RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label buah buahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah buahan. Tampilkan semua postingan

Peluang Usaha Pertanian : Meraup laba dari usaha pembekuan buah segar kupas

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,












Banyak orang malas membuat jus buah karena enggan mengupas kulit buah. Tapi tak perlu risau, kali ini, ada produsen buah beku yang menawarkan buah beku yang sudah dikupas dan siap untuk diblender menjadi jus. Selain rumah tangga, pelanggan buah beku itu datang dari restoran.

Bagi sebagian orang, mengonsumsi jus buah tidak lagi sekadar kebutuhan tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Agar bisa menikmati jus buah, tentu bisa membuat jus sendiri, atau memesan di warung-warung penyedia jus atau di restoran.

Tapi, kalau Anda ingin mempertahankan hiegienitas, tak ada salahnya membuat jus sendiri. Masalahnya, membuat jus sendiri juga ribet karena harus mengupas buah sendiri yang jelas membutuhkan waktu.

Namun tak perlu risau. Sebab sekarang ada gerai Frozen Fruit yang khusus menjual buah beku tanpa kulit. Jadi, begitu beli bisa, potong-potong sesuai kebutuhan, dan langsung diblender. "Buah kami tinggal diblender dan diminum," kata Stanley, pemilik gerai Frozen Fruit di Semarang, Jawa Tengah.

Stanley memulai membuka gerai Frozen Fruit pada 2010 lalu. Ketika itu, ia melihat saat panen buah banyak buah yang tak bisa terjual lantaran membusuk sehingga terbuang sia-sia. "Saat itu saya membeli mesin pendingin agar buah petani bisa tersimpan lebih lama," kata Stanley.

Dengan modal mesin pendingin senilai Rp 15 juta itulah Stanley memulai bisnis dengan menjual lima jenis buah beku tanpa kulit yang sering dikonsumsi, seperti mangga, apel, jambu, stroberi, dan melon. "Usaha ini belum banyak pemain," ungkap Stanley.

Stanley menjual buah beku itu seharga Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram (kg). Ternyata, jualan itu laris manis. Bahkan dalam sebulan Stanley bisa menjual hingga 400 kg buah beku, dengan omzet sekitar Rp 16 juta. "Buah beku lebih tahan lama, bisa bertahan di lemari es hingga tiga bulan," kata Stanley yang juga pemilik usaha mebel di Semarang itu.

Menurut Stanley, permintaan buah beku itu datang dari kalangan rumah tangga hingga restoran di Semarang dan sekitarnya. Selain Stanley, Flegon Koen juga memproduksi buah beku merek Buabeku. Flegon membuka gerai Buabeku-nya di Jakarta. Ia terbilang pemain baru di bisnis buah beku ini. Namun begitu ia sudah memiliki pelanggan dari kalangan restoran di Jakarta.

Seperti halnya Stanley, Flegon yang baru membuka usaha kurang lebih dua bulan silam itu juga menjual buah beku yang sudah dikupas dan sudah siap untuk dijus. "Hasil observasi kami, pasar buah beku ini adalah restoran," ungkap Flegon.

Untuk membekukan buah itu, Flegon mendinginkan dalam alat bernama blast frezzer. Mesin pendingin ini diklaim memiliki kemampuan mendinginkan hingga beku sampai ke sari buah. Karena itu, "Buah beku kami mampu bertahan hingga tiga bulan atau lebih," klaim Flegon.

Meski baru buka dalam kurun dua bulan ini, Flegon mengaku sukses meraih 20 restoran yang menjadi pelanggan tetap buah bekunya. Untuk setiap restoran pelanggannya, Flegon memasok 3 kg sampai 4 kg buah beku setiap pekan.

Saat ini, Flegon sudah memproduksi 320 kg buah beku dalam sebulan. "Ini selalu habis setiap bulan untuk langganan saya dari restoran di Kelapa gading," terang Flegon.

Saat ini, Flegon menjual sembilan jenis buah yang laris, yakni alpukat, sirsak, mangga, jambu, stroberi, nanas, melon jepang, dan kedondong. "Harga jual buah beku itu mulai Rp 25.000 - Rp 58.000 per kg," kata Flegon yang mengaku mampu meraih omzet hingga Rp 15 juta saban bulannya itu. (KONTAN)

Berita Pertanian : Diserbu Apel Impor, Harga Apel Malang Anjlok

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,







MALANG. Petani apel di Malang, Jawa Timur, diresahkan dengan serbuan apel impor yang mengakibatkan harga apel Malang anjlok. Bahkan, eksistensi apel lokal menjadi terancam kelangsungannya.

Hal itu diresahkan Sugiman, Ketua Kelompok Tani Makmur Abadi, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Menurutnya, akibat serbuan apel impor, apel lokal semakin tersisih, karena kalah bersaing baik dari sisi harga maupun kualitas.

Menurutnya, persaingan harga tersebut sulit dihindari. Kalau apel lokal dipaksa menurunkan harga, jelas tidak mungkin, mengingat tingginya biaya produksi. Karena itu, petani berharap Pemerintah juga ikut memikirkan kelangsungan hidup para petani yang ada kota apel itu.

"Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, kemungkinan besar petani apel lokal Kota Batu akan tenggelam. Karena tidak bisa bertahan hidup," katanya, Senin (16/5/2011).

Kini, harga apel impor seperti apel Washington merah misalnya, mencapai Rp 1.500 per ons atau Rp 15.000 per kilogram. Sedangkan, harga apel lokal jenis Manalagi, dari tingkat petani hanya sebesar Rp 10.000 per kilogram dan masuk pasar harganya bisa mencapai Rp 17.000-Rp 20.000 per kilogram.

Salah satu pedagang apel, Ajeng (35) mengatakan, apel impor dari sisi kemasan maupun harga jauh lebih menarik dibanding apel lokal. "Karena itu saya berharap agar apel lokal juga menarik dari sisi kemasannya. "Sebenarnya, dari sisi harga bisa bersaing karena apel lokal mempunyai ciri rasa yang khas dibanding apel impor. Hanya saja dari sisi kemasan apel lokal penampilannya tidak semenarik apel impor," tambah dia.

Sementara itu, secara terpisah, berdasarkan data yang dimiliki Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI), sedikitnya ada enam komoditi pertanian nasional yang terancam produk impor. Komoditi itu adalah, durian, pisang, jeruk, semangka, cabe, dan apel.

Menurut Sekretaris Eksekutif KPPI Djoko Mulyono, KPPI saat ini sedang mendata kerugian para petani akibat maraknya produk pertanian impor untuk selanjutnya dilaporkan ke Menteri Perindustrian dan Perdagangan maupun Menteri Keuangan.

Vitamin C di Kiwi 5 Kali Lebih Efektif Diserap Tubuh

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,



Vitamin C di kiwi 5 kali lebih efektif diserap tubuh. (Foto: Dok Zespri)
Vitamin C di kiwi 5 kali lebih efektif diserap tubuh. (Foto: Dok Zespri)

KIWI, sebagai buah yang memiliki vitamin C tinggi dibanding buah-buah lainnya tak hanya baik untuk tubuh, namun vitamin C yang terdapat di kiwi juga terbukti lima kali lebih efektif diserap oleh tubuh.

Bukti ini diperkuat dengan hasil uji pra klinis yang dilakukan oleh University of Otago New Zealand, mengenai ketersediaan alami (bioavailibility) dan efikasi (kemanjuran) vitamin C dari sumber alami dibandingkan dengan vitamin C dari suplemen. Sumber alami yang digunakan dalam studi ini adalah buah kiwi Zespri Green dan Gold. Hasil studi ini telah dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition (pertama kali dipublikasi online pada Desember 2010).

Uji pra klinis ini menggunakan tikus putih pada percobaannya. Satu kelompok tikus putih diberi buah kiwi Zespri dalam bentuk gel dan kelompok lainnya diberi vitamin C yang berasal dari suplemen ke dalam air minumnya, selama satu bulan. Hasilnya, kelompok tikus yang diberi buah kiwi Zespri menunjukkan penyerapan vitamin C yang lebih efektif dan vitamin C tersebut mampu bertahan lebih lama di dalam tubuh.

"Vitamin C sangat berperan dalam tubuh, yaitu sebagai antioksidan, kofaktor untuk pembentukan kolagen dan berbagai hormon, dan peningkat sistem imun tubuh untuk mencegah berbagai penyakit. Namun, kadar vitamin C di tubuh sangat cepat menurun. Vitamin C mudah hilang dari jaringan lebih cepat dari yang dibayangkan, walaupun gejala kekurangan vitamin C tidak terlihat. Sehingga penting untuk mengonsumsi buah yang merupakan sumber vitamin C, secara teratur, agar dapat membantu menjaga kebutuhan vitamin C," kata Dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Fiastuti Witjaksono MS SpGK, dalam siaran persnya.

Lebih lanjut Dr Fiastuti mengungkapkan, "Salah satu buah yang terbukti memiliki kandungan vitamin C yang tinggi adalah buah kiwi. Mengonsumsi dua buah kiwi sehari mencukupi lebih dari kebutuhan harian vitamin C untuk orang dewasa, di mana kandungan vitamin C pada buah kiwi dua kali lebih tinggi dibandingkan jeruk dengan perbandingan berat (gram) yang sama. Keunggulan lain kiwi, adalah kaya akan asam folat yang bermanfaat bagi ibu yang ingin hamil, juga memiliki glycaemic indeks yang rendah sehingga aman bagi penderita diabetes."

Dengan manfaat yang terkandung di dalamnya, Zespri selalu mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat melalui uji klinis.

"Setiap tahunnya Zespri International konsisten mengadakan riset untuk mengembangkan kualitas buah kiwi Zespri. Tahun ini kami menyambut baik, suatu uji pra klinis yang diadakan oleh University of Otago dengan menggunakan vitamin C dari buah kiwi Zespri pada riset ini. Hasil riset ini tentunya menjadi bekal kami untuk meningkatkan penjualan buah kiwi Zespri di Indonesia pada tahun ini. Di Indonesia sendiri, buah kiwi Zespri dengan dua varian, Zespri Gold dan Zespri Green menjadi semakin popular," papar Judy Lee, Marketing Manager Zespri Asia.

Senada dengan Judy Lee, Yuyuh Sukmana selaku Market Development Manager untuk Indonesia mengatakan, "Penjualan tahun 2010 sekitar 1,5 juta ton, naik signifikan dari penjualan tahun 2009, sehingga tahun ini kami tingkatkan target penjulan menjadi sekitar 2,45 juta ton. Program edukasi kepada masyarakat masih menjadi andalan kami, di mana kami terus menggandeng media dalam pelaksanaan programnya. Tahun ini kami banyak melakukan program yang langsung menjangkau masyarakat."

"Tahun ini, musim ketersediaan buah kiwi Zespri di pasaran sejak bulan Mei hingga bulan September untuk buah kiwi Zespri Gold dan hingga bulan Desember untuk buah kiwi Zespri Green. Kami juga memiliki target untuk menjangkau seluruh Jawa, Bali, dan sebagian Sumatera khususnya Sumatera Utara, sebagai area distribusi buah kiwi Zespri," sambungnya.

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Kripik Buah Menggiurkan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Keripik Buah Yang Sudah Dikemas Siap

Beberapa jenis buah memiliki musim sendiri, yang suatu saat ada kalanya tidak bisa dinikmati. Namun, di Dusun Kandangan, Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Madiun, segala macam buah bisa dinikmati tanpa melihat musimnya.

Semua itu berkat ide kreatif Lambang Wijayanto (35), dengan mengeringkan berbagai jenis buah-buahan agar bisa dikonsumsi setiap saat. Warga RT 30, RW 10 ini, terinspirasi setelah melihat melimpahnya buah nangka pada setiap musim buah ini.
Ia mulai memproduksi keripik buah sekitar tahun 2000 silam. Dengan berjalannya waktu, kini Lambang tidak hanya membuat keripik nangka saja. Tetapi juga memroduksi keripik dari berbagai jenis buah lainnya, seperti keripik pisang, salak, nanas, apel, semangka, melon, mangga, bahkan durian.

“Awalnya, memang saya menggeluti usaha ini karena melimpahnya buah nangka di sekitar sini, setiap masim nangka. Lama kelamaan, justru semakin berkembang. Pasalnya, dari hasil produksi keripik buah ini, orang tidak perlu kesulitan mencari buah jika tidak pada musimnya,” terang lulusan MIPA Universitas Brawijaya Malang pada 1999 ini, pekan lalu.
Lambang mengakui, usaha yang digelutinya ini seringkali mengalami kesulitan bahan baku, yaitu buah musiman yang dibutuhkan untuk setiap produksi. Buah nangka misalnya, terpaksa hanya produksi saat musim buah itu tiba. Seandainya tidak pada musimnya, ia mau tidak mau harus memroduksi buah lainnya.

“Untuk buah musiman ini, kami terkadang juga menyiasati dengan memroduksi keripik sebanyak-banyaknya lalu menimbunnya. Agar sampai musimnya datang, stok keripik buah musiman masih ada,” jelasnya.

Sejak menggeluti usaha ini, selama hampir 11 tahun terakhir, lelaki yang telah dikaruniai 4 orang anak itu, mampu memroduksi 1 hingga 2 ton keripik buah setiap bulannya. Hal itu, bergantung persediaan bahan baku buah-buahan yang dapat diperoleh dalam setiap produksi.
Keripik buah aneka jenis itu kemudian dikemas dengan aluminium foil berukuran 250 gr, yang ditawarkan antara Rp 8.500-10.000. Untuk memroduksi keripik buah itu, Lambang mempekerjakan sebanyak 30 karyawan. Mereka terbagi dalam karyawan yang digaji secara borongan, harian, dan bulanan.

“Untuk karyawan pengupas buah, biasanya kami gaji Rp 1.700 per jam, kalau operator mesin pengering buah kami gaji bulanan,” ungkap Enggar, salah seorang adik kandung Lambang, yang dipercaya mengurusi masalah karyawan dan keuangan di usaha keripik buah ini.
Menurut perempuan alumnus ITN Malang tahun 2004 ini, uang yang bergulir dalam usaha produksi keripik buah berkisar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per bulan. Namun, dana itu belum terhitung atas sejumlah pelanggan atau toko yang tagihannya seringkali tidak membayar tepat waktu. “Semua itu, termasuk kebutuhan untuk gaji karyawan, beli bahan baku, dan tagihan yang masuk dari para pelanggan,” jelasnya.

Untuk pemasarannya, Enggar menuturkan, produksi keripik buah ini telah merambah Karesidan Madiun, Karasidenan Kediri, Malang, dan Surabaya. Kemudian, merambah Solo, Jogjakarta, Semarang, juga pasar di Jakarta, Bandung, dan Bogor. Sementara untuk luar Jawa, ia memasarkan di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. “Ekspor ke luar negeri pernah kami lakukan, tetapi sekarang tidak berjalan lagi,” kata Enggar.

Menurut Lambang, ekspor ke Jerman dengan jumlah permintaan sebanyak 900 kilogram per bulan sekali kirim, terhenti karena adanya krisis global yang terjadi awal 2009. Padahal, potensi pasar negara itu sangat besar, ini dilihat dari permintaan rutin setiap bulannya.
“Sebenarnya saya sempat kecewa karena ekspansi ke luar negeri yang sudah saya rintis sejak 2007 lalu harus terhenti sejak terjadi krisis global. Jerman menghentikan permintaannya. Beruntung permintaan dalam negeri terus meningkat,” urai Lambang.

Guna melayani permintaan pelanggan dari berbagai daerah, selain di rumahnya sendiri, Lambang juga menyediakan sebuah outlet dan toko di Kota Ponorogo. Sebab, selain ada pelanggan perorangan, selama ini ada juga pelanggan dari toko oleh-oleh makanan khas dan pelanggan yang tergolong sebagai tengkulak. Mereka akan menjual produk keripik buahnya lagi.
Salah seorang karyawan usaha kripik buah ini, Marwanto (44) mengaku, mendapatkan gaji Rp 1 juta lebih per bulan. Hal itu cukup membantunya, setelah sebelumnya harus merantau ke Malaysia dan Hongkong. Sehari-hari, ia membantu proses pembersihan kulit dan pemotongan buah, kemudian menjalankan mesin pengering buah mulai dari memasukkan buah hingga mengentas setelah kering.

“Untuk buah yang kadar airnya rendah membutuhkan waktu selama 1 jam dalam mesin pengiring (oven). Sedangkan buah yang kadar airnya tinggi, seperti semangka dan melon butuh waktu selama 1,5 jam untuk proses pengeringannya,” jelas lekaki yang dipercaya Lambang untuk menjaga stabilitas produksi setiap hari ini.

Hal yang sama diungkapkan pekerja kupas buah lainnya, Ny Nuryati (48). Perempuan ini justru sudah bekerja selama 10 tahun terakhir. “Usaha lainnya masih tetap sebagai buruh tani. Hal itu saya lakukan saat musim buah belum datang,” ujar Nuryati.

Peluang Usaha Pertanian : Mengecap manisnya laba bisnis manisan buah

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,


Pepaya, cabai, dan pala bisa disantap manis dan segar. Caranya, buah-buahan ini diolah menjadi manisan buah. Proses pembuatannya sederhana. Dari berniaga manisan buah ini, seorang perajin manisan di Bogor bisa menikmati omzet Rp 10 juta sebulan dari penjualan ke berbagai kota. Pasar manisan buah semakin segar ketika bulan puasa dan Lebaran tiba.

Mulyaningsih belajar membuat manisan buah dari nenek dan ibunya. Tahun 1980, sang nenek mendirikan usaha manisan buah di Desa Cimahpar. Ia adalah satu-satunya pengrajin manisan buah di desa yang terletak di Kecamatan Bogor Utara, Jawa Barat itu.

Sekarang, perajin manisan buah di Cimahpar berkembang menjadi 10 orang. Tahun 2005, usaha manisan buah bernama Mawar Sari itu diwariskan ke tangan Mulyaningsih. Ia mengurus produksi sampai distribusi manisan buah.

Mulyaningsih mempekerjakan 10 pegawai yang memproduksi tujuh varian manisan Mawar Sari. Ketujuh varian itu adalah pepaya, cabai, ceremai, pala, mangga, leunca, dan kolang-kaling. Produksi Mawar Sari paling besar adalah manisan pepaya. "Sepekan saya bisa menghasilkan 30 kilogram (kg) manisan pepaya," kata Mulyaningsih.

Perempuan 31 tahun ini memproduksi manisan pepaya berbentuk belimbing, jambu, dan stroberi. Tapi, rasanya tetap pepaya. Mulyaningsih menjual manisan pepaya seharga Rp 45.000 per kg.

Manisan cabai juga banyak peminatnya. "Kalau saya ikut pameran banyak orang cenderung pilih manisan cabai karena unik," kata Mulyaningsih. Meski namanya manisan cabai, tak ada rasa pedas di manisan ini. Rasa pedas ini tertutup rasa manis segar.

Sebulan Mulyaningsih mampu menghasilkan 40 kg manisan cabai. Harga manisan ini Rp 70.000 per kg. Pernah harga manisan cabai melonjak jadi Rp 80.000 per kg ketika harga cabai naik pada Januari 2011. Setelah harga cabai berangsur pulih, harga manisan cabai turun kembali.

Serupa manisan pepaya, manisan ceremai pun dijual Rp 45.000 per kg, sementara harga manisan pala Rp 35.000 per kg dan manisan kolang-kaling Rp 45.000 per kg. Dari penjualan seluruh varian manisan selama satu bulan, Mawar Sari bisa meraup omzet Rp 10 juta. Omzet akan melonjak tajam saat bulan puasa dan Lebaran. "Bisa sampai 50 kg manisan pepaya terjual dalam sehari," kata Mulyaningsih.

Manisan keluaran Mawar Sari tak hanya merambah Bogor. Produk berasa manis segar ini sudah melanglang ke Jakarta, Bengkulu, dan Batam. "Permintaan pemesan paling banyak dari Pulau Jawa," kata Mulyaningsih.

Para pemesan mengenal manisan Mawar Sari dari Facebook. Mulyaningsih bilang ia hanya mengandalkan situs jejaring sosial itu untuk memasarkan manisan Mawar Sari.

Ia menghitung, penjualan manisan buah Mawar Sari via pemasaran online bisa mencapai 50% dari seluruh penjualan dalam sebulan. Selain lewat dunia maya, Mulyaningsih menjual manisan buahnya ke banyak toko oleh-oleh di Bogor. "Saya ingin membuka toko tapi modalnya belum cukup," kata dia.

Pembuatan manisan ini cukup sederhana. Misalnya manisan cabai. Langkah pertama, biji dibuang dari tubuh cabai. Setelah tak ada lagi biji, kulit cabai direndam dalam air kapur sirih semalam. Setelah direndam, cabai itu dicuci bersih. "Kemudian cabai direbus dengan air biasa biar tak ada lagi sisa kapur sirih dan jernih," kata Mulyaningsih.

Setelah itu kulit cabai direbus dalam air gula. Dua kali sehari selama lima hari kulit cabang direbus agar gula meresap dan rasa pedas lenyap. "Cara membuat manisan lain sama saja. Hanya saja, kalau buah itu semakin asam, masa merebus di air gula lebih lama," tutur Mulyaningsih.

Perajin manisan juga dapat ditemui di Jakarta. Salah satunya, Imam Bastori, pemilik Bio Agrofarm Sarana. Ia mengolah buah carica, buah khas Dieng menjadi manisan carica. Dulu, manisan carica sempat diminati banyak orang. Sayang, belakangan ini pesanan manisan carica terus menurun.

Di Tanah Air, olahan buah mirip pepaya ini kurang begitu digemari. Padahal rasanya lumayan enak dan terasa menyegarkan, apalagi bila dikonsumsi saat cuaca terik.

Lagi pula, carica mengandung vitamin B kompleks dan vitamin E. Manisan buah ini juga aman dikonsumsi anak-anak dan orang dewasa, serta dipercaya memiliki berbagai manfaat lai. "Bahkan, carica mampu menghancurkan sel kanker bagi yang mengalami penyakit kanker payudara," klaim Imam memuji kehebatan manfaat carica dagangannya.

Nyatanya, kendati memiliki seabrek kelebihan dan terasa segar, permintaan carica dan manisan carica semakin merosot. Kalaupun ada penambahan penjualan produk, paling banyak ketika Lebaran tiba. Ketika itulah pesanan membeludak.

Imam merasa heran lantaran penurunan pesanan carica semenjak krisis moneter 2008 sampai saat ini belum juga pulih. Jika dulu Imam bisa mengekspor manisan carica ini hingga Eropa dan Meksiko, sekarang ini Bio Agrofarm hanya bergantung pada pasar lokal.

Imam bisa menjual manisan carica 150 botol tiap pekan. Imam memproduksi produk sirup dan manisan dari buah carica ini. Harganya Rp 15.000 per botol.

Selama ini Imam memasarkan produk manisan carica ke Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Untuk mengantisipasi penurunan penjualan, Imam kerap memasok manisan carica ke berbagai supermarket, toko, serta koperasi.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul