiga anak perusahaan, yaitu PT Airlangga Sawit Jaya, PT Charindo Palma Oetama, dan PT Satria Multi Sukses, CPP juga menjalin kemitraan dengan tiga koperasi petani setempat dengan pola bagi hasil 80:20.

Tiga koperasi itu adalah Koperasi Pade Jaya yang bekerja sama dengan Airlangga Sawit Jaya, Koperasi Dait Jaya dengan Charindo, dan Koperasi Ne'Jaraya' Jaya dengan Satria Multi Sukses.

Syed Abdul Rahim, Direktur Plantation CPP, menuturkan pola kemitraan ini dilakukan untuk memberdayakan petani plasma setempat sesuai ketentuan pemerintah dalam Permentan No. 27/2006 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan yang mewajibkan perusahaan besar melibatkan petani lokal dengan porsi minimal 20%.

"Targetnya tahun ini bisa ditanami 10.000 ha. Kami juga masih akan melanjutkan pembebasan lahan sekitar 10.000 ha tahun ini. Sementera itu, kemitraan dengan koperasi, kami akan berbagi 20% dari panen yang dihasilkan kebun," katanya, kemarin.

Bisnis baru Charoen lewat jaringan perusahaannya yang telah menguasai hak konsesi lahan total seluas 67.500 ha sejak 2006 ini dijadwalkan mulai penanaman pada April.

Mengutip data perusahaan, Rahim menyebutkan, tiga anak perusahaan CPP telah menyiapkan 4,07 juta benih sawit untuk keperluan perluasan areal penanaman hingga 20.000 yang akan dilakukan bertahap mulai tahun ini.

"Persiapan bibit total 4,07 juta kecambah. Estimasi lahan yang akan ditanami seluas 20.000 ha, bertahap mulai 2008 sampai 2009 nanti," kata dia.

Bibit sawit itu a.l. diimpor dari perusahaan perbenihan asal Papua Nugini, Dami Seed-yang juga dimiliki oleh perusahaan Malaysia, Kulim Berhad-sebanyak 650.000 benih, dan ASD Kosta Rika 1 juta benih.

Dari dalam negeri, CPP mendapatkan bibit sawit dari PT Socfin 1,22 juta, Selapan Jaya 220.000 benih, dan dari beberapa pemasok lain serta hasil benih sendiri sekitar 1 juta benih.

Mitra koperasi

Selain menargetkan penanaman perdana, Rahim menuturkan, kerja sama kemitraan dengan tiga koperasi telah diteken pekan lalu di Landak.

"Di sini kami perhitungkan 20% bagian untuk koperasi. Kami tidak berikan pinjaman langsung maupun lahan, tapi kebunnya kami garap bersama baru nanti setelah panen diperhitungkan mana bagian perusahaan dan bagian koperasi," katanya. (aprika.hernanda@bisnis.co.id)

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul