Dalam jangka waktu tujuh mendatang, kebutuhan minyak nabati global mencapai lebih dari 236 juta ton. Peluang ini dapat dimanfaatkan pelaku sawit nasional untuk memperbesar suplainya ke pasar dunia. Siapkah Indonesia?
Proyeksi kebutuhan minyak nabati dunia pada 2020 menjadi topik pembahasan yang menarik dalam “Oilworld Outlook Conference” yang diselenggarakan Oilworld di Hamburg, Jerman, 2013 lalu. Beragam isu mulai dari suplai, permintaan, dan harga minyak nabati menjadi topik hangat yang diperbincangkan dalam konferesi ini.
Derom Bangun, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), turut hadir sekaligus memberikan presentasi pada konferensi yang berlangsung satu hari penuh. Menurut Derom Bangun, proyeksi minyak nabati dunia pada 2020 merujuk kepada kepada pertambahan penduduk dan peningkatan permintaan dari masing-masing negara, serta produksi jenis minyaknya.
Populasi penduduk dunia tahun 2020 berpotensi naik menjadi 7,72 miliar jiwa dari tahun 2010 yang berjumtah 6,92 miliar jiwa. Dari situ akan dilihat berapa jumlah produksi minyak sawit yang ideal supaya tidak terjadi kekurangan dan dapat mencukupi kebutuhan dunia.
Berdasarkan data Oilworld, total produksi 17 jenis minyak nabati dan lemak dunia mencapai 236 juta ton pada 2020. Angka ini bertambah dari tahun ini yang berjumlah 189,5 juta ton. Derom mengatakan, kenaikan produksi minyak nabati di tahun 2020 diperkirakan akan terserap seiring tingginya permintaan global.
Pasalnya, pertumbuhan produksi akan mengikuti peningkatan konsumsi per kapita minyak nabati dan lemak penduduk dunia. Selain itu, akan ada pengaruh dari perekonomian sebuah negara terhadap permintaan minyak nabati dan lemak. “Diperkirakan produksi akan naik secara linear tetapi permintaan tumbuh secara eksponen, sehingga permintaan akan tumbuh lebih cepat dari produksi,” ujamya.
Besarnya kebutuhan minyak dan lemak global direpresentasikan dari kebutuhan dari India dan Cina. Pada 2012 saja, populasi penduduk Cina yang mencapai 1,32 miliar jiwa mempunyai konsumsi minyak nabati dan lemak sebesar 25,32 kilogram per kapita.
Total jumlah kebutuhan Cina dapat mencapai 34,29 juta ton minyak dan lemak yang dominan disuplai minyak sawit dan minyak kedelai. Sementara, konsumsi minyak dan lemak India sebesar 15,2 kilogram per kapita dengan jumlah penduduk mencapai 1,24 miliar, maka total kebutuhan sebanyak 18,87 juta ton.
Di sisi lain, besaran produksi 17 minyak dan lemak dunia yang mencapai 236 juta ton ditopang dari produksi minyak sawit dan minyak kedelai. Dalam presentasi Thomas Mietke, Analis Oilworld, yang berjudul “The Oil World Supply and Demand Forecast for the Year 2020″ memperkirakan hasil panen minyak sawit per hektare akan melampaui produktivitas minyak kedelai.
Pada 2020 mendatang, diperkirakan jumlah produksi minyak sawit mentah atau CPO sebesar 78 juta ton. Disusul dengan produksi minyak kedelai berjumlah 53,2 juta, minyak bunga matahari sebesar 18,3 juta ton, dan minyak kanola 31,5 juta ton. Sisanya berasal dari 13 jenis minyak lain yang berjumlah 55 juta ton seperti minyak inti sawit, minyak kelapa, minyak kacang tanah, dan minyak zaitun.
Thomas Mielke menambahkan, produksi CPO dunia yang mencapai 78 juta ton ini disokong dua produsen utama, yaitu Indonesia memproduksi 42 juta ton dan produksi dari MaLaysia sebanyak 23 juta ton. Berikutnya ada Nigeria yang memproduksi sebesar 1,3 juta ton; Kolombia berjumlah 1,6 juta ton; Thailand berjumlah 2,8 juta ton; dan negara-negara lainnya berjumlah 7,3 juta ton.
Berbeda dengan analisis dari Thomas Mielke itu, Derom Bangun yang dikenal sebagai Duta Besar Sawit Indonesia, memproyeksikan pertumbuhan produksi Indonesia tidak akan melebihi angka 40 juta ton. Hal ini karena melambatnya perluasan lahan sawit dalam periode 2015-2020.
Saat ini, luas lahan kelapa sawit Indonesia mencapai 9,1 juta hektare. Di mana sekitar 3,79 juta hektare lahan sawit merupakan milik petani dengan produktivitas rata-rata sebesar 3,8 ton CPO per hektare per tahun. Itu sebabnya, Derom Bangun memperkirakan jumlah produksi CPO Indonesia cuma sebesar 38 juta ton sampai 2020.
Produksi tadi dapat terealisasi asalkan ada lahan produktif kelapa sawit seluas minimal 9,5 juta hektare. Rata-rata pertumbuhan luas lahan di Indonesia dari 2015-2020 dibawah periode 1990-2000 yang sebesar 10%-12%. Dalam enam tahun mendatang, rata-rata pertumbuhan lahan sawit hanya berkisar 5%-6%.
“Produksi CPO Indonesia tidak akan lebih dari 40 juta ton karena terhambat sulitnya perluasan lahan dan perijinan. Apalagi muncul perhatian besar kepada masalah lingkungan sehingga kenaikan produksi tidak akan begitu besar,” kata Derom.
Dukungan lain berasal dari produktivitas CPO yang wajib ditingkatkan sampai 4 ton per hektare per tahun. Menurut Derom Bangun, ekspor minyak sawit Indonesia kepada pasar dunia tidak akan optimal setelah muncul mandatori pengunaan minyak sawit untuk biofuel di dalam negeri.
Karena pencampuran bahan bakar fosil dengan biodiesel wajib mencapai 10% pada 2014 dan sebanyak 20% pada tahun 2020. Apalagi, pembangkit listrik juga membutuhkan biodiesel untuk campuran mereka minimal sebesar 30% pada 2020.
Pada 2020 nanti, tingginya kebutuhan minyak nabati dunia merupakan peluang Indonesia untuk mengisi permintaan. Mengingat dengan jumlah produksi CPO 38 juta ton, Indonesia akan mengungguli negara produsen minyak sawit lain. Artinya, Indonesia dapat memainkan peranan dan nilai tawar produk sawitnya di luar negeri.
Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), mengatakan kewajiban penggunaan biodiesel ini menciptakan posisi tawar yang bagus terhadap produk CPO Indonesia. “Kalau Eropa masih menciptakan regulasi yang menghambat perdagangan ekspor CPO, tidak perlu kita jual ke sana,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Derom Bangun menyebutkan di Eropa semakin minim komentar bernada negatif yang ditujukan kepada produk ketapa sawit Indonesia. Beberapa tahun lalu, seringkali terdengar ucapan stop pemakaian minyak sawit. Lalu berubah menjadi permintaan untuk pakai minyak sawit yang sustainable. Negara-negara di Uni Eropa tidak akan berani untuk stop konsumsi CPO, karena kebutuhan mereka mencapai 6 juta ton.
“Dari mana Uni Eropa mau cari pengganti CPO yang berjumlah 6 juta ton itu? Apakah mau gunakan minyak kedelai? Jika subtitusinya minyak kedelai, maka jelas membutuhkan penambahan lahan di sana. Masalahnya, mau buka lahan baru dimana?” Tanya Derom Bangun.
Produksi CPO 31,6 Juta Ton
Pada 2014, Derom Bangun memproyeksikan produksi CPO Indonesia mencapai 31,6 juta ton. Jumlah tersebut berasal dari produksi di tahun ini 29,5 juta ton, dan ditambah sisa stok tahun 2013 yang berjumlah 2,1 juta ton.
Derom Bangun mengatakan produksi CPO tahun depan akan lebih tinggi dari tahun ini yang berjumlah sekitar 26,2 juta ton. Di tahun ini, sudah dilaporkan realisasi produksi lebih rendah akibat masalah iklim dan biologis misalnya terganggu penyerbukan, pembentukan TBS terlambat, dan pematangannya.
Beberapa emiten sawit melaporkan produksinya tumbuh 5% sampai 10%. Pertumbuhan ini di bawah angka tahun 2012. Untuk tahun depan, menurut Derom, kondisi cuaca lebih normal dari tahun ini.
Faktor lain berasal dari pematangan buah yang tertunda pada tahun 2013, baru matang pada tahun 2014.
“Produksi bertambah dari hasil penanaman lahan pada 2009 dan 2010,” ujarnya.
Dari total produksi 31,6 juta ton tadi, volume ekspor CPO dan produk turunannya dari Indonesia diperkirakan mencapai 18 juta ton. Konsumsi CPO Indonesia akan meningkat menjadi 11,3 juta ton pada 2014 karena ditopang penggunaan konsumsi lokal untuk sektor industri, pangan, dan biodiesel. Ini berarti, konsumsi domestik tahun depan lebih tinggi dibandingkan tahun 2013 yang sekitar 9 juta ton. (Qayuum Amri)
Kelapa sawit terbukti memberikan peran yang nyata dalam pembangunan
perekonomian, sosial dan lingkungan di Indonesia. Peran tersebut
terutama dalam hal: penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan
masyarakat, perolehan devisa bagi negara, mendukung industri dalam
negeri berbasis bahan dasar kelapa sawit, pemanfaatan lahan kritis,
sumber oksigen bagi kehidupan dan menyerap karbon dari udara.Luas areal
ini akan berkembang terus sejalan dengan kebijakan revitalisasi
perkebunan, kelapa sawit bukan monopoli perusahaan skala besar milik
pemerintah dan swasta, tetapi terbuka luas untuk diusahakan pekebun
rakyat. CPO berasal dari pengolahan Tandan Buah Segar (TBS). Setiap ton
TBS yang diolah dapat menghasilkan 140 200 kg CPO dan limbah/produk
samping, antara lain: limbah padat, limbah cair dan gas. Limbah cair
yang dihasilkan cukup banyak, yaitu berkisar antara 600 700 kg. Bilamana
limbah/produk samping ini tidak diolah akan menimbulkan masalah berupa;
penumpukan limbah dan resiko cairan dan gas. Potensi Limbah Kelapa
Sawit Limbah Kelapa Sawit memiliki potensi untuk dimanfaatkan dan
memberi nilai ekonomi dalam bidang pertanian dan industri, yaitu; pupuk,
kompos, kertas, arang, dan sebagainya. Limbah Kelapa Sawit terdiri dari
tandan kosong, pelepah, daun, serat buah, cangkang, limbah cair dan
gas. Pada Tabel 1 disajikan Jenis, Potensi dan Manfaat Limbah Kelapa
Sawit. Limbah kelapa sawit menghasilkan unsur hara makro yang diperlukan
tanaman, seperti Nitrogen, Posfor, Kalium, Magnesium dan Calsium.
Minyak sawit dan produk minyak sawit lainnya dapat diolah lebih lanjut
menjadi minyak goreng, mentega, dan bahan baku untuk industri. Pada
industri makanan, minyak sawit digunakan untuk mentega, shortening,
coklat, diitive, minyak goring, es krim dan lain sebagainya. Pada
industri obat-obatan dan kosmetik digunakan untuk krim, shampo, lotion,
pomade, vitamin, dan β-karoten. Sedangkan pada industri kimia digunakan
sebagai bahan kimia untuk pembuatan detergen, sabun, dan minyak.
Berbagai penelitian telah dilakukan menunjukkan bahwa limbah kelapa
sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Berikut akan
dijelaskan manfaat limbah kelapa sawit.
1. TKKS untuk pupuk organik
Tandan kosong kelapa sawit daoat
dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur
hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan kosong kelapa sawit
mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut
sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari
sisi ekonomi.
Ada beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan sebagai berikut :
a.Pupuk Kompos
Pupuk kompos merupakan bahan organik yang telah
mengalami proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh
micro-organisme. Pada prinsipnya pengomposan TKSS untuk menurunkan
nisbah C / N yang terkandung dalam tandan agar mendekati nisbah C / N
tanah. Nisbah C / N yang mendekati nibah C / N tanah akan mudah diserap
oleh tanaman.
b. Pupuk Kalium
Tandan kosong kelapa sawit sebagai limbah padat
dapat dibakar dan akan menghasilkan abu tandan. Abu tandan tersebut
ternyata memiliki kandungan 30-40%, K2O, 7%P2O5, 9%CaO, dan 3%MgO.
Selain itu juga mengandung unsur hara mikro yaitu 1.200ppmFe, 1.00 ppm
Mn, 400 ppmZn, dan 100 ppmCu. Sebagai gambaran umum bahwa pabrik yang
mengolah kelapa sawit dengan kapasitas 1200 ton TBS/ hari akan
menghasilkan abu tandan sebesar 10,8%/hari. Setara dengan 5,8 ton KCL;
2,2 ton kiersit; dan 0,7ton TSP. dengan penambahan polimer tertentu pada
abu tandan dapat dibuat pupuk butiran berkadar K2O 30-38% dengan pH 8 –
9.
c. Bahan Serat
Tandan kosong kelapa sawit juga menghasilkan serat
kuat yang dapat digunakan untuk berbagai hal, diantaranya serat berkaret
sebagai bahan pengisi jok mobil dan matras, polipot (pot kecil, papan
ukuran kecil dan bahan pengepak industri.
2. Tempurung buah sawit untuk arang aktif
Tempurung kelapa sawit
merupakan salah satu limbah pengolahan minyak kelapa sawit yang cukup
besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Arang aktif juga dapat
dimanfaatkan oleh berbagai industri. Antara lain industri minyak, karet,
gula, dan farmasi.
3. Batang dan tandan sawit untuk pulp kertas
Kebutuhan pulp kertas
di Indonesia sampai saat ini masih dipenuhi dari impor. Padahal potensi
untuk menghasilkan pulp di dalam negeri cukup besar. Salah satu
alternatif itu adalah dengan memanfaatkan batang dan tandan kosong
kelapa sawit untuk digunakan bahan pulp kertas dan papan serat.
4. Batang kelapa sawit untuk perabot dan papan artikel
Batang kelapa
sawit yang sudah tua tidak produktif lagi, dapat dimanfaatkan menjadi
produk yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit tersebut dapat dibuat
sebagai bahan perabot rumah tangga seperti mebel, furniture,atau sebagai
papan partikel. Dari setiapbatang kelapa sawit dapat diperoleh kayu
sebanyak 0.34 m3.
5. Batang dan pelepah sawit untuk pakan ternak
Batang dan pelepah
dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya terdapat tiga
cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak, yaitu
pertama pengolahan menjadi silase, kedua dengan perlakuan NaOH dan yang
ketiga adalah pengolahan dengan menggunakan uap.
Jakarta - Sinar Mas Group melalui pilarnya Asia Pulp & Paper (APP)
mengadakan kegiatan “Peduli dan Berbagi Alquran untuk Negeri” di
Pekanbaru, Riau. Turut mendukung kegiatan ini keluarga besar Sinar Mas
lainnya yakni PT Arara Abadi dan PT Ivo Mas Tunggal.
Sebanyak 10.000 Alquran diwakafkan kepada masyarakat Riau seperti
pemerintah daerah, kepolisian, Tentara Nasional Indonesia (TNI), hingga
lembaga-lembaga dakwah.
"APP telah berinisiatif mengadakan wakaf Alquran guna membantu
masyarakat yang membutuhkan," kata Direktur APP Suhendra Wiriadinata
Suhendra dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/7).
Sebagai negara dengan penduduk Islam terbanyak di dunia, Indonesia
memiliki kebutuhan kitab suci Alquran yang sangat besar. Kementerian
Agama memperkirakan kebutuhan itu mencapai 2 juta mushaf per tahun pada
tahun 2011. Namun, hingga kini pencetakan secara nasional baru bisa
memenuhi sekitar 50-60.000 mushaf. “Praktik wakaf ini juga menjadi
bagian dari upaya kami dalam memperkokoh tali silaturahmi dengan
masyarakat,” ujar Suhendra.
Menutut dia, Sinar Mas berupaya memberikan manfaat atas kehadirannya di
masyarakat. Untuk diketahui salah satu unit usaha APP yakni PT Indah
Kiat Pulp & Paper Tbk-Perawang Mills beroperasi di Riau. Begitu juga
dengan PT Arara Abadi yang merupakan pemasok kayu APP, serta PT Ivo Mas
Tunggal yang merupakan bagian dari PT Smart Tbk, pilar bisnis Sinar Mas
di lini perkebunan sawit.
Dalam rangka sambut Lebaran, ASIAN AGRI GROUP membagikan dua ribuan
paket sembako kepada kaum Duafa pada acara Safari Ramadan 1435H tahun
ini. Selain membagikan paket sembakoyang berisi bahan kebutuhan pokok.
Dalam kegiatan yang dilangsungkan di 9 Kecamatan yang terdapat di 5
Kabupaten se- Provinsi Riau ini. ASIAN AGRI GROUP juga memberikan paket
bingkisan berupa sajadah, sarung dan kipas angin.
�
Menurut Head Corporate Social Responbility ASIAN AGRI GROUP Haji Rafmen,
didampingi Manager Social Security Lesense ASIAN AGRI GROUP Zulbahri
saat melepas keberangkatan tim Safari Ramadan dari lokasi kantor yang
berada di Jalan Sudirman Pekanbaru, pada 10 Juli kemarin,menyebutkan.
Bantuan paket sembako yang diberikan kepada sedikitya 1.871 kaum Duafa,
yang tersebar di 67 desa 9 Kecamatan dan 5 Kabupaten, yang lokasinya
berada di sekitar wilayah unit bisnis ASIAN AGRI GROUP ini. Merupakan
sebagai bentuk tali asih dan keperdulian perusahaan kepada masyarakat,
khususnya masyarakat kurang mampu mampu. Dimana paket sembako yang
berisi gula, sirup, roti kaleng dan lainnya itu, dapat sedikit membantu
mengurangi beban kebutuhan sembako dalam menjalani puasa, serta
menyambut lebaran Idul Fitri.
"Pada Safari Ramadan kali ini kita membagikan bingkisan tali asih kepada
kaum Duafa yang tersebar di 67 desa Provinsi Riau. Dimana desa-desa
tersebut terletak di 9 Kecamatan dan 5 Kabupaten, yakni. Kecamatan Ukui,
Pelalawan, Langgam, Bandar Sei Kijang Kabupaten Pelalawan. Kecamatan
Rakit Kulim, Peranap, Kelayang, Lala, Lirik Kabupaten Indra Giri Hulu.
Kecamatan Kerinci Kanan Kabupaten Siak. Kecamatan Singingi Hilir
Kabupaten Kuantan Singingi. Serta Kecamatan Gunung Sahilan Kabupaten
Kampar," jelas Rafmen.
�
Masih menurut pria yang memimpin departemen yang mengurusi kedidupan
sosial masyarakat yang khususnya tinggal disekitar lokasi unit bisnis
kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit milik ASIAN AGRI GROUP ini,
menambahkan. Selain melakukan kegiatan tali asih dengan membagikan
ribuan sembako bagi kaum Duafa. Dalam Safari Ramadan kali ini,
perusahaan juga memberikan paket bantuan kepada 54 masjid. Paket bantuan
ini merupakan bantuan pengadaan kipas angin dan sajadah (alas lantai
masjid tempat melakukan shalat-red)lebar.
�
"Safari Ramadan yang kita lakukan ini merupakan wujud kepedulian dan
silaturrahim perusahaan, kepada seluruh masyarakat yang bertempat
tinggal di sekitar kawasan kebun ataupun pabrik kita. Untuk terus
menjaga silaturrahim kepada masyarakat yang sebelumnya memang sudah
terjalin erat ini, Insya Allah pada setiap tahunnya perusahaan terus�
melakukan kegiatan ini, seperti pada tahun-tahun sebelumnya," ucap
Rafmen seraya berharap akan adanya Safari Ramadan pada tahun depan.
Perusahaan PT Sampoerna Agro yang begerak di bidang perkebunan terus
berupaya mendekatkan diri ke masyarakat serta menghelat pertemuan dengan
stakeholder di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Minggu
(20/7/2014).
General Manager (GM) Plasma Riswan Sinaga mengatakan, dilaksanakan
kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembinaan hubungan,
stakeholder dimana bulam ramadhan sangat baik untuk meningkatkan
pembinaan.
Disebutkan Riswan, perusahaan PT Sampoerna Agro memiliki anak cabang
perusahaan seperti, PT Aek Tarum, PT Gunung Tua Abadi, PT Mutiara Bunda
Jaya. Dari ide-ide anak cabang perusahaan ini timbul pertemuan antara
masyarakat dan unsur muspida di Pemerintahan Kabupaten OKI.
“Pertemuan ini untuk meningkatkan kualitas pembinaan hubungan antara
perusahaan dan masyarakat serta pemerintah,” ujar Riswan didampingi
Koordinator CSR PT Sampoerna Agro Ardian Indra Putra.
Untuk itu ditambahkan, Riswan, dengan terlaksananya kegiatan ini
menambah kebahagian atas atensi dan apresiasi dari stakeholder yang
memberikan masukan dan dukungan untuk perbaikan di masa yang akan
datang. Dan melalui kegiatan ini diharapkan terus mampu merawat
silaturahmi, kebersamaan, dan sinergi untuk hidup berdampingan dan
tumbuh bersama-sama.
Camat Mesuji Raya, Zainal Abidin mengungkapkan, kebanggaannya atas
keberadaan dan peran investor swasta yang turut dalam menyukseskan
agenda pembangunan daerah. Menurutnya, dukungan dari semua pihak dan
semoga PT Sampoerna Agro terus maju dan jaya kedepannya.
“Dengan adanya pertemuan ini, paling tidak bisa menampung keluhan
masyarakat. Dan masyarakat juga bisa menjalin kerja sama yang baik
terhadap perusahaan,” ungkap Zainal.
Beragam apresiasi dan masukan berharga juga disampaikan Kades Sumber
Baru, Yulia dan Kades Mulya Jaya, Amroni yang menyoroti pentingnya
sinergi dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban sosial masyarakat
dan perusahaan. “Maraknya pencurian baik yang dialami masyarakat atau
pencurian buah sawit terhadap kebun perusahaan, bahkan tindak
kriminalitas lain misalnya yang baru-baru ini dialami para pelajar yang
melakukan perjalanan ke sekolah, harus menjadi kewaspadaan semua,
terutama memasuki Idul Fitri ini,” tekan perwakilan kades.
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara resmi mengoperasikan
Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTB) pertama di Indonesia.
Pembangkit listrik ini memanfaatkan tongkol jagung sebagai sumber energi
utama untuk menggerakkan generator dan menghasilkan listrik.
Menteri BUMN Dahlan Iskan meresmikan operasional PLTB itu disaksikan
Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Vickner Sinaga, dan Wakil Gubernur
Gorontalo, Idris Rahim serta GM PLN Suluttenggo, Santoso Januwarsono
pada Senin (21/7/2014). PLTB itu memiliki kapasitas 500 kilo watt (kW)
y
Menurut Santoso Januwarsono, ide awal pembangunan PLTB ini karena
ditantang oleh Vickner Sinaga pada 2 tahun lalu untuk bisa menghasilkan
listrik dengan melihat potensi lokal Gorontalo. "PLTB Pulubala ini
menjadi salah satu upaya nyata PLN untuk menggunakan kearifan lokal.
Apalagi Gorontalo selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil
jagung terbesar di Indonesia," ujarnya.
Dahlan Iskan berharap PLTB Pulubala menjadi awal hadirnya
pembangkit-pembangkit biomassa di Indonesia. "PLTB Pulubala ini masih
sangat kecil jika dibandingkan dengan tingkat kebutuhan listrik
masyarakat kita. Nanti akan dibangun lebih banyak lagi pembangkit
listrik biomassa dengan kapasitas bervariasi, mulai dari 500 kW bahkan
hingga diatas 1 MW. Bahan bakarnya pun bisa dari apa saja, tidak
terbatas tongkol jagung, tapi dari cangkang sawit, pelepah kayu dan
sebagainya" ujarnya.
Saat ini pertumbuhan ekonomi di Gorontalo mencapai 7,76 persen, sehingga
kebutuhan listriknya naik 11,36 persen per tahun. Biaya Pokok Produksi
(BPP) listrik di Gorontalo jika menggunakan BBM adalah Rp 2.900/kWh
sedangkan jika menggunakan PLTB Tongkol Jagung ini, bisa ditekan menjadi
Rp 1.058/kWh.
Beban listrik di Gorontalo saat ini mencapai 78 MW untuk melayani
187.000 pelanggan, diantaranya 70.000 pelanggan di seluruh propinsi
Gorontalo telah menggunakan layanan listrik prabayar. Saat ini listrik
di Gorontalo telah terhubung dalam sistem interkoneksi 150 kV Sulutgo
(Sulawesi Utara-Gorontalo).
Jakarta - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), per Mei tahun ini sudah
memiliki total lahan yang tertanam seluas 282,59 ribu hektare. Adapun
jumlah penanaman baru seluas 1.219 hektare. Saat ini keberadaan lahan
yang dimiliki AALI tersebar diberbagai tempat di Sumatera, Kalimantan
dan Sulawesi.
Head of Public Relation AALI Tofan Mahdi menyebutkan, produksi tandan
buah segar (TBS) hingga lima bulan pertama mengalami kenaikan 12 persen
menjadi 2,27 juta ton. Lalu kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO)
naik 19,4 persen menjadi 707 ribu ton. Adapun penyerapan CPO mayoritas
hingga 97 persen ke pasar lokal dan sisanya 3 persen ke Tiongkok dan
India.
"Permintaaan dalam negeri tinggi, jadi banyak terserap di dalam negeri. Kurs dolar memang kemarin lagi tinggi, tapi kalau soal
harga itu di luar kendali kita," ujarnya di Jakarta, Jumat (4/7).
Lebih lanjut, perseroan yang saat ini sudah memiliki total 26 pabrik
kelapa sawit ini dengan kapasitas 1.280 ton per jam, di semester II ini
akan menambah 3 pabrik lagi. Ketiganya ada di Kalimantan Tengah,
Kalimantan Timur, dan Sulawesi Barat. Di mana, kapasitas masing-masing
pabrik ialah 45 ton per jam.
"Investasinya antara lain dari capex, yang sudah dianggarkan tahun ini
Rp 3,5 triliun, naik dari tahun lalu Rp 2,8 triliun. Dananya dari kas
dan pinjaman perbankan," kata Tofan.
Terkait kinerja, ia yakin perseroan bisa membukukan kinerja yang jauh
lebih baik pada tahun ini. Mengingat harga kurs dan dampak El Nino yang
belum signifikan pada semester I ini. "Tahun ini optimistis akan
catatkan kinerja yang baik," ungkapnya.
Per kuartal I, AALI tercatat mengalami pendapatan 36,8 persen dari Rp
2,73 triliun menjadi Rp 3,72 triliun. Dengan laba yang melonjak hingga
120,2 persen, dari Rp 356,4 miliar menjadi Rp 784,6 miliar. Adapun harga
CPO pada periode Januari hingga April rata-rata naik 36,7 persen, dari
Rp 6.500 menjadi Rp 8.900 per kilogram.
"Minyak sawit bagi Indonesia tidak hanya penting bagi perekonomian
nasional, namun menjadi sarana pula bagi pengentasan kemiskinan,
pembangunan pedesaan dan sumber mata pencaharian bagi petani," kata Bayu
dalam keterangannya seperti yang dikutip, Sabtu, 7 Juni 2014.
Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan tahunan European Roundtable
Sustainable Palm Oil (RSPO) beberapa hari lalu. Pertemuan yang dihadiri
lebih dari 100 anggota RSPO ini mengambil tema "100% Certified
Sustainable Palm Oil: Our Shared Responsibility".
RSPO, merupakan salah satu jenis dari beragam sertifikasi minyak sawit
yang keberterimaannya paling tinggi di pasar ekspor. Walaupun demikian,
tercatat baru 16 persen dari produksi minyak sawit dunia yang memiliki
sertifikasi RSPO.
"Dari 9,7 juta ton minyak sawit yang bersertifikasi RSPO, Indonesia
menyumbang sekitar 48 persen atau 4,6 juta ton produksi minyak sawit
bersertifikasi (certified sustainable palm oil/CSPO) RSPO," kata dia.
Untuk mendukung komitmen Indonesia terhadap produksi minyak sawit
berkelanjutan, diimplementasikan regulasi yang mewajibkan perkebunan
kelapa sawit di Indonesia untuk memiliki sertifikat Indonesian
Sustainable Palm Oil (ISPO) paling lambat 2014.
"Melalui ISPO, target jangka menengah Indonesia untuk dapat mengekspor
100 persen produksi CSPO diyakini dapat dicapai dalam jangka pendek,"
ujar mantan wakil menteri pertanian itu.
Wacananya, ada kemungkinan saling dukung antara ISPO-RSPO karena tujuan
yang ingin dicapai pun sama, yaitu 100 persen CSPO. Konvergensi antara
ISPO-RSPO dimungkinkan karena hanya 11 persen dari indikator ISPO yang
belum tercakup dalam RSPO, sedangkan sekitar 25 persen dari indikator
RSPO belum tercakup dalam ISPO.
Berlandaskan pada kesamaan yang cukup banyak itu, diharapkan agar produk
yang telah memenuhi persyaratan ISPO juga dapat memenuhi persyaratan
RSPO tanpa harus mengulang proses sertifikasi dari awal.
"Perlu ditingkatkan standar dari indikator-indikator pada ISPO, RSPO
atau jenis sertifikasi lainnya yang semuanya itu diharapkan dapat
mendukung baik produksi maupun ekspor minyak sawit berkelanjutan," papar
Bayu.
Jakarta: Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi tekanan dari banyak
sisi. Salah satunya tekanan isu produk kelapa sawit yang tidak ramah
lingkungan. Kampanye anti-kelapa sawit gencar dilakukan banyak pihak,
bukan hanya di luar negeri, tetapi juga di dalam negeri.
Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Soedjai
Kartasasmita mengatakan, pelaku industri kelapa sawit harus menciptakan
sebuah platform yang berkelanjutan bagi produk-produk kelapa sawit.
"Maka itu kita selenggarakan ICEPO (International Conference and
Exhibition on Palm Oil) agar para pemain industri kelapa sawit saling
bertukar informasi terkait platform produk yang berkelanjutan, meninjau
kemajuan dalam pengembangan kelapa sawit, analisa dan mengatasi
tantangan industri dan mengembangkan jaringan," kata Soedjai dalam
pembukaan Fifth ICEPO di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan,
Jakarta Pusat, Senin (26/5/2014).
Menurut Soejai, tuduhan kelapa sawit Indonesia tidak ramah lingkungan
tidak benar. Tuduhan itu sengaja dijadikan isu oleh pihak tertentu untuk
mempengaruhi persepsi konsumen terkait persaingan pasar.
"Produk sawit kita ramah lingkungan. CPO Indonesia paling dominan
mengantongi sertifikat sawit berkelanjutan atau Roundtable on
Sustainable Palm Oil (RSPO)," ujar Soedjai.
Menurut data RSPO Indonesia, produksi sawit yang memiliki RSPO di dunia
mencapai 9,7 juta ton. Dari jumlah itu sebesar 47,85 persen atau
sebanyak 4,8 juta ton di antaranya berasal dari Indonesia.
"Bahkan Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan yang kuat untuk
mengembangkan kelapa sawit yang ramah lingkungan. Sejak 2011, pemerintah
Indonesia memberlakukan standar baru, yaitu Indonesia Sustainable Palm
Oil (ISPO) yang bersifat mandatori atau wajib," ucap Soedjai yang juga
Advisory Board of ICEPO 2014 ini.
Produksi kelapa sawit Indonesia meningkat cepat dalam 10 tahun, mencapai
26 juta metrik ton pada 2013 atau meningkat 118 persen dibandingkan
tahun 2003 yang hanya 11,9 juta metrik ton. Peningkatan juga terjadi
pada perluasan areal perkebunan, yang naik sebesar 80 persen menjadi 9
juta hektare pada 2013 dibandingkan tahun 2003 yang hanya 5 juta
hektare.
Pemerintah
tengah mempertimbangkan perubahan struktur bea keluar produk sawit dan
turunannya. Perubahan itu dilakukan untuk mendorong industri hilir.
"Jadi nanti bea keluar untuk produk turunan crude palm oil (CPO), makin
ke hilir akan makin rendah, bahkan mungkin di-nol-kan," kata Wakil
Menteri Perdagangan Bayu Krismurthi di kantornya, Kamis, 22 Mei 2014.
Menurut Bayu, saat ini Kementerian Perdagangan sedang menyusun formula
untuk menyusun struktur bea keluar yang baru. Selain itu, beberapa
pemangku kepentingan lain seperti Kementerian Perindustrian dan asosiasi
pengusaha juga dimintai masukan.
Saat ini, tarif bea keluar progresif untuk CPO ditetapkan berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2008 tentang penetapan
barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar. Tarif bea
keluar CPO terendah adalah 7,5 persen untuk harga referensi US$ 750-800
per ton.
Sedangkan harga tertinggi adalah 22,5 persen untuk harga referensi di
atas US$ 1.250 ton. Sedangkan untuk 32 item produk turunannya sebesar
ditetapkan 0-15 persen.
Pernyataan Bayu diamini oleh Panggah Susanto, Direktur Jenderal Industri
Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin). "Di Kementerian
Perindustrian sudah selesai, sekarang tinggal interdept
antarkementerian," ujarnya. Setelah itu, baru hasilnya akan disampaikan
dalam bentuk rekomendasi ke Kementerian Keuangan.
Meski tidak merinci, Panggah bilang setidaknya ada sekitar lima produk
hasil rekomendasi Kemenperin yang akan diubah untuk diturunkan bea
keluarnya. Beberapa produk tersebut antara lain adalah bungkil sawit dan
biodiesel.
Sementara, Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan, Sekjen Gabungan
Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), menyatakan bea keluar sawit
yang berlaku di Indonesia saat ini sudah tidak kompetitif lagi. Sebab,
bea keluar untuk sawit dan produk turunannya di Malaysia sudah jauh
lebih rendah.
Fadhil mencontohkan bea keluar CPO Malaysia saat ini hanya berkisar
0-5,5 persen. "Kami juga sudah sampaikan kajian kami ke pemerintah. Kami
minta bea keluar ini diturunkan," katanya.
"Pemerintah
Indonesia harus memiliki data kerusakan hutan untuk membuktikan bahwa
degradasi hutan terjadi bukan akibat dari penanaman kelapa sawit maupun
karet, melainkan pembalakan liar," kata Enny.
Jakarta, Aktual.co — Pakar ekonomi dari Institute for Development of
Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan kerusakan
hutan yang terjadi di Indonesia bukan akibat dari penanaman atau
perkebunan kelapa sawit.
"Pemerintah Indonesia harus memiliki data kerusakan hutan untuk
membuktikan bahwa degradasi hutan terjadi bukan akibat dari penanaman
kelapa sawit maupun karet, melainkan pembalakan liar," kata Enny, di
Jakarta, Rabu (24/4).
Enny menyarankan hal itu terkait tidak diterimanya produk CPO dan karet Indonesia ke dalam daftar produk ramah lingkungan.
Sejumlah komoditas yang masuk ke daftar tersebut mendapatkan pengurangan
bea-masuk sebesar 5 persen seperti yang telah disepakati sejumlah
pemimpin negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).
Dengan data kerusakan hutan tersebut, Enny berharap, pemerintah dapat
memberikan penjelasan mengenai wilayah hutan Indonesia yang rusak dan
wilayah hutan industri yang memang digunakan untuk tanaman kelapa sawit.
"Indonesia punya beberapa kementerian terkait dengan hutan dan industri.
Sejumlah lembaga itu harus bersinergi dalam menunjukan kepada dunia
internasional bahwa area kelapa sawit menggunakan lahan hutan industri,"
kata Enny.
Selain itu, untuk mengantisipasi keluarnya investor di sektor
agri-bisnis karena komoditas tidak diterima dalam daftar produk ramah
lingkungan, Enny mengatakan pemerintah harus membangun infrastruktur di
wilayah hilir untuk mendapat ketertarikan dari para pelaku bisnis.
"Para investor memprioritaskan keuntungan dan pemerintah harus berupaya
menarik keinginan mereka dengan membangun infrastruktur di wilayah hilir
untuk memberi nilai tambah kepada bahan baku," jelas Enny.
Kemudian Enny juga mengatakan pemerintah harus membenahi administrasi
birokrasi yang rumit untuk memudahkan investor masuk ke Indonesia.
"Hal ketiga untuk menarik investor adalah kepastian adanya lahan untuk
industri karena mereka butuh itu. Sehingga harus ada sinergitas antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah karena yang mengeluarkan izin
berada di pihak daerah," jelas Enny.
Dalam pertemuan tingkat Menteri APEC di Surabaya pada pekan lalu,
sejumlah negara berkembang gagal memasukan beberapa komoditas tambahan
ke dalam daftar produk ramah lingkungan.
Selain itu, sejumlah negara berekonomi maju, seperti Amerika Serikat,
menolak diskusi mengenai pemasukan CPO dan karet serta beberapa produk
agro-bisnis yang lain ke dalam daftar tersebut.
Presiden SBY mengajukan konsep three plus one sebagai solusi untuk
menghadapi gejolak yang terjadi di industri kelapa sawit. Solusi ini
ditujukan kepada masalah harga, hambatan perdagangan, lingkungan
ditambah lagi sosial. Selain itu, SBY menyarankan sinergi di antara
berbagai pihak seperti pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, LSM, dan
media.
Kondisi perekonomian Indonesia dan dunia kembali mengalami gejolak
terutama emerging market industri kelapa sawit akibat turunnya volume
ekspor dan harga CPO dunia. Hal ini perlu menjadi perhatian serius yang
memerlukan sinergi kebersamaan antara pemerintah baik pusat dan daerah.
Pada 2006, Presiden SBY sempat menerima kunjungan tamu negara yang
merupakan seorang pemimpin dari Uni Eropa. Dalam pertemuan tersebut,
kelapa sawit mendapatkan sorotan sebagai faktor merusak lingkungan.
Terus terang, kata SBY, pernyataan ini membuat dirinya tidak gembira dan
menyanggah perkataan tamu tersebut.
“Saya minta, dia tidak begitu saja menggeneralisasi dan memvonis kelapa
sawit identik dengan kerusakan lingkungan,” kata SBY dalam pidato
pembukaan IPOC di Bandung.
Selanjutnya pada 2010, SBY bercerita pernah bertemu dengan kalangan
aktivis NGO internasional salah satunya adalah Greenpeace. Disitu, dia
mengajak supaya kalangan LSM dapat bekerjasama dengan
perusahaan-perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Artinya, apabila ada
kesalahan yang dilakukan silakan untuk dikritik. Tetapi setelah
dilakukan perbaikan , maka sebaiknya mereka harus berani berkata kepada
dunia bahwa kelapa sawit di Indonesia telah melakukan upaya perbaikan
dan tidak merusak lingkungan. Sehingga, produk kelapa sawit itu tidak
patut untuk diembargo dan dihambat, bahkan ditolak masuk.
Di Forum Asian Pacific Economic Cooperation (APCE), SBY mendapatkan
laporan dari Gita Wirjawan selaku Menteri Perdagangan bahwasannya
negosiasi cukup alot. Namun begitu, namanya negosiasi memiliki pola take
and give dimana Indonesia harus memainkan peran yang dapat fleksibel.
Tetap dengan tujuan supaya kelapa sawit diterima oleh negara lain dan
bukan menjadi produk yang tidak diterima dunia.
“Kita harus fight apabila memang ada ketidakadilan terhadap komoditas
yang diperdagangkan secara nasional maupun secara internasional,” papar
lulusan Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973 ini.
Sebagai solusi atas permasalahan yang terjadi, SBY mengajukan solusi
bernama three plus one. Pertama, isu mengenai harga CPO yang diharapkan
berdampak baik bagi Indonesia di mana harga stabil tetapi tidak boleh
terlalu rendah. Sebagaimana sudah menjadi teori umum yaitu price is
about supply and demand. Maka, ketika komoditas sawit membanjiri pasar
di dunia tetapi permintaan sedang mengalami penurunan terutama negara
Cina dan India. Akibat dari melemahnya pertumbuhan ekonomi di kedua
negara tadi. Sementara Eropa dan Amerika Serikat belum sepenuhnya pulih
secara signifikan. Hal ini berdampak kepada harga yang turun seperti
itulah hukum ekonominya.
Sebagai solusi jangka menengah dan jangka panjang dari penurunan harga
perlu ditunjang dengan meningkatnya lagi pertumbuhan ekonomi dunia.
Tetapi, Indonesia tidak hanya menunggu pertumbuhan ekonomi global. Untuk
itu, perlu diperkuat dengan dari pasar domestik melalui kontribusi palm
oil untuk biofuel di dalam negeri. Jumlahnya dapat diperkirakan
mencapai 3 juta-5 juta ton dan harapan saya minimal 20 % dari solar
biofuel berasal dari palm oil.
Susilo Bambang Yudhoyono menambahkan langkah mandatori apabila berhasil
dijalankan akan meningkatkan permintaan secara pesat di dalam negeri dan
memberikan insentif pula. Dampaknya, akan membuat harga minyak sawit
lebih baik kembali.
Oleh karena itu, menurut SBY, dirinya sudah berbicara kepada menteri
pertanian bahwa bulan depan perlu dirumuskan kebijakan mandatori
biodiesel ini. Jika perlu akan dibuat instruksi presiden dan peraturan
presiden Kebijakan yang baik ini bisa saja masuk angin jika tidak
ditindaklanjuti secara cepat karena dapat muncul masalah baru.
“Saya minta kepada menteri sekretaris negara untuk menghubungi
menteri-menteri terkait dan segera rumuskan duduk bersama. Sebaiknya
perlu diundang menteri ESDM, Menteri Pertanian, Dirut Pertamina, Menteri
Perdagangan, dan Menteri Perindustria untuk dirumuskan secara bersama.
Ini ide bagus karena semua setuju manfaatnya riil tetapi kalau tidak
diimplementasikan lebih cepat maka sangat disayangkan,” imbuh SBY.
Di tingkat internasional, Indonesia dapat membangun kerjasama dengan
negara sahabat seperti Malaysia sesama produsen CPO. Sebagai kepala
pemerintahan di Indonesia, jelas SBY, dirinya menggunakan forum
internasional dalam memperjuangkan kepentingan bersama. Forum yang
tersedia ini adalah G-21, APEC, forum ASEAN yang bertujuan sebagai
kolaborasi regional dan global.
Solusi kedua, bagaimana menghadapi hambatan perdagangan dimana perlu
dilakukan kegiatan negosiasi. Negosiasi ini ditekankan supaya Indonesia
tak mudah menyerah dan jangan karena persaingan dagang lalu Indonesia di
persalahkan dan dicari-cari alasan sebagai perusak lingkungan. Untuk
itu, kita mesti mendapatkan keadilan. Di dalam hubungan internasional
itu ada strategi saling membalas. Artinya, apabila komoditas kita
dihalangi masuk ke negara tertentu maka Indonesia juga dapat melarang
impor komoditas dari negara tadi.
“Ada baiknya dilakukan sebuah kolaborasi dari pemerintah dan dengan
dunia usaha. Begitupula dijalankan antara Indonesia dan negara-negara
sahabat. Kita akan bekerja dan terus bekerja,“ungkap putra asli Pacitan
ini penuh semangat.
Solusi ketiga untuk bidang lingkungan, kata SBY, semua pemimpin usaha
perkebunan kelapa sawit berpedoman kepada praktek lingkungan yang
terbaik dan jangan rusak lingkungan. Sebab, presiden dan menteri sudah
pasang badan. Jangan sampai, pemerintah bertarung di tingkat
internasional namun diantara pelaku usaha ceroboh merawat lingkungan.
Dilanjutkan SBY, standar ISPO bagus dan diharapkan sertifikasi berjalan
baik. Dengan demikian, kalau pemerintah membela sawit di di dunia
internasional maka dari itu pemerintah tidak cemas apakah pelaku usaha
memiliki sudah memiliki ISPO atau belum semua. “Ayo kita bekerjasama dan
bermitra dengan LSM internasional. Jadikan LSM itu mitra bukan musuh,”
papar SBY.
Dalam pandangan SBY, dunia ini penuh dengan perang persepsi sebaiknya
para pemimpin industri sawit membangun opini dan counter opinion. Jika
tidak dilakukan yang terjadi industri sawit akan dihakimi media.
Sehingga terbangun persepsi benar kelapa sawit itu merusak lingkungan
akibatnya kita yang rugi. Untuk itu, perlu digunakan cara yang cerdas
dan riil bukan artifisial bahwa pelaku usaha benar menjaga kelestarian
lingkungan.
Three plus one, ditambah dengan isu sosial. Menurut SBY, cegahlah
konflik dengan rakyat dan berikan mereka pekerjaan. Jika perkebunan
sawit tumbuh pastikan juga masyarakat tumbuh yang berpengaruh positif
terhadap penghasilan mereka nantinya. Masyarakat yang diberikan
pekerjaan akan mendapatkan hidup layak sehingga tidak perlu khawatir
munculnya konflik dan kasus kekerasan.
“Manfaatkanlah CSR perusahaan dengan baik. Memang sepertinya ada
anggaran tambahan tetapi itu bagian dari modal sosial, yang namanya
modal itu akan pasti membawa kebaikan bagi perusahaan. Imbas baiknya,
masyarakat ikut mengamankan dan mendukung perusahaan dimana masyarakat
tinggal disitu. Itulah tiga plus satu, konkret sederhana tetapi harus
segera dilaksanakan,” kata SBY.
Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia yang idealnya
paling Berjaya. Berjaya untuk industrinya dan rakyat yang sama-sama kita
cintai. SBY berpandangan peluang Indonesia sangatlah besar karena
mempunya 250 juta jiwa yang mengarah kepada tumbuhnya kelas konsumsi dan
tumbuhnya permintaaan. Tahun lalu, kelas menengah sekitar 45 juta jiwa
yang akan meningkat pada 2030 sebesar 135 juta jiwa, itu artinya
memerlukan pangan dan energi yang lebih.
Industri kelapa sawit yang diinginkan dalam jangka waktu 5-15 tahun
mendatang yang bersifat kuat berkelanjutan dan berdaya saing. Kesemua
hal ini dibutuhkan guna menghadapi gejolak dan krisis yang silih
berganti.
Demi menuju ke arah sana, jelas SBY, perlu dilakukan pembagian tugas dan
tanggung jawab antara tiga pihak, yang bisa disebut kontrak tanggung
jawab. Pertama Negara disini saya bicara pemerintah adalah pusat dan
daerah. Tanggung jawab negara dan kepala daerah seperti gubernur
walikota sebaiknya tidak membuat regulasi yang aneh maupun bertentangan
dengan kepentingan nasional.
Sebaiknya pemerintah daerah, imbuh SBY, memberikan perijinan untuk
kemudahan berusaha. Pemimpin daerah apabila ingin daerahnya maju,
ekonomi bergerak, lapangan kerja tercipta, maka harus mengundang
investor dan membuat bisnisnya hidup. Jika bisnis berjalan baik maka
pajak diperoleh dan terciptanya lapangan pekerjaan sehingga pasti akan
terpilih kembali waktu pilkada nanti.
Sekarang tanggung jawab pelaku usaha dengan meningkatkan produktivitas,
efisiensi dan daya saing. Lalu perkuat industri hilir supaya kalau
krisis terjadi maka dapat memanfaatkan pasar domestik. Potensi
menghasilkan produk-produk turunan yang dapat masuk ke dalam pasar kita
karena permintaan ada. “Tentu keterkaitan antara hulu dan hilir juga
penting karena mengembangkan industri hilir akan didukung dengan
pasokannya,” ujar SBY.
SBY meminta perusahaan untuk alokasikan dana bagi kegiatan riset
pengembangan dan inovasi. Sebab, hal inilah yang menjadi kelemahan
perusahaan Indonesia lantaran kurang kuat di bidang riset. Elemen daya
saing adalah kegiatan riset menjadi hal utama sektor industri swasta.
Yang ketiga, ada tanggung jawab civil society dalam hal ini diperlukan
peranan dari NGO dan media massa. Jadi, silakan mereka mengontrol dan
kritisi kebijakan dibuat pemerintah termasuk pula dunia usaha kelapa
sawit. Jika kurang bagus maka katakan itu kurang bagus, kalau lalai ya
sebaiknya katakanlah lalai supaya tahu dan bisa bercermin. Namun,
sesudah ada perbaikan dari kritikan yang diberikan tadi kemudian terjadi
perubahan sesuai standar global. Dalam hal ini, NGO dan pers semestinya
menjelaskan pula bahwa dunia industri sudah berubah. Hal ini penting
dijalankan karena kalau tidak nanti Indonesia sendiri yang merugi.
Akibatnya, dunia akan menghambat produk sawit kita karena harus diingat
kompetisi global itu keras termasuk perdagangan antar komoditas.
*Tulisan ini disarikan dari pidato pembukaan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI,
dalam Konferensi IPOC and 2014 Price Outlook di Bandung, 28-29 November 2013.
Kebun kelapa sawit milik 17 keluarga di Bangunpurba, Rohul meranggas lalu mati. Tanaman ekonomis tersebut diduga disiram solar orang tak dikenal.
http://riauterkini.com/hukum.php?arr=57544Riauterkini-BANGUNPURBA- Seluas 15 hektar kebun kelapa sawit milik 17 kepala keluarga (KK) di Dusun Sungai Geringging Desa Tangun Kecamatan Bangunpurba Kabupaten Rokan Hulu diracun orang tidak dikenal (OTK).Masyarakat mengaku mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah.
Ribuan tanaman kelapa sawit yang mati berada di areal perbatasan antara perkebunan masyarakat dengan hutan produksi tanaman akasia milik PT Sumatera Silva Lestari (SSL). Masyarakat menduga, PT SSL yang meracuni 15 hektar tanaman kelapa sawit.
Pengakuan sejumlah pemilik lahan, sebenarnya luas kebun kelapa sawit milik 17 KK seluas 35 hektar, tapi OTK itu baru meracun ribuan tanaman kelapa sawit di lahan 15 hektar yang telah berusia antara 2-8 tahun.
Diduga, tanaman kelapa sawit milik warga mati kering akibat diracun OTK dari oknum PT SSL yang menggunakan minyak solar yang sengaja disiramkan ke pucuk daun muda atau umbut pohon kelapa sawit. Warga tidak tahu pasti kapan tanaman diracun, tapi diperkirakan kejadian nya sepekan lalu.
Salomok Nasution, salah seorang korban yang ditemui di lokasi mengaku kesal dengan ulah OTK yang telah meracuni ribuan tanaman kelapa sawit warga sehingga mengancam mata pencarian 17 KK setempat.
“Kebun kelapa sawit saya dua hektar. Sekarang sudah berusia delapan tahun dan sedang produksi, tapi sekarang semuanya mati karena diracun pucuknya. Diperkirakan, kerugian yang kami alami satu miliar rupiah lebih. Saya sendiri rugi 150 juta rupiah (Rp75 juta per hektar.red)," kata Salomok, Kamis (14/3/13).
Hal serupa ternyata pernah 6 bulan lalu. Diakui Salomok, tanaman kelapa sawit di kebun temannya juga diracun OTK. Hal itu telah dilaporkan ke Polisi, tapi belum tindak lanjutnya. Begitu pun, kejadian beberapa hari ini, diakuinya telah dilaporkan ke pihak Kepolisian.
“Kami menduga pelaku nya PT SSL. Sepekan lalu, waktu itu siang hari, ada Satpam dan karyawan yang datang ke kebun kami,” ungkap Salomok.
Surat kesepakatan telah ditanda tangani bersama pada 5 Juni tahun 2007 silam di Pekanbaru turut ditandatangin Ketua Kelompok Tani Sungai Geringing M Darman dan Ali wardana. Sementara dari PT SSL ditanda tangani Dirut Ridwan Ruslan. Warga Tangun berharap Pemerintah Kebupaten Rohul segera membentuk tim untuk mengungkap matinya ribuan tanaman kelapa sawit mereka yang berbatasan dengan PT SSL.
PT SSL mengaku tak Pernah Racuni Tanaman
Di lain tempat, Humas PT SSL Kantor Direksi Pekanbaru, Abdul Hadi, mengaku walau tidak sedikit areal perkebunan masyarakat sudah berada di dalam areal perusahaan, tapi pihaknya tidak berani mengganggu pasca adanya kesepakatan bersama.
”Isu-isu seperti itu sudah beberapa kali kita dengar. Dan itu sangat-sangat tidak mungkin dilakukan karyawan. Sangat tidak mungkin kita menyiramnya. Yang dilakukan karyawan hanya membersihkan gulma tanaman, dan tidak mungkin mereka berani berbuat seperti itu,” kilahnya.
Abdul Hadi mengaku pihaknya sudah sering ingatkan kepada masyarakat agar tidak membangun perkebunan di areal PT SSL, tapi hal itu masih saja terjadi sampai sekarang.***(zal)
Hak Pengelolaan Lahan atau HPL eks transmigrasi sebuah desa di Rohul seluas 1.329 hektar dikuasi PT Torganda dan PT PSA. Disnakertran akan turun melakukan pengecekan.
Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- PT Torganda dan PT PSA Kabupaten Rokan Hulu diduga telah menguasai 1.329 hektar lahan sisa Hak Pengelolahan Lahan (HPL) transmigrasi di SKPD DK4 Desa Sukamaju Kecamatan Tambusai selama 12 tahun terakhir.
Informasi sejumlah masyarakat, ribuan hektar lahan HPL transmigrasi yang telah dikuasai dua perusahaan besar di Tambusai itu kini telah menjadi perkebunan kelapa sawit perusahaan.
Seluas 1.329 hektar HPL transmigrasi yang telah dikuasai meliputi 979 hektar telah dikuasai pihak Panca Surya Agrindo (PSA), sedangkan sisanya 350 hektar telah dikuasai PT Torganda.
Penguasaan ribuan hektar HPL transmigrasi di SKPA DK4 juga telah dilaporkan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kepada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrnas) Rohul beberapa waktu lalu.
Menanggapi hal itu, Kepala Disosnakertrans Rohul, Tengku Rafli Armien, dikonfirmasi melalui Kabid Transmigrasi dan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Jamaluddin mengaku akan menindaklanjuti laporan masyarakat dan LSM dengan menurunkanntim yang telah terbentuk ke lapangan dalam waktu dekat.
Jamaluddin himbau, bagi masyarakat yang dirugikan, bisa melapor ke jalur hukum, sebab HPL digunakan untuk kepentingan perkembangan kawasan transmigrasi lokal dan umum, bukan lahan perkebunan.
”Kita sudah berkonsultasi dengan Kementrian Transmigrasi, dan sisa lahan itu tidak boleh diambil atau dikuasai serta dialih fungsikan ke pihak mana pun, Kita akan cek, apakah kedua perusahaan telah memiliki izin untuk menguasai dan memanfaatkan HPL transmigrasi tersebut,” kata Jamaluddin, Kamis (14/3/13).
Disosnakertrans Rohul juga akan menata ulang seluruh HPL transmigrasi di Rohul dimana ada 54 Unit Pemukiman Tranmigrasi (UPT) dan 5 Satuan Pemukiman (SP) yang belum menjadi eks transmigrasi seperti di SP3 dan SP4 (Trans PIR) Kecamatan Kepenuhan.
Begitu pun, Disosnakertrans Rohul akan menata seluruh tanah R (restran.red) transmigrasi yang biasa digunakan untuk fasilitas umum. Belakangan dinas mendengar ada sejumlah oknum kepala desa telah menjual tanah R.
“Jika sudah dijual, si penjual harus bertanggung jawab. Baik HPL atau tanah R transmigrasi tidak boleh diperjual belikan, lahan ini hanya digunakan untuk kepentingan umum seperti perluasan daerah transmigrasi, kebun desa, dan kepentingan umum lainnya,” ungkapnya.
Jamaluddin berjanji ikut turun ke daerah transmigrasi, guna mendata sekaligus pemetaan lahan sisa HPL dan tanah R transmigrasi yang ada di Rohul.***(zal)
Palm Oil Drops to Two-Month Low as Brazil’s Soy Supplies Climb
Posted by Flora Sawita Labels: Trader's highlightRTRS - UPDATE 1-India's Feb palm oil imports drop 10 pct mm, duty hike hurts
Posted by Flora Sawita Labels: Trader's highlightRTRS - Dollar rises across the board on upbeat U.S. data
Posted by Flora Sawita Labels: Trader's highlight- U.S. retail sales post largest rise since September
- U.S. economy outperforms, boosting dollar sentiment
- Euro hurt by higher Italian bond yields after auction
- RBNZ keeps rates steady, says won't raise rates this year
RTRS - RPT-AccuWeather says most of US setting up for good growing year
Posted by Flora Sawita Labels: Trader's highlightSingapore on track to reducing carbon footprint below targeted 2020 levels: Iswaran
Posted by Flora SawitaChannel NewsAsia 13 Mar 13;
SINGAPORE: Singapore is on track to meeting its unconditional pledge of reducing greenhouse gas emissions by seven to 11 per cent below targeted 2020 levels. This is according to Second Minister for Trade and Industry S Iswaran.
Speaking in Parliament on Wednesday, Mr Iswaran said there are measures in place to reduce the carbon footprint of Singapore's industries.
These include tax incentives and third-party financing schemes which encourage private financing of energy-efficient projects.
But while the use of fuel oil and natural gas are less polluting energy options used by industries, the Tembusu Multi-Utilities Complex located on Jurong Island uses a mix of clean coal and biomass to produce steam and electricity for chemical companies.
Mr Iswaran said: "Clean coal is a significantly cheaper fuel option compared to fuel oil and natural gas, and the use of coal is expected to reduce steam prices by at least 10 per cent for customers of TMUC.
"To strike a balance with environmental concerns, only the use of low ash and low sulphur coal has been permitted, and biomass is mixed with coal to lower greenhouse gas (GHG) emissions to below that of an equivalent fuel oil plant.
"The co-generation process employed by TMUC is also more efficient than the separate production of steam and power through boilers and combined cycle gas turbines.
"In addition, measures have been put in place by our environmental agencies to ensure that the TMUC meets environmental standards as stipulated under the Environmental Protection and Management Act and its regulations. TMUC is held to stringent requirements for pollutants such as particulate matter (PM) and mercury. The company is also required to transport coal via covered transportation systems to prevent fugitive dust emissions, and recycle ash as construction material."
-CNA/ac

