RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label pakan ternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pakan ternak. Tampilkan semua postingan

Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum ayam broiler

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,


Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum ayam broiler

Oleh:  Astria Palinka
 
 ABSTRAK
 Ayam broiler merupakan jenis ayam penghasil daging yang unggul karena selain pertumbuhannya cepat dengan masa pemeliharaan yang relatif singkat juga memiliki daging yang empuk dengan kandungan gizi yang tinggi. Dewasa ini permintaan akan daging meningkat karena urbanisasi, perkembangan nutrisi dan penghasilan yang tinggi. Bobot badan ayam broiler sangat tergantung dari bahan pakan yang dikonsumsinya, sehingga dibutuhkan pakan yang berkualitas. Harga pakan yang cukup tinggi membuat peternak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan biaya ransum adalah dengan memanfaatkan sumber bahan pakan non kovensial seperti lumpur  sawit. Namun karena nilai gizi lumpur sawit yang rendah maka dilakukan sentuhan tehnologi seperti fermentasi untuk meningkatkan nilai gizinya. Salah satu inokulum yang baik digunakan untuk fermentasi adalah kapang Aspergillus niger. Lumpur sawit fermentasi (LSF) dengan Aspergillus niger Mampu meningkatkan nilai protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar. selain itu penggunaan LSF dapat digunakan sampai taraf 10% tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan performans ayam pedaging.


 I. PENDAHULUAN
 Ransum merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu usaha peternakan. Penyediaan ransum yang murah, tersedia dan baik kualitasnya serta tidak bersifat racun perlu dilakukan untuk menekan biaya produksi, dimana 60%-70% dari komponen biaya produksi adalah biaya ransum.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan biaya ransum adalah dengan memanfaatkan sumber bahan pakan non kovensial yang  mempunyai nilai ekonomis rendah, tidak bersaing dengan manusia, serta tersedia secara terus menerus. Sumber bahan pakan yang dimaksud dapat diperoleh dengan cara memanfaatkan limbah pertanian, salah satunya adalah limbah pabrik kelapa sawit.
Limbah kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternate ternak unggas dan punya potensi yang besar adalah  bungkil inti sawit dan Lumpur sawit, yang sampai saat ini limbah tersebut belum digunakan secara maksimal sebagai bahan pakan dalam ransum ternak.
Lumpur sawit (palm sludge) merupakan limbah pengolahan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), yang memungkinkan untuk dioptimalkan pemanfaatannya sebagai bahan pakan penyusun ransum unggas
Penggunaan Lumpur sawit sebagai bahan pakan ayam pedaging akan memberikan keuntungan ganda yaitu  menambah variasi dann persediaan bahan baku ransum serta mengurangi pencemaran lingkungan, disamping dapat memberikan keuntungan lain dalam hal penekanan biaya ransum.
Penggunaan limbah di atas sebagai ransum ternak harus melalui penanganan dan pengolahan lebih lanjut atau perlu sentuhan tehnologi untuk meningkatkan nilai gizi nya, dikarenakan bahan limbah ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu serat kasar tinggi, kandungan protein dan kecernaan rendah (Zamora et al. 1989). Menurut Sinurat 1998 dalam Mirwandhono (2004), teknologi untuk meningkatkan mutu bahan pakan adalah dengan fermentasi.
Tehnik ini sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi Lumpur sawit (Sinurat et al., 1998. Pasaribu et al, 1998). Secara umum semua produk akhir fermentasi biasanya mengandung senyawa yang lebih sederhana dan mudah dicerna daripada bahan asalnya sehingga dapat meningkatkan nilai gizinya (Purwadaria et al., 1995; Sinurat dkk., 1996; Supriyati dkk., 1998). Fermentasi juga berfungsi sebagai salah satu cara pengolahan dalam rangka pengawetan bahan dan cara untuk mengurangi bahkan menghilangkan zat racun yang dikandung suatu bahan. Berbagai jenis mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mengkonversikan pati menjadi protein dengan  penambahan nitrogen anorganik melalui fermentasi. Kapang yang sering digunakan dalam teknologi fermentasi antara lain Aspergillus niger.
A. niger merupakan salah satu jenis Aspergillus yang tidak menghasilkan mikotoksin sehingga tidak membahayakan. Produk fermentasi ini  mempunyai kandungan protein kasar dan protein sejati yang lebih tinggi dari bahan asalnya. Lumpur sawit memiliki komposisi   nutrisi yang setara dengan dedak padi.
Lumpur sawit mengandung protein kasar 13,3 %, lemak kasar 18,9%, serat kasar 16,3%, abu 12%, dan BETN 39,6% (Widyawati, 1991 dalam Mairizal dkk, 2008). Berdasarkan hasil penelitian  yang dilakukan di Balitnak Ciawi diketahui bahwa proses fermentasi Lumpur sawit dengan Aspergillus niger dapat meningkatkan nilai gizinya namun produk hasil fermentasi tersebut dalam aplikasinya hanya efektif digunakan sampai taraf 10% dalam ransum ( Sinurat dkk. 2001)
Berdasarkan pemikiran di atas, maka cukup beralasan untuk mengadakan kajian mengenai pemanfaatan Lumpur sawit  terfermentasi dalam ransum untuk menunjang kinerja pertumbuhan ayam pedaging serta mendukung pengembangan perunggasan di Indonesia.

 Potensi Limbah Sawit Sebagai Ransum Ternak
Tanaman kelapa sawit meghasilkan 4 jenis limbah utama yang digunakan sebagai bahan pakan ternak yaitu daun sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit dan serabut sawit. Limbah ini cukup melimpah sepanjang tahun, namun penggunaannya sebagai bahan pakan belum digunakan secara maksimal sampai sekarang.  Dari 693.015,64 ha kebun kelapa sawit dihasilkan tandan buah segar sebesar 10,40 juta ton per tahun dan akan dihasilkan limbah pabrik pengolahan sawit berupa lumpur sawit 0,52 juta ton dan bungkil inti sawit sebesar ,24 juta ton, dan serat buah 1,25 juta ton pertahun.
Lumpur sawit adalah larutan buangan yang dihasilkan selama proses pemanasan minyak mentah sawit. Bahan ini merupakan emulsi mengandung sekitar 20% padatan, 0,5-1% sisa minyak dan sekitar 78-79% air (Devendra, 1997 dalam Mirwandhono 2004).

 Aspergillus Sebagai Inokulum Fermentasi
            Penggunaan kapang sebagai inokulum fermentasi sudah banyak dilakukan karena pertumbuhannya relatif mudah dan cepat, kadar asam nukleat rendah ( Mirwandhono, 2004). Pertumbuhannya pun mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas yang mulanya berwarna putih , tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapangnya.
            Aspergillus niger adalah kapang anggota genus Aspergillus, famili Eurotiaceae, ordo Eutiales, sub-klas Plectomycetetidae, kelas Ascomycetes, dan divisi Amastigmycota (Hardjo et al., 1989). Aspergillus niger mempunyai konidi yang besar, dipak secara padat, bulat, dan berwarna hitam coklat atau ungu coklat. Kapang ini mempunyai bagian yang khas yaitu hifanya berseptat, spora yang bersifat  aseksual dan tumbuh memasang di stigma, mempunyai sifat aerobik, sehingga dalam pertumbuhannya memerlukan oksigen dalam jumlah yang cukup. Aspergillus niger  termasuk mikroba mesofilik dengan pertumbuhan maksimum pada suhu 35 ºC-37 ºC.
 Perubahan Kandungan nutrisi lumpur sawit fermentasi dengan Aspergillus niger
            Setelah lumpur sawit difermentasi selama 4 hari, kandungan PK nya naik menjadi 35,43 % dari 13,25% dan serat kasarnya menjadi 13,8% dari 16,3%. Kenaikan PK LSF ini dikarenakan setelah fermentasi 4 hari terjadi kehilangan bahan kering yang tinggi (28,77%), kapang  ini juga mempunyai intensitas pertumbuhan yang tinggi, kemudian diduga juga kapang ini telah mensintesis enzim ureasi untuk mencegah urea menjadi asam amonia dan CO2 pada fermentasi 4 hari.
Asam amonnia dapat digunakan oleh kapang untuk pebentukan asam amino. Sedangkan perubahan kandungan SK dipengaruhi oleh intensitas pertumbuhan miselia kapang , kemampuan memecah SK untuk memenuhi  kebutuhan energi, dan kehilangan BK selama fermentasi. Penurunan SK diduga karena Aspergillus niger pada inkubasi 4 hari mulai mensintesa enzim pengurai, yaitu selulose yang akan merombak selulosa dalam produk. Aspergillus niger merupakan kapang yang dapat tumbuh cepat an menghasilkan beberapa enzim  seperti amylase, pektinase, amiloglukosidase dan selulase.
 Penggunaan Lumpur sawit fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum  broiler
            Dari hasil penelitian yang dilakukan,  LSF dengan Aspergillur niger dapat digunakan sebanyak 5%  dalam ransum dan memberikan hasil terbaik untuk pertambahann bobot ayam pedaging (Mirwandhono, 2004). Pemberian pada taraf 15 % tidak berpengaruh buruk terhadap konsumsi pakan, karkas, lemak abdomen, dan organ (hati dan rempela) pada ayam broiler(Sinurat. 2000). Menurut Sinurat dkk., 2000 dalam Mairizal (2008), batas penggunaan lumpur sawit yang disarankan untuk ayam broiler adalah 5%, sedangkan menurut Yeong dan Azizah 1987 dalam Sinurat (2001) lumpur sawit dapat digunakan sebanyak 15 %. Selanjutnya dijelaskan oleh Sinurat (2001) bahwa batas pemberian lumpur sawit dalam ransum unggas sangat bervariasi tergantung dari proses dalam menghasilkannya dan jenis ternak yang mengkonsumsi. Di bawah ini adalah data penampilan ayam pedaging yang diberi produk fermentasi lumpur sawit.
Tabel 1. Penampilan ayam pedaging (1 hari-5minggu)
Parameter
Kontrol
LSF
5 %
10 %
15 %
Pertambahan bobot badan (g/e)
981
1104
1039
1002
Konsumsi ransum (g/e)
2035*
2126
2115
2060
Konversi ransum
2,07*
1,95
2,04
2,06
Konsumsi bahan kering (g/e)
1777
1883
1866
1817
Konversi bahan kering
1,81
1,69
1,70
1,81
Keterangan: tanda * menunjukkan perbedaan yang nyata antara kontrol dengan rata-rata perlakuan lainnya (P<0,05)
 Tabel 4. bobot karkas, lemak abdomen, hati, dan rempela ayam broiler yang diberi lumpur sawit fermentasi (% bobot hidup)
Parameter
Kontrol
LSF
5 %
10 %
15 %
Karkas
66,6
67,3
66,2
67,3
Lemak abdomen
1,97
2,01
2,22
2,07
Hati
2,12
2,13
2,22
2,07
Rempela
2,05
1,92
1,99
2,07
 Dari tabel di atas terlihat bahwa penggunaan produk lumpur sawit fermentasi dalam ransum hingga 15% tidak menyebabkan penurunan konsumsi ransum, gangguan pertumbuhan, perubahan persentase karkas, dan lemak abdomen yang dihasilkan maupun kelainan pada organ (hati dan rempela) ayam. Hal ini terlihat dari data konsumsi ransum, PBB, FCR, persentase karkas, bobot lemak abdomen, bobot hati, dan berat rempela ayam dibandingkan dengan kontrol.
Untuk pertambahan bobot badan terlihat bahwa penggunaan produk lumpur sawit fermentasi pada taraf 5 % adalah yang tertinggi, hal ini mungkin merupakan petunjuk bahwa produk fermentasi mengandung suatu zat pemacu pertumbuhan/growth promotant yang hanya efektif bila diberikan pada dosis rendah, kemungkinan aktivitas zat tersebut cukup tinggi di alam produk segar, sehingga efektifitasnya tidak terlihat lagi secara nyata sampai pada penggunaan produk fermentasi taraf 10%.
 Konversi bahan kering ransum kontrol tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata konversi bahan kering ransum yang mengandung lumpur sawit fermentasi peningkatan kadar lumpur sawit fermentasi dari 5% menjadi 15 % nyata menyebabkan konversi bahan kering semakin jelek, tetapi konversi bahan kering ransum dengan kadar 10% LSF tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan ransum 5 % maupun 15 %.
            Mortalitas ayam pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Sinurat (2001) ini sangat rendah (hanya 2 ekor dari 210 ekor atau 0,95%) dan tidak ada gejala yang mencurigakan bahwa kematian ayam disebabkan oleh perlakuan. Penelitian terdahulu juga tidak mengindikasikan adanya perbedaan mortalitas karena pemberian LSF pada ayam broiler (Sinurat, et.al., 2000). Oleh karena itu, data mortalitas tidak disajikan dalam tabel. Hasil ini menguatkan hasil penelitian sebelumnya bahwa penggunaan produk LSF tidak membahayakan kesehatan ayam broiler dan tiadak menyebabkab perubahan persentase karkas yang dihasilkan, hati, rempela, maupun lemak abdomen
 III. Kesimpulan
  1. Fermentasi lumpur sawit dengan kapang Aspergillus niger selama 4 hari menghasilkan kandungan protein kasar dan serat kasar yang baik. Kandungan protein kasar meningkat menjadi 35,43% dari 13,25% dan serat kasar  turun dari 16,3% menjadi 13,8%.
  2. Ransum dengan kandungan 5% lumpur sawit fermentasi memberikan hasil yang terbaik untuk pertambahan bobot ayam pedaging.
  3. Pemberian lumpur sawit fermentasi sampai pada taraf 15% ini tidak menimbulkan respon yang negatif terhadap karkas, lemak abdomen, dan organ (hati dan rempela) pada ayam broiler.
 DAFTAR PUSTAKA
 Bintang , L. A. K., A. P. Sinurat, T. Purwadaria, dan T. Pasaribu. 2000. Nilai gizi lumpur kelapa sawit hasil fermentasi pada berbagai proses inkubasi. J. Ilmu Ternak Vet. 5 (1) : 7-11
 http://index.php.htm. Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi Aspergillus niger dalam Ransum terhadap pertumbuhan ayam broiler
 Mairizal. 2008. Upaya peningkatankualitas lumpur sawit melalui fermentasi dengan  Aspergillus niger serta aplikasinya dalam ransum ayam broiler. Jambi
 Mirwandhono, E. 2004. Pemanfaatan lumpur kelapa sawit  yang difermentasi dengan Aspergillus niger, Rhizhopus oligosporus dan Thricoderma viridae dalam ransum ayam pedaging. Sumatera utara
 Pasaribu, T(et.al). 1998. Peningkatan Nilai gizi lumpur sawit melalui proses fermentasi : Pengaruh jenis kapang, suhu dan lama proses enzimatis. J. Ilmu Ternak Vet. 3(4) : 237-242.
 Purwadaria, T., AP. Sinurat, Supriyati, H. Hamid, dan I.A.K. Bintang. 1999. Evaluasi nilai gizi lumpur sawit fermentasi dengan Aspergillus niger setelah proses pengeringan dengan pemanasan. J. Ilmu Ternak Vet. 4 (4) : 257-263).
Sinurat, A.P., T. Purwadaria, P. Ketaren, D. Zainuddin dan I.P. Kompiang. 2000. Lumpur sawit kering dan produk fermentasinya sebagai bahan pakan ayam broiler. J. Ilmu Ternak Vet. 5 (2) : 107-112.
Sinurat, A.P., I. A. Bintang, T. Purwadaria, dan T. Pasaribu. 2001. Pemanfaatan lumpur sawit dan prouk fermentasinya untuk ransum unggas. J. Ilmu Ternak Vet. 6 (1) : 28-33
Supriyati, T. Pasaribu, H. Hamid, dan A.P. Sinurat. 1998. Fermentasi bungkil inti sawit secara substrat padat dengan menggunakan Aspergillus niger. J. Ilmu Ternak Vet. 3 (3): 165-170.

Berita Pertanian : Harga Pakan Itik Naik akibat Hujan

Posted by Flora Sawita Labels: , ,

Brebes. Harga pakan itik di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), terutama nasi aking naik sekitar 20% akibat hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut sejak sepuluh hari terakhir.

Peternak warga Limbangan Kulon, Kecamatan Brebes tersebut mengatakan, setiap musim hujan peternak itik jenis ternak atau itik yang dikandangkan selalu kesulitan mendapatkan nasi aking, meskipun ada namun harganya semakin hari kian melambung.

"Kenaikan dan kelangkaan nasi aking sebagai bahan utama pakan itik disebabkan saat musim hujan proses penjemuran nasi sulit karena sinar matahari berkurang, sehingga warga tidak dapat menjemur sisa nasi mereka untuk dijadikan masi aking," katanya, Senin (7/11).

Peternak itik lainnya, Syarif (45) mengaku kesulitan mendapatkan nasi aking karena jika sudah masuk musim hujan sebagian peternak itik melakukan aksi borong nasi aking dan bekatul untuk persediaan selama musim hujan.

Biasanya kata dia, sebelum musim hujan dirinya sudah menimbun nasi aking untuk persediaan selama tidak ada panas matahari, namun karena harga pakan ternak beberapa bulan lalu sempat naik maka pada musim hujan sekarang dia tidak menimbun nasi aking.

"Kalau cuaca normal sehari rata-rata mendapat pasokan 1-1,5 kuintal nasi aking, tetapi jika sudah mulai hujan seperti sekarang sehari paling banyak satu ton, bahkan bila curah hujan sudah tinggi sehari hanya 25 kilogram dengan harga sebelumnya Rp2.100 per kilogram naik menjadi Rp2.600-Rp3.000 per kilogram," katanya. (ant)

Lumpur Sawit sebagai Bahan Pakan Ternak

Posted by Flora Sawita Labels: ,

Dalam proses pengolahan minyak sawit (CPO) dihasilkan limbah cairan sekitar 2,5 m3/ton CPO yang diproduksi. Limbah ini mengandung bahan pencemar (padatan) yang tinggi, yaitu BOD sekitar 20.000 – 60.000 mg/l (Wenten, 2004). Pengurangan bahan padatan dari cairan ini dilakukan dengan menggunakan suatu alat ‘decanter’ yang menghasilkan solid ‘decanter atau lumpur sawit. Bahan padatan ini berbentuk seperti lumpur, dengan kandungan air sekitar 75 %, sehingga disebut lumpur sawit. Sifat fisik yang demikian ini menimbulkan masalah dalam pengang­kutan dan penyimpanan lumpur sawit, sehingga harus dikeringkan terlebih dahulu. Bila lumpur sawit dikeringkan, akan berwarna kecoklatan dan teksturnya kasar dan keras.

Lumpur sawit masih belum banyak dimanfaatkan secara ekonomi. Di areal perkebunan, lumpur sawit digunakan sebagai penimbun jurang, bahkan lumpur sawit sering dibuang sembarangan sehingga menimbulkan polusi bagi masyarakat di sekitar perkebunan (Yeong, 1982; Medan Pos, 1998, Sriwijaya Post, 2004). Kandungan air yang cukup tinggi, merupakan salah satu faktor pembatas dalam penggunaan bahan ini karena membutuhkan upaya pengeringan. Faktor pembatas lain pengggunaan lumpur sawit sebagai bahan pakan unggas adalah tingginya kadar serat kasar (29,76%) dan kecernaan asam amino yang rendah (Hutagalung, 1978). Disamping itu, kandungan gizi lumpur sawit juga sangat bervariasi (Sinurat, 2003).

Besarnya variasi ini tergantung pada banyak hal, termasuk pada perbedaan proses pemisahannya dari minyak sawit. Meskipun demikian, beberapa penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan lumpur sawit sebagai bahan pakan unggas

Hasil penelitian yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak menunjukkan bahwa lumpur sawit kering dapat digunakan 5% didalam ransum ayam pedaging (Sinurat et al., 2000). Pemberian pada taraf yang lebih tinggi dapat menyebabkan penurunan performan ayam (penurunan konsumsi ransum dan pertumbuhan yang lebih lambat). Penurunan performan ini terjadi karena semakin meningkatnya kandungan serat kasar dalam ransum dengan meningkatnya kadar lumpur sawit.

Penggunaan lumpur sawit kering dalam ransum ayam ras petelur hingga 20% tidak menyebabkan gangguan terhadap produksi telur, bobot telur, efisiensi penggunaan pakan dan kualitas ("HU") telur (Yeong dan Azizah 1987). Level ini dianggap cukup aman untuk diberikan pada ayam ras petelur, tetapi lumpur sawit yang digunakan mengandung serat kasar (16,8%) yang rendah dan protein (13,0 %) yang tinggi dibandingkan dengan kadar serat kasar dan protein lumpur sawit yang umum dilaporkan.

Di Nigeria, lumpur sawit juga digunakan untuk pakan ayam yang berkeliaran dengan saran penggunaan 10 - 30% dalam ransum (Sonaiya, 1995). Sebaliknya penelitian di dalam negeri (Karo-karo et al., 1994) menunjukkan bahwa pemberian lumpur sawit kering diatas 10% dalam ransum ayam buras periode pertumbuhan menyebabkan penurunan bobot badan dan konsumsi ransum. Sedangkan penggunaan lumpur sawit kering dalam ransum itik hingga 15 % tidak menimbulkan gangguan pertumbuhan, konsumsi ransum maupun persentase karkas (Sinurat et al., 2001a).

Dari berbagai uraian diatas disimpulkan bahwa lumpur sawit kering dapat digunakan dalam ransum ayam broiler 5%, ayam ras petelur 15 – 20%, ayam kampung 10% dan itik 15%. (Dari berbagai sumber)

Pelepah Sawit untuk Pakan Sapi

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,



















Mengembangkan ternak sapi ini, dijelaskan Frisda, tidaklah terlalu sulit kalau saja semua dilakukan dengan serius. Terbukti dengan mengganti pakan sapi dari rerumputan dengan pelepah kelapa sawit membuat pertumbuhan sapi menjadi berkembang.

"Bagaimana kita memanfaatkan kekayaan alam yang ada untuk kebutuhan pakan ternak sapi. Lebih ekonomis karena tidak harus mengimpor rumput atau memelihara sebelumnya hingga panen. Karena pelepah dapat terus diperoleh saat panen buah kelapa sawit setiap harinya,” jelas Frida.

Untuk penggunaan pelepah kelapa sawit dalam riset ini, diungkapnya diperlukan sebanyak 2,5 ton perhari atau 350 batang pelepah sawit. Karena kebutuhan pakan untuk sebanyak 181 ekor sapi yang ada saat ini telah mencapai 2 ton perhari.

"Pelepah diperoleh dari setiap memanen buah sawit. Biasanya pelepah yang bagus itu didapat dari usia tanaman kelapa sawit 12tahun karena proteinnya masih lengkap," ucapnya.

Seperti diceritakan Mandor Pembibitan sapi, Ilyas, di tempat pengolahan pakan Kebun Percobaan Bukit Sentang di Dusun Bukit I, Desa Securai Utara, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat itu, pelepah sawit yang dijadikan pakan ternak sebelumnya digiling ke dalam mesin penggiling. Pelepah sawit yang panjangnya sekitar 3 - 4 meter berubah menjadi serpihan-serpihan kecil hampir seperti bubuk keluar dari lubang pipih di bagian lainnya dari mesin tersebut.

Pelepah sawit yang akhirnya menjadi serpihan tersebut nantinya akan dipermentasikan selama satu hari hingga berubah bau seperti tape. Hal itu dilakukan agar aroma yang keluar nantinya bisa menimbulkan nafsu makan sapi. Untuk kebutuhan pakan yang dibutuhkan perekor sapi nya mencapai 18 kg/ekor setiap harinya tergantung berat badan sapi.

"Disini sapi tidak dibiarkan lepas mencari makannya. Karena kalau sapi dibiarkan lepas, banyak yang jadi korban, antara lain, kalau rumput dibawa habis, ia akan makan daun pelepah yang di atas, selain itu, tanah yang diinjaknya berulang kali akan menjadi padat, ini tidak menguntungkan karena buah sawit akan maksimal kalau pelepahnya cukup dan kepadatan tanahnya tidak terlalu rapat," jelas Ilyas.

Untuk memenuhi kebutuhan banyaknya pelepah sawit, setiap hari beberapa orang anggotanya mengambil pelepah sawit dari kebun meggunakan truk kemudian menempatkannya di dalam tempat pengolahan pakan. "Jadi yang di sini setiap hari habis dan berganti lagi setiap hari," katanya. Dari setiap batang pohon sawit, menurutnya yang bisa diambil tak lebih dari 3 - 4 pelepah. Dengan luas kebun sawit sekitar 493 hektar, pasokan pakan untuk sapi tentunya sangat banyak dan tidak perlu khawatir kekurangan.

Di Kebun Percobaan Bukit Sentang ini terdapat 181 ekor sapi jenis Brahman dan sapi lolal yang terbagi dengan usia bervariasi. Ia menjelaskan, pelepah sawit yang sudah dihaluskan tersebut nantinya akan dimasukkan kembali ke dalam mesin pencampur/mikser. Pelepah yang sudah halus dicampur dengan dedak padi, bungkil sawit, tetes tebu dan garam. Kemudian dimasukkan ke dalam karung-karung.

"Saat ini fermentasi baru dilakukan dengan menggunakan karung, nantinya kita akan menggunakan bak-bak fermentasi yang sudah dipersiapkan, Cuma saja untuk saat ini belum bisa digunakan karena beberapa hal," katanya.


Dikatakan Sigit, mengembangkan kegiatan integrasi sawit - sapi tidak sebatas untuk swasembada daging, namun untuk peningkatan produksi ternak sapi dalam rangka swasembada daging dan ekspor, melalui pengembangan sistem pertanian berbasis kelapa sawit.

Dengan keberhasilan riset integrasi sawit-sapi-energi ini, pemerintah dapat mengarahkan suatu model integrasi dengan pola usaha ternak dan sistem usaha perkebunan sawit. Pola usaha ternak dibagi menjadi pola usaha pembibitan dan pembesaran anak (cow calf operation/CCO) dan penggemukan (fattening). Sistem usaha perkebunan sawit dibagi menjadi hanya menghasilkan tandan buah segar dan perkebunan yang dilengkapi dengan industri pengolahan sawit. Model integrasi sawit - sapi tidak hanya memberikan nilai tambah usaha ternak sapi, namun juga terhadap peningkatan produktivitas perkebunan sawit.

Stimulan dan bantuan untuk pengembangan integrasi sawit - sapi dapat berupa soft loan, atau paket yang terkait dengan peralatan, perkandangan, atau ternak dan komponen pendukung sebagai "starter" usaha.

"Selain itu diperlukan dukungan berupa pelatihan, pengawalan, koordinasi, serta monitoring dan evaluasi. Dukungan pembiayaan yang berasal dari APBN, APBD, CSR, maupun sumber-sumber pendanaan lainnya harus disesuaikan dengan tupoksi, mandat dan urgensinya," katanya.

Timbulnya gerakan integrasi sawit - sapi secara swadaya akan dapat terwujud apabila pengembangan integrasi sawit - sapi secara teknis mudah pelaksanaannya, secara ekonomi menguntungkan, dan secara konsep pembangunan pertanian bersifat integratif. Sumberdana untuk kegiatan tersebut selain dari dana APBN/APBD juga dapat berasal dari Kredit Perbankan (KKPE dan KUPS), CSR, swadaya petani atau sumberdana lain.

Paket teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah ternak dan limbah lainnya telah semakin berkembang, sehingga perlu didorong pengembangan pemanfaatan limbah ternak sapi pada integrasi sawit - sapi untuk pupuk organik, sehingga dapat mengurangi pemakaian pupuk an-organik di perkebunan sawit.

Hasil kunjungan ke PPKS terlihat dengan jelas bahwa teknologi inovatif pengolahan biomassa yang dihasilkan perkebunan kelapa sawit dan industri sawit diantaranya daun/pelepah dan bungkil inti sawit (BIS), telah mampu menyediakan pakan lengkap yang murah, berkualitas, dan berkelanjutan. Pengolahan limbah ternak untuk biogas dan kompos/pupuk organik sangat tepat untuk mendukung usaha perbenihan.

Dalam rangka pemantapan dan sosialisasi manfaat kegiatan integrasi sawit - sapi, maka kegiatan diharapkan akan terus berlanjut baik dalam bentuk pengutuhan maupun perluasan. Melalui kegiatan ini pada waktunya nantinya timbul gerakan serupa oleh seluruh petani kelapa sawit secara swadaya, sehingga akan mampu mempersembahkan manfaat ekonomi dan sosial yang cukup besar dalam bentuk peningkatan produksi daging, pendapatan petani dan wilayah serta hemat energi, dan akhirnya menjadi kluster Desa Mandiri Energi (DME).

Pakan yang difermentasikan juga dapat membuatnya lebih lembut. Dan yang terpenting menurutnya, dari fermentasi tersebut bisa meningkatkan kandungan protein sekaligus menurunkan kadar lemak di dalamnya. "Jangan sampai sapi kelebihan lemak, karena sapi yang tubuhnya kelebihan lemak, kurang mampu menyerap protein yang dibutuhkan, akibat selanjutnya sapi bisa menjadi lemah dan kurang tenaga," jelasnya.

Karo Miliki Potensi Besar Kembangkan Kambing di Kebun Jeruk

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,











Medan
. Kabupaten Karo secara potensial dapat mengembangkan sekitar 680.000 ekor kambing mengingat luas tanaman jeruk di kabupaten itu mencapai 17.000 hektare dan merupakan milik perorangan dengan rata-rata pemilikan antara 0,5 hingga 5 hektare.

“Dengan asumsi daya tampung sekitar 40 ekor kambing per hektare lahan jeruk, maka di Karo dapat dikembangkan sekitar 680 ribu ekor kambing atau meningkatkan sekitar 91 persen populasi kambing di Sumatera Utara (Sumut),” kata staf penyuluh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut Siti Suryani, Selasa (28/6) di Medan.

Namun demikian, usaha ternak yang baik didukung oleh tersedianya sumber pakan ternak yang berlimpah dengan jumlah dan kualitas yang tepat dan berkesinambungan. Salah satu jenis pakan ternak yang murah adalah hijauan pakan ternak (HPT) yang unggul.

HPT tersebut kata dia harus bersifat spesifik oleh sebab itu perlu diketahui jenisnya secara jelas. Dan, dari hasil pengujian terhadap 6 jenis HPT campuran di bawah tanaman jeruk yang sudah berproduksi di sentra produksi jeruk di Desa Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe menunjukkan tiga jenis rumput HPT unggul, yaitu Ruzi (Brachiaria ruziziensis), Steno (Stenotaphrum secundatum), dan Paspalum (Paspalum gueonarum). “Ketiga jenis rumput ini dapat dikembangkan di kebun jeruk sebagai sumber hijauan untuk ternak kambing,” katanya.

Secara keseluruhan hasil pengujian yang dilakukan selama 2 tahun (2009-2010) ini kata dia, menunjukkan produktivitas hijauan rumput introduksi mulai stabil sejak panen ke empat atau umur sekitar 6 bulan. Di mana hasil hijauan rata-rata berkisar antara 8,76 ton bahan kering (BK) sampai 15,4 ton BK per hektare per tahun atau 54,75 ton - 96,25 ton bahan segar per hektare per tahun.

Hasil hijauan ini cukup untuk menampung 56-97 ekor kambing dewasa per hektare. Dan, berdasarkan kepemilikan lahan jeruk 0,5 hektare per KK, skala usaha ternak kambing dapat mencapai 35 ekor per KK.

Dikatakan Siti, kandungan nutrisi hijauan rumput unggul seluruhnya cukup baik, seperti kandungan protein kasar (11,4 – 13,9 %) dan energi (3,12 – 3,23 Mkal/kg). “Dari ketiga jenis rumput introduksi, rumput steno memiliki kandungan nutrisi yang sedikit lebih baik dibandingkan lainnya. Ini ditunjukkan dengan tingginya kandungan protein kasar dan rendahnya serat kasar,” jelasnya.

Sementara mengenai komposisi botanis tanaman pakan ternak, Siti mengatakan, perkembangan komposisi botanis ditunjukkan oleh perkembangan gulma yang cenderung naik pada campuran rumput paspalum/legum atau steno/legum. Namun secara konsisten dapat ditekan oleh rumput ruzi.

Komponen rumput introduksi tetap mendominasi HPT campuran rumput/legum, dominasi terlihat jelas pada rumput ruzi yang berhasil menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, rumput ini begitu agresif sehingga menekan pertumbuhan legum. Karena itu rumput Ruzi sebaiknya ditanam secara monokultur sedangkan rumput Steno semakin menunjukkan toleransinya terhadap kondisi naungan sehingga cukup sesuai ditanam campur dengan legum arachis.

Berita Pertanian : BPTP Sumut Uji Daun dan Pelepah Kelapa Sawit Jadi Pakan Sapi

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Medan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut telah melakukan penelitian terhadap daun dan pelepah kelapa sawit menjadi pakan ternak sapi.

Siti Suryani, staf penyuluhan BPTP Sumut, Rabu (22/6), mengatakan, daun sawit mengandung protein kasar 14,8%, lignin 27,6% dan kecernaan invitro kurang dari 50%, temasuk kualitas biologis medium. “Karena itu disarankan pemberian daun sawit kepada ternak jangan melebihi 20 persen dan sebaiknya diberi perlakuan lebih dulu. Daun sawit diketahui memiliki keambaan, daya serap air dan kelarutan yang lebih tinggi. Nilai keambaan yang tinggi merupakan karakteristik berserat tinggi," ujarnya.

Berdasarkan kriteria tersebut kata Siti, pelepah dan daun sawit termasuk ke dalam pakan dasar. “Pelepah daun sawit dapat menggantikan rumput sampai 80 persen tanpa mengurangi laju pertumbuhan bobot badan sapi yang sedang tumbuh. Pelepah dapat diberikan dalam bentuk segar atau diproses terlebih dahulu menjadi silase,” jelasnya.

Dijelaskannya, penggunaan pelepah sawit dalam bentuk silase pada sapi sebanyak 50% dari total pakan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan harian berkisar 0,62 - 0,75 kg.

Perlakuan fermentasi untuk menghasilkan silase pada prinsipnya untuk preservasi dan konservasi. Pengaruhnya terhadap nilai gizi bahan relatif kecil. Untuk meningkatkan kandungan gizi dalam proses fermentasi dapat ditambahkan urea. "Pelepah sawit menjadi produk silase tidak meningkatkan kecernaan, namun jika menambahkan urea sebanyak 3 – 6 persen akan meningkatkan kandungan protein bahan dari 5,6 menjadi 12,5 atau 20 persen,” ujar Siti.

Menurut Siti, proses pembuatan silase dilakukan dengan mencacah bahan menjadi partikel yang halus. Cacahan diberi salah satu bahan seperti tepung kanji, tepung jagung, onggok atau molases sebanyak 3-5%. Selain itu juga perlu ditambahkan urea 3 – 6 persen kemudian semua bahan dimasukkan ke dalam drum, dipadatkan dan ditutup rapat untuk mempertahankan kondisi tanpa udara (anerob) selama 2-3 minggu. Untuk kemudian bisa digunakan. “Namun, saat silase dibuka, harus dikeringanginkan terlebih dulu,” jelasnya.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul