RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label bisnis pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis pertanian. Tampilkan semua postingan

Peluang Usaha Pertanian : Darno Kembangkan Sayuran Organik

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,













Medan
. Sejak tahun 2003 lalu, Darno berhasil mengembangkan tanaman sayuran organic seperti gambas, sawi, bayam, buncis, tomat. Dari tanaman yang dikembangkan dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya kosong tersebut, ia bisa meraih laba Rp 600.000 per bulan. Hal tersebut diungkapkan Darno, Senin (17/10) di Rispa I, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor. Ia menjelaskan, sayuran yang ditanamnya itu hanya menggunakan pupuk organik. "Masyarakat sudah semakin sadar pada kesehatan, karena itu kita menanam sayuran organik," katanya.

Untuk pemupukan, Darno dalam sebulannya memerlukan sekitar enam goni pupuk organik berasal dari pupuk kandang. "Pupuknya kita beli dari peternak ayam di Namorambe," ujarnya.

Ia mengatakan, sayur mayur yang ditanamannya itu umumnya dibeli oleh masyarakat setempat dan pelanggan dari luar Medan yang datang 4 kali dalam seminggu. "Untuk kebutuhan sayuran masyarakat sekitar, belinya kemari," katanya.

Terung Ungu, Tanaman Sela Menguntungkan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,


Sembari menunggu tanaman kelapa sawitnya dapat berproduksi, Muhammad Abidin tidak mau menyia-nyiakan lahan seluas tujuh rantenya tersebut, dengan menanam terung ungu. Mendapatkan Rp 8,5 juta dalam waktu empat bulan masa panen, ditambah lagi dengan keuntungan Rp 5,5 juta dari menanam timun di luas lahan lainnya 2,5 rante, ia bersama istrinya bisa menabung untuk mempersiapkan hadirnya sang buah hati yang dinantikan.

Dengan asyiknya mengutip buah terung ungu yang ditanam di belakang rumah di Dusun Belimbing Pasar V Desa Melati II Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai, laki-laki berusia 23 tahun ini tidak menghiraukan panasnya terik matahari di siang hari hingga azan zuhur menyadarkannya untuk menyelesaikan pekerjaan dan melaksanakan kewajiban ibadah.

Diceritakan Abidin, yang baru dua tahun menikah ini, menanam terung ungu memang baru dikembangkannya pertama kali dan baru memasuki panen dengan hasil yang dicapai 120 kg pada kutipan kedua. Dengan harga jual Rp 1.500 perkg, terung ungu itu gampang dipasarkan kepada agen.

“Modal tanaman terung ungu ini tidak terlalu banyak, berbeda dengan timun. Maka itu saya tertarik mengembangkannya sekarang sebagai tanaman tumpang sari dengan kelapa sawit yang masih muda sekitar 50 pokok,” ujarnya kepada MedanBisnis.

Kalau tanaman kelapa sawit ini nantinya sudah berumur tiga tahun, dikatakan Abidin, kemungkinan ia akan menggantikan tanaman lain yang tidak mengganggu perkembangan kelapa sawit tersebut. “Kemungkinan tanaman coklat, tapi kita lihat nanti. Kalau untuk terung ini bisa dikembangkan lagi di lahan lain yang sekarang sedang menanam timun,” ucapnya.

Diakuinya, menanam terung ungu tidaklah terlalu sulit, hanya membutuhkan bibit berkualitas seperti yang dipakainya bibit Antaboga dan penggunaan pupuk yang tepat serta perawatan, maka hasil terung ungu menjadi terbaik dengan ukuran per buahnya panjang dan bulat.

Memang saat ini menanam terung ungu masih merupakan dengan pola tumpang sari, sehingga produktivitas yang diperoleh sekadar saja. Padahal budidaya terung ungu sebetulnya cukup menjanjikan secara ekonomis. Karena permintaan pasar terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Penjualan terung ungu sangat gampang, meski harganya masih tergantung pasar sehingga petani tidak begitu bergairah mengembangkannya seperti jenis tanaman hortikultura lain,” akunya.

Terung ungu dapat mudah ditanam di mana saja, terlebih untuk wilayah yang berada di dataran tinggi. Tanaman terung ungu atau dengan istilah Solanum Melongena dapat tumbuh dengan baik pada suhu udara 22 hingga 30 derajat Celsius. Terung ini dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Dalam pertumbuhannya, terung ungu juga membutuhkan pencahayaan yang cukup.

Umur masa panen, sekitar empat bulan 4 bulan atau 90 hari sejak semai. Selanjutnya selang seminggu sekali, buah terung dapat dipanen sampai usia tanaman mencapai 9 bulan dengan 20 kutipan yang dilakukan dalam dua kali dalam seminggu.

“Pada kutipan pertama saya dapat terung ungu nya sebanyak 50 kg dan kutipan kedua sekitar 120 kg. Puncak produksi terbanyak itu biasanya pada kutipan ke sembilan dengan hasil bisa mencapai 600 kg. Berarti nanti hingga selesai panen akhir hasil terung yang didapat bisa mencapai sekitar 7 ton dengan harga jual Rp 15.00/kg,” ungkapnya.

Harga jual yang mencapai sekitar Rp 1.300per kg hingga Rp 1.500 per kg ini memang lumayan bagus dibandingkan harga jual timun yang kemarin sempat mencapai Rp 700-1.000 per kg.

Dengan modal yang mencapai Rp 1,5 juta untuk tanaman di luas lahan 2,5 rante tersebut, membuat Abidin mengalami kerugian. “Kalau sekarang memang harga timun sudah sekitar Rp 2.200 perkg. Kalau dengan harga ini memang masih bisa untung. Tapi dibandingkan dengan terung ungu yang modalnya tidak banyak dan gampang, maka masih bisa diandalkan pendapatan yang lebih dari si terung berwarna ungu ini,” pungkasnya.

Serangan Hama Dapat Dikendalikan
Selain tanaman yang gampang dengan modal sedikit, Abidin semakin menyukai mengembangkan tanaman terung ungu ini karena serangan hama dan penyakit pun tidak sulit untuk dikendalikan. Hanya menggunakan bibit yang baik, pupuk tepat guna dan perawatan, maka serangan hama tidak menjadi hal yang menakutkan sehingga keuntungan bisa diperoleh dengan utuh.

“Selain menggunakan pupuk urea dan kcl, saya juga memakai pupuk Ramah Lingkungan (Ramling) yang selalu berikan pada tanaman seminggu sekali. Bukan hanya tanaman yang menjadi subur dengan hasil buah menjadi bagus, tapi juga terhindar dari serangan hama dan penyakit sehingga tidak perlu mengeluarkan lagi biaya membeli obat pestisida,” katanya dengan bangga.

Penggunaan pupuk Ramling memang menjadi pilihan utamanya, karena serangan hama dan penyakit yang biasa ada pada tanaman terung ungu kini sudah dapat dikendalikan. Hama yang ada pada tanaman terung ungu yakni kutu kebol, ulat daun, ulat batang yang bukan saja membuat tanaman rusak, tapi hasil buah tidak bagus bahkan bisa gagal panen.

“Sebenarnya hama dan penyakit ini dapat dikendalikan dengan perlakuan tanah, antara lain fumigasi, drainase yang baik, dan rotasi tanaman serta penggunaan pupuk yang tepat,” imbuhnya. Pupuk Ramling yang merupakan pupuk cair ini, dikatakan Abidin, memiliki komposisi N sebanyak 3%, P 0,50% dan unsur K sebanyak 2% ditambah mikroorganisme. Pupuk bisa digunakan untuk semua jenis tanaman dari sayuran, pangan dan palawija serta tanaman perkebunan.

“Dalam satu liter pupuk ini, dapat untuk dua rante padi sampai panen. Berarti bisa menghemat 50% penggunaan pupuk kimia, pestisida dan hasil produksi meningkat,” ucapnya.

Tanaman yang terserang virus itu akan menunjukkan gejala bercak kuning di atas permukaan daun dan perlahan-lahan meluas hingga seluruh permukaan daun menguning. “Hama ini masih menjadi momok menakutkan karena memang belum ada obat yang ampuh untuk membasminya. Tapi dengan Ramling dapat menahan perkembangan siklus hama sehingga tanaman bisa lebih tumbuh dengan baik,” tuturnya.

Pupuk Ramling yang digunakannya memiliki kegunaan positif bagi tanaman karena dapat merangsang tumbuhnya daun dan meningkatkan jumlah daun serta tunas. Kemudian merangsang pembungaan, buah menjadi besar, menggemburkan tanah dan dapat menyediakan hara bagi tanaman. Pupuk juga dapat memperanjang umur tanaman dan produksi serta juga mengusir organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama kutu kebul.

“Ada Ramling bisa membantu semua jenis tanaman menghasilkan produksi yang banyak dan terhindar dari serangan hama serta penyakit. Dengan pemakaian ramling ini juga dapat menghemat biaya produksi tanaman sehingga hasil jual panen dapat dinikmati menyeluruh setelah dipotong modal pertama,” katanya.

Pedoman Budidaya

Benih terung sebaiknya disemaikan dulu sebelum ditanam pada lahan yang tetap. Pembuatan bedengan dan cara penyemaian terung tidaklah berbeda seperti perlakuan pada tomat. Untuk luas lahan 7 rante, Abidin menggunakan 3 bungkus bibit yang berukuran 20 gram yang dibeli dengan harga Rp 26.000. Setelah itu bibit terung sudah siap untuk dipindahkan di lahan penanaman.

Penanaman lahan disiapkan dan diolah terlebih dahulu, kemudian dibentuk bedengan. Di antara bedengan, haruslah dibuat parit yang berfungsi sebagai jalan dan pembuangan air saat musim hujan. Hal ini penting dilakukan karena terung tidak tahan genangan air. Setelah lahan disiapkan, sebaiknya bibit yang telah siap tanam dimasukkan secara tegak lurus ke dalam lubang tanam. Kemudian di sekitar lubang tanam disirami air agar tanah cukup lembap, tetapi tidak sampai tergenang.

Setelah tanam, penyiraman dilakukan kembali setiap 3 hari sekali hingga saat berbunga. Ketika masa berbunga, penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Namun, apabila penanaman dilakukan pada daerah kering, maka penyiraman dapat dilakukan lebih sering agar tanaman tidak layu kekeringan.

Warnanya yang menarik bisa menambah selera buat memakan si terung ungu ini, terung ungu sering kali diolah dalam bentuk sayuran matang. Namun sebenarnya apa manfaat tersembunyi di balik warna ungunya yang menarik. Warna ungu pada terung terbentuk karena andil dari zat antosianin yang merupakan pigmen pemberi warna ungu. Terung ungu kaya akan zat antosianin, sehingga warna ungunya cukup mendominasi pada terung.

Zat antosianin buat tubuh mampu berperan dalam menghambat oksidasi dari toksin dan juga mampu menghambat sel tumor. Bahkan dalam zat antosianin terdapat 2 komponen yaitu sianidin dan delphinidin yang bermanfaat mampu mencegah pertumbuhan sel kanker. Selain zat antosiadin dalam sayuran berwarna ungu termasuk terung ungu juga terdapat ellagic acid, di mana komponen tersebut bermanfaat untuk mencegah penggumpalan darah dan mencegah tumbuhnya beberapa jenis tumor dan kanker seperti kanker kulit, kanker pankreas, kanker payudara, kanker pencernaan dan kanker kolon.

Bahkan berdasarkan pengobatan tradisional terung ungu juga dipercayai dapat memelihara sel-sel tubuh dari kerapuhan, sehingga pembuluh darah tetap lentur atau elastis, menjaga pecahnya pembuluh darah serta meningkatkan gairah seksual dengan cara terung ungu dibersihkan, dicuci tanpa dibuang kulitnya diberi bumbu sesuai selera kemudian digoreng.

Seluruh bagian tanaman terung dapat dimanfaatkan sebagai obat; baik bunga, buah, tangkai, daun maupun akarnya. Terung mengandung gizi yang sangat tinggi dan berguna bagi kesehatan tubuh serta berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Terung mengandung air, protein, lemak, karbohidrat, kalori, serat kasar, abu, kalsium, besi, pospor, karotin, vitamin B1, B2, C dan P, asam nikotinat serta mengandung 750 mg vitamin P dalam setiap 100 gr berfungsi mengurangi kerapuhan pembuluh darah dan infiltrasinya.

Akar, daun dan buah serta bunga terung berkhasiat melancarkan peredaran darah, menghentikan pendarahan, menghilangkan rasa sakit, mengatasi batuk darah, rematik, buang air kecil dan besar berdarah, anggota tubuh kesemutan, beri-beri, sakit gigi, pendarahan usus,penebalan dinding pembuluh darah, serta mencerdaskan pikiran, dan bisa juga menghilangkan jerawat.

“Tidak hanya menguntungkan, ternyata terung pun membawa khasiat yang banyak sehingga permintaan dari masyarakat terus ada. Bukan hanya sebagai sayuran saja, tapi terung juga dicari untuk pengobatan yang memang sangat baik untuk kesehatan,” pungkas Abidin.

Peluang Usaha Pertanian : Menangguk Untung dari Sari Temulawak

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , , , ,







Berkah Tuhan Bumi Nusantara Indonesia ini sungguh luar biasa. Sebagian kecil di antaranya adalah temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Tanaman bangsa jahe-jahean ini mempunyai khasiat herbal amat beragam dan sudah menjadi perhatian dunia. Berbisnis temulawak, selain melestarikan budaya leluhur, juga menguntungkan.

Siapa yang tidak kenal temulawak? Khasiatnya yang beragam di bidang kesehatan seperti untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, menyembuhkan penyakit hepatitis, kulit, batu empedu, demam dan gangguan pencernaan menjadikan temulawak sebagai bahan baku utama dalam pembuatan obat, bahan makanan maupun minuman penyegar.

“Ibarat makan, temulawak merupakan nasi dalam pembuatan obat herbal. Hampir 80% bahan baku obat herbal adalah temulawak. Bahkan temulawak ini mempunyai potensi menjadi ikon nasional sebagaimana ginseng untuk Korea,” ujar Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Rifatul Widjhati pada acara Bincang Iptek BPPT, Rabu (6/4) lalu.

Dia menambahkan, “ Dalam bahasa inggris saja temulawak dikenal dengan sebutan Java Turmeric (Kunyit Jawa), ini membuktikan bahwa temulawak sudah lama dikenal dan digunakan masyarakat kita.”

Lebih lanjut Rifatul mengungkapkan, BPPT telah melakukan penelitian terhadap DNA fingerprint tanaman temulawak untuk membuktikan tanaman ini sebagai tanaman asli Indonesia. Itu berkaitan dengan upaya Malaysia dan India yang ingin mengklaim temulawak sebagai tanaman asli kedua negara.

Sementara, menurut Teuku Tajuddin dari Balai Penelitian Bioteknologi BPPT, lembaga tempat dia mengabdikan diri itu telah meneliti DNA dan varietas temulawak sejak 2008, rencananya akan selesai pada 2012.

“Penelitian ini untuk membuktikan apakah temulawak tanaman asli Indonesia, atau bukan. Penelitian menyangkut sidik jari, sebaran tanaman, dan jumlah varian, serta formulanya,’’ jelas Tajuddin dalam diskusi tentang potensi obat herbal Indonesia di BPPT, Jakarta, Rabu (6/4).

Tajuddin menyatakan, dia telah mengelompokkan tanaman temulawak ini mulai dari Lampung, Bali, Boyolali, Merauke, Ciamis, Bengkulu, Pulau Buru, Ambon, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu.

Dari hasil penelitian komposisi genetika, menunjukkan bahwa temulawak di Jawa dan Pulau Buru ada kesamaan. Demikian juga dengan kelompok tanaman yang jenisnya sama terdapat di Lampung, Boyolali, Ciamis, Pulau Buru, Sulawesi, NTB, Bengkulu, Merauke, memiliki jenis yang sama. Sedangkan dari Bali dan Ambon berbeda.

‘‘Untuk Bali memang belum lengkap datanya. Tapi untuk Ambon, berdasarkan catatan sejarah, asal usul temulawak dari Ambon. Dan berbeda dengan temulawak yang ada di tempat lain. Ini masih dalam pembuktian,’’ ujarnya.

Susah Dapat Klaim

Perbedaan itu bisa disebabkan karena evolusi alam. Apabila dari jumlah varian maupun komposisi khasiatnya lebih banyak ditemukan di Indonesia, maka tanaman itu bisa diklaim milik Indonesia.

Diakuinya untuk mendapat klaim tanaman asli Indonesia memang susah. Apalagi tanaman itu juga ditemui di India, Malaysia, Thailand, dan China. ‘‘Kalau hasilnya memang bukan asli Indonesia, ya kami akan katakan apa adanya dari hasil riset ini.’’

Namun dia optimistis karena Korea saja hanya memiliki 33 persen tanaman ginseng. ‘‘Dengan pembuktian sejarah dan teknologi DNA serta varian itu bisa membantu mengungkapkan petunjuk soal asal usul temulawak.’’

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT, Bambang Marwoto, mengatakan kajian tersebut diperlukan untuk melindungi tanaman temulawak sebagai plasma nutfah asli Indonesia agar tidak dieksploitasi dan dipatenkan oleh negara lain.

Secara morfologis, lanjut Bambang, memang sulit membuktikan temulawak sebagai tanaman asli Indonesia secara morfologis. “Karena di Indonesia banyak spesies temulawak dan banyak timbul beberapa varietas atau spesies baru. Untuk itu, perlu dibuktikan secara genetik, seperti upaya forensik terhadap manusia. Beberapa spesies temulawak punya senyawa aktif yang berbeda-beda. Seperti sidik jari, DNA temulawak dilihat dari senyawa aktifnya,” ungkapnya.

“Sidik jari DNA berlaku sebagai barcode atas tanaman unggulan lokal kita. Dengan ini, kita dapat melindungi sekaligus memanfaatkan sebesar-besarnya untuk masyarakat Indonesia,” kata Bambang.

Potensi Ekonomis

Temulawak sendiri mempunyai potensi ekonomis cukup besar. Atep Afia Hidayat, seorang penulis di blogforum kompasiana.com, belum lama ini menulis artikel kesehatan tentang potensi temulawak, yang di Jawa Barat dikenal dengan nama koneng gede itu.

“Belakangan ini temulawak makin naik daun, harganya mencapai USD 300 ( sekitar Rp 2,6 juta) per ton, dengan tingkat permintaan dunia mencapai 30.000 ton per tahun, sedangkan Indonesia baru bisa menyuplai 10 persen,” tutrnya.

Menurut Atep, meningkatnya nilai ekonomi temulawak, terutama disebabkan informasi yang meluas menyangkut khasiatnya dalam meredakan penyakit seperti hepatitis B. Selain itu, terjadi peningkatan minta masyarakat terhadap obat-obatan dari tumbuhan alami (fitofarmaka).

Berdasarkan catatan informasi yang dia kumpulkan, tahun 2000 omzet obat alami secara nasional mencapai Rp 1 triliun, dan tahun 2001 diperkirakan meningkat jadi Rp 1,4 triliun. Sementara pada Symposium Internasional Temu Lawak yang berlangsung 27-28 Mei 2008 di IPB, terungkap omzat obat alami atau obat tradisional tahun 2007 mencapai Rp 4 triliun, dan tahun 2008 menjadi Rp 7,2 triliun.

Atep juga mengungkapkan, memang belum ditemukan data yang akurat tentang mekanisme atau cara kerja temulawak dalam memerangi penyakit hepatitis. Namun, berdasarkan pengalaman masyarakat, khasiat temulawak sudah dikenal sebagai jamu yang ampuh untuk mengatasi sebah perut atau penyakit kuning (lever-Red).

Pengalaman dr. Melly Budhirman, seorang psikiater di Jakarta, sebagaimana diungkapkan dalam Intisari (September 1996), berawal dari gejala-gejala cepat lelah, nafsu makan menurun drastis kadang-kadang sampai muntah, dan bola mata kekuningan. Dari hasil pemeriksaan, ternyata terserang virus hepatitis B, yang kemungkinan ditularkan melalui jarum suntik yang tercemar virus.

Dalam perkembangannya, berdasarkan pemeriksaan lengkap melalui scanning dan biopsy dinyatakan menderita hepatitis kronis aktif, kemudian berkembang menjadi sirosis hepatitis. Satu-satunya obat yang diberikan, kortikosteroid dengan dosis cukup tinggi 4 x 10 mg. Namun ternyata menimbulkan efek samping berupa bengkak-bengkak pada tubuh, dan pemeriksaan fungsi hati menunjukkan hasil yang buruk.

Setelah memperoleh informasi menyangkut khasiat temulawak, dr.Melly lantas mengkonsumsi sari temulawak (rebusan temulawak) selama empat bulan berturut-turut. Hasil biopsy oleh Dr.Sadikin Darmawan, seorang patolog senior, menyatakan bahwa kondisi hati dr.Melly sehat.

Pengalaman serupa juga diungkapkan oleh seorang ibu di Bandung, setelah menempuh pengobatan alternatif di Garut selama lebih dari setahun (menggunakan ramuan tradisional, dengan bahan utama temulawak), penyakit hepatitisnya dinyatakan sembuh.

Secara medis modern, temulawak memang belum direkomendasikan sebagai obat. Namun secara empiris, khasiat temulawak yang luar biasa itu sudah terbukti nyata, bahkan diakui dunia. Hal itu tentu membuka lebar peluang berbisnis temulawak.
Sari Temulawak

Sejak zaman dulu kala, negeri ini sudah dikenal memiliki kekayaan dan keanekaragaman flora. Termasuk, beragam tanaman herbal yang bisa dimanfaatkan sebagai obat. Salah satu tanaman yang cukup populer dan punya khasiat ampuh sebagai penyembuh penyakit adalah temulawak. Tanaman ini merupakan famili Zingiberaceae, yang awalnya banyak ditemukan di hutan.

Sebagai salah satu herbal, temulawak dipercaya bisa mengatasi berbagai penyakit. Seperti, gangguan lever, mencegah hepatitis, meningkatkan produksi cairan empedu, membantu pencernaan, mengatasi radang lambung dan gangguan ginjal.

Dulu, nenek atau kakek kita biasa menyerap sari temulawak dengan cara merebusnya lalu meminum airnya. Kini, ada cara mengonsumsi temulawak yang lebih praktis. Yakni, temulawak instan. Salah satunya, temulawak instan produksi UD Sidariz di Blora, Jawa Tengah.

Karjan, pembina UD Sidariz, mengatakan, kelompok binaannya memproduksi temulawak instan sejak 2006. Mereka menjual temulawak instan dalam tiga kemasan, Yang pertama, kemasan saset berisi bubuk. Harganya Rp 10.000 per pak isi 10 saset. Kemudian, kemasan gelas plastik siap minum yang dijual seharga Rp 1.500 per kemasan. Dan yang ketiga, kemasan botol ukuran 650 ml dengan harga Rp 20.000 per botol.

Untuk menjaga pasokan temulawak, kelompok usaha itu memiliki lahan temulawak seluas 32,75 hektare. Ini adalah wilayah hutan rakyat yang dikelola bersama Perhutani. “Temulawak ditanam di sela-sela pohon jati,” kata Karjan. Dalam sebulan, kelompok usaha ini mengolah 5 kuintal temulawak. “Omzetnya masih kecil,” imbuhnya.

Pengenalan produk dan cara pemasaran merupakan salah satu kendala yang dihadapi kelompok usaha ini. Padahal, menurut Karjan, prospek minuman temulawak instan ini sangat bagus. Buktinya, salah satu perusahaan jamu berniat membeli produknya. “Jika spesifikasi yang diminta bisa kami penuhi maka kami akan memasok ke sana,” katanya.

Keyakinan akan cerahnya prospek bisnis ini pula yang membuat Lilik Indrawati menekuni bisnis temulawak instan. “Banyaknya orang beralih ke obat-obatan herbal ini, menyebabkan permintaan temulawak berdatangan,” ujarnya.

Lilik memasarkan temulawak instan dengan merek Temulawak Prima Herba, yang diproduksinya di Solo. Ia memasarkan produknya lewat internet, sehingga jangkauan pasarnya cukup luas. “Permintaan datang hampir dari seluruh Indonesia,” katanya. Tak heran, saban bulan Lilik mampu meraup omzet Rp 30 juta-Rp 40 juta dari bisnis ini.

Peluang Usaha Pertanian : Pasar Ramai, pusat manisan tertua di Medan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,


Sebagai salah satu tujuan wisata kuliner di Kota Medan, Pasar Ramai bak surga bagi para penggemar manisan. Sentra manisan ini sudah berdiri lebih dari tiga dekade. Tak heran, jenis manisan yang tersedia di pasar ini juga paling lengkap. Pedagang saling beradu kualitas manisan yang dijualnya.

Kota Medan merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Selain menyimpan banyak potensi wisata alam di sekitar Medan, ibukota Provinsi Sumatra Utara itu juga terkenal dengan wisata kuliner.

Kota ini punya banyak makanan khas. Sebut saja, soto medan, bikang ambon atau bolu meranti. Satu yang tak boleh terlewatkan saat ke Medan adalah mengunjungi Pasar Ramai yang terkenal sebagai pusat manisan di Medan.

Pasar yang terletak di Jl Thamrin ini menyediakan berbagai macam manisan. Mulai dari manisan salak, mangga, kedondong, ceremai, jeruk kesturi, mangga kering hingga pala kering. Ada sekitar 15 kios yang berjejer menjajakan beragam jenis manisan di sana.

Akses ke sentra ini, juga cukup mudah. Pasar ini terletak persis di sebelah Thamrin Plaza, salah satu pusat belanja ternama di Medan. Dari Kantor Walikota Medan hanya berjarak sekitar dua kilometer.

Menurut Tommy, salah satu pengelola kios, Pasar Ramai sudah menjadi pusat penjualan manisan sejak awal 1970-an. Yang unik, pemilik kios manisan ini sebagian besar masih satu keluarga. "Kebanyakan turun temurun dari keluarga," ujar Tommy.

Begitu pula dengan Leni yang meneruskan usaha sang nenek. "Awalnya, saya agak ragu menjalankan usaha ini, namun, setelah berjalan, ternyata sangat menguntungkan," ujarnya.

Banyak pengunjung yang memburu manisan di sini karena memang pasar inilah yang menyediakan manisan paling lengkap di Sumatra Utara. Namun dari sekian banyak jenis, manisan jambu biji yang paling banyak diminati.

Keunggulan manisan jambu yang telah terkenal tiga generasi ini lantaran keaslian rasa dan tidak menggunakan bahan pengawet. "Jambu yang dibuat manisan ini benar-benar diseleksi dengan baik. Selain itu, kami tak memakai pewarna dan hanya menggunakan gula asli," katanya.

Harga yang ditawarkan untuk tiap jenis manisan pun beragam. Untuk manisan jambu biji, ditawarkan mulai dari Rp 18.000 hingga Rp 35.000 per kg tergantung kualitas jambunya. Manisan mangga muda bahkan dijual hingga Rp 70.000 per kg, sementara harga jenis manisan lainnya bervariasi mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 50.000 per kg.

Leni mampu menjual hingga 100 kg segala jenis manisan per bulan. Dia bisa menikmati untung besar karena memproduksi sendiri mayoritas manisan buah dagangannya.

Harga manisan Leni relatif lebih tinggi ketimbang dagangan Tommy, yakni rata-rata, Rp 10.000 lebih tinggi ketimbang manisan milik Tommy. Toh, sah-sah saja memasang harga lebih mahal asalkan lebih tinggi pula kualitasnya.

Ketenaran Pasar Ramai sebagai pusat manisan diakui Sehat, salah seorang pengunjung pasar. Menurutnya, hampir seluruh keluarganya selalu berbelanja manisan ke pasar ini karena lebih lengkap dan paling lama berdiri. "Begitu juga kalau ada saudara yang datang ke Medan, pasti mereka membeli oleh-oleh manisan di sini," ujarnya.

Sebagai pusat jajanan manisan yang paling lengkap di Medan dan Sumatra Utara, pengunjung yang datang tidak cuma dari penduduk lokal dan wisatawan domestik. Banyak wisatawan asing yang juga datang untuk mencicipi kesegaran manisan. Sayang, para pedagang tak selalu bisa memenuhi semua permintaan.

Kebutuhan akan beragam jenis buah-buahan sebagai asupan vitamin bagi tubuh ikut mendongkrak penjualan beragam manisan di Pasar Ramai, Medan Sumatra Utara.

Sebagai pusat penjualan manisan terbesar di Medan, sentra manisan Pasar Ramai hampir selalu dipenuhi oleh pengunjung. Tidak hanya dari Medan, tapi juga pengunjung dari Pulau Jawa. Bahkan tidak jarang ada pembeli dari Malaysia, Hongkong, Thailand, dan China. Ini menandakan nama Pasar Ramai sudah dikenal hingga ke negeri tetangga.

Menurut Lenny, salah satu pedagang di Pasar Ramai, meski permintaan pengiriman manisan ke luar negeri cukup banyak, tidak semua pesanan dia layani. "Kami khawatir sampai di negeri tujuan, manisan tidak lagi segar," ujarnya. Ini tentu mengurangi kualitas manisan.

Secara umum manisan bisa tahan hingga tiga bulan kalau disimpan di dalam kulkas. Ia khawatir, kondisi manisan tak lagi layak konsumsi sesampainya di tempat tujuan. Apalagi, sudah terjadi proses perpindahan dari satu kontainer ke kontainer lain dalam pengiriman.

Lenny mengaku, hingga kini, ia masih melakukan trik-trik tertentu agar bisa mengirimkan satu kilogram manisan ke luar negeri. "Banyak persyaratannya," ujarnya singkat tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.

Bulan lalu, ia baru saja menolak permintaan 12 ton manisan ke Hongkong dan Singapura. Padahal, kalau dihitung-hitung, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai miliaran rupiah. Namun, Lenny memilih untuk tidak berurusan dengan pihak yang berwenang dan mencari aman dengan memfokuskan penjualan di dalam negeri.

Tidak semua manisan yang dijajakan di sentra ini berbahan baku dari Medan. Ada beberapa bahan baku buah yang dipasok dari Jakarta, bahkan ada yang impor dari negara Asia Tenggara seperti jeruk madu dan buah kana dari Malaysia.

Tommy, pedagang manisan lainnya, mengatakan bahwa para pemilik toko buah manisan di Pasar Ramai sangat berambisi menjadikan tempat ini sebagai pusat manisan paling lengkap. "Tidak masalah bahan bakunya dari wilayah lain, yang penting diolah dan dijualnya di tempat ini," ujarnya. Total, saat ini ada sekitar 23 jenis manisan yang siap dinikmati di sentra ini.

Karena persaingan antarpenjual cukup sengit, setiap toko harus pintar-pintar memberikan layanan yang memuaskan pelanggan. Tidak hanya keramahan, berbagai inovasi pun dilakukan untuk menarik minat pelanggan. Salah satu caranya dengan mengemas manisan dengan plastik yang dihiasi bermacam hiasan yang menarik.

Berdasarkan pengamatan, hanya sekitar lima toko yang memberikan kemasan khusus. Toko lain hanya menggunakan kemasan plastik biasa. Tommy, adalah salah satu pedagang yang menggunakan plastik khusus dengan pernak-pernik warna-warni. "Berdasarkan pengalaman selama ini, kemasan khusus memberikan nilai plus di mata konsumen," ujarnya bangga.

Pasar Ramai Medan sebenarnya juga tidak hanya menjual manisan. Seperti laiknya pasar lain, di sini banyak toko-toko busana serta makanan kering.

Sentra manisan Pasar Ramai kian ramai ketika hari raya dan musim liburan lain. Pada musim itu, penjualan para pedagang bisa mencapai lebih dari dua kali hari-hari biasa, bahkan hingga Rp 5 juta sehari. Untuk mempertahankan pelanggan, para pedagang terus menjaga kualitas berbagai produk yang dijual di jantung kota Medan ini.

Terletak di pusat kota Medan dan hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari Lapangan Merdeka, sentra manisan Pasar Ramai punya posisi yang sangat strategis karena berada tepat di jantung kota Medan.

Faktor lokasi ini pula yang mendukung ramainya sentra manisan yang buka sejak jam 8 pagi sampai pukul 17.00. Jumlah pengunjung akan meningkat drastis ketika memasuki hari-hari khusus yakni masa liburan, bulan puasa, dan hari-hari besar lainnya. Saat itu, penghasilan para pedagang tentu ikut membengkak.

Tommy, salah satu pemilik kios mengatakan, kalau omzetnya bisa mencapai Rp 3 juta hingga Rp 5 juta saat hari-hari besar. "Tapi, itu setahun sekali," ujarnya.

Ketika Imlek atau hari besar etnis Tionghoa tiba, Pasar Ramai juga akan kebanjiran pembeli. Apalagi, mayoritas pemilik kios merupakan warga Tionghoa yang sudah turun temurun berdagang di pasar ini. Tidak jarang satu orang pemain besar memiliki dua atau tiga toko, yang terdiri dari kios manisan atau pun menjual makanan-makanan khas Medan lainnya. Para pembeli yang datang dari China juga tidak terlepas dari pengaruh terkenalnya pasar ini di kalangan etnis Tionghoa.

Dani Lubis yang sudah menjual manisan di Pasar Ramai sejak tahun 1982 mengaku kalau saat Imlek dan bulan ramadhan, omzet tokonya meningkat hingga dua kali lipat. Ia bisa meraih Rp 1,2 juta hingga Rp 2 juta. "Kalau hari biasa hanya Rp 800.000," akunya.

Namun, di balik cerita ketenaran Pasar Ramai, tidak ada gading yang tak retak. Tommy mengeluhkan kondisi drainase yang buruk. Ketika hujan deras, tokonya kerap kebanjiran. "Memang tidak sampai terendam, tapi tetap saja jadi agak becek," keluhnya. Bau tak sedap terkadang ikut muncul saat musim hujan tiba.

Padahal, Tommy dan para pedagang lainnya sudah mematuhi berbagai macam aturan mulai dari iuran per bulan hingga uang sampah. Untungnya, kondisi pasar yang terkadang kurang nyaman tidak mempengaruhi para pelanggan yang datang.

Secara umum, para pedagang di Pasar Ramai mengharapkan perhatian lebih dari pemerintah daerah setempat untuk memperbaiki pasar. Menurut mereka, kondisi pasar yang rapi akan lebih meningkatkan daya tarik Pasar Ramai. Saat ini saja, Pasar Ramai, sesuai namanya, selalu dipadati pengunjung meskipun pasar tidak selalu dalam kondisi menyenangkan.

Keunggulan sentra manisan Pasar Ramai, selain jenisnya yang beraneka ragam, juga karena produk-produknya terkenal sangat segar. Tommy hanya menyimpan manisan buatannya paling lama tiga hari.

Pembuatan manisan yang sepenuhnya dilakukan sendiri pun menjamin standar kualitas manisan Tommy. Meski ia memasok beberapa bahan mentah di tempat lain, Tommy mengolah sendiri bahan baku tersebut menjadi manisan.

Tommy menceritakan secara singkat proses pembuatan manisan jambu biji. Jambu biji dikupas, dibuang bijinya, dan dipotong-potong. Setelah itu, jambu direndam dalam larutan air kapur selama dua jam, dicuci bersih, dan ditiriskan.

Jambu itu lantas dimasukkan dalam larutan gula yang telah dimasak bersama air hingga mengental. Untuk memberikan aroma yang sedap, ia menambahkan cengkeh dan kayu manis, jeruk nipis, dan garam. Jambu dimasukkan setelah larutan gula dingin dan dibiarkan sekitar 12 jam. "Dengan begitu, jambu biji terjaga kesegarannya saat dinikmati," ujarnya.

Para pedagang di Pasar Ramai yakin sentra ini akan bertahan dengan mempertahankan standar kualitas. Mereka tidak khawatir dengan makin banyaknya supermarket modern karena konsep pasar tradisional masih memiliki pelanggan. "Kami selalu percaya, manisan yang ada di pasar ini lebih orisinal dan lebih tahan lama," ujar Dani Lubis.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul