RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label petani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petani. Tampilkan semua postingan

Hari Tani: Membangun Kembali Kebanggaan Seorang Petani

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,

Oleh : Prasasti Perangin-angin.

Kelahiran Undang Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960 dimaknai sebagai Hari Tani Nasional (HTN). Tepatnya 24 September. Jadi tahun ini,@HTN sudah berumur 51 tahun yang selayaknya dimaknai sebagai hari rayanya kaum tani. Sebagaimana layaknya hari raya yang lain maka hari ini seharusnya menjadi peringatan tonggak suka citanya kaum tani di Indonesia. Namun pertanyaannya, apakah sukacita itu ada di dalam wajah Pak Tani kita hari ini?

Ada sebuah cerita dari seorang kakek berumur 67 tahun bernama Daldiri. Di dalam cerita itu kakek ini menuturkan keluh kesahnya sebagai seorang petani " Saya sampai tak bangga lagi kalau ada yang menyebut saya ini Pak Tani... (Kompas.com). Apa yang dirasakan kakek Daldiri barangkali hanyalah satu contoh betapa tidak membanggakannya hidup menjadi petani di negara ini. Di Hari Tani tahun inipun, kemiskinan, kesusahan atau golongan rendah masih identik dengan mereka. Hal ini seperti mau mengatakan tidak ada yang membanggakan dari seorang petani. Sehingga muncul kembali pertanyaan di dalam benak saya, bisakah hari tani tahun ini ada sebuah langkah awal untuk menumbuhkan kembali kebanggaan di dalam diri Pak Tani?

Menurut saya satu-satunya cara untuk membangun kembali kebanggaan petani adalah dengan memperbaiki kesejahteraan para petani. Petani yang hari ini identik dengan kemiskinan harus mengalami transformasi sesungguhnya yang menjadi akar kemiskinan para petani. Sekarang bagaimana membawa kesejahteraan bagi para petani yang miskin itu?

Hal pertama adalah transpormasi faktor internal para petani. Kebanggaan menjadi seorang tani akan tumbuh tidak lain dan bukan harus ditumbuhkan oleh petani itu sendiri. Saya melihat budaya malas bekerja keras masih dominan di dalam kehidupan para petani. Saya pernah mendengar bahwa sering sekali para petani akan berhenti bekerja setelah masa panen selesai. Sehingga yang terjadi adalah hasil panen akan habis untuk memenuhi kebutuhan hidup semata. Padahal jika setelah panen para petani tersebut mengusahakan tanaman lain sebelum masa tanam utama tiba tentunya akan memberikan pemasukan yang lebih banyak kepada petani. Atau sebagai contoh, seorang buruh tani di Tanah Karo yang dapat menerima upah harian seorang buruh tani berkisar 40-60 ribu per hari. Kalau saja ia bekerja enam kali seminggu maka sebenarnya ia akan mendapatkan penghasilan sebesar sekitar 1 jutaan per bulan. Dan itu sebenarnya tidak tergolong miskin, karena berpenghasilan di atas 20 ribu per hari. Namun karena budaya malas dan merasa sudah cukup untuk makan, maka terkadang lebih sering buruh tani hanya bekerja beberapa hari seminggu. Ibaratnya setelah habis uang dulu baru bekerja kembali.

Peningkatan Etos Kerja

Hal inilah yang harus diubah di dalam diri para petani kita hari ini. Hari tani seharusnya memberikan hikmat dan perenungan terhadap peningkatan etos kerja. Peningkatan terhadap semangat kerja keras. Karena tanpa kerja keras dari diri petani itu sendiri, maka kemiskinan akan tetap identik dengan hidup petani. Dan menurut saya itu yang menjadi kunci kesuksesan para petani di Tanah Karo. Kalau kita melihat para ibu rumah tangga sendiripun harus bekerja keras diladang. Kalau hari biasa kecuali hari minggu maka akan sulit kita temui para ibu rumah tangga di rumah karena pada umumnya mereka bekerja diladang.

Faktor yang kedua adalah faktor eksternal. Perhatian pemerintah untuk mencabut akar kemiskinan di dalam tubuh para petani mutlak dibutuhkan. Perhatian itu harus dilakukan dengan investasi pertanian. Sebagaimana yang disarankan dan dorongan Bank dunia agar negara berkembang mencanangkan untuk mengadakan investasi pertanian untuk mengentaskan kemiskinan. Namun sayang seribu kali sayang hal ini rasanya sulit terwujud.

Investasi pertanian tidak dapat dilakukan disebabkan kurang memadai infrastruktur pertanian. Kalau dulu kita mendengar ada pembanguan irigasi air untuk mendistribusikan perairan untuk pertanian, namun sekarang infrastuktur apa yang dicanangkan pemerintah untuk memajukan para petani? Hampir tidak pernah terdengar. Perbaikan jalan dan transportasi juga masih jalan ditempat sehingga hal ini mengganggu produktivitas hasil pertanian dan distribusi sehingga margin biaya distribusi tinggi. Jalan ke desa-desa rusak berat dan bahkan di banyak desa harus dilalui dengan kendaraan gerdang dua. Kondisi ini sama dengan emencekikf leher para petani karena ongkos distribusi pertanian yang sangat besar. Sehingga kalau kita sederhanakan saja yang diharapakan petani di hari tani ini, yakni perbaiki infrastruktur jalan.

Begitu juga dengan harga pupuk dan pestisida. Pemerintah harus memberikan kebijakan yang berpihak kepada para petani. Memang benar terdengar kabar pupuk subsidi. Tetapi sering sekali pupuk subsidi itu tidak sampai ke tangan petani karena pengaruh kongkalikong para pengusaha dan penguasa. Di tambah lagi para petani yang harus menghadapi sendiri kalau terjadi hama. Seperti yang dialami petani jeruk di Tanah Karo akhir-akhir ini. Ketika hama buah menyerang petani jeruk, apa peran pemerintah untuk bersama-sama dengan petani menanggulangi hal itu? Tidak ada. Petani harus berjuang sendiri. Mereka harus mengeluarkan biaya pemeliharan yang lebih besar dengan membeli pestisida yang harganya selangit, yang sebenarnya juga tidak menjamin hama buah akan teratasi. Kalau harga pemeliharaan selangit ditambah lagi harga komoditas pertanian murah maka benarlah petani akan mati suri. Jadi kepada pemerintah investasi dibidang penanggulangan hama juga mendesak untuk diperhatikan pemerintah. Perlu diaktifkan pusat kajian dan laboratorium penanggulangan hama di dinas-dinas pertanian. Jangan biarkan petani menderita sendiri terhadap serangan hama tak kenal ampun itu.

Jadi kalau ada peningkatan etos kerja dan investasi pertanian dari pemerintah, niscaya kemiskinan yang hari ke hari semakin melekat di dalam hidup mereka akan terkikis setahap demi setahap. Dengan demikian sebagaimana seharusnya, seorang Pak Tani di negeri ini juga memiliki sukacita dan kebanggaan bisa terjadi. Setidaknya diawali melalui hari tani ini. Selamat Hari Tani.

Penulis adalah anak petani dan bangga Menjadi Anak Petani.

Mungkinkah Petani Hidup Sejahtera di Negeri Ini?

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Oleh : Jhon Riaman Purba, SP

Saya yakin pasti kita boleh berbangga hati menjadi warga negara Indonesia. Karena negeri ini di anugerahkan Tuhan Yang Maha Pencipta dengan segala kekayaan yang luar biasa, mulai dari kekayaan budaya, laut, keindahan alam dan tanah yang subur.

Tentunya membicarakan mengenai kakayaan kita, pasti banyak yang akan dibahas karena kekayaan yang ada berbanding terbalik terhadap fakta yang ada. Dimana, kekayaan yang ada tidak membawa kamakmuran bagi rakyat Indonesia. Khususnya untuk ini, saya membicarakan mengenai petani.

Petani dalam buku A.T.Mosher dalam "Pembangunan Pertanian" mengatakan petani adalah mereka yang terlibat dalam kegiatan usahatani. Jadi di Indonesia rakyat hidup sebagai petani sebanyak 60 % dan sektor pertanianlah yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Kehidupan petani di negeri ini semakin sulit sulit rasanya untuk hidup layak.

Menurut perkiraan BPS Tahun 2010 jumlah rakyat miskin sebanyak 31 Juta jiwa dan terbanyak jumlah yang miskin itu adalah petani, khususnya petani yang bergerak di bidang pangan dalam artian kemiskinan itu sekarang lebih banyak di desa.

Kita boleh mengingat tahun 1980an, menjadi petani adalah kebanggaan, makanya dulu ada istilah "petani berdasi" tetapi sekarang menjadi petani adalah mereka yang dekat dengan kemiskinan. Pertama, petani Indonesia memang masih rendah tingkat sumber daya manusianya, apalagi kondisi sekarang usia produktif petani sedikit yang bergerak bidang pertanian, karena generasi muda (tenaga kerja produktif) tidak banyak bergerak dibidang pertaniaan, lebih banyak bekerja di bidang Industri atau jasa.

Rasio Pendapatan Lebih Tinggi di Bidang Non Pertanian

Karena rasio pendapatan lebih tinggi di bidang non pertanian dari pada pertanian, tingkat produktivitas tenaga kerja di bidang pertanian yang paling rendah dibandingkan sektor yang lain. Rendahnya tingkat sumber daya petani membuat mereka sulit mengembangkan inovasi baru dan akses informasi mengenai usahatani. Cara bertani yang terus diwariskan belum bisa menjadi acuan pengembangan usahatani, perubahan iklim dan kondisi lahan yang kritis dibutuhkan ekstra inovasi demi peningkatan produksi usahatani petani. Jadi tuntutan sumberdaya kompetitif petani urgen dibutuhkan sekali.

Kedua, terbatasnya lahan pertanian, lahan hal utama dalam pengembangan produksi pertanian, kepemilikan lahan pertanian sekarang rata-rata 0,6 ha atau indentik dengan petani gurem, hal ini mengacu kepada Undang Undang Agraria, dimana lahan yang sangat produktif dan berkualitas itu banyak dikuasai pemerintah dan pihak investor asing untuk tanaman perkebunan, contohnya: boleh kita lihat tanah milik PTPN IV yang ditanami tanaman perkebunan tanahnya rata dan dekat akses jalan sedangkan tanah yang dimiliki petani ditambah sempit dan juga bergelombang.

Jadi, pemberian lahan kepada petani harus menjadi orientasi bagi pemerintah. Ketiga. Ketersediaan informasi, minimnya informasi harga dan inovasi pertanian yang mudah dijangkau sangat sulit diperoleh, terkhusus informasi harga-harga produk pertanian dan komoditi yang bisa dikembangkan yang dibutuhkan oleh pasar.

Padahal era zaman sekarang erat dengan pengembangan informasi melalui kemajuan teknologi informasi, tetapi hal ini tidak menjadi momentum bagi petani untuk meningkatkan bergaining petani, khususnya mengenai harga komoditi di pasaran.

Dan terakhir kebijakan pemerintah yang kurang peduli terhadap petani, khususnya dukungan sarana produksi pertanian (sabprodi) bantuan untuk pupuk subsidi yang kurang jelas prosedurnya, pemberian bibit yang tidak berkualitas dan dukungan kredit dalam usahatani yang sangat berbelit-belit.

Dukungan untuk kebijakan khusus dalam organisir hargapun pemerintah tidak berpihak kepada petani, lebih mementingkan kehidupan konsumen daripada produsennya sendiri, kasihan hidup petani. Ketiga kondisi diatasd memaksa petani untuk tetap menjadi hidup tak wajar di negeri ini.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Kita boleh belajar bagaimana China mengembangkan pertanian yang dapat mengangkat kehidupan petani. China sekarang menjadi negara pertumbuhan ekonomi nomor dua di dunia mengeser posisi Jepang.

Memang keberhasilan China terakhir ini adalah karena mereka bekerja keras untuk menjadi yang terbaik, kemungkinan besar 10 tahun kedepan AS bisa bergeser posisinya. China juga masih banyak rakyat miskin, terutama mereka yang bekerja di pertanian.

Akhir-akhir ini pemerintah mengenjot mereka untuk bekerja di sektor Industri dan meningkatkan padat teknologi dibidang pertanian. Jadi orientasi mereka sebenarnya adalah sumber daya manusianya. Jadi yang pertama dan sangat urgen yang dilakukan pemerintah kita adalah orientasi program bergerak dari pedesaan, jadi yang harus dilakukan adalah peningkatan sumber daya manusia petani, mulai dari pelatihan-pelatihan bagi petani mengenai usahatani mereka, dalam artian ini harus menjadi program prioritas.

Sistim ini dapat di giatkan kembali oleh penyuluhan pertanian, dalam artian pemerintah menjamin satu desa didampingi oleh penyuluh, mereka bergerak menjadi mediator sekaligus menjadi pengawas program pemerintah pusat bagaimana aplikasi di pedesaan.

Kebijakaan ini bisa juga dibantu oleh Sarjana yang ada di pedesaaan untuk mendorong prinsip membangun desa melalui sarjana atau boleh kita terapkan seperti konsep yang digagas Anies Baswaden, Rektor Primbana yang mengkonsep " Indonesia Mengajar" dimana Sarjana di beri satu tahun mengajar di pedelamaan dengan konsep kearifan lokal, memang mereka terlebih harus ikut pelatihan sebelum terjun ke lapangan.

Antusias sarjana yang berminat sangat luar biasa, saya pikir mereka bukan mengejar gaji, tetapi sebuah beban sebagai kaum intelektual turut berpartisipasi dalam pembangunan bangsa. Dari antusias itu banyak yang berminat, berarti masih banyak generasi muda jiwa nasionalisme masih tinggi. Atau seperti gagasan dalam bidang peternakan " Sarjana Membangun Desa (SMD) "dimana menggerakan wirasausaha baru di desa yang nanti menjadi inovator untuk desa tersebut.

Kedua " Klinik Pertanian" petani harus memang "learning by doing" artinya petani tidak bisa banyak teori, tetapi langsung belajar apa yang diterangkan, klinik menyediakan segala kebutuhan petani mulai biro konsultasi penyakit dan obat yang diberi, demplot –demplot pengembangan berbagai jenis tanaman dan informasi mengenai harga pasar komoditi pertanian dan peluang komiditi yang bisa diunggulkan ke depan.

Konsep ini dimulai dulu tingkat kecamatan, dari kecamatan akan dikembangkan lagi yang akhirnya disetiap desa ada klinik-klinik pertanian.

Kita berharap pemerintah harus sangat serius memikirkan hal ini, kalau kita berharap mengurangi kemiskinan maka mulailah dari kemiskinan itu berada, artinya dari jumlah kemiskinan paling banyak adalah petani, terutama petani tanaman pangan dan hortikultura, maka mulai dari mereka. ***

Penulis pemerhati pertanian dan eksekutif GEPER (Gerakan Peduli Pertanian)

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul