RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label tanaman hortikultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman hortikultura. Tampilkan semua postingan

Pengetatan Impor Produk Hortikultura Tiga Bulan Mendatang

Posted by Flora Sawita Labels: , ,

















Bogor
. Pemerintah akan memberlakukan kebijakan pengetatan impor produk pangan jenis hortikultura yang berlaku efektif mulai tiga bulan mendatang.
Di sela-sela rapat kerja pemerintah di Istana Bogor, Jumat (23/12), Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menyatakan nantinya impor komoditas pangan jenis hortikulutura hanya bisa dilakukan melalui empat pintu, yaitu Bandara Soekarno-Hatta di Banten, Pelabuhan Belawan Sumatera Utara (Sumut), Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

"Saat ini kita lakukan sosialisasi aturannya sambil kita melengkapi masing-masing di empat pintu itu," ujar Mentan Suswono.

Selain sosialisasi, Mentan mengatakan, Kementeriannya juga sedang menyiapkan karantina di empat pintu masuk impor tersebut sehingga pengawasannya diharapkan akan benar-benar ketat. "Ini kaitannya dengan pangan, untuk produk komoditas pangan memang harus melalui empat pintu yang kita sudah tentukan untuk tiga bulan ke depan," katanya.

Suswono mengatakan, pengetatan impor itu harus dilakukan guna mencegah penurunan produksi hortikultura dalam negeri apabila kran impor dibuka terlalu bebas.

Selain itu, pengetatan juga diperlukan guna mencegah masuknya produk pangan yang terkontaminasi oleh bakteri berbahaya. "Kita baru kemarin memusnahkan 500 ton kentang setelah kita cermati dengan baik mengandung bakteri sehingga sangat membahayakan. Efeknya bisa kepada penurunan produksi yang mencapai 70%. Ini kan sangat membahayakan dampak kepada kemanusiaan dan sebagainya. Oleh karena itu, tindakan pertama melakukan pemusnahan," tutur Suswono.

Menurut dia, sampai saat ini pihak importir bersikap kooperatif terhadap rencana kebijakan pemerintah untuk memberlakukan pengetatan impor produk pangan jenis hortikultura. (ant)

Berita Pertanian : Pengusaha Asing Incar Produk Holtikultura Tanah Karo

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,
















Berastagi
. Hasil pertanian holtikultura dari Tanah Karo kini mulai banyak diincar para pengusaha luar negeri seperti dari Korea,Taiwan, Singapura dan Malaysia. Hal ini terlihat dengan adanya sejumlah kontrak kerja sama yang terjalin antara pengusaha luar negeri dengan petani melalui sistem kerja sama bercocok tanam. Adapun komoditas holtikultura dari Tanah Karo yang diminati kalangan investor dari sejumlah negara itu diantaranya brokoli, kentang, ubi jalar, ubi kayu, terong besar, kol, sawi putih, lobak, asperagus dan sayur peleng.

Salah satu staf penghubung antara pengusaha dan petani di Tanah Karo, Sugono dari perusahaan CV Bintang Anugerah yang berlokasi di Berastagi, mengatakan kini minat pengusaha luar negeri untuk menanamkan modalnya di bidang holtikultura semangkin tinggi.

"Penanaman modal oleh pengusaha luar negeri itu telah banyak dilakukan untuk penanaman sejumlah komoditas holtikultura di Kecamatan Merek, Kecamatan Naman Teran dan Kecamatan Barus Jahe. Kerja sama mereka lakukan dengan petani langsung ataupun melalui sejumlah perusahaan pengelola tanaman di Tanah Karo ini," katanya, Selasa (27/9), yang ditemui di Berastagi.

Dikatakannya, para pengusaha itu langsung teken kontrak dengan petani dengan terlebih dahulu memberikan bibit dan pinjaman pupuk, yang di bayar saat panen. "Dalam kontrak itu seluruh hasil panen petani akan ditampung pengusaha bersangkutan. Sedangkan mengenai harga pembelian produk yang diminati telah ditetapkan dahulu, dan harga itu tidak akan naik ataupun turun saat panen telah tiba," ujarnya.

Sugono mencontohkan seperti yang sudah dilakukan sebuah perusahaan asal Korea. "Perusahaan itu berminat pada komoditas brokoli, ubi jalar, kentang dan sayur peleng. Perusahaan ini pun kemudian melakukan kontrak kerja sama penanaman dengan petani. Bibit yang dibutuhkan semua mereka yang sediakan dan hasil panennya mereka yang tampung. Sedangkan harga yang ditetapkan sebesar Rp 1.000 untuk setiap batang brokoli, kemudian ubi jalar Rp1.300 per kg, kentang Rp4.500 per kg, dan sayur peleng Rp5.000 per kg," ujarnya.

Selain perusahan ini, sebut Sugiono yang juga dikenal sebagai staf ahli pengolahan hasil ubi jalar dan asperagus ini, masih banyak lagi perusahaan lainnya yang juga telah menjalin kerja sama untuk menampung hasil pertanian holtikultura petani di Tanah Karo.

Dengan cukup tingginya minat pengusaha luar negeri akan produk hasil pertanian dari Tanah Karo, pihaknya selaku pendamping para petani mengaku bangga karena dengan system ini masa depan pertanian di Tanah Karo diyakini akan mudah berkembang.

"Namun kita tetap berharap adanya campur tangan dari pemerintah agar kerja sama seperti ini semakin banyak terjadi dan dapat melindungi petani pada setiap kontrak yang terjadi," ungkapnya.

Sementara itu, Surya Sitepu, salah seorang petani asal Desa Gong Pinto, yang telah menjalin kontrak kerja sama dengan investor luar untuk penanaman brokoli saat ditemui MedanBisnis, kemarin, di lokasi perladangannya mengatakan, ia mengaku tertarik menjalin kerja sama ini karena ia anggap lebih menguntungkan disebabkan harga jual komoditas yang ia tanam telah diketahui sejak awal. Selain itu ia juga terbantu dalam pengadaan bibit dan pupuk.

"Di desa kami, selain saya, ada 9 petani lainnya yang juga ikut menjalin kontrak kerja sama penanaman dengan investor luar dengan luas lahan 8 hektare yang sudah siap tanam, dan masih banyak yang sedang dalam pembibitan," sebutnya.

Menurut Surya, sistem kerja sama ini sangat membantu mereka, karena selain lahan bisa semuanya terpakai karena adanya bantuan bibit dan pupuk, harga yang ditawarkan kepada petani juga cukup menguntungkan.

Berita Pertanian : Pemerintah Harus Dukung Hortikultura Sebagai Subtitusi Beras

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,












Jakarta
.Pemerintah diminta lebih tegas dan mendukung upaya menjadikan produk hortikultura sebagai subtitusi pangan selain beras dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional. "Masih banyak kendala yang harus diselesaikan bersama antara pemerintah dan produsen kalau ingin menjadikan produk hortikultura sebagai subtitusi beras menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia," kata Ketua Asosiasi Produsen Benih Hortikultura Indonesia (Hortindo), Afrizal Gindow di Jakarta, Kamis (15/9).

Afrizal mengatakan, komoditas seperti jagung dan pisang bisa menjadi substitusi beras, sedangkan untuk sayuran dan buah-buahan menjadi pelengkap dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Sebelumnya dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional Kadin Indonesia mengundang Hortindo, praktisi industri hortikultura serta Dirjen Hortikultura Kementrian Pertanian dalam diskusi yang diselenggarakan Rabu (14/9).

Afrizal mengatakan, pemerintah sejak awal 2010 seharusnya telah mempersiapkan program pengembangan hortikultura sebagai subtitusi beras.

Dia mengingatkan, siklus perkembangan varian tanaman hortikultura lebih cepat dibandingkan padi sehingga membutuhkan riset yang kuat untuk mengasilkan bibit unggul yang tahan penyakit dan kuantitas produksi yang lebih baik.

"Kalau tanaman padi membutuhkan waktu lima tahun sebelum ditemukan varietas baru yang lebih baik. Sementara, untuk hortikultura hanya dalam hitungan bulan sudah bisa ditemukan jenis yang lebih unggul," ujar dia.

Afrizal juga mengungkapkan salah satu kendala yang membutuhkan dukungan pemerintah dalam pengembangan bibit unggul terkait biaya investasi yang tinggi. Untuk itu, pemerintah seharusnya lebih terbuka kepada investor asing di sektor hortikultura dengan tujuan agar tingginya biaya investasi untuk teknologi dapat diatasi.

Persoalan lain pemerintah haruslah mulai menyediakan lahan di dekat sentra perdagangan untuk ditanami produk hortikultura sehingga dapat mengurangi kesulitan transportasi.

"Seperti buah jeruk Indonesia selalu dianggap lebih mahal dibandingkan jeruk asal Cina. Hal itu semata-mata dipicu persoalan transportasi yang menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan," ujar Afrizal.

Studi Asian Foundation menunjukkan biaya transportasi di Indonesia bisa mencapai US$0,34 per kilometer padahal standar Asia US$0,22 per kilometer, jelas Afrizal.

Afrizal mengatakan Hortindo juga mendorong penerapan teknologi rumah plastik sebagai pelindung untuk meningkatkan produksi. Ia mencontohkan, cabai yang tidak diberi pelindung hanya sanggup dipanen 1-2 kali setahun sedangkan yang diberikan pelindung bisa mencapai 3 kali dalam setahun.

"Kalau dari sisi pendapatan tanaman cabai yang diberikan perlidungan untuk ukuran luas 1 hektare bisa menghasilkan Rp24-34 juta, sedangkan yang tidak dilindungi hanya mengasilkan Rp10-12 juta saja," kata Afrizal.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Hasanuddin Ibrahim mengatakan, Indonesia sudah saatnya memiliki produk-produk hortikultura unggulan untuk dikembangkan sehingga tidak lagi tergantung impor.

Menurut dia, produsen benih unggul hortikultura seperti PT East West Seed Indonesia (Ewindo) diharapkan menghasilkan produk unggulan seperti kita memiliki mangga Indramayu atau Thailand yang memiliki durian montong.

Kendala transportasi, menurut dia, merupakan persoalan yang harus dipecahkan untuk pengembangan hortikultura, faktanya perdagangan di dalam negeri Indonesia jauh lebih mahal dibanding luar negeri. (ant)

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul