RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Kompos dari Tandan Kosong Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,


* Teknologi produksi kompos dari tandan kosong sawit (TKS) merupakan satu teknologi pengolahan limbah yang sekaligus dapat mengatasi masalah limbah padat dan limbah cair di PKS. Penerapan teknologi ini memungkinkan PKS untuk menerapkan konsep zero waste yang berarti tidak ada lagi limbah padat dan cair yang dibuang.
Proses pembalikan kompos tandan kosong sawit (a) dan kompos
tandan kosong sawit kering (b).

* Proses pengomposan TKS dimulai dengan pencacahan TKS dengan mesin pencacah. TKS yang telah dicacah ditumpuk di atas lantai semen pada udara terbuka atau di bawah atap. Tumpukan dibalik 3- 5 kali seminggu dengan mesin pembalik BAKHUS dan disiram dengan limbah cair PKS. Pada akhir pengomposan yang berlangsung selama 6-8 minggu, kompos diayak dan dikemas.

* Total biaya investasi produksi kompos dari TKS berkisar Rp4 miliar untuk PKS dengan kapasita 30 ton TBS/jam. Dengan asumsi produksi kompos per hari 60 ton, maka biaya produksi kompos adalah Rp150/kg. Dengan harga jal kompos bulk Rp400/kg, keuntungan langsung yang diperoleh sebesar Rp366/kg atau sekitar Rp2,28 miliar/tahun sebelum pajak

Advantages of Hydrocyclone

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,


The Hydrocyclone have blessings and disadvantages?
Hydrocyclone has several advantages: easy structure, no moving parts; processing capability per unit volume; sand laundry equipment high classification accuracy; low value of equipment; occupied, straightforward maintenance; sand mining equipment less the quantity of keep and time of pulp within the machine.

Hydrocyclone shortcomings: transport the slurry with the sand pump consumes power; sand pump wear violent and out of the feed gap, thus frequent repair; needs to the ore particle size, mobile sand laundry plant pulp density and pressure changes within the scope of tiny, simply cause the standard of classification fluctuations. Strictly to strengthen the operating system, most of the cyclone affecting the standard of shortcomings are often avoided and reduced.

For example: 250 hydrocyclone Park tube diameter of 250 mm.

Section III classification method factors
the main factors affecting the classification process?
Factors affecting the classification method. Ore properties: clay content and grain size of the proportion and form of the ore into the grading machine materials: machine construction factors: the scale of the helical axis of the trough tilt angle rotation speed, the width of the trough, the operating The factors are: pulp density, uniformity to the number of ore to mine, the amount of the overflow weir.

When the clay content within the graded material or fine grade the a lot of slurry viscosity the bigger, and therefore the smaller the settling velocity of mineral particles within the pulp, and therefore the overflow product size conjointly thicker. Materials containing clay less or when desliming, so as to avoid the entrainment of sand returning an excessive amount of fine-grained level, ought to be graded concentrations of an applicable increase.
the proportion of graded materials completely different of various sizes and ore particle form different classification?

The same concentration and different operating conditions, if the smaller the proportion of graded materials, the bigger the viscosity of the slurry particle size within the overflow product thicker, increase in content of fine particles within the come sand. within the classification of the big proportion of the ore ought to be properly increase the concentration of grading; grading the proportion of tiny ore, ought to be an applicable lower classification levels.

When the ore particles are flattened form, settling velocity slower than spherical or near the park-shaped ore settling velocity, and therefore lower the concentration of flat ore grading, or to accelerate the speed of discharge of the overflow product.

Proses Pemurnian Minyak Kelapa Sawit Menjadi CPO

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,


Proses Pemurnian Minyak Kelapa Sawit Menjadi CPO Dengan Menggunakan Alat Oil Purifier Type PAPX 307 SGD-11g Pada Stasiun Klarifikasi Di PTPN II ( Persero) PKS Pagar Merbau

Dalam proses pemurnian minyak kelapa sawit dengan menggunakan oil purifier, harus diperhatikan kadar lumpur dan air yang masih ada, dikarenakan di proses ini kadar lumpur harus di minimalkan agar proses kerja dari oil purifier tidak terlalu berat. Setelah melalui proses pemurnian yang cukup panjang, yang akhirnya proses penentuan tersebut jatuh pada oil purifier, yang bekerja agar meminimalkan dari kadar air 0,6 % - 0,1 % dan lumpur 0,1 % - 0,3 % sampai dengan 0,20 % - 0,50 %, dan juga kadar kotoran maksimum 0,015 % - 0,1 %.
Alat Oil Purifier ini bekerja dengan prinsip gaya sentrifugal, yaitu memutar suatu cairan-cairan yang tidak saling bersenyawa (tidak saling melarutkan), sehingga dengan massa jenis yang berbeda dari setiap cairan, maka massa jenis yang paling ringan akan terlempar lebih jauh keluar dan disalurkan melalui nozle-nozle agar penempatan cairan-cairan tersebut dapat terpisah. Pada PKS Pagar Merbau digunakan Oil Purifier type PAPX 307 SGD-11G yang spesifikasi kerjanya sampai 6 ton / jam, sehingga dapat memaksimalkan proses pemurnian.
Disini Oil Purifier sangat dibutuhkan agar kualitas CPO semakin baik, karna pengurangan kadar air dan lumpur sangat diminimalisir, masalah-masalah yang terjadi di Oil Purifier yaitu berupa sumbatan-sumbatan aliran yang dapat mengakibatkan proses terhenti, oleh karena itu Oil Purifier harus dilakukan pembilasan setiap 1 jam sekali agar menghindari masalah penyumbatan kotoran. Pembilasan yaitu proses pembersihan pada Oil Purifiier dengan menggunakan air panas yang di injeksikan kedalamnya dengan suhu 90-95˚ untuk mengalirkan sisa-sisa lumpur yang tidak ikut terpisah.

Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum ayam broiler

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,


Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum ayam broiler

Oleh:  Astria Palinka
 
 ABSTRAK
 Ayam broiler merupakan jenis ayam penghasil daging yang unggul karena selain pertumbuhannya cepat dengan masa pemeliharaan yang relatif singkat juga memiliki daging yang empuk dengan kandungan gizi yang tinggi. Dewasa ini permintaan akan daging meningkat karena urbanisasi, perkembangan nutrisi dan penghasilan yang tinggi. Bobot badan ayam broiler sangat tergantung dari bahan pakan yang dikonsumsinya, sehingga dibutuhkan pakan yang berkualitas. Harga pakan yang cukup tinggi membuat peternak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan biaya ransum adalah dengan memanfaatkan sumber bahan pakan non kovensial seperti lumpur  sawit. Namun karena nilai gizi lumpur sawit yang rendah maka dilakukan sentuhan tehnologi seperti fermentasi untuk meningkatkan nilai gizinya. Salah satu inokulum yang baik digunakan untuk fermentasi adalah kapang Aspergillus niger. Lumpur sawit fermentasi (LSF) dengan Aspergillus niger Mampu meningkatkan nilai protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar. selain itu penggunaan LSF dapat digunakan sampai taraf 10% tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan performans ayam pedaging.


 I. PENDAHULUAN
 Ransum merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu usaha peternakan. Penyediaan ransum yang murah, tersedia dan baik kualitasnya serta tidak bersifat racun perlu dilakukan untuk menekan biaya produksi, dimana 60%-70% dari komponen biaya produksi adalah biaya ransum.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan biaya ransum adalah dengan memanfaatkan sumber bahan pakan non kovensial yang  mempunyai nilai ekonomis rendah, tidak bersaing dengan manusia, serta tersedia secara terus menerus. Sumber bahan pakan yang dimaksud dapat diperoleh dengan cara memanfaatkan limbah pertanian, salah satunya adalah limbah pabrik kelapa sawit.
Limbah kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternate ternak unggas dan punya potensi yang besar adalah  bungkil inti sawit dan Lumpur sawit, yang sampai saat ini limbah tersebut belum digunakan secara maksimal sebagai bahan pakan dalam ransum ternak.
Lumpur sawit (palm sludge) merupakan limbah pengolahan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), yang memungkinkan untuk dioptimalkan pemanfaatannya sebagai bahan pakan penyusun ransum unggas
Penggunaan Lumpur sawit sebagai bahan pakan ayam pedaging akan memberikan keuntungan ganda yaitu  menambah variasi dann persediaan bahan baku ransum serta mengurangi pencemaran lingkungan, disamping dapat memberikan keuntungan lain dalam hal penekanan biaya ransum.
Penggunaan limbah di atas sebagai ransum ternak harus melalui penanganan dan pengolahan lebih lanjut atau perlu sentuhan tehnologi untuk meningkatkan nilai gizi nya, dikarenakan bahan limbah ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu serat kasar tinggi, kandungan protein dan kecernaan rendah (Zamora et al. 1989). Menurut Sinurat 1998 dalam Mirwandhono (2004), teknologi untuk meningkatkan mutu bahan pakan adalah dengan fermentasi.
Tehnik ini sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi Lumpur sawit (Sinurat et al., 1998. Pasaribu et al, 1998). Secara umum semua produk akhir fermentasi biasanya mengandung senyawa yang lebih sederhana dan mudah dicerna daripada bahan asalnya sehingga dapat meningkatkan nilai gizinya (Purwadaria et al., 1995; Sinurat dkk., 1996; Supriyati dkk., 1998). Fermentasi juga berfungsi sebagai salah satu cara pengolahan dalam rangka pengawetan bahan dan cara untuk mengurangi bahkan menghilangkan zat racun yang dikandung suatu bahan. Berbagai jenis mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mengkonversikan pati menjadi protein dengan  penambahan nitrogen anorganik melalui fermentasi. Kapang yang sering digunakan dalam teknologi fermentasi antara lain Aspergillus niger.
A. niger merupakan salah satu jenis Aspergillus yang tidak menghasilkan mikotoksin sehingga tidak membahayakan. Produk fermentasi ini  mempunyai kandungan protein kasar dan protein sejati yang lebih tinggi dari bahan asalnya. Lumpur sawit memiliki komposisi   nutrisi yang setara dengan dedak padi.
Lumpur sawit mengandung protein kasar 13,3 %, lemak kasar 18,9%, serat kasar 16,3%, abu 12%, dan BETN 39,6% (Widyawati, 1991 dalam Mairizal dkk, 2008). Berdasarkan hasil penelitian  yang dilakukan di Balitnak Ciawi diketahui bahwa proses fermentasi Lumpur sawit dengan Aspergillus niger dapat meningkatkan nilai gizinya namun produk hasil fermentasi tersebut dalam aplikasinya hanya efektif digunakan sampai taraf 10% dalam ransum ( Sinurat dkk. 2001)
Berdasarkan pemikiran di atas, maka cukup beralasan untuk mengadakan kajian mengenai pemanfaatan Lumpur sawit  terfermentasi dalam ransum untuk menunjang kinerja pertumbuhan ayam pedaging serta mendukung pengembangan perunggasan di Indonesia.

 Potensi Limbah Sawit Sebagai Ransum Ternak
Tanaman kelapa sawit meghasilkan 4 jenis limbah utama yang digunakan sebagai bahan pakan ternak yaitu daun sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit dan serabut sawit. Limbah ini cukup melimpah sepanjang tahun, namun penggunaannya sebagai bahan pakan belum digunakan secara maksimal sampai sekarang.  Dari 693.015,64 ha kebun kelapa sawit dihasilkan tandan buah segar sebesar 10,40 juta ton per tahun dan akan dihasilkan limbah pabrik pengolahan sawit berupa lumpur sawit 0,52 juta ton dan bungkil inti sawit sebesar ,24 juta ton, dan serat buah 1,25 juta ton pertahun.
Lumpur sawit adalah larutan buangan yang dihasilkan selama proses pemanasan minyak mentah sawit. Bahan ini merupakan emulsi mengandung sekitar 20% padatan, 0,5-1% sisa minyak dan sekitar 78-79% air (Devendra, 1997 dalam Mirwandhono 2004).

 Aspergillus Sebagai Inokulum Fermentasi
            Penggunaan kapang sebagai inokulum fermentasi sudah banyak dilakukan karena pertumbuhannya relatif mudah dan cepat, kadar asam nukleat rendah ( Mirwandhono, 2004). Pertumbuhannya pun mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas yang mulanya berwarna putih , tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapangnya.
            Aspergillus niger adalah kapang anggota genus Aspergillus, famili Eurotiaceae, ordo Eutiales, sub-klas Plectomycetetidae, kelas Ascomycetes, dan divisi Amastigmycota (Hardjo et al., 1989). Aspergillus niger mempunyai konidi yang besar, dipak secara padat, bulat, dan berwarna hitam coklat atau ungu coklat. Kapang ini mempunyai bagian yang khas yaitu hifanya berseptat, spora yang bersifat  aseksual dan tumbuh memasang di stigma, mempunyai sifat aerobik, sehingga dalam pertumbuhannya memerlukan oksigen dalam jumlah yang cukup. Aspergillus niger  termasuk mikroba mesofilik dengan pertumbuhan maksimum pada suhu 35 ºC-37 ºC.
 Perubahan Kandungan nutrisi lumpur sawit fermentasi dengan Aspergillus niger
            Setelah lumpur sawit difermentasi selama 4 hari, kandungan PK nya naik menjadi 35,43 % dari 13,25% dan serat kasarnya menjadi 13,8% dari 16,3%. Kenaikan PK LSF ini dikarenakan setelah fermentasi 4 hari terjadi kehilangan bahan kering yang tinggi (28,77%), kapang  ini juga mempunyai intensitas pertumbuhan yang tinggi, kemudian diduga juga kapang ini telah mensintesis enzim ureasi untuk mencegah urea menjadi asam amonia dan CO2 pada fermentasi 4 hari.
Asam amonnia dapat digunakan oleh kapang untuk pebentukan asam amino. Sedangkan perubahan kandungan SK dipengaruhi oleh intensitas pertumbuhan miselia kapang , kemampuan memecah SK untuk memenuhi  kebutuhan energi, dan kehilangan BK selama fermentasi. Penurunan SK diduga karena Aspergillus niger pada inkubasi 4 hari mulai mensintesa enzim pengurai, yaitu selulose yang akan merombak selulosa dalam produk. Aspergillus niger merupakan kapang yang dapat tumbuh cepat an menghasilkan beberapa enzim  seperti amylase, pektinase, amiloglukosidase dan selulase.
 Penggunaan Lumpur sawit fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum  broiler
            Dari hasil penelitian yang dilakukan,  LSF dengan Aspergillur niger dapat digunakan sebanyak 5%  dalam ransum dan memberikan hasil terbaik untuk pertambahann bobot ayam pedaging (Mirwandhono, 2004). Pemberian pada taraf 15 % tidak berpengaruh buruk terhadap konsumsi pakan, karkas, lemak abdomen, dan organ (hati dan rempela) pada ayam broiler(Sinurat. 2000). Menurut Sinurat dkk., 2000 dalam Mairizal (2008), batas penggunaan lumpur sawit yang disarankan untuk ayam broiler adalah 5%, sedangkan menurut Yeong dan Azizah 1987 dalam Sinurat (2001) lumpur sawit dapat digunakan sebanyak 15 %. Selanjutnya dijelaskan oleh Sinurat (2001) bahwa batas pemberian lumpur sawit dalam ransum unggas sangat bervariasi tergantung dari proses dalam menghasilkannya dan jenis ternak yang mengkonsumsi. Di bawah ini adalah data penampilan ayam pedaging yang diberi produk fermentasi lumpur sawit.
Tabel 1. Penampilan ayam pedaging (1 hari-5minggu)
Parameter
Kontrol
LSF
5 %
10 %
15 %
Pertambahan bobot badan (g/e)
981
1104
1039
1002
Konsumsi ransum (g/e)
2035*
2126
2115
2060
Konversi ransum
2,07*
1,95
2,04
2,06
Konsumsi bahan kering (g/e)
1777
1883
1866
1817
Konversi bahan kering
1,81
1,69
1,70
1,81
Keterangan: tanda * menunjukkan perbedaan yang nyata antara kontrol dengan rata-rata perlakuan lainnya (P<0,05)
 Tabel 4. bobot karkas, lemak abdomen, hati, dan rempela ayam broiler yang diberi lumpur sawit fermentasi (% bobot hidup)
Parameter
Kontrol
LSF
5 %
10 %
15 %
Karkas
66,6
67,3
66,2
67,3
Lemak abdomen
1,97
2,01
2,22
2,07
Hati
2,12
2,13
2,22
2,07
Rempela
2,05
1,92
1,99
2,07
 Dari tabel di atas terlihat bahwa penggunaan produk lumpur sawit fermentasi dalam ransum hingga 15% tidak menyebabkan penurunan konsumsi ransum, gangguan pertumbuhan, perubahan persentase karkas, dan lemak abdomen yang dihasilkan maupun kelainan pada organ (hati dan rempela) ayam. Hal ini terlihat dari data konsumsi ransum, PBB, FCR, persentase karkas, bobot lemak abdomen, bobot hati, dan berat rempela ayam dibandingkan dengan kontrol.
Untuk pertambahan bobot badan terlihat bahwa penggunaan produk lumpur sawit fermentasi pada taraf 5 % adalah yang tertinggi, hal ini mungkin merupakan petunjuk bahwa produk fermentasi mengandung suatu zat pemacu pertumbuhan/growth promotant yang hanya efektif bila diberikan pada dosis rendah, kemungkinan aktivitas zat tersebut cukup tinggi di alam produk segar, sehingga efektifitasnya tidak terlihat lagi secara nyata sampai pada penggunaan produk fermentasi taraf 10%.
 Konversi bahan kering ransum kontrol tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata konversi bahan kering ransum yang mengandung lumpur sawit fermentasi peningkatan kadar lumpur sawit fermentasi dari 5% menjadi 15 % nyata menyebabkan konversi bahan kering semakin jelek, tetapi konversi bahan kering ransum dengan kadar 10% LSF tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan ransum 5 % maupun 15 %.
            Mortalitas ayam pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Sinurat (2001) ini sangat rendah (hanya 2 ekor dari 210 ekor atau 0,95%) dan tidak ada gejala yang mencurigakan bahwa kematian ayam disebabkan oleh perlakuan. Penelitian terdahulu juga tidak mengindikasikan adanya perbedaan mortalitas karena pemberian LSF pada ayam broiler (Sinurat, et.al., 2000). Oleh karena itu, data mortalitas tidak disajikan dalam tabel. Hasil ini menguatkan hasil penelitian sebelumnya bahwa penggunaan produk LSF tidak membahayakan kesehatan ayam broiler dan tiadak menyebabkab perubahan persentase karkas yang dihasilkan, hati, rempela, maupun lemak abdomen
 III. Kesimpulan
  1. Fermentasi lumpur sawit dengan kapang Aspergillus niger selama 4 hari menghasilkan kandungan protein kasar dan serat kasar yang baik. Kandungan protein kasar meningkat menjadi 35,43% dari 13,25% dan serat kasar  turun dari 16,3% menjadi 13,8%.
  2. Ransum dengan kandungan 5% lumpur sawit fermentasi memberikan hasil yang terbaik untuk pertambahan bobot ayam pedaging.
  3. Pemberian lumpur sawit fermentasi sampai pada taraf 15% ini tidak menimbulkan respon yang negatif terhadap karkas, lemak abdomen, dan organ (hati dan rempela) pada ayam broiler.
 DAFTAR PUSTAKA
 Bintang , L. A. K., A. P. Sinurat, T. Purwadaria, dan T. Pasaribu. 2000. Nilai gizi lumpur kelapa sawit hasil fermentasi pada berbagai proses inkubasi. J. Ilmu Ternak Vet. 5 (1) : 7-11
 http://index.php.htm. Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi Aspergillus niger dalam Ransum terhadap pertumbuhan ayam broiler
 Mairizal. 2008. Upaya peningkatankualitas lumpur sawit melalui fermentasi dengan  Aspergillus niger serta aplikasinya dalam ransum ayam broiler. Jambi
 Mirwandhono, E. 2004. Pemanfaatan lumpur kelapa sawit  yang difermentasi dengan Aspergillus niger, Rhizhopus oligosporus dan Thricoderma viridae dalam ransum ayam pedaging. Sumatera utara
 Pasaribu, T(et.al). 1998. Peningkatan Nilai gizi lumpur sawit melalui proses fermentasi : Pengaruh jenis kapang, suhu dan lama proses enzimatis. J. Ilmu Ternak Vet. 3(4) : 237-242.
 Purwadaria, T., AP. Sinurat, Supriyati, H. Hamid, dan I.A.K. Bintang. 1999. Evaluasi nilai gizi lumpur sawit fermentasi dengan Aspergillus niger setelah proses pengeringan dengan pemanasan. J. Ilmu Ternak Vet. 4 (4) : 257-263).
Sinurat, A.P., T. Purwadaria, P. Ketaren, D. Zainuddin dan I.P. Kompiang. 2000. Lumpur sawit kering dan produk fermentasinya sebagai bahan pakan ayam broiler. J. Ilmu Ternak Vet. 5 (2) : 107-112.
Sinurat, A.P., I. A. Bintang, T. Purwadaria, dan T. Pasaribu. 2001. Pemanfaatan lumpur sawit dan prouk fermentasinya untuk ransum unggas. J. Ilmu Ternak Vet. 6 (1) : 28-33
Supriyati, T. Pasaribu, H. Hamid, dan A.P. Sinurat. 1998. Fermentasi bungkil inti sawit secara substrat padat dengan menggunakan Aspergillus niger. J. Ilmu Ternak Vet. 3 (3): 165-170.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul