RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label peluang usaha pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peluang usaha pertanian. Tampilkan semua postingan

Peluang Usaha Pertanian : Budidaya Melon Ladika

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Bisnis Manis Dari Melon Ladika

Buah melon merupakan salah satu buah tropis yang banyak digemari orang Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kini muncul varian baru dari tanaman ini. Salah satu yang mulai populer adalah melon ladika.

Melon ini merupakan melon hibrida hasil pemuliaan tanaman di daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Bentuknya lebih oval dari melon biasa. Selain itu, rasanya juga lebih manis dengan tekstur daging lebih renyah dan berwarna oranye.

Bobot per buah melon ini bisa mencapai dua hingga tiga kilogram (kg). Budidaya melon ini mulai ramai sejak dua tahun terakhir. Kendati ditemukan di Jawa, melon ini sudah mulai banyak dibudidayakan di daerah-daerah lain di luar Jawa. Di Sumatra Utara, misalnya, banyak petani yang membudidayakan melon jenis ini dalam skala besar.

Salah satu pembudidaya melon di daerah ini adalah Amin, 45 tahun. Ia tertarik membudidayakan melon ini karena permintaan pasar cukup besar. Ia sudah menekuni budidaya melon ladika sejak tahun 2010.

Ia membudidayakan melon ladika di lahan seluas 8 hektare (ha). Lokasinya berada di Desa Ujung Rambung, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Deli Serdang. Dengan lahan seluas itu, ia mengaku bisa memanen melon ladika setiap hari.

Ia bilang, dengan lahan yang luas memungkinkannya melakukan penanaman dalam waktu berbeda-beda. Dengan begitu, melon dapat berbuah secara bergiliran setiap hari. Menurut Amin, setiap 1 ha melon ladika menghasilkan 15 ton sekali panen. Maka, dengan luas lahan 8 ha, ia bisa menghasilkan 120 ton sekali panen.

Saat ini, ia bisa memanen rata-rata 2 ton per hari. Dengan harga jual Rp 7.000 per kg, maka sekali panen dalam sehari ia bisa meraup omzet Rp 14 juta. Ada pun total omzet dalam sebulan sebesar Rp 420 juta dengan laba bersih sekitar 35%.

Budidaya melon ladika juga ditekuni Aenudin, petani asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia terjun ke usaha ini sejak 2009.

Selain dari NTB sendiri, kini ia juga banyak mendapat pesanan melon ini dari Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali. Aenudin membudidayakan melon ladika di lahan 2 ha hingga 15 ha, tergantung musim.

Jika sedang musim kemarau, seluruh lahan ia tanami melon ladika. Tapi jika sedang musim hujan, ia hanya menanam di lahan seluas 2 ha saja. "Melon tidak terlalu bagus jika musim hujan," ujarnya.

Dengan lahan 2 ha, Aenudin bisa panen setiap 60 hari-70 hari. Setiap satu ha bisa ditanami 200-250 batang pohon melon. Satu batang menghasilkan 2 kg-3 kg melon. Dari situ, omzetnya dalam sekali panen bisa mencapai Rp 80 juta, dengan laba sekitar 50%.


Tanpa Pupuk Kimia, Melon Ladika Berlimpah

Amin, petani melon ladika dari Serdang, Medan bilang, tanaman ini dapat dibudidayakan di ketinggian tanah antara 300 meter-900 meter di atas permukaan laut (dpl).Melon juga tumbuh baik di suhu optimal 25 derajat celcius-30 derajat celcius.

Adapun jenis tanah cocok untuk tanaman ini adalah tanah liat berpasir. Sebab, tanah ini mengandung banyak bahan organik, seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol.

Namun, jika tanah tidak memiliki unsur-unsur tersebut, petani dapat mengakalinya dengan menambahkan bahan organik dan pemupukan. Jauh lebih baik jika menggunakan pupuk alami.

Tanah yang terlalu basah dan memiliki tingkat curah hujan yang tinggi tidak disarankan. Sebab, tanaman ini membutuhkan panas matahari yang cukup dari pagi sampai sore.

Nah, untuk bibitnya bisa didapat dari para petani di Jawa Tengah. Amin membeli bibit dalam kemasan kiloan. "Harga bibitnya Rp 150.000 per kilogram," ujar Amin.

Sebelum ditanam di lahan, bibit disemai dulu di polybag selama enam hari. Setelah itu akan tumbuh kecambah seukuran 10 senti meter (cm). Bila kecambah telah tumbuh, bibit siap ditanam di lahan perkebunan dengan jarak tanam sekitar 40 cm.

Tanaman melon ini harus rajin disiram minimal sekali dalam sehari. "Bisa pagi atau sore," ujar Amin.

Petani lain, Aenuddin asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menambahkan, budidaya melon tidak bisa sembarangan. Menurutnya, butuh perhatian khusus, terutama dalam hal pemupukan, pengairan, dan penyiangan. “Setiap 200 meter persegi bagusnya dijaga dua orang. Baru hasilnya bisa maksimal,” ujar Aenuddin.

Terkait dengan pilihan tanah, ia menyarankan untuk menggunakan lahan bekas tanaman padi. Aenuddin juga menyarankan untuk tidak menggunakan pupuk kimia, seperti NPK (nitrogen phospate kalium). Soalnya, penggunaan pupuk ini tidak menjamin tanaman melon bisa berbuah banyak.

Ia justru menyarankan petani menggunakan pupuk organik, seperti pupuk kandang atau kompos. Dari pengalamannya, dengan menggunakan pupuk organik, tanaman melon sudah berbuah sekitar 60 hari-70 hari sejak ditanam, dengan hasil lumayan banyak.

Aenuddin membenarkan melon ladika membutuhkan penyinaran cukup. Makanya, kalau musim hujan ia hanya menanam melon di lahan seluas 2 hektare. "Terlalu banyak air tidak bagus. Bunganya banyak pecah dan tak jadi buah,” ujarnya. (KONTAN)

Peluang Usaha Pertanian : Budidaya Salak Madu

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,










Salak madu menjadi favorit petani

Budidaya salak madu kian marak. Banyak petani melirik varietas baru dari salak pondoh ini karena harganya yang mahal. Tanpa rasa sepet, salak ini memiliki rasanya yang manis. Omzet petani pun berasa manis di kantong, yakni berkisar antara Rp 36 juta hingga Rp 72 juta sekali panen.

Siapapun tentu sudah tidak asing dengan buah salak pondoh yang banyak dihasilkan di daerah Yogyakarta. Tapi mungkin belum banyak yang tahu kalau belakangan daerah ini juga menghasilkan varietas baru buah salak, yakni salak madu.

Salak madu memiliki keunggulan dibandingkan salak lainnya, termasuk salak pondoh. Salak madu yang berasal dari Sleman, Yogyakarta ini memiliki ukuran lebih besar dibandingkan ukuran salak pada umumnya.

Buah ini dinamakan salak madu karena rasanya manis seperti madu. Jadi tidak ada rasa sepet seperti banyak ditemukan pada buah salak pada umumnya. Daging buahnya juga tebal dengan tekstur lembut. Selain itu, kandungan air pada salak ini lebih banyak dari salak biasa.

Karena berbagai kelebihannya itu, harga buah salak ini jauh lebih mahal dari salak biasa. Jika harga salak biasa di tingkat petani hanya Rp 2.000 per kilogram (kg), dan salak pondoh Rp 5.000 per kg, maka harga salak madu mencapai Rp 15.000 per kg. Sementara harga di pasaran sekitar Rp 35.000 per kg- Rp 40.000 per kg.

Homsinum, petani salak madu asal Sleman, Yogyakarta mengklaim, salak madu pertama kali ditemukan orang tuanya bernama Rameli. Varietas baru dari buah salak ini baru ditemukan beberapa tahun silam. "Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu di tengah tanaman salak pondoh orang tua saya ada dua salak yang tumbuh berbeda," ceritanya.

Perbedaannya ada pada ukurannya yang lebih besar dan rasanya juga lebih manis seperti madu. "Salak madu memiliki pasar yang menjanjikan saat ini," ujar Homsinum.

Salak tersebut kemudian dikembangbiakkan dan akhirnya terkenal dengan sebutan salak madu. Saat ini, Homsinum bersama orang tuanya membudidayakan salak madu di lahan seluas dua hektare (ha).

Menurutnya, salak madu bisa dipanen dua kali dalam setahun. Panen raya biasanya terjadi di bulan November dan Maret. Masa panen raya ini berlangsung dua minggu lebih. Saat panen raya, ia bisa memanen 24 kuintal atau 2.400 kg dalam dua minggu.

Dari situ, omzetnya mencapai Rp 36 juta sekali panen, atau Rp 72 juta dalam dua kali panen dalam setahun. Bila tidak sedang panen raya, ia tetap bisa memanen 50 kg dalam dua hari, dengan omzet minimal Rp 12 juta per bulan.

Mansur Mashuri, asal Turi, Sleman, Yogyakarta juga mulai fokus membudidayakan salak madu. Meski pasarnya belum seluas salak pondoh, Mansur sudah memasarkan salak madu ke beberapa wilayah, seperti Malang, Riau, dan Kalimantan. Selain buah, ia juga menjual bibit salak madu, dengan harga Rp 65.000-Rp 100.000 per batang." Omzet saya sekitar Rp 60 juta sekali panen," ujarnya.

Mari panen salak madu asal pasokan air cukup

Salak madu termasuk jenis salak unggul dengan ukuran lebih besar dan rasa yang lebih manis. Karena kelebihannya itu harga salak madu lebih mahal dibandingkan salak lainnya, termasuk salak pondoh. Makanya, banyak petani melirik varietas baru dari buah salak ini.

Apalagi, budidaya salak madu ini tidak begitu sulit. Menurut Homsinum, salah seorang petani salak pondoh asal Yogyakarta, salak madu bisa dikembangbiakkan dengan cara mencangkok dari induk pohon salak madu.

Menurutnya, budidaya salak madu dengan cara mencangkok lebih baik ketimbang budidaya dari biji. Dengan mencangkok dari pohon induknya, maka hasil buah salak madu sama dengan hasil buah induknya.

Menurut Homsinum, salak madu cocok ditanam di daerah pegunungan yang lembap. Dengan banyak mendapatkan air, salak ini akan memiliki buah lebih lebat.

Pencangkokan salak madu dapat dilakukan pada tunas baru yang muncul dari pohon induk. Butuh waktu selama empat bulan setelah dicangkok baru muncul tunas. Lalu tunas tersebut dipotong dan dimasukkan dalam polybag selama dua bulan sebelum ditanam di tanah. Selama di polybag akan terlihat bibit yang memiliki akar kuat dan bisa menjadi bibit unggul. Sementara bibit yang akarnya lemah akan mati. "Biasanya 90% bibit bertahan dan sisanya mati," jelas Homsinum.

Selama masa pembibitan di polybag, sebaiknya perlu diberikan pupuk kandang supaya bisa bertumbuh dengan cepat. Setelah dua bulan, petani dapat memindahkan salak madu dari polybag di lahan dengan jarak tanam sejauh 1,5 meter.

Sebaiknya, salak madu mendapatkan sinar matahari yang cukup dan disiram tiga kali dalam seminggu. Dua tahun setelah ditanam, salak madu sudah bisa mulai panen. Dalam satu tangkai bisa menghasilkan hingga dua kilogram buah salak.

Biasanya sejak menghasilkan bunga sampai matang, membutuhkan waktu selama enam bulan. Dari petani, harga buah salak madu dibanderol mulai dari Rp 15.000, sementara di pasaran harganya bisa melonjak hingga Rp 40.000 per kg.

Mansur Manshuri, petani dan pembibit salak madu lainnya menambahkan, salak madu cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 400 meter - 600 meter di atas permukaan laut. Adapun jarak tanam ideal salak madu 2,5 meter.

Dengan jarak itu, setiap pohon bisa menghasilkan buah hingga 5 kg. Sementara di lahan yang luasnya 1.000 meter persegi, sebaiknya ditempatkan minimal lima orang yang tugasnya mengawasi secara rutin perkembangan tanaman, seperti pemberian pupuk kandang, pengairan dan penyiangan.

Salak madu sangat baik ditanam di musim kemarau. Sebab, risiko terserang hama dan penyakit lainnya lebih rendah. "Tapi pastikan tetap mendapat pasokan air yang cukup," ujarnya.
(KONTAN)

Peluang Usaha Pertanian : Darno Kembangkan Sayuran Organik

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,













Medan
. Sejak tahun 2003 lalu, Darno berhasil mengembangkan tanaman sayuran organic seperti gambas, sawi, bayam, buncis, tomat. Dari tanaman yang dikembangkan dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya kosong tersebut, ia bisa meraih laba Rp 600.000 per bulan. Hal tersebut diungkapkan Darno, Senin (17/10) di Rispa I, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor. Ia menjelaskan, sayuran yang ditanamnya itu hanya menggunakan pupuk organik. "Masyarakat sudah semakin sadar pada kesehatan, karena itu kita menanam sayuran organik," katanya.

Untuk pemupukan, Darno dalam sebulannya memerlukan sekitar enam goni pupuk organik berasal dari pupuk kandang. "Pupuknya kita beli dari peternak ayam di Namorambe," ujarnya.

Ia mengatakan, sayur mayur yang ditanamannya itu umumnya dibeli oleh masyarakat setempat dan pelanggan dari luar Medan yang datang 4 kali dalam seminggu. "Untuk kebutuhan sayuran masyarakat sekitar, belinya kemari," katanya.

Peluang Usaha Pertanian : Andi mendirikan bank kotoran ternak untuk kesejahteraan petani

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,














Prihatin melihat nasib petani yang terimpit harga pupuk kimia, Andi Muhammad Arif Hidayatullah menggagas pendirian Bank Kotoran Ternak. Selanjutnya, kotoran itu diolah menjadi pupuk organik yang dijual kepada para petani dengan harga murah. Alhasil, petani pun akan terbebas dari pupuk kimia yang harganya semakin mahal.

Hasrat kuat untuk meningkatkan kesejahteraan para petani di sekitar tempat tinggalnya, membawa Andi Muhammad Arif Hidayatullah terlibat dalam pendirian dan pengelolaan Koperasi Syariah Bangun Tani Mandiri di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada tahun 2009.

Di koperasi yang fokus pada pemberdayaan kelompok tani ini, Arif demikian sapaan akrabnya, menggagas pendirian Bank Kotoran Ternak (BKT) sejak April 2011 lalu. Menurutnya, ide ini tercetus lantaran ia prihatin melihat nasib para petani yang terus terbebani oleh kenaikan harga pupuk kimia. Selain itu, pengetahuan soal pengolahan dan pemakaian pupuk organik dari kotoran ternak di kalangan petani juga masih minim.

Bukan itu saja, niat Arif ini makin kuat karena koperasi membeli tabung biogas yang bisa memproduksi pupuk organik dari kotoran ternak di koperasinya. "Setelah melakukan penyuluhan dengan anggota kelompok tani, akhirnya kami membantuk bank (kotoran ternak) ini sebagai wadah pengumpul bahan pembuat pupuk," ujarnya.

Arif ingin BKT tak hanya bermanfaat bagi petani. Ia juga ingin anak-anak petani bisa mendapatkan uang tambahan dengan ikut menyetor kotoran ternak yang kemudian ditukar dengan uang.

Setiap satu kilogram kotoran ternak itu, penyetor akan mendapat Rp 200 dari BKT. "Biasanya mereka akan mengambil uang pada akhir bulan, saat sudah terkumpul banyak," ujar pria yang kini berusia 30 tahun ini.

Sayang, dari sekitar 20 kelompok tani di Kecamatan Tanralili, baru dua kelompok yang aktif menyetor kotoran ternak di BKT. Padahal, jika 18 kelompok tani yang menjadi anggota koperasi, jumlah kotoran ternak akan lebih banyak.

Dengan setoran dua kelompok tani itu, BKT mampu memproduksi hingga empat ton pupuk organik, baik dalam bentuk cair maupun padat.

Untuk pupuk cair, Arif tidak menggunakan bahan baku kotoran dalam bentuk padat. Ia hanya memakai air seni hewan ternak serta air hasil pembersihan kandang hewan ternak.

Adapun untuk satu kilogram pupuk padat, diperlukan 700 gram kotoran kering. Sisanya adalah limbah padi. Semua bahan itu lantas difermentasi menjadi pupuk.

Dengan harga jual ke para petani sekitar Rp 1.000 per kg, Arif bilang, bank baru bisa meraup omzet Rp 4 juta per bulan. Ia pun menegaskan, kalau bank memang bukan mencari keuntungan.

Arif menjelaskan, tujuan BKT adalah membantu para petani yang terjepit harga pupuk yang kian melangit. "Kami bisa menghasilkan pupuk yang dijual dengan harga 300% lebih murah dari pupuk kimia," ujarnya.

Hanya saja, produksi pupuk organik belum bisa mencapai skala komersial karena keterbatasan bahan dan sumber dana manusia. Maklum, sebagian besar proses pembuatan pupuk ini dikerjakan secara manual.

Karena itu, BKT masih fokus pada penjualan pupuk untuk petani di Tanralili. "Saat ini, kami masih menyosialisasikan manfaat bank ini sehingga nanti bisa menarik lebih banyak kelompok tani untuk bergabung," ujar Arif optimistis.

Sebab, Arif yang memiliki cita-cita membangun pertanian di tanah kelahirannya itu ingin BKT benar-benar memberi keuntungan maksimal untuk petani. Arif pun tak pernah berhenti berkampanye tentang berbagai manfaat pupuk organik dan bagaimana membuatnya.

Menurut Arif, hasil penjualan pupuk organik yang ditampung dalam BKT juga akan dibagikan secara merata sesuai kontribusi anggotanya. "Komposisi pembagiannya adalah 70% untuk anggota dan 30% untuk biaya operasional bank ini," tutur lelaki yang menjadi finalis Community Entrepreneurs dari British Council pada 2011 ini.

Untuk mempersiapkan pasar bagi pupuk organiknya, Arif juga rajin memberi penyuluhan pada petani-petani yang berada di luar Kecamatan Tanralili. Alhasil, ketika produksi pupuk sudah makin besar, pasar akan siap menerima pupuk organik dari BKT.

Kini, meski masih dalam porsi mungil, pupuk organik memang telah dijual di luar Tanralili. "Namun, kami menjualnya dengan harga dua kali lipat untuk warga di luar Tanralili. Itu pun, dengan catatan, stok pupuk untuk kebutuhan petani Tanralili harus terpenuhi lebih dulu," jelas Arif.

Ia pun menghitung, jika seluruh kelompok tani yang berjumlah 20 unit di Tanralili ikut serta dalam pembuatan pupuk organik di BKT, maka bisa dihasilkan pupuk organik senilai Rp 92 juta per bulan. "Bayangkan, begitu besar potensi ekonomi dari kotoran yang dianggap tak berguna ini," tandasnya.

Untuk itu, ia berharap usaha pupuk organik ini akan memperoleh dukungan penuh, baik dari kelompok tani maupun pemerintah daerah setempat.

Arif pun percaya, idenya bisa diterapkan pada semua areal pertanian sehingga petani bisa merasakan manfaat yang lebih banyak. "Kami berharap pola seperti ini bisa membantu pola pertanian berkelanjutan serta menumbuhkan kesadaran petani tentang manfaat pupuk organik," imbuhnya,

Pria yang juga kini sedang menyusun rencana pembuatan wisata edukasi bagi para anak sekolah untuk berkunjung ke pabrik beras dan peternakan di Kabupaten Maros ini juga menyatakan, dengan menghasilkan pupuk organik sendiri, petani akan terhindar dari permainan harga pupuk yang selama ini membelenggu mereka.(KONTAN)

Untung Manis Pepaya California

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,















Bukan hanya buahnya saja yang terasa manis, tapi keuntungan dari membudidayakan pepaya california ini pun sama manisnya. Inilah yang dirasakan Min, petani pepaya di Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa. Di lahannya seluas satu hektare, ia menanam pepaya sebanyak 1.050 batang. Dengan produksi sekitar 5 ton sebulan, Min pun bisa mengantongi uang Rp 10 juta per bulan.

Sebelumnya, ia menanami lahannya itu dengan sayuran, namun karena hasilnya kurang memuaskannya, ia pun kemudian mengganti tanamannya dengan pepaya. Hasilnya sungguh tidak mengecewakan. Dengan modal awal sebesar Rp 6 juta, pepaya yang ia tanam kini telah berproduksi sekitar 5 ton setiap bulannya.

"Modal awal yang Rp 6 juta itu untuk keperluan membeli bibit, pupuk, dan ongkos penggemburan serta penanaman. Pengeluaran paling besar memang pada awal penanaman. Tapi selanjutnya, pengeluaran jauh berkurang sebab penggunaan pupuk juga bisa terus dikurangi, namun perawatan tetap harus dilakukan dengan baik," katanya kepada MedanBisnis, beberapa waktu yang lalu.

Dikatakannya, pada tahap awal ia melakukan penggemburan lahan dan pemupukan sebelum mulai ditanami dengan bibit yang baik. Dicontohkannya, jumlah pupuk kandang yang digunakan pada awal penanaman ini membutuhkan sebanyak 500 karung ukuran 50 kg yang harga setiap karungnya Rp 6.000. "Itu hanya untuk waktu pertama saja, selanjutnya jumlah pupuknya bisa dikurangi," katanya. Pemupukan hanya dilakukan 2,5 bulan sekali. Pada pemupukan berikutnya cukup menggunakan sebanyak 300 goni pupuk kandang.

Pemupukan secara teratur bisa memacu buah yang tumbuh menjadi lebih baik. Menurutnya, pada panen pertama, yaitu ketika tanaman berumur 6 bulan dengan tinggi pohon sekitar 2 meter, buah bisa tumbuh pada batang 40 cm dari tanah.




Pepaya california merupakan buah yang cukup digemari masyarakat lantaran rasanya yang manis dan harga yang sangat terjangkau. Buah tersebut bisa ditemukan di supermarket besar maupun di pasar tradisional di Sibolga, Nias, Batam, Pekanbaru, Palembang, Jambi dan tentu saja di Medan.
Masyarakat sudah bisa mendapatkan manfaat besar dari kandungan gizi di dalamnya, antara lain vitamin, betakaroten (anti oksidan), protein, lemak dan berbagai enzim dan senyawa yang sangat berguna bagi tubuh manusia dengan hanya mengeluarkan uang sedikit karena harganya yang murah. Meski namanya "Pepaya California" namun buah ini bukanlah buah impor yang didatangkan dari benua Amerika, melainkan buah lokal yang berasal dari Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa, Deliserdang, Sumatera Utara.

Menuju rumah salah seorang petani pepaya california bernama Min di Dusun II Desa Bandar Labuhan, terlihat di kanan dan kiri jalan berderet-deret pohon pepaya dengan buahnya yang masih menggantung dan siap dipetik. Berseling-seling dengan pepohonan kelapa, pohon pisang dan rumah warga. Oleh masyarakat sekitar, Pak Min lebih populer disapa dengan panggilan Min Cabai atau Min Pepaya.

Untuk menemukan rumahnya, dapat ditandai dengan lapangan bola di ujung sebelah kanan jalan. Lahan luas dengan tegakan pohon pepaya yang ditanam dengan jarak dua setengah kali dua meter dan di tengah-tengahnya terdapat satu rumah, di sana Min tinggal dengan keluarganya. Di sebelah kanan rumahnya terdapat tenda tempat pembibitan pepaya. Sedangkan sebelah kiri terdapat kebun cabai. Rumah tersebut dikelilingi dengan tanaman yang menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, pepaya california.

Di teras rumahnya, Min menyuguhkan pepaya yang warna dagingnya merah menyala dengan rasa yang manis. Ukurannya tidak begitu besar. Menurutnya, karakter pepaya california memang demikian. Yaitu berkulit tebal dan permukaannya rata, dagingnya kenyal, tebal, dan manis rasanya, biji yang tidak terlalu banyak. Bobotnya berkisar antara 600 gram sampai dengan 2 kg. "Buahnya tidak begitu besar dan agak lonjong, panjangnya tak lebih dari 30 cm," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pohon pepaya california sudah bisa berbuah sejak tanaman berusia 6 bulan. Pada usia tersebut, tingginya tidak sampai 2 meter namun buah yang muncul sangat banyak. "Buahnya muncul di batang jaraknya dari tanah 40 cm- 50 cm sampai ke ujungnya," katanya. Menurutnya, pohon pepaya akan terus berbuah sampai usia lebih dari 5 tahun jika dengan perawatan yang baik. Sementara dengan perawatan seadanya, masa berbuah terjadi selama 2,5 tahun.

Dari tiap pohonnya, buah yang bisa dipetik sebanyak 3-4 buah. "Yang lainnya dipetik waktu berikutnya, sembari menunggunya lebih besar lagi," tambahnya. Menurutnya, selama 2,5 tahun setiap pohonnya bisa menghasilkan 600 - 700 buah. Ia berpendapat, pada umumnya pohon pepaya bisa mengalami masa trek yang mana pertumbuhan buah hanya sedikit pada waktu tertentu, namun hal itu bisa disiasati dengan perawatan yang baik. Untuk itu, ia melakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dan pupuk ramah lingkungan (ramling).

"Saya tidak mau menggunakan pupuk kimia, karena pasti nanti akibatnya akan merusak tanaman dan tanahnya. Selain itu, masa untuk perbaikan tanahnya akan memakan waktu lama," ujarnya. Untuk pemupukan, dilakukan setiap 2,5 bulan sekali sebanyak 300 goni untuk lahan seluas 1 hektare dengan pohon sebanyak 1.050 batang.

Perawatan tersebut, selain untuk memompa produksi menjadi lebih besar, juga bisa mencegah dan mengurangi hama pepaya berupa kutu putih yang menyebabkan buah dan daun berkapur serta lalat buah yang bisa menyebabkan buah tidak bagus atau berjamur. Beberapa kendala yang biasa dialami tanaman pepaya adalah jika sudah terserang penyakit, daunnya mudah rontok, dan buah pepaya yang terserang jamur biasanya warnanya menjadi putih pucat, kulit buah tampak tidak segar.

Namun begitu, menurutnya, cara mengatasi hama tersebut tidaklah sukar. "Hama itu bisa diatasi dengan mudah," ujarnya.

Ia mengaku sudah sejak muda menjadi petani dan mengerti mengenai perawatan tanaman. Khusus mengenai pepaya california, ia mengaku bersedia membantu dan berbagi pengalaman untuk membudidayakannya.

Ia berpendapat, permintaan pepaya dari kebunnya sangat tinggi. Tidak hanya memenuhi permintaan dari Medan dan sekitarnya, pepaya dari kebunnya bahkan didistribusikan hingga Sibolga, Nias, Pekanbaru, Batam, Jambi dan Palembang. "Permintaan pepaya sangat tinggi, bahkan kadang kewalahan menerima pesanan," katanya.

Ia menjelaskan, pemesan dari Batam, setiap seminggu sekali datang mengambil pesanan sebanyak 1 ton. Sementara itu, pemesan dari beberapa toko buah di Medan dengan tempo yang sama, mengambil sebanyak rata-rata 0,5 ton. Dengan banyaknya permintaan pepaya, menurutnya, budidaya pepaya California sangat menjanjikan.
"Untungnya lebih banyak daripada tanaman sayuran, karena itu tidak salah pilihan beralih ke pepaya," katanya.

Di teras rumah Min sendiri juga terdapat ratusan buah pepaya yang baru dipetik dan dibungkus dengan kertas koran. Berat setiap buahnya rata-rata 1,2 kg dengan kulit buahnya masih berwarna hijau dan segar. Menurutnya, dalam beberapa hari, buah pepaya tersebut sudah matang dan siap untuk dinikmati. Pepaya tersebut sudah ada pemiliknya, yaitu pemesan dari salah satu toko buah di Medan. Buah tersebut dijualnya dengan harga Rp2.000/kg.

"Pepaya dari Dusun II, Bandar Labuhan ini nantinya masuk ke mal-mal di Medan dan daerah lain, tapi dengan merek lain yang bukan dari sini, dan harga jualnya jauh lebih tinggi," ujarnya.
Di Desa Bandar Labuhan, kata Min, paling tidak terdapat 10 hektare lahan pepaya milik warga yang buahnya didistribusikan keluar daerah. Karena itu, menurutnya, Bandar Labuhan sudah terkenal sebagai pusat budidaya pepaya.

Diakuinya, banyaknya permintaan buah pepaya california lantaran kualitas rasa yang baik. Selain rasa yang manis, pepaya California memiliki keunggulan yang lebih jika dibandingkan dengan beberapa varietas pepaya lainnya, yaitu tidak lembek meskipun sudah matang dan tidak berbau. "Buahnya merah, padat dan cita rasa yang segar," tambahnya.

Untuk memetik buah yang nama latinnya "Carica papaya" itu dari begitu banyak pohon, ia mengaku hanya dibantu oleh keluarganya. Ia tidak menggunakan tenaga pemetik dari luar karena ia dan keluarganya bisa melakukannya sendiri. Selain itu, bisa menghemat pengeluaran.
"Kita melakukan pemetikan hampir setiap hari, karena pesanan yang selalu datang dan kita tidak mau mengecewakan pelanggan," ujarnya.

Meskipun dari tiap pohonnya hanya bisa dipetik 3 - 4 buah saja dalam sebulan, namun ia dan keluarganya sudah bisa mendulang keuntungan manis dari membudidayakan pepaya california.


Ikut Menyediakan Bibit
Di pekarangan seluas satu hektare yang ditanami pepaya california, Min tidak hanya menerima pesanan pembelian buah pepaya. Di samping rumahnya, ia membuat pembibitan pepaya california dengan dibantu oleh anak dan istrinya.
"Sekarang ini, semakin banyak masyarakat yang berminat menanam pepaya california karena nilai jualnya yang tinggi," ujarnya kepada MedanBisnis beberapa waktu lalu di rumahnya di Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa. Karena itu, menurutnya, peluang mendapatkan keuntungan juga bisa didapatkan dari menjual bibit.

Namun begitu, katanya, yang lebih utama dari menjual bibit adalah untuk berbagi pengalaman dalam membudidayakan buah yang berasal dari Amerika Tengah dan banyak tumbuh di Meksiko dan Costa Rica itu. Tanaman yang merupakan famili caricaceae ini, menurutnya, dapat dengan mudah tumbuh di daerah tropis maupun subtropis. Selain itu, tanaman buah ini bisa tumbuh dan berkembang di daerah-daerah basah dan kering, dataran rendah maupun dataran tinggi, seperti daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut.

"Di sini siapapun bisa saja bertanya-tanya soal bagaimana membudidayakan pepaya california ini, mulai dari penyiapan lahan, pemilihan bibit, penanaman sampai bisa berbuah," tambahnya. Hal tersebut dilakukannya agar hubungan antara pembeli dan penyedia bibit tidak terputus. "Agar bisa terus komunikasi dan saling tukar informasi yang berkembang," katanya.

Ia menjelaskan selama ini pemesan bibit pepaya darinya berasal dari Batang Kuis, Tembung, Binjai, Pangkalan Brandan, sampai Aceh. "Khususnya Aceh, saat ini memang baru bibitnya yang masuk, sementara buahnya belum, tapi kalau daerah lainnya sudah," lanjutnya menambahi.

Pemesanan tersebut biasanya dalam jumlah ribuan. Namun ia juga menerima pesanan dalam jumlah yang lebih sedikit karena tidak semua orang yang berkeinginan menanam pepaya memiliki lahan yang luas. "Tapi kalau pesan, kasih tempo 1,5 bulan baru bisa ambil," ujarnya.

Hal tersebut, menurutnya, dikarenakan pembibitan mulai dari biji, di dalam polybag sampai tumbuh kecambah dan siap untuk dipindahkan ke tanah membutuhkan waktu sekitar 1,5 bulan. "Perlakuan semacam itu harus dilakukan agar bibit memiliki kualitas yang baik, dan produksi buah di tiap batangnya bisa lebih banyak," lanjutnya. Menurutnya, bibit yang baik juga didapatkan dari biji buah pilihan yang sudah matang.

Ratusan bibit yang berada di samping rumahnya, menurutnya, baru tumbuh kecambah dan dalam beberapa hari kemudian sudah bisa dipindahkan ke tanah. Pembibitan juga hanya dilakukan oleh dirinya dengan anak dan istrinya. Bibit-bibit tersebut dijualnya dengan harga yang cukup murah, yakni Rp 2.000/polybag. Bibit tersebut baru bisa dipindahkan ke tanah ketika berusia 15 hari. Pada usia itu, tingginya sudah mencapai 20 cm - 50 cm. "Baru setelah itu bisa ditanam ke tanah yang sebelumnya sudah digemburkan dan diberi pupuk kandang terlebih dahulu," katanya.

Penggunaan pupuk kandang, menurutnya, sangat dianjurkan karena dengan itu hasil produksi pertumbuhan buah dari tiap pohonnya bisa maksimal. "Kalau tanah di mana bibitnya tumbuh itu baik, niscaya hasilnya tidak akan mengecewakan, karena yang paling penting setelah kualitas bibit adalah perawatan yang juga telaten," tambahnya.

Perawatan yang baik dan mesti dilakukan itu antara lain dengan menjaga kebersihan lahan dari tumbuhnya rumput liar, menjaga drainase agar tidak ada genangan air, pemupukan dan penyiraman secara teratur ketika musim kemarau. "Perlakuan yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula," pungkasnya.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul