BANDUNG - Lima perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) berencana membangun pabrik ban sepeda motor dengan nilai investasi sekira Rp144 miliar pada Maret 2012.
"Kita akan membangun pabrik ban sepeda motor dengan nilai investasi Rp144 miliar," ungkap President Direktur PTPN VIII, Bagas Angkasa, kala ditemui dikantornya, Bandung, Kamis (12/1/2012).
Pembangunan pabrik ban sepeda motor tersebut, akan menggandeng beberapa PT PN lainnya, antara lain PT PN III, PT PN IX, PT PN VII dan PT PN XII.
Alasan PTPN VIII melirik usaha pabrik ban sepeda motor, karena pesatnya pertumbuhan kendaraan sepeda motor di Indonesia.
"Nanti kita juga akan mengajak pihak swasta salam membangun pabrik ban ini, tapi hingga saat ini masih dikaji," paparnya.
Adapun komposisi konsorsium dalam pembuatan pabrik tersebut adalah PT PN III sebesar 31,33 persen, PT PN VII 8,67 persen, PT PN VIII 20 persen, PT PN XI 20 persen, dan PT PN XII sebesar 20 persen.
Untuk itu, konsorsium tersebut akan menggelontorkan modal disetor awal sebesar Rp57,7 miliar. Nantinya, pabrik tersebut akan berlokasi di kawasan industri kujang, Cikampek.
Sekadar informasi, hingga saat ini ada beberapa nama usulan untuk pabrik tersebut namun belum diputuskan nama yang tepat. Usulan nama-nama tersebut adalah PT Karet Unggul Nusantara, PT Sinar Karet Nusantara, PT Karet Persada Nusantara dan PT Hevea Industri Nusantara. (mrt) (rhs)
http://economy.okezone.com/read/2012/01/13/320/556518/rambah-industri-ban-motor-5-pt-pn-gelontorkan-rp144-m
PTPN Bangun Pabrik Ban Saingi Michelin dan Bridgestone
TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - PTPN III akan memimpin konsorsium BUMN yang menggelola pabrik ban motor di Cikampek, Jawa Barat. Ban produksi konsorsium ini akan bersaing dengan merek mapan seperti IRC, Swallow, atau merek luar Michelin atau Bridgestone.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN III, Chairul Muluk, yang juga komisaris konsorsium ini, memaparkan pabrik ban ini akan dikelola anak perusahaan PT Karet Unggul Nusantara. Dana yang dibutuhkan sebesar Rp 302 miliar.
''Rencana sudah disetujui Kementrian BUMN. Februari ini akan dilaksanakan beauty contest mitra swasta. Kita proyeksikan akhir tahun ini atau awal 2013 mulai produksi,'' katanya pada Tribun, di kantornya, Jumat (13/1).
Ia mengatakan pabrik ban ini akan memproduksi 7 juta unit ban luar per tahun, untuk jenis radial dan tubeless, dan 14 juta unit ban dalam per tahun.
Chairul memaparkan, produksi ban ini nantinya akan difokuskan untuk konsumen dalam negeri, termasuk Sumatera Utara. Apalagi, peningkatan pengguna sepeda motor terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini menjadi satu alasan konsorsium BUMN melirik industri hilir karet.
Data Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) mencatat, produksi ban roda dua pada 2011 mencapai 42 juta unit. Angka itu meningkat 8,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebanyak 38,8 juta unit.
"Kami terus mengupayakan hilirisasi produk, termasuk karet. Kalau sawit kan sudah di Seimangke. Untuk karet, daripada kita terjebak fluktuasi harga karet dunia yang tidak menentu, lebih baik kita membangun pabrik sendiri," katanya.
Apakah ban produk konsorsium mampu bersaing dengan merek mapan? Chairul mengatakan konsorsium akan menggandeng pihak swasta yang ahli di bidang teknologi, akses pasar dan permodalan.
''Kami optimistis mampu bersaing dengan belasan pabrik ban yang terlebih dahulu hadir di Indonesia,'' katanya.
Produsen ban yang sudah mapan antara lain pemain lokal seperti Gajah Tunggal (merek IRC), Surya-Raya (FDR), Benteng Pratama (Mizzle), Industri Karet Deli (Swallow), dan Sumi Rubber (Dunlop). Dua pabrik lainnya dalam kondisi tidak aktif, yakni PT Inti-rub dan PT Mega Safe Tyre Industry.
Sedangkan merek asing, adalah Michelin, Hankook Tire, Bridgestone dan Goodyear. Selain PTPN III (Medan), BUMN yang ikut konsorsium ini adalah PTPN VII (Lampung), PTPN VIII (Jawa Barat), PTPN IX (Jawa Tengah) dan PTPN XII (Jawa Timur).
PTPN V sebelumnya sempat menyatakan minatnya untuk bergabung namun belakangan mengundurkan diri.
Konsorsium akan menggelontorkan modal sebesar Rp 302 miliar, di mana 35 persen merupakan modal disetor (equity) anggota konsorsium. Sisanya 65 persen dipinjam dari bank dalam negeri.
PTPN III yang menjadi lead dalam konsorsium memiliki saham sebesar 31,33 persen, PTPN VII sebesar 8,67 persen, PTPN VIII 20 persen, PTPN IX 20 persen, dan PTPN XII 20 persen. Nilai aset seluruhnya mencapai Rp 144 miliar.
Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Sumatera Utara, Khairul Mahalli mendukung rencana konsorsium BUMN ini masuk industri hilir karet. Industri hilir merupakan satu solusi untuk tetap memasok kebutuhan dalam negeri sekaligus untuk mencegah pengusaha karet merugi akibat fluktuasi harga.
Ia berharap para eksportir tidak lagi hanya mengekspor karet mentah saja. Meski, karet Sumut sangat diminati di pasar internasional.
"Harusnya kita bisa memanfaatkan peluang itu untuk mengekspor barang jadi, hasil dari industri hilir. Satu cara untuk menggenjot industri hilir itu, kita dapat meyakinkan mereka untuk membangun pabrik otomotif disini. Jadi nilai produknya kan pasti lebih besar," katanya. Selain Eropa, katanya, kawasan Asia juga cukup potensial untuk komoditi karet.
Belanja Modal Rp 2,6 Triliun
PTPN III juga akan menggelontor belanja modal sebesar Rp 2,6 triliun pada tahun ini. Dana tersebut akan dibelanjakan untuk kategori tanaman dan juga nontanaman, termasuk industri hilir di kawasan Seimangke. Dana ini memang meningkat pesat dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar Rp 1,7 triliun.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN III, Chairul Muluk, mengatakan sebagian alokasi belanja modal akan digunakan untuk perbaikan struktur tanaman sawit dan karet yang sudah berumur. Selain memperbaiki struktur tanaman, sebagian investasi digunakan untuk pengembangan produk hilirisasi industri.
"Sementara untuk target total penjualan karet dan minyak kelapa sawit tahun ini sebesar Rp 6,58 triliun atau meningkat dari realisasi tahun 2011 sebesar Rp 6 triliun. Sebagai perusahaan yang memiliki performa baik, kita optimistis target tersebut dapat tercapai. Tapi kita akan tetap menggenjot produk industri hilir," tegasnya.
Di sisi produktivitas tandan buah segar (TBS), pada 2012 ditargetkan 23,24 ton per tahun per hektare, sedangkan rendemen minyak sawit ditargetkan 24,18 persen. Untuk meningkatkan rendemen minyak sawit ini, Kepala Bagian Pengembangan PTPN III, Alberuni S Adnani mengutarakan masih ada ruang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan rendemen dengan menghindari buah mentah pihak ketiga yang masuk ke pabrik.
Selain itu, diupayakan juga penertiban disiplin panen dan melihat kematangan buah. Upaya memperbaiki kinerja Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan mencukupi kapasitas steam dan waktu perebusan. Sehingga lose atau kehilangan yang selama ini terjadi dapat diminimalisir. PKS PTPN III selama ini kehilangan sekitar 1,6 persen dalam produksi.
"Kami harus upayakan tingkat kandungan minyak dalam buah cukup tinggi. Dengan kematangan buah rendemen dapat kita upayakan memenuhi target. Kita tidak bisa memastikan fixed target, karena kualitas di setiap perkebunan kan berbeda," kata Alberuni.
PTPN III, katanya, juga ikut membeli buah petani kelapa sawit di sekitar perkebunan. Buah-buah sawit rakyat tersebut, paparnya, harus diseleksi agar buah mentah tidak ikut diolah. "Kalau ikut diolah, maka rendemen minyak sawit mentah bakal turun," tuturnya.
Editor: Hasiolan Eko P Gultom | Sumber: Tribun Medan
http://www.tribunnews.com/2012/01/16/ptpn-iii-bangun-pabrik-ban-saingi-michelin-dan-bridgestone
Aekkanopan. Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara (Disbun Propsu) melalui Unit Pelayanan Teknis (UPT) Wilayah 3 Rantau Prapat, bekerja sama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Labuhanbatu Utara (Labura) memberikan pelatihan intensifikasi tanaman kelapa sawit dan karet terhadap petani di Kabupaten Labura
Kabid Perkebunan Kabupaten Labura, Poniran mengatakan, pelatihan yang anggarannya bersumber dari APBD Pempropsu Tahun Anggaran 2011 ini, untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) petani karet dan kelapa sawit di Labura. “Dengan meningkatnya SDM petani diharapkan produktifitas kebun karet dan kelapa sawitnya juga meningkat,” jelas Poniran di sela-sela pelatihan di Desa Bandar Lama, Kecamatan Kualuh Selatan, Kamis (10/11).
Dijelaskannya, pelatihan intensifikasi tanaman kelapa sawit dan karet tersebut melibatkan Kelompok Tani di Labura dan dilaksanakan mulai tanggal 7 - 26 November 2011. “Kegiatan ini dilakukan di empat lokasi yaitu, Desa Sukarame Kecamatan Kualuh (berlangsung mulai 7- 9 November), Desa Bandar Lama Kecamatan Kualuh Selatan (10 - 12 November), Desa Terang Bulan Kecamatan Aek Natas (21 - 23 November) dan Desa Londut kecamatan Kualuh Hulu (24 - 26 November),” jelasnya.
Untuk satu lokasi pelatihan yang disebut satu kelas dihadiri 30 orang petani. Pelatihan ini dilakukan dengan dinamika kelompok agar para peserta mudah memahaminya. Dalam pelatihan yang berlangsung di Desa Bandar Lama, turut hadir Kepala UPT Perkebunan Rantau Prapat, Nego Sipayung.
Poniran juga menyampaikan, selesai pelatihan para peserta diberi bantuan yang terdiri dari pupuk NPK sebanyak 100 kg dan 2 liter herbisida. ( ricardo simanjuntak)/MB
Medan - Nilai ekspor karet Sumatra Utara hingga triwulan III tahun ini melonjak tajam 64,07 persen dibandingkan periode sama 2010 atau mencapai 2,764 miliar dolar AS.
“Kenaikan nilai devisa itu menggembirakan, karena
harga ekspor dalam beberapa bulan terakhir semakin melemah akibat krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa,” kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara (Sumut),Edy Irwansyah, di Medan, Rabu 9 November 2011.
Kenaikan devisa di 2011 dari 2010 yang masih 1,684 miliar dolar AS itu dipicu naiknya harga ekspor karet dan barang dari karet.
Harga ekspor karet SIR20 misalnyam rata-rata berada di kisaran empat dolar AS per kg.
Jadi, meski harga jual dewasa ini berfluktuasi dengan semakin melemah di bawah empat dolar AS per kg, total nilai ekspor golongan barang itu sudah cukup tinggi dibandingkan tahun lalu.
Melalui kondisi pasokan ketat khususnya dari Thailand yang sedang mengalami musibah banjir, kata dia, ada harapan harga naik lagi.
Apalagi, International Rubber Consortium Limited tetap menyatakan serius melakukan tindakan pengurangan ekspor kalau harga karet alam tetap berada di bawah empat dolar AS per kg.
Pedagang karet Sumut, M.Harahap, menyebutkan, pasokan getah karet dari petani di Sumut bahkan di daerah lain di Sumatera sangat ketat.
Pasokan ketat dipicu kesulitan menderes akibat musim hujan di hampir semua sentra produksi.
“Pasokan ketat membuat harga Bokar (bahan olah karet) di pabrikan relatif tetap mahal di kisaran Rp31.000 per kg, padahal seyogyanya lebih murah dari harga itu karena harga ekspor berfluktuasi cenderung turun,”katanya.(bisnissumatra)
Sosialisasi Program Revitalisasi Perkebunan Karet, Kakao dan Kelapa Sawit
Posted by Flora Sawita Labels: Berita, corporation, Kakao, Karet, REGULASI, SAWIT"Sosialisasi menawarkan
Dikatakannya, pertemuan atau sosialisasi yang diikuti beberapa petani perkebunan yang bersal dari beberpa kecamatan antara lain, Kecamatan Air Batu, Sei Dadap dan Kecamatan Tinggi Raja bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat petani pekebun untuk dapat memilih tanaman yang tepat, misalnya kalau dirata-ratakan luas tanah yang dimiliki masyarakat kita hanya seluas 5.000 m2 atau setengah hektar. Kalau ditanam sawit hanya menghasilkan sekitar Rp 1 juta per bulan, kalau karet sekitar Rp 2 juta per bulan dan kakao bisa mencapai Rp 3,5 juta per bulan.
"Masyarakat jangan tergiur dengan sosok tanaman sawit, dengan lahan yang tidak seberapa," paparnya sembari mengatakan bila masyarakat demam terhadap sawit maka jawabannya adalah petani di desa akan tetap menjadi buruh di kampung sendiri.
Padahal, katanya, dengan lahan yang tidak begitu luas bisa menghasilkan pendapatanyang besar, tapi masyarakat hanya tergiur dengan satu tanaman yaitu tanaman sawit.
"Ini harus kita dorong untuk meningkatkan tarap hidup masyarakat kita di desa dan kita lihat saat ini akibat masyarakat demam sawit, harga karet dan kakao melambung tinggi karena itu Pemkab Asahan dan Bank Sumut merasa perlu memberikan dorongan kepada masyarakat bagaimana upaya meningkatkan kesejahteraan petani di desa-desa melalui program skim kredit lunak dan jangka panjang," papar Amirin.
Dia berharap dengan sosialisasi itu, petani kebun dapat terbuka wawasannya, hingga tidak terfokus kepada satu tanaman saja, akibat trend yang ada. Padahal, dengan kondisi lahan yang hanya setengah hektar lebih cocok dan pantas untuk menanam tanaman lain, seperti karet dan juga kakao.
"Mudah-mudahan dengan fasilitas yang ditawarkan pemerintah ini, kesejahteraan petani dapat lebih meningkat," paparnya lagi sembari mengatakan bahwa sosialisasi itu akan dilakukan juga di kecamatan lainnya.(aln)ANA
Medan,- Harga ekspor karet alam Indonesia menguat lagi menjadi 4,185 dolar AS perkilogram sehingga mendorong harga bahan olahan karet di pabrikan Sumatera Utara ikut bergerak naik menjadi Rp32.100 - Rp34.100 perkilogram.
"Harga karet alam sebesar 4,185 dolar AS per kg pada 6 Oktober itu naik dari harga di bursa Singapura 5 Oktober yang ditutup seharga 4,103 dolar AS/kg untuk pengapalan November," kata Sekretarsi Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah di Medan, Jumat (7/10).
Sementara pada 5 Oktober, harga bahan olah karet (bokar) masih Rp31.500-Rp33.500 perkilogram.
Bahkan ada tren menurun lagi yang ditandai harga di pasar bursa 6 oktober yang untuk pengapalan Desember ditutup seharga 4,150 dolar AS per kg dan Januari 2012 sebesar 4,135 dolar AS per kg.
Menurut dia, berfluktuasinya harga ekspor karet itu merupakan dampak dari krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa dimana permintaan melemah.
"Lihat saja harga ekspor karet pada 20 September sempat mencapai 4,604 dolar AS per kg," katanya.
Gapkindo sendiri, kata Edy, siap melakukan pengurangan ekspor karet perusahaan anggotanya menyusul adanya sinyal International Rubber Consortium Limited (IRCo) akan melakukan tindakan kalau harga ekspor di bawah 4 dolar AS per kg.
IRCo yang merupakan perusahaan patungan karet alam yang dibentuk negara produsen utama Thailand, Malaysia dan Indonesia untuk mengatasi harga karet alam memang berfungsi sebagai pelengkap dari skema penyetabil harga dalam skema produksi dan skema ekspor.
"Pengaruh Malaysia, Thailand dan Indonesia memang cukup besar karena 70 persen kebutuhan pasar karet alam dunia dipasok oleh tiga negara tersebut," katanya.
Pedagang karet di Sumut, M.Harahap, menyebutkan, pasokan getah petani dewasa ini masih berlangsung ketat yang dipicu musim hujan di beberapa daerah sentra produksi seperti Tapanuli Selatan. (Ant)/Ans
Saat ini harga karet menggila. Konon loam basah 5 tahun lalu dijual dengan harga Rp. 6.000/kg, namun saat ini sudah mencapai Rp. 11.000,-/kg. Sehingga banyak petani karet yang menikmati berkah akibat kenaikan harga ini.
M. Ruslan Syam, salah satu petani yang berada di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara mengaku, meskipun hanya memiliki karet seluas 0,5 ha, dengan jumlah tegakan 250 pokok, namun setiap bulannya ia bisa menikmati penghasilan sekitar Rp. 4.000.000,-
“Jika karet hari ini dideres besok pagi saya jual, harga loam karet basah Rp. 11.000,- / kg. Jika loam telah disimpan seminggu bisa laku Rp. 16.000,- sd Rp. 17.000,-/kg, “ ungkapnya
Menurut M. Ruslan, seminggu ia bisa melakukan 3 kali deres , dengan hasil rata-rata 35 sd 40 kg/ deres, saat musim puncak pada Bulan Agustus sampai dengan Maret. Sedangkan pada saat produksi rendah, ketika musim kemarau atau track, ia masih bisa mendapatkan hasil 15 kg/ setengah ha.
Untuk mencapai produksi tersebut, M. Ruslan melakukan perawatan sesuai dengan kaidah teknis tanaman karet. Setidaknya, ia melakukan pemupukan 3 kali setahun berupa pupuk Urea dan NPK. Selain itu, agar diperoleh produksi yang optimal perlu menggunakan stimulant seperti Karet Plus dan Entrel Merah.
“ Jika daun gugur saya menggunakan stimulant Karet Plus, yakni pada bulan Maret dan Juni. Sedangkan stimulant Entrel Merah saya gunakan pada bulan Juli. Penggunaan stimulant ini bisa meningkatkan produksi loam basah karet hingga 35 % sampai 45 %”, jelas M. Ruslan.
Tanaman milik M. Ruslan sudah berumur 11 tahun yang ditanam pada tahun 2000 akhir. Selain memiliki karet, petani yang juga fasilitator binaan Dinas Perkebunan Sumatera Utara, memiliki kakao + 0,4 Ha dan kelapa sawit + 0,5, dengan masa tanam yang sama. Namun menurutnya, penghasilan yang diperoleh dari komoditas tersebut tidak bisa melampaui pendapatan dari karet.
Menurut M. Ruslan, dengan budidaya intensif ia hanya bisa mendapatkan penghasilan 1,5 juta per bulan dari kelapa sawit. Sedangkan kakao bisa lebih rendah, mengingat harganya sering berubah-ubah dan produksinya dapat sewaktu-waktu ajlok akibat serangan penyakit.
Dari hasil penjualan loam karet, M. Ruslan mengaku mengalami peningkatan kesejahteraan. Terbukti ia bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga ke perguruan tinggi. Bahkan ia juga mengenal banyak petani karet yang cukup sejahtera yang saat ini bisa membangun rumah mewah, membeli mobil, dan menyekolahkan anak-anaknya hingga keperguruan tinggi.
Secara umum, puncak produksi karet umumnya pada saat umur tanaman 10 sd 18 tahun. Dimana karet sudah mulai dapat dideres pada umur 4 tahun. Hasil optimal bisa dicapai jika petani menggunakan bahan tanam unggul bermutu dan memelihara kebun dengan baik.
Menurut Ir. H. Albert Nego Sipayung ,MMA Kepala UPTD Wilayah III, Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara di Rantau Parapat, kondisi yang dialami M. Ruslan Syam juga dirasakan oleh petani karet di berbagai tempat di Propinsi Sumatera Utara. Karena harga karet saat ini cukup mengiurkan.
Namun ditambahkannya, ada baiknya petani menanam multikomoditi. Minimal 3 komoditas unggul seperti kelapa sawit, kakao dan karet. Tujuannya untuk mengantisipasi perubahan harga perkebunan yang cenderung tidak stabil.
Saat ini harga karet menggila. Konon loam basah 5 tahun lalu dijual dengan harga Rp. 6.000/kg, namun saat ini sudah mencapai Rp. 11.000,-/kg. Sehingga banyak petani karet yang menikmati berkah akibat kenaikan harga ini.
M. Ruslan Syam, salah satu petani yang berada di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara mengaku, meskipun hanya memiliki karet seluas 0,5 ha, dengan jumlah tegakan 250 pokok, namun setiap bulannya ia bisa menikmati penghasilan sekitar Rp. 4.000.000,-
“Jika karet hari ini dideres besok pagi saya jual, harga loam karet basah Rp. 11.000,- / kg. Jika loam telah disimpan seminggu bisa laku Rp. 16.000,- sd Rp. 17.000,-/kg, “ ungkapnya
Menurut M. Ruslan, seminggu ia bisa melakukan 3 kali deres , dengan hasil rata-rata 35 sd 40 kg/ deres, saat musim puncak pada Bulan Agustus sampai dengan Maret. Sedangkan pada saat produksi rendah, ketika musim kemarau atau track, ia masih bisa mendapatkan hasil 15 kg/ setengah ha.
Untuk mencapai produksi tersebut, M. Ruslan melakukan perawatan sesuai dengan kaidah teknis tanaman karet. Setidaknya, ia melakukan pemupukan 3 kali setahun berupa pupuk Urea dan NPK. Selain itu, agar diperoleh produksi yang optimal perlu menggunakan stimulant seperti Karet Plus dan Entrel Merah.
“ Jika daun gugur saya menggunakan stimulant Karet Plus, yakni pada bulan Maret dan Juni. Sedangkan stimulant Entrel Merah saya gunakan pada bulan Juli. Penggunaan stimulant ini bisa meningkatkan produksi loam basah karet hingga 35 % sampai 45 %”, jelas M. Ruslan.
Tanaman milik M. Ruslan sudah berumur 11 tahun yang ditanam pada tahun 2000 akhir. Selain memiliki karet, petani yang juga fasilitator binaan Dinas Perkebunan Sumatera Utara, memiliki kakao + 0,4 Ha dan kelapa sawit + 0,5, dengan masa tanam yang sama. Namun menurutnya, penghasilan yang diperoleh dari komoditas tersebut tidak bisa melampaui pendapatan dari karet.
Menurut M. Ruslan, dengan budidaya intensif ia hanya bisa mendapatkan penghasilan 1,5 juta per bulan dari kelapa sawit. Sedangkan kakao bisa lebih rendah, mengingat harganya sering berubah-ubah dan produksinya dapat sewaktu-waktu ajlok akibat serangan penyakit.
Dari hasil penjualan loam karet, M. Ruslan mengaku mengalami peningkatan kesejahteraan. Terbukti ia bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga ke perguruan tinggi. Bahkan ia juga mengenal banyak petani karet yang cukup sejahtera yang saat ini bisa membangun rumah mewah, membeli mobil, dan menyekolahkan anak-anaknya hingga keperguruan tinggi.
Secara umum, puncak produksi karet umumnya pada saat umur tanaman 10 sd 18 tahun. Dimana karet sudah mulai dapat dideres pada umur 4 tahun. Hasil optimal bisa dicapai jika petani menggunakan bahan tanam unggul bermutu dan memelihara kebun dengan baik.
Menurut Ir. H. Albert Nego Sipayung ,MMA Kepala UPTD Wilayah III, Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara di Rantau Parapat, kondisi yang dialami M. Ruslan Syam juga dirasakan oleh petani karet di berbagai tempat di Propinsi Sumatera Utara. Karena harga karet saat ini cukup mengiurkan.
Namun ditambahkannya, ada baiknya petani menanam multikomoditi. Minimal 3 komoditas unggul seperti kelapa sawit, kakao dan karet. Tujuannya untuk mengantisipasi perubahan harga perkebunan yang cenderung tidak stabil.
Karet adalah tanaman yang berasal dari negara Brazil dalam bahasa latin karet memiliki nama Havea Brasisilesnsis tetapi karet pada saat ini malahan dikuasai oleh negara di asia tenggara yaitu Indonesia dan Malasia.
Adapun cara penanaman tehns budidaya karet ini adalah sebagai berikut :
1. Pembibitan
a. Persemaian Perkecambahan
- Benih disemai di bedengan dengan lebar 1-1,2 m, panjang sesuai tempat.
- Di atas bedengan dihamparkan pasir halus setebal 5-7 cm.
- Tebarkan Natural Glio yang sudah terlebih dulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu.
- Bedengan dinaungi jerami/daun-daun setinggi 1 m di sisi timur dan 80 cm di sisi Barat.
- Benih direndam POC NASA selama 3-6 jam (1 tutup/liter air).
- Benih disemaikan langsung disiram larutan POC NASA 0,5 tutup/liter air.
- Jarak tanam benih 1-2 cm.
- Siram benih secara teratur, dan benih yang normal akan berkecambah pada 10-14 hari setelah tanam
dan selanjutnya dipindahkan ke tempat persemaian bibit.
b. Persemaian Bibit
- Tanah dicangkul sedalam 60-75 cm, lalu dihaluskan dan diratakan.
- Buat bedengan setinggi 20 cm dan parit antar bedengan sedalam 50 cm.
- Benih yang berkecambah ditanam dengan jarak 40x40x60 cm untuk okulasi coklat dan 20x20x60
untuk okulasi hijau.
- Penyiraman dilakukan secara teratur
- Pemupukan PUPUK MAKRO : (diberikan 3 bulan sekali) GT 1 : 8 gr urea, 4 gr TSP, 2 gr KCl
perpohon LCB 1320: 2,5 gr urea, 3 gr TSP, 2 gr KCl perpohon. POC NASA : 2-3 cc/lt air perbibit
disiramkan 1-2 minggu sekali
Pembuatan Kebun Entres
- Cara penanaman dan pemeliharaan seperti menanam bibit okulasi.
- Bibit yang digunakan dapat berbentuk bibit stump atau bibit polybag.
- Jarak tanam 1,0 m x 1,0 m.
- Pemupukan : a. PUPUK MAKRO : (diberikan 3 bulan sekali)
b. Tahun I : 10 gr urea, 10 gr TSP, 10 gr KCl /pohon
c. Tahun II : 15 gr urea, 15 gr TSP, 15 gr KCl /pohon
2.Teknik Penanaman
a. Penentuan Pola Tanaman
pada saat karet berumur 0-3 tahun dapat dilakukan tumpangsari dengan padi gogo, jagung, kedele, dan
> 3 tahun dapat dilakukan tumpangsari dengan jahe atau kapulogo
b. Pembuatan Lubang Tanam
Jarak tanam 7 x 3 m (476 bibit/ha), Lubang tanam :- okulasi stump mini 60 x 60 x 60 cm sedangkan
okulasi stump tinggi 80 x 80 x 80 cm
c. Cara Penanaman
Masukkan bibit dan plastiknya dalam lubang tanah dan biarkan 2-3 minggu, Buka kantong plastik, tebarkan pupuk RP sebanyak 150 gr dan segera timbun dengan tanah galian
3. Pemeliharaan Tanaman
a. Penyulaman
Dilakukan saat tanaman berumur 1-2 tahun.
b. Pemupukan dilakukan dengan pupuk tunggal atau pupuk majemuk. pupuk tunggal yaitu urea 60 kg/Ha
dan RP 115 Kg/Ha, MOP 40 kg/Ha dan Kieserite 40 kg/ha.
4. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Kutu tanaman (Planococcus citri)
Gejala: merusak tanaman dengan mengisap cairan dari pucuk batang dan daun muda. Bagian tanaman
yang diisap menjadi kuning dan kering. Pengendalian: Menggunakan BVR atau Pestona.
b. Tungau (Hemitarsonemus , Paratetranychus)
Gejala; mengisap cairan daun muda, daun tua, pucuk, sehingga tidak normal dan kerdil, daun
berguguran. Pengendalian: Menggunakan BVR atau Pestona
2. Penyakit
Penyakit yang menyerang bagian akar, batang, daun dan bidang sadap, sebagian besar disebabkan oleh
jamur. Penyakit tersebut antara lain :
a. Penyakit pada akar : Akar putih (Jamur Rigidoporus lignosus), Akar merah (Jamur Ganoderma
pseudoferrum), Jamur upas (Jamur Corticium salmonicolor),
b. Penyakit pada batang :Kanker bercak (Jamur Phytophthora palmivora), Busuk pangkal batang (Jamur
Botrydiplodia theobromae),
c. Penyakit pada bidang sadap : Kanker garis (Jamur Phytophthora palmivora), Mouldy rot (Jamur
Ceratocystis fimbriata)
d. Penyakit pada Daun : Embun tepung (jamur Oidium heveae), Penyakit colletorichum (Jamur
Coletotrichum gloeosporoides), Penyakit Phytophthora (Jamur Phytophthora botriosa)
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit karena jamur:
- Taburkan Natural Glio sebelum atau pada saat tanam sanitasi kebun
- Penyadapan tidak terlalu dalam dan tidak terlalu dekat tanah
- Khusus penyakit embun tepung, daun digugurkan lebih awal dan segera dipupuk nitrogen dengan dosis
dua kali lipat dan semprot POC NASA 3-5 tutup/tangki.
4. Panen
Penyadapan pada umur + 5 tahun, dan dapat dilakukan selama 25-35 tahun.
Eksportir Sumut Desak Kapolda Bongkar Sindikat Perampokan Karet
Posted by Flora Sawita Labels: Berita, HUKUM, KaretMEDAN- Eksportir karet dan minyak sawit mentah di Sumatera Utara (Sumut) mendesak Kepala Polisi Daerah Sumatera Utara Irjen Pol. Wisjnu Amat Sastro, mengamankan jalan lintas Sumatera sekaligus membongkar sindikat pencurian dan perampokan yang semakin marak di daerah itu sejak awal tahun 2011 dengan total kerugian sekitar Rp3 miliar.
"Gapkindo (Gabungan Perusahaan Karet Indonesia) Sumut tanggal 1 Juni 2011 sudah mengirimkan surat ke Kapolda Sumut minta jalinsum (jalan lintas Sumatera) dan termasuk jalan Tol Belmera (Belawan- Medan-Tanjung Morawa) mengingat pencurian dan perampokan karet dengan modus pencurian dan perampokan semakin meningkat," kata Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah, di Medan, Selasa, 7 Juni 2011.
Secara resmi, kata dia, Gapkindo sudah menerima lima laporan kasus pencurian dan perampokan dari eksportir anggota asosiasi itu dengan total volume Standard Indonesia Rubber (SIR) sebanyak 75,880 ton dan bahan olah karet (bokar) sebanyak 4 ton dimana nilainya mencapai Rp3,105 miliar.
Kasus perampokan pertama dilaporkan terjadi 3 Februari di jalinsum menuju Pelabuhan Belawan dengan total 40, 320 ton.
Kasus kedua terjadi di Jalan Baru Rantau Prapat, Labuhan Batu menuju Kabupaten Asahan, dimana total pencurian dilakukan atas bokar dengan total 4 ton.
Disusul kejadian pada 23 April, awal Mei dan 31 Mei di kawasan Sei Bamban Deli Serdang menuju Pelabuhan Belawan.
"Aksi pencurian dan perampokan yang terus-menerus terjadi meresahkan eksportir dan para pengusaha meminta Gapkindo menyurati Kapolda dan instansi terkait lainnya," katanya.
Eksportir resah, karena kehilangan karet itu benar-benar merugikan secara materil dan moril.
Selain harga jual karet yang cukup mahal atau sudah berkisar Rp36.000 per kg, kehilangan itu membuat pengusaha diklaim pembeli karena kiriman tidak lagi sesuai jadwal kontrak.
"Kalau kasus kehilangan karet khususnya yang siap ekspor itu terus terjadi dikhawatirkan pembeli juga tidak percaya lagi dengan eksportir Sumut dan mengalihkan ke daerah bahkan ke negara lain. Itu merugikan sekali bagi Sumut dan Indonesia yang dikenal sebagai salah satu produsen dan pengekspor karet terbesar dunia," katanya.
Ekspor karet Sumut dewasa ini ditujukan ke 54 negara mulai Amerika Serikat hingga China dan Jepang.
Untuk itu, kata dia, Gapkindo berharap, Kapolda Sumut bukan saja mengamankan jalinsum itu, tetapi juga membongkar kasus sindikat pencurian/perampokan itu .
Dari laporan anggota, kata Edy, aksi pencurian dan perampokan itu terlihat terorganisir.
Dia mengakui, sebagian karet itu sudah ditemukan aparat, tetapi kasusnya tidak terungkap jelas dan masih terus berlangsung.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Parlindungan Purba, juga mengaku sudah meminta kepolisian mengamankan jalinsum dan juga membongkar kasus pencurian/perampokan barang komoditas ekspor karena asosiasi itu juga menerima laporan tentang kasus tersebut.
Tanggal 13 Mei, misalnya, Apindo mendapat laporan dari anggota asosiasi yang mengaku 31 ton CPO dirampok di kawasan Tol Belmera, Mabar.
Sebanyak 31 ton CPO milik PT.KAS yang dibawa truk yang dikelola PT Tangki Mas senilai Rp300 juta itu dirampok orang bersenjata pada Kamis (12/5) dinihari.
Kasus perampokan dengan cara menghentikan truk dan mengancam supir dan kernet tangki kemudian dibawa berkeliling hampir empat jam serta dibuang di kawasan Jalan Tol Amplas dilakukan orang yang tidak dikenal menggunakan Mobil Avanza.
Sebelumnya, kasus serupa dilaporkan terjadi pada Agustus 2010, dimana truk berisi 26 ton dirampok di kawasan Sembahe, Tanah Karo.(ant)(sumber :eksposnews)
Berita Pertanian : Volume Ekspor Karet Diprediksi Terus Menguat
Posted by Flora Sawita Labels: berita pertanian, ekspor karet, Karet, Perkebunan, perkebunan karet, Volume Ekspor Karet Diprediksi Menguat, Volume Ekspor Karet menguatMedan. Volume ekspor karet SIR 20 dari Sumatera Utara diprediksi terus menguat setelah pada Februari sempat melemah menjadi 41.956 ton dari realisasi Januari yang tercatat 47.902 ton.
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah di Medan, Senin (18/4), mengatakan, prediksi kenaikan ekspor itu mengacu pada tren menguatnya volume ekspor karet mulai Maret menjadi 54.903 ton dari 41.956 ton pada Februari dan Januari sebanyak 47.902 ton.
"Peningkatan volume ekspor itu dipicu meningkatnya kebutuhan, sedangkan pasokan yang kembali agak ketat dan harga di pasar internasonal yang masih stabil dengan tren melemah sekitar 5 dolar AS per kg," katanya.
Pada Maret lalu, komoditas itu sempat membanjiri pasar karena ulah spekulan yang melepas stok secara besar-besar dengan alasan khawatir harga karet yang ketika itu sebesar 6 dolar AS per kg dan dinilai sudah terlalu tinggi, tiba-tiba anjlok.
Aksi spekulan ketika itu langsung membuat harga ekspor karet anjlok menjadi hanya 4,53 dolar AS per kg dan kini perlahan pulih lagi menjadi sekitar 5 dolar AS per kg.
Harga SIR 20 di bursa karet Singapura pada 15 April lalu ditutup pada 5,01 dolar As per kg untuk pengapalan Mei.
"Harga ekspor yang bertahan stabil itu juga membuat harga bokar (bahan olah karet) di pabrikan Sumut tetap di kisaran Rp36.000 -Rp39.000 per kg," katanya.
Meski harga menurun, volume ekspor karet dari Sumut terlihat meningkat.
Pada triwulan I/2011, volume ekspor karet Sumut sudah mencapai 144.763 ton atau bertambah 17.772 ton dari realisasi periode yang sama 2010 yang masih 126.991 ton. (Ant)
Informasi di bawah ini akan sangat bermanfaat bagi rekan-rekan yang ingin membeli bibit karet unggul. Di bawah ini adalah perbedaan ciri bibit okulasi palsu dengan yang asli. 
Ciri-ciri okulasi palsu:
Jendela Okulasi memiliki mata rata dan kulit halus, sudut tunas kecil (180 derajat), warna Tunas coklat kemerahan dan jumlah daun 5-7 helai.
Ciri-ciri okulasi asli:
Jendela Okulasi memiliki mata nonjol dan kulit bergaris-garis, sudut tunas lebar (420 derajat), warna Tunas hijau dan jumlah daun 10 -13 helai.
Informasi di bawah ini akan sangat bermanfaat bagi rekan-rekan yang ingin membeli bibit karet unggul. Di bawah ini adalah perbedaan ciri bibit okulasi palsu dengan yang asli. 
Ciri-ciri okulasi palsu:
Jendela Okulasi memiliki mata rata dan kulit halus, sudut tunas kecil (180 derajat), warna Tunas coklat kemerahan dan jumlah daun 5-7 helai.
Ciri-ciri okulasi asli:
Jendela Okulasi memiliki mata nonjol dan kulit bergaris-garis, sudut tunas lebar (420 derajat), warna Tunas hijau dan jumlah daun 10 -13 helai.
PT. Supin Raya, sebuah perusahaan perbenihan terkemuka, telah menyiapkan 500.000 bibit karet siap salur untuk dipasarkan kepada konsumen. Lokasi penangkaran berada di 2 Kabupaten yakni Batanghari dan Sorolangun, Propinsi Jambi.Sehingga bibit ini, tentunya, bisa dimanfaatkan bagi Anda yang membutuhkannya di wilayah Jambi maupun Propinsi yang berdekatan dengan Jambi. Namun PT. Supin Raya juga siap melakukan pengiriman antar pulau jika dibutuhkan.
Bibit yang siap disalurkan tersebut menggunakan klon-klon anjuran. Untuk batang atas klon yang dipilih adalah PB 260 yang cukup dikenal sebagai klon penghasil latex dengan potensi produksi bisa mencapai 31 ton/ha pada tahun ke 15. Sedangkan untuk tahun ke 5 klon ini mampu berproduksi hingga 9 ton/ha. Untuk batang bawah digunakan jenis GT 1 yang terkenal kehandalannya.
Dan untuk menghasilkan bibit untuk batang atas PT. Supin Raya menyediakan Kebun entres seluas 26 Ha. Dan kebun ini dikelola sesuai dengan strandar teknis dan telah dimurnikan oleh Balai Penelitian Karet Sembawa. Sehingga layak digunakan sebagai sumber mata entres untuk batang atas.
Bibit yang akan disalurkan kepada konsumen menggunakan label biru dan memiliki serfikat dari Balai Benih. Sehingga terjamin kualitas dan mutunya. Bibit unggul bermutu ini dijual dengan harga relatif terjangkau. Serta, PT. Supin Raya, siap membantu konsumen dalam proses pengiriman bibit sampai lokasi penanaman.
Disamping menyediakan kebutuhan bagi perorangan maupun swasta, PT. Supin Raya juga siap mendukung program daerah terkait pengadaan bibit dalam jumlah besar. Hal ini dukung potensi produksi yang cukup besar. Dimana PT. Supin Raya mampu menghasilkan hingga 3 juta bibit karet unggul setiap tahunnya.
PT. Supin Raya merupakan perusahaan perbenihan yang selama ini menyediakan benih kapas. Dimana perusahaan yang berpusat di Sulawesi Selatan terlibat dalam sejumlah program pemerintah terkait penyediaan benih kapas. Namun tiga tahun terakhir PT. Supin Raya mencoba mengembangkan pembibitan karet di Propinsi Jambi, dan cukup sukses. Dimana setiap tahunnya jutaan bibit karet dijual kepada konsumen.
Bagi Anda yang ingin memesan bibit karet dapat menghubungi Bapak Marzuki (PT. Supin Raya) di nomor 0813661730, Bapak James Yogianto di nomor 081543321722. Atau bisa menghubungi pengelola blog ini.
PT. Supin Raya, sebuah perusahaan perbenihan terkemuka, telah menyiapkan 500.000 bibit karet siap salur untuk dipasarkan kepada konsumen. Lokasi penangkaran berada di 2 Kabupaten yakni Batanghari dan Sorolangun, Propinsi Jambi.Sehingga bibit ini, tentunya, bisa dimanfaatkan bagi Anda yang membutuhkannya di wilayah Jambi maupun Propinsi yang berdekatan dengan Jambi. Namun PT. Supin Raya juga siap melakukan pengiriman antar pulau jika dibutuhkan.
Bibit yang siap disalurkan tersebut menggunakan klon-klon anjuran. Untuk batang atas klon yang dipilih adalah PB 260 yang cukup dikenal sebagai klon penghasil latex dengan potensi produksi bisa mencapai 31 ton/ha pada tahun ke 15. Sedangkan untuk tahun ke 5 klon ini mampu berproduksi hingga 9 ton/ha. Untuk batang bawah digunakan jenis GT 1 yang terkenal kehandalannya.
Dan untuk menghasilkan bibit untuk batang atas PT. Supin Raya menyediakan Kebun entres seluas 26 Ha. Dan kebun ini dikelola sesuai dengan strandar teknis dan telah dimurnikan oleh Balai Penelitian Karet Sembawa. Sehingga layak digunakan sebagai sumber mata entres untuk batang atas.
Bibit yang akan disalurkan kepada konsumen menggunakan label biru dan memiliki serfikat dari Balai Benih. Sehingga terjamin kualitas dan mutunya. Bibit unggul bermutu ini dijual dengan harga relatif terjangkau. Serta, PT. Supin Raya, siap membantu konsumen dalam proses pengiriman bibit sampai lokasi penanaman.
Disamping menyediakan kebutuhan bagi perorangan maupun swasta, PT. Supin Raya juga siap mendukung program daerah terkait pengadaan bibit dalam jumlah besar. Hal ini dukung potensi produksi yang cukup besar. Dimana PT. Supin Raya mampu menghasilkan hingga 3 juta bibit karet unggul setiap tahunnya.
PT. Supin Raya merupakan perusahaan perbenihan yang selama ini menyediakan benih kapas. Dimana perusahaan yang berpusat di Sulawesi Selatan terlibat dalam sejumlah program pemerintah terkait penyediaan benih kapas. Namun tiga tahun terakhir PT. Supin Raya mencoba mengembangkan pembibitan karet di Propinsi Jambi, dan cukup sukses. Dimana setiap tahunnya jutaan bibit karet dijual kepada konsumen.
Bagi Anda yang ingin memesan bibit karet dapat menghubungi Bapak Marzuki (PT. Supin Raya) di nomor 0813661730, Bapak James Yogianto di nomor 081543321722. Atau bisa menghubungi pengelola blog ini.



