RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label beras impor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beras impor. Tampilkan semua postingan

Beras Raskin dari Thailand dan Nasib Petani Kita

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Oleh : Fadil Abidin.

Bulan Oktober kemarin, sebagian besar penerima raskin (beras untuk masyarakat miskin) berseri-seri. Apa pasal? Ternyata jatah raskin bulan itu berasal dari Thailand. Penulis menduganya karena dari karung beras tertera "Thai Rice" dengan keterangan 5% brokens - 50 kg/net. Biasanya jatah raskin pada karung beras hanya tertulis Bulog.
Setelah penulis amati, beras "Thai Rice" ini lebih berkualitas dari jatah raskin bulan-bulan sebelumnya. Warnanya lebih putih, tidak berkutu, tidak berbatu dan aromanya lebih harum. Hal ini tentu menggembirakan para penerima raskin yang selama ini memakan beras kualitas rendah. Tak jarang pula mereka "mengoplos" jatah raskin dengan beras lainnya yang lebih baik kualitasnya agar layak dimakan.

Di satu sisi kita perlu mengapresiasi pemerintah yang telah memberikan jatah raskin dengan beras yang berkualitas. Orang miskin memang harus diberi beras yang berkualitas agar memiliki energi untuk bisa bekerja dengan maksimal sehingga pendapatan bertambah. Kesadaran dari pemerintah ini seharusnya tetap berlanjut untuk bulan-bulan berikutnya dengan memberi yang terbaik buat rakyat miskin.

Tapi di sisi lain, kita patut bersedih. Jatah raskin "made in" Thailand itu menandakan bahwa kita belum berswasembada beras. Indonesia yang mengaku sebagai negara agraris ternyata masih mengimpor beras dari negara lain, ini tentu mengundang tanda tanya.

Pemerintah mengklaim produksi padi yang pas-pasan dan alasan untuk memenuhi cadangan stok milik pemerintah di Perum Bulog menjadi pembenaran dilakukannya impor beras, yang setiap tahun menghabiskan devisa negara hingga triliunan rupiah.

Parahnya, importasi beras, khususnya dari Thailand dan Vietnam, terus dilakukan selama puluhan tahun. Dari sini saja terlihat bahwa memang tidak ada niat dari pemerintah untuk merealisasikan swasembada beras. Tidak ada upaya nyata untuk mendorong peningkatan produksi beras, baik melalui intensifikasi (peningkatan hasil panen padi per hektar) atau dengan ekstensifikasi (membuka lahan pertanian baru untuk tanaman pangan).

Kedaulatan apalagi yang masih kita miliki sekarang? Jawabannya, tidak ada. Karena dalam urusan pangan pun kita sudah tidak memiliki kedaulatan. Urusan pangan alias urusan perut pun kita tidak bisa mandiri. Untuk urusan pangan ini kedaulatan kita ternyata sudah tersandera. Beras produksi petani kita ditekan habis oleh produk impor. Harga beras impor lebih murah membuat petani kita gigit jari. Buah-buahan impor, sayur impor, kedelai impor, ubi kayu (singkong) pun diimpor. Para petani kita menangis karena jadi anak tiri di negeri sendiri.

Lahan Pertanian

Pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 1,4% per tahun ternyata tidak dianggap sebagai sinyal untuk menambah jumlah produksi beras dan tanaman pangan lainnya. Bertambahnya penduduk Indonesia seharusnya menjadi landasan pemerintah untuk mendorong petani meningkatkan usaha pertaniannya. Petani-petani generasi baru harus diciptakan dengan menyediakan lahan serta sarana dan prasarana pertanian lainnya.

Namun, kenyataannya pemerintah justru terkesan abai. Peningkatan produksi beras tidak mampu mengimbangi pertumbuhan penduduk. Nasib petani yang menjadi ujung tombak turun-naiknya produksi beras justru tidak diperhatikan. Bahkan alih-alih memfasilitasi petani agar termotivasi meningkatkan produksi beras, pemerintah justru terus mengimpor beras dalam jumlah besar. Aktivitas impor pangan ini dimanfaatkan oknum tengkulak dan pedagang untuk menekan harga hasil panen petani.

Selain itu, setiap tahun, lahan pertanian justru mengalami penyusutan. Salah satunya karena alih fungsi lahan pertanian untuk keperluan dan usaha bidang lainnya. Setiap tahunnya di areal lahan pertanian justru banyak dibangun perumahan, mal serta pusat bisnis.

Menyusutnya lahan pertanian, tidak ada antisipasi yang disiapkan, baik melalui upaya intensifikasi dengan menerapkan teknologi untuk meningkatkan produksi beras atau menyiapkan lahan-lahan baru. Di sisi lain, kebijakan pemerintah juga belum sepenuhnya berorientasi dan mendukung para petani yang sebenarnya menjadi garda terdepan produksi beras. Lihat saja, petani tidak pernah lepas dari garis kemiskinan.

Saat ini, luas lahan persawahan di Indonesia hanya 7,7 juta hektar dan itu terbagi pada lahan tadah hujan dan lahan rawa lepas. Rata-rata produksi beras per hektar sebesar 5,1 ton gabah kering giling (GKG) dan konsumsi beras mencapai 139 kg per tahun per kapita. Menurut perhitungan, terdapat kekurangan pasokan beras sebanyak 20 kg kapita per tahun. Jadi, pemerintah menganggap impor memang harus dilakukan untuk menutup kekurangan kebutuhan beras tersebut. Ini artinya, gembar-gembor pemerintah bahwa produksi beras nasional surplus hanya isapan jempol belaka.

Saat ini hanya 54% petani yang memiliki lahan pertanian sendiri dan rata-rata luas lahannya tidak lebih dari 0,35 hektar per orang. Dengan kondisi ini, kita dapat mengetahui betapa minimnya pendapatan petani, penghasilannya hanya cukup buat makan. Tidak ada dana lagi untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

Para petani di Thailand, Vietnam, China, Eropa dan Amerika mendapat subsidi dan nilainya per tahun bisa mencapai miliaran dolar AS. Pemerintah negara-negara tersebut menjaga harga hasil panen petaninya dalam kisaran ideal. Namun, di sisi lain, harga jual pangan produksi dalam negerinya masih bisa terjangkau oleh masyarakat lainnya.

Selain itu, mereka melakukan proteksi yang sangat ketat terhadap produk pangan

dari luar dan mengutamakan hasil produksi dalam negerinya. Sehingga tingkat kesejahteraan para petani di negara-negara tersebut jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan Indonesia.

Nasib Petani

Menjadi petani di negeri ini identik dengan sejuta kesialan. Saat hendak menanam, petani terbentur modal dan sulit mangakses aneka sarana produksi pertanian. Kalaupun ada, harganya selangit. Dalam hal modal, dengan alasan tidak bankable, perbankan enggan mengucurkan kredit.

Saat sudah tanam, anomali iklim membuat kekeringan atau banjir datang, setelah itu hama dan penyakit meruyak merusak tanaman. Didesak kebutuhan sehari-hari yang tak terelakkan, pada hari-hari menunggu panen petani terpaksa berhubungan dengan rentenir atau pengijon. Begitu panen, mereka tak berdaya menghadapi tengkulak yang memainkan harga sesuka mereka.

Setelah panen justru menjadi hari yang merisaukan, karena petani menjadi konsumen dan harus membeli pangan dengan harga mahal. Ujung dari lingkaran ini, petani tak berdaya dan termarginalkan, baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Logis jika petani tidak bangga disebut pak tani. Padahal, di negara lain petani itu profesi terhormat dan dijadikan simbol kepahlawanan dan semangat kerja keras.

Survei Pertanian Nasional (2000) menemukan, 80% pendapatan rumah tangga petani kecil disumbang dari kegiatan di luar pertanian seperti ngojek, dagang dan pekerja kasar. Fakta ini menunjukkan tak ada lagi "masyarakat petani", yakni mereka yang bekerja di sektor pertanian dan sebagian besar kebutuhan hidupnya dicukupi dari kegiatan itu.

Punahnya masyarakat petani sudah lama diketahui. Kajian perdesaan selama 25 tahun (Collier dan kawan-kawan, 1996) menemukan fakta getir, tenaga kerja muda di pedesaan Jawa kian langka.Yang tersisa hanya pekerja tua-renta dan tidak produktif, yang lambat responsnya terhadap perubahan dan teknologi. Kalaupun ada petani muda, mereka terpaksa bertani karena tak terserap bekerja di sektor formal.

Jumlah petani di atas usia 50 tahun mencapai 75%, usia 30 - 49 tahun hanya 13%, sisanya 12% berusia kurang dari 30 tahun. Krisis tenaga kerja pertanian tinggal menunggu waktu. Akhirnya, pertanian identik dengan kemiskinan, gurem dan udik, serta tidak menarik tenaga terdidik dan generasi muda di pedesaan.

Hal ini akan mempengaruhi kemampuan petani dan sektor pertanian dalam menopang pangan (food), pakan (feed), sandang-papan (fibre), dan energi (fuel) secara berkesinambungan untuk menjamin kualitas (jiwa, raga, dan kecerdasan) warga dan generasi mendatang. Negara yang kuat akan tercipta jika petani kuat.

Sektor pertanian tidak lagi bisa memberikan penghidupan layak bagi para petani dan tenaga kerja di sektor pertanian. Hal ini bukan hanya meningkatkan pengangguran dan kemiskinan di pedesaan, tapi secara pasti meningkatkan kesenjangan desa-kota dan sektor pertanian-industri, dan pada akhirnya akan melumpuhkan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Pemerintah memang tidak salah memberi jatah raskin dengan beras dari Thailand, tapi alangkah baiknya jika jatah raskin itu merupakan hasil dari petani kita sendiri.

Penulis adalah pemerhati masalah sosial-kemasyarakatan.

Berita Pertanian : Jateng Impor 180.000 Ton Beras

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

SEMARANG. Stok beras di berbagai gudang Bulog Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan beras miskin (Raskin) masih berjumlah 321.847 ton, namun demi alasan untuk memenuhi kebutuhan raskin, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengimpor beras sebanyak 180.000 ton.

Impor beras itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan Raski hingga tiga bulan ke depan. Kebutuhan Raskin di Jateng rata-rata 60 ribu ton per bulan.

Kondisi tersebut ironis, karena persediaan beras miskin di berbagai gudang Bulog di Jateng masih mencapai 321.847 ton, karena hingga September ini baru berhasil menyerap 56,47% dari target penyerapan 2011 sebanyak 570.000 ton. Bahkan pada Oktober mendatang ada beberapa daerah yang mengalami panen.

Keputusan impor beras Provinsi Jateng tersebut diungkapkan Gubernur Jateng Bibit Waluyo usai mengikuti evaluasi pertebuan di

aula kantor Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

"Rencana impor beras untuk memenuhi kebutuhan Raskin ini karena stok raskin di gudang Bulog semakin menipis, sehingga memerlukan impor untuk menutupi kekurangan kebutuhan beras tersebut," kata Bibit Waluyo.

Bulog tidak menerapkan strategi yang tepat dalam pembelian gabah, padi atau beras milik rakyat, imbuh Bibit, seharusnya pembelian gabah maupun padi ini bisa dilaksanakan saat panen raya, tepatnya bulan Januari-Maret 2011, sebagian bisa disimpan di gudang, sedangkan sisanya dapat dibagikan dalam bentuk raskin dan cadangan beras untuk pemerintah daerah.

Namun langkah ini tak diambil Bulog, lanjut Bibit, hingga mengalami defisit raskin dan impor tersebut bakal dialokasikan untuk pembagian raskin mulai bulan Oktober hingga Desember 2011.

Kebutuhan beras masyarakat miskin di Jateng, menurut Bibit Waluyo, mencapai 60.000 ton per bulan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan untuk tiga bulan mendatang, maka total impor raskin untuk Jateng mencapai 180.000 ton.

Berita Pertanian : Cadangan Beras ke Satu Juta Ton, Bulog Raih Rp1 Triliun

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

JAKARTA. Pemerintah akan menaikkan stok cadangan beras pemerintah di Perum Bulog dari 500 ribu ton menjadi 1 juta ton di akhir tahun.

Untuk merealisasikannya, Bulog sudah mendapatkan dana sebesar Rp1 triliun yang sudah disepakati Dewan Perwakilan Rakyat. Pengadaan itu diharapkan dari penyerapan beras dalam negeri.

Demikian diungkapkan Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Kamis (8/9). Perum Bulog sebelumnya diperintahkan pemerintah untuk menjaga cadangan beras di gudangnya sebesar 1,5 juta ton.

Total cadangan beras tersebut terdiri dari 1 juta ton milik Perum Bulog dan 500 ribu milik pemerintah. Namun, melihat musim kemarau berkepanjangan, pemerintah memerintahkan Perum Bulog menaikan cadangan berasnya di gudang Bulog.

"Bulog telah melakukan impor sekitar 800 ribu ton dari 1,5 juta ton beras yang diizinkan pemerintah. Sisanya, optimalkan dari produksi dalam negeri," ungkapnya.

Pihaknya tengah memanfaatkan lahan rawa lebak untuk peningkatan produksi beras.

Berita Pertanian : Beras Impor Thailand akan Masuk Oktober

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,







JAKARTA. Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, impor beras dari Thailand akan masuk pada bulan Oktober. Sementara ini, realisasi impor berasal dari Vietnam

"Impor kita yang sudah tanda tangani, (yaitu) kontrak 800.000 ton. Dari Vietnam 500.000 ton, dari Thailand 300.000 ton. Itu bulog sudah teken kontrak dengan dua negara itu," ujar Sutarto di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (7/9/2011).

Untuk realisasi impor, akan masuk lebih dari 200.000 ton hingga September ini, yang berasal dari Vietnam. "Karena Vietnam lebih dulu kita kontrak (dari) yang 500.000 ton. Thailand masuknya mulai Oktober," tambah Sutarto.

Ia pun menyebutkan, beras impor sudah masuk ke Palembang sebanyak 3.800 ton. Beras impor tersebut pun sudah masuk ke Sumatra Barat dan Surabaya. Namun, ia tidak menyebutkan jumlah detailnya. Sutarto menambahkan, realisasi impor beras ini akan berlangsung sampai dengan Desember 2011.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul