RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label bisnis hasil pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis hasil pertanian. Tampilkan semua postingan

Peluang Usaha Pertanian : Meraup laba dari usaha pembekuan buah segar kupas

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,












Banyak orang malas membuat jus buah karena enggan mengupas kulit buah. Tapi tak perlu risau, kali ini, ada produsen buah beku yang menawarkan buah beku yang sudah dikupas dan siap untuk diblender menjadi jus. Selain rumah tangga, pelanggan buah beku itu datang dari restoran.

Bagi sebagian orang, mengonsumsi jus buah tidak lagi sekadar kebutuhan tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Agar bisa menikmati jus buah, tentu bisa membuat jus sendiri, atau memesan di warung-warung penyedia jus atau di restoran.

Tapi, kalau Anda ingin mempertahankan hiegienitas, tak ada salahnya membuat jus sendiri. Masalahnya, membuat jus sendiri juga ribet karena harus mengupas buah sendiri yang jelas membutuhkan waktu.

Namun tak perlu risau. Sebab sekarang ada gerai Frozen Fruit yang khusus menjual buah beku tanpa kulit. Jadi, begitu beli bisa, potong-potong sesuai kebutuhan, dan langsung diblender. "Buah kami tinggal diblender dan diminum," kata Stanley, pemilik gerai Frozen Fruit di Semarang, Jawa Tengah.

Stanley memulai membuka gerai Frozen Fruit pada 2010 lalu. Ketika itu, ia melihat saat panen buah banyak buah yang tak bisa terjual lantaran membusuk sehingga terbuang sia-sia. "Saat itu saya membeli mesin pendingin agar buah petani bisa tersimpan lebih lama," kata Stanley.

Dengan modal mesin pendingin senilai Rp 15 juta itulah Stanley memulai bisnis dengan menjual lima jenis buah beku tanpa kulit yang sering dikonsumsi, seperti mangga, apel, jambu, stroberi, dan melon. "Usaha ini belum banyak pemain," ungkap Stanley.

Stanley menjual buah beku itu seharga Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram (kg). Ternyata, jualan itu laris manis. Bahkan dalam sebulan Stanley bisa menjual hingga 400 kg buah beku, dengan omzet sekitar Rp 16 juta. "Buah beku lebih tahan lama, bisa bertahan di lemari es hingga tiga bulan," kata Stanley yang juga pemilik usaha mebel di Semarang itu.

Menurut Stanley, permintaan buah beku itu datang dari kalangan rumah tangga hingga restoran di Semarang dan sekitarnya. Selain Stanley, Flegon Koen juga memproduksi buah beku merek Buabeku. Flegon membuka gerai Buabeku-nya di Jakarta. Ia terbilang pemain baru di bisnis buah beku ini. Namun begitu ia sudah memiliki pelanggan dari kalangan restoran di Jakarta.

Seperti halnya Stanley, Flegon yang baru membuka usaha kurang lebih dua bulan silam itu juga menjual buah beku yang sudah dikupas dan sudah siap untuk dijus. "Hasil observasi kami, pasar buah beku ini adalah restoran," ungkap Flegon.

Untuk membekukan buah itu, Flegon mendinginkan dalam alat bernama blast frezzer. Mesin pendingin ini diklaim memiliki kemampuan mendinginkan hingga beku sampai ke sari buah. Karena itu, "Buah beku kami mampu bertahan hingga tiga bulan atau lebih," klaim Flegon.

Meski baru buka dalam kurun dua bulan ini, Flegon mengaku sukses meraih 20 restoran yang menjadi pelanggan tetap buah bekunya. Untuk setiap restoran pelanggannya, Flegon memasok 3 kg sampai 4 kg buah beku setiap pekan.

Saat ini, Flegon sudah memproduksi 320 kg buah beku dalam sebulan. "Ini selalu habis setiap bulan untuk langganan saya dari restoran di Kelapa gading," terang Flegon.

Saat ini, Flegon menjual sembilan jenis buah yang laris, yakni alpukat, sirsak, mangga, jambu, stroberi, nanas, melon jepang, dan kedondong. "Harga jual buah beku itu mulai Rp 25.000 - Rp 58.000 per kg," kata Flegon yang mengaku mampu meraih omzet hingga Rp 15 juta saban bulannya itu. (KONTAN)

Peluang Usaha Pertanian : Kriuknya Laba Keripik Tempe

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,


Sentra industri rumahan keripik tempe di Dusun Sadang, Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, merupakan kawasan pembuat camilan berbahan baku kedelai terbesar di wilayah Karesidenan Madiun. Meski awalnya, hanya sebagai kampung penghasil tempe sayur rumahan, seiring berjalannya waktu jumlah perajin keripik tempe ini kian tak terbendung.

Pengusaha keripik tempe yang mulai berkembang sejak 1985 ini diperkirakan telah mencapai 400 orang. Hampir setiap tahun, kondisinya terus bertambah. Bahkan, sekarang tidak hanya di Sadang, namun berkembang ke perkampungan sebelahnya, di Desa Ngawi Purba, Kecamatan/Kabupaten Ngawi.

Semakin berkembang dan kian banyak pesaing itulah, yang mendorong pasangan suami istri, Dani (32) dan Tri Rukmini (28), warga Dusun Jetis Baru, Kelurahan Ngawi Purba, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, mulai berinovasi membuat keripik tempe dengan variasi rasa. Sejak dua tahun terakhir, produsen dengan merek ‘Dhimas’ ini memroduksi keripik tempe rasa barbeque, balado, dan keju.

“Persaingan usaha keripik tempe tidak hanya dari warga sekitar, tetapi juga dari wilayah lain, seperti Malang dan Trenggalek yang juga memiliki kampung industri keripik tempe. Inovasi keripik tempe tiga rasa itu kami lakukan setelah mencoba membuat keripik tempe bentuk bulat dan diterima pasar. Rata-rata pasar hanya menjual bentuk kotak atau lempeng,” terang Dani, pekan lalu.

Selama ini, ia mengaku belum berani memroduksi keripik tempe tiga rasa dan bentuk bulat dalam jumlah banyak. Untuk hasil inovasi itu, masih diproduksi sesuai pesanan distributor dan sales. Proses pembuatannya juga hampir sama dengan keripik tempe pada umumnya. Bedanya hanya pada penambahan rasa barbeque, keju, dan balado.

“Keripik varian rasa ini memang belum bisa diproduksi setiap hari. Namun, untuk keripik bulat sudah banyak yang mulai meniru di pasar,” urai Dani, yang memulai usaha ini sejak 2002 silam.
Kini, setelah melakukan berbagai inovasi dan bergelut hampir 10 tahun, produksinya kian hari semakin meningkat. Hampir setiap hari, tanpa mengenal libur, ia bersama 12 pekerjanya memroduksi antara 35-45 kilogram keripik tempe. Para pekerja itu memiliki tugas masing-masing, 2 orang membuat tempe, 3 orang pengiris, 3 orang penggoreng, serta 4 orang bagian pengemasan.

“Minimal, sepekan sekali kami mengirim satu mobil boks ke Lamongan sebagai pasar utamanya. Namun, pada saat liburan bisa mengirim hingga dua kali seminggu,” ungkap Dani, yang menjual kemasan produknya seharga Rp 2.500 per kemasan.

Meski demikian, produk keripik tempe ‘Dhimas’ ini juga dapat dinikmati pelanggan di wilayah Karesidenan Madiun, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Malang, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Sidoarjo, dan Surabaya. Untuk menguasai pasar itu, Dani harus mampu bersaing dengan produk keripik Tempe Malang dan Jogjakarta, yang telah beredar di pasar lebih awal.
“Kalau kami tak mampu mempertahankan kualitas rasa dan tidak berinovasi, pasti sulit menembus pasa,” jelas mantan produsen kacang goreng dan kering ini.

Tak Peduli Merek

Tidak hanya mengandalkan pembeli eceran dan hasil pengiriman langung, Dani selama ini juga mengandalkan jasa sejumlah sales dan distributor yang selalu memesan dalam jumlah besar. Meski dengan selisih harga cukup besar dan tanpa mencantumkan label miliknya, Dani tak pernah mempersoalkan. Alasannya, untuk kalangan pengusaha kecil seperti dirinya, yang lebih diutamakan adalah cash flow atau aliran uang tunai yang bisa segera diperolehnya.

“Wah, kalau nitip di toko-toko, bisa jadi saya gulung tikar. Barang belum habis uang tak bisa kembali, returnya pasti lebih banyak. Kalau ada sales dan permintaan permanen, dipastikan tak ada retur,” ungkap lulusan SMK Cepu ini.

Dani mencontohkan, hasil produksinya banyak diambil distributor Malang, Jogjakarta, dan Sidoarjo. Akan tetapi, selama ini, para distributor itu tidak pernah memasang atau menggunakan merek miliknya. Rata-rata mereka menggunakan labelnya sendiri-sendiri.
“Kalau orang Ngawi, pasti tau rasa keripik hasil buatan sini, meski dijual di kota lain atau labelnya diubah. Saya yakin, semua produsen di sini tak pernah mempersoalkan merek. Yang utama, pemasaran cepat dan bisa menghasilkan uang tunai,” tegas bapak 2 anak ini.

Terkecuali persoalan kenaikan bahan baku kedelai impor, Dani mengaku, ia tidak pernah merasakan kesulitan dalam menjalankan usahanya. Namun, ia berharap perhatian dan bantuan dari Pemkab Ngawi. Selama ini, proses produksi keripik tempe masih dilakukan secara manual, mengandalkan tenaga manusia dan peralatan tradisional seadanya.

“Nah, untuk mengajukan bantuan dan lain-lain harus ada SIUP dan NPWP, tetapi juga harus menggunakan jaminan, kan sama juga bohong. Artinya, saya mengajukan bantuan secara pribadi, disertai jaminan dan survei,” urai Dani.

Salah seorang pengusaha keripik tempe tertua, Kemis (50) mengungkapkan, pembuat keripik tempe di Sadang pertama kali dilakukan Pak Durrahman. Saat itu, ia membuat keripik tempe, ketika di Sadang para produsen tempe kelebihan bahan baku kedelai.

“Namun, dalam perkembanganya, usaha ini menjadi industri rumahan. Untuk memertahankan dan membesarkan usaha ini, ada yang menjadi anggota koperasi dan ada pula yang mengandalkan bantuan bank titil,” tandas pemilik Ika Keripik Tempe ini.

Bisnis Kuliner di Sulawesi Selatan Semakin Prospektif

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

MAKASSAR. Bisnis kuliner di Sulsel sangat menjanjikan. Hal itu diungkapkan pakar kuliner Indonesia, Bondan Winarno, dalam workshop Kelana Kuliner di CitraLand Celebes Makassar

Untuk itu, pakar kuliner ini tidak main-main membuka bisnis kuliner di Sulsel. Selain Warung Kopi Tiam Oey, Bondan juga akan membuka pusat kuliner di ruko I-Walk CitraLand Celebes.

Sebagai salah satu langkah mendirikan pusat kuliner di ruko I-Walk tersebut, PT Ciputra Fajar Mitra selaku pengembang CitraLand Celebes bersama Kelana Rasa Bondan Winarno, menggelar Kelana Kuliner, Minggu, 29 Mei. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan berbagai lomba, di antaranya, koki cilik, lomba masa dewasa, kelas pengenalan teh oleh Ratna Soemantri, juga talkshow seputar bisnis kuliner bersama Bondan Winarno.

Lauw Hendra mengatakan, saat ini ruko I-Walk dengan jumlah 108 unit sudah rampung dan dilakukan penyerahan kunci kepada user. Terkait dengan rampungnya ruko I-Walk, kawasan Hertasning saat ini kekurangan tempat kongkow-kongkow. Kehadiran pusat kuliner di I-Walk, diharapkan bisa ikut mendorong tingkat kunjungan masyarakat ke kawasan tersebut.

Hendra melanjutkan, pihaknya menggandeng Bondan Winarno karena pihaknya tahu kapasitas pemandu acara Wisata Kuliner di salah satu stasiun televisi swasta tersebut. Bondan sendiri menjelaskan, pusat makanan yang akan dibangun bernama Pusat Kuliner Mak Nyus Bondan Winarno.

Di tempat tersebut akan menyajikan makanan Manado, Jawa, juga Arab, tentunya juga makanan Makassar. "Jadi satu tempat nantinya akan banyak jenis makanan," ujarnya.

Dengan green concept lanjut Bondan, pemilik rumah atau orang yang tinggal di kawasan Hertasning tidak usah kita jauh-jauh untuk makan. Cukup ruko I-Walk, bisa naik sepeda, atau jalan kaki saja. "Supaya sehat, tidak usah menambah polusi dengan kendaraan bermotor," ungkapnya.

Wisata Kuliner tersebut dirangkaikan dengan promosi penjualan. Setiap user yang melakukan transaksi pada kesempatan tersebut, akan mendapatkan kesempatan jalan-jalan bersama Bondan Winarno ke Vietnam selama tiga hari empat malam.

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Kripik Buah Menggiurkan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Keripik Buah Yang Sudah Dikemas Siap

Beberapa jenis buah memiliki musim sendiri, yang suatu saat ada kalanya tidak bisa dinikmati. Namun, di Dusun Kandangan, Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Madiun, segala macam buah bisa dinikmati tanpa melihat musimnya.

Semua itu berkat ide kreatif Lambang Wijayanto (35), dengan mengeringkan berbagai jenis buah-buahan agar bisa dikonsumsi setiap saat. Warga RT 30, RW 10 ini, terinspirasi setelah melihat melimpahnya buah nangka pada setiap musim buah ini.
Ia mulai memproduksi keripik buah sekitar tahun 2000 silam. Dengan berjalannya waktu, kini Lambang tidak hanya membuat keripik nangka saja. Tetapi juga memroduksi keripik dari berbagai jenis buah lainnya, seperti keripik pisang, salak, nanas, apel, semangka, melon, mangga, bahkan durian.

“Awalnya, memang saya menggeluti usaha ini karena melimpahnya buah nangka di sekitar sini, setiap masim nangka. Lama kelamaan, justru semakin berkembang. Pasalnya, dari hasil produksi keripik buah ini, orang tidak perlu kesulitan mencari buah jika tidak pada musimnya,” terang lulusan MIPA Universitas Brawijaya Malang pada 1999 ini, pekan lalu.
Lambang mengakui, usaha yang digelutinya ini seringkali mengalami kesulitan bahan baku, yaitu buah musiman yang dibutuhkan untuk setiap produksi. Buah nangka misalnya, terpaksa hanya produksi saat musim buah itu tiba. Seandainya tidak pada musimnya, ia mau tidak mau harus memroduksi buah lainnya.

“Untuk buah musiman ini, kami terkadang juga menyiasati dengan memroduksi keripik sebanyak-banyaknya lalu menimbunnya. Agar sampai musimnya datang, stok keripik buah musiman masih ada,” jelasnya.

Sejak menggeluti usaha ini, selama hampir 11 tahun terakhir, lelaki yang telah dikaruniai 4 orang anak itu, mampu memroduksi 1 hingga 2 ton keripik buah setiap bulannya. Hal itu, bergantung persediaan bahan baku buah-buahan yang dapat diperoleh dalam setiap produksi.
Keripik buah aneka jenis itu kemudian dikemas dengan aluminium foil berukuran 250 gr, yang ditawarkan antara Rp 8.500-10.000. Untuk memroduksi keripik buah itu, Lambang mempekerjakan sebanyak 30 karyawan. Mereka terbagi dalam karyawan yang digaji secara borongan, harian, dan bulanan.

“Untuk karyawan pengupas buah, biasanya kami gaji Rp 1.700 per jam, kalau operator mesin pengering buah kami gaji bulanan,” ungkap Enggar, salah seorang adik kandung Lambang, yang dipercaya mengurusi masalah karyawan dan keuangan di usaha keripik buah ini.
Menurut perempuan alumnus ITN Malang tahun 2004 ini, uang yang bergulir dalam usaha produksi keripik buah berkisar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per bulan. Namun, dana itu belum terhitung atas sejumlah pelanggan atau toko yang tagihannya seringkali tidak membayar tepat waktu. “Semua itu, termasuk kebutuhan untuk gaji karyawan, beli bahan baku, dan tagihan yang masuk dari para pelanggan,” jelasnya.

Untuk pemasarannya, Enggar menuturkan, produksi keripik buah ini telah merambah Karesidan Madiun, Karasidenan Kediri, Malang, dan Surabaya. Kemudian, merambah Solo, Jogjakarta, Semarang, juga pasar di Jakarta, Bandung, dan Bogor. Sementara untuk luar Jawa, ia memasarkan di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. “Ekspor ke luar negeri pernah kami lakukan, tetapi sekarang tidak berjalan lagi,” kata Enggar.

Menurut Lambang, ekspor ke Jerman dengan jumlah permintaan sebanyak 900 kilogram per bulan sekali kirim, terhenti karena adanya krisis global yang terjadi awal 2009. Padahal, potensi pasar negara itu sangat besar, ini dilihat dari permintaan rutin setiap bulannya.
“Sebenarnya saya sempat kecewa karena ekspansi ke luar negeri yang sudah saya rintis sejak 2007 lalu harus terhenti sejak terjadi krisis global. Jerman menghentikan permintaannya. Beruntung permintaan dalam negeri terus meningkat,” urai Lambang.

Guna melayani permintaan pelanggan dari berbagai daerah, selain di rumahnya sendiri, Lambang juga menyediakan sebuah outlet dan toko di Kota Ponorogo. Sebab, selain ada pelanggan perorangan, selama ini ada juga pelanggan dari toko oleh-oleh makanan khas dan pelanggan yang tergolong sebagai tengkulak. Mereka akan menjual produk keripik buahnya lagi.
Salah seorang karyawan usaha kripik buah ini, Marwanto (44) mengaku, mendapatkan gaji Rp 1 juta lebih per bulan. Hal itu cukup membantunya, setelah sebelumnya harus merantau ke Malaysia dan Hongkong. Sehari-hari, ia membantu proses pembersihan kulit dan pemotongan buah, kemudian menjalankan mesin pengering buah mulai dari memasukkan buah hingga mengentas setelah kering.

“Untuk buah yang kadar airnya rendah membutuhkan waktu selama 1 jam dalam mesin pengiring (oven). Sedangkan buah yang kadar airnya tinggi, seperti semangka dan melon butuh waktu selama 1,5 jam untuk proses pengeringannya,” jelas lekaki yang dipercaya Lambang untuk menjaga stabilitas produksi setiap hari ini.

Hal yang sama diungkapkan pekerja kupas buah lainnya, Ny Nuryati (48). Perempuan ini justru sudah bekerja selama 10 tahun terakhir. “Usaha lainnya masih tetap sebagai buruh tani. Hal itu saya lakukan saat musim buah belum datang,” ujar Nuryati.

Peluang Usaha Pertanian : Menangguk Untung dari Sari Temulawak

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , , , ,







Berkah Tuhan Bumi Nusantara Indonesia ini sungguh luar biasa. Sebagian kecil di antaranya adalah temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Tanaman bangsa jahe-jahean ini mempunyai khasiat herbal amat beragam dan sudah menjadi perhatian dunia. Berbisnis temulawak, selain melestarikan budaya leluhur, juga menguntungkan.

Siapa yang tidak kenal temulawak? Khasiatnya yang beragam di bidang kesehatan seperti untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, menyembuhkan penyakit hepatitis, kulit, batu empedu, demam dan gangguan pencernaan menjadikan temulawak sebagai bahan baku utama dalam pembuatan obat, bahan makanan maupun minuman penyegar.

“Ibarat makan, temulawak merupakan nasi dalam pembuatan obat herbal. Hampir 80% bahan baku obat herbal adalah temulawak. Bahkan temulawak ini mempunyai potensi menjadi ikon nasional sebagaimana ginseng untuk Korea,” ujar Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Rifatul Widjhati pada acara Bincang Iptek BPPT, Rabu (6/4) lalu.

Dia menambahkan, “ Dalam bahasa inggris saja temulawak dikenal dengan sebutan Java Turmeric (Kunyit Jawa), ini membuktikan bahwa temulawak sudah lama dikenal dan digunakan masyarakat kita.”

Lebih lanjut Rifatul mengungkapkan, BPPT telah melakukan penelitian terhadap DNA fingerprint tanaman temulawak untuk membuktikan tanaman ini sebagai tanaman asli Indonesia. Itu berkaitan dengan upaya Malaysia dan India yang ingin mengklaim temulawak sebagai tanaman asli kedua negara.

Sementara, menurut Teuku Tajuddin dari Balai Penelitian Bioteknologi BPPT, lembaga tempat dia mengabdikan diri itu telah meneliti DNA dan varietas temulawak sejak 2008, rencananya akan selesai pada 2012.

“Penelitian ini untuk membuktikan apakah temulawak tanaman asli Indonesia, atau bukan. Penelitian menyangkut sidik jari, sebaran tanaman, dan jumlah varian, serta formulanya,’’ jelas Tajuddin dalam diskusi tentang potensi obat herbal Indonesia di BPPT, Jakarta, Rabu (6/4).

Tajuddin menyatakan, dia telah mengelompokkan tanaman temulawak ini mulai dari Lampung, Bali, Boyolali, Merauke, Ciamis, Bengkulu, Pulau Buru, Ambon, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu.

Dari hasil penelitian komposisi genetika, menunjukkan bahwa temulawak di Jawa dan Pulau Buru ada kesamaan. Demikian juga dengan kelompok tanaman yang jenisnya sama terdapat di Lampung, Boyolali, Ciamis, Pulau Buru, Sulawesi, NTB, Bengkulu, Merauke, memiliki jenis yang sama. Sedangkan dari Bali dan Ambon berbeda.

‘‘Untuk Bali memang belum lengkap datanya. Tapi untuk Ambon, berdasarkan catatan sejarah, asal usul temulawak dari Ambon. Dan berbeda dengan temulawak yang ada di tempat lain. Ini masih dalam pembuktian,’’ ujarnya.

Susah Dapat Klaim

Perbedaan itu bisa disebabkan karena evolusi alam. Apabila dari jumlah varian maupun komposisi khasiatnya lebih banyak ditemukan di Indonesia, maka tanaman itu bisa diklaim milik Indonesia.

Diakuinya untuk mendapat klaim tanaman asli Indonesia memang susah. Apalagi tanaman itu juga ditemui di India, Malaysia, Thailand, dan China. ‘‘Kalau hasilnya memang bukan asli Indonesia, ya kami akan katakan apa adanya dari hasil riset ini.’’

Namun dia optimistis karena Korea saja hanya memiliki 33 persen tanaman ginseng. ‘‘Dengan pembuktian sejarah dan teknologi DNA serta varian itu bisa membantu mengungkapkan petunjuk soal asal usul temulawak.’’

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT, Bambang Marwoto, mengatakan kajian tersebut diperlukan untuk melindungi tanaman temulawak sebagai plasma nutfah asli Indonesia agar tidak dieksploitasi dan dipatenkan oleh negara lain.

Secara morfologis, lanjut Bambang, memang sulit membuktikan temulawak sebagai tanaman asli Indonesia secara morfologis. “Karena di Indonesia banyak spesies temulawak dan banyak timbul beberapa varietas atau spesies baru. Untuk itu, perlu dibuktikan secara genetik, seperti upaya forensik terhadap manusia. Beberapa spesies temulawak punya senyawa aktif yang berbeda-beda. Seperti sidik jari, DNA temulawak dilihat dari senyawa aktifnya,” ungkapnya.

“Sidik jari DNA berlaku sebagai barcode atas tanaman unggulan lokal kita. Dengan ini, kita dapat melindungi sekaligus memanfaatkan sebesar-besarnya untuk masyarakat Indonesia,” kata Bambang.

Potensi Ekonomis

Temulawak sendiri mempunyai potensi ekonomis cukup besar. Atep Afia Hidayat, seorang penulis di blogforum kompasiana.com, belum lama ini menulis artikel kesehatan tentang potensi temulawak, yang di Jawa Barat dikenal dengan nama koneng gede itu.

“Belakangan ini temulawak makin naik daun, harganya mencapai USD 300 ( sekitar Rp 2,6 juta) per ton, dengan tingkat permintaan dunia mencapai 30.000 ton per tahun, sedangkan Indonesia baru bisa menyuplai 10 persen,” tutrnya.

Menurut Atep, meningkatnya nilai ekonomi temulawak, terutama disebabkan informasi yang meluas menyangkut khasiatnya dalam meredakan penyakit seperti hepatitis B. Selain itu, terjadi peningkatan minta masyarakat terhadap obat-obatan dari tumbuhan alami (fitofarmaka).

Berdasarkan catatan informasi yang dia kumpulkan, tahun 2000 omzet obat alami secara nasional mencapai Rp 1 triliun, dan tahun 2001 diperkirakan meningkat jadi Rp 1,4 triliun. Sementara pada Symposium Internasional Temu Lawak yang berlangsung 27-28 Mei 2008 di IPB, terungkap omzat obat alami atau obat tradisional tahun 2007 mencapai Rp 4 triliun, dan tahun 2008 menjadi Rp 7,2 triliun.

Atep juga mengungkapkan, memang belum ditemukan data yang akurat tentang mekanisme atau cara kerja temulawak dalam memerangi penyakit hepatitis. Namun, berdasarkan pengalaman masyarakat, khasiat temulawak sudah dikenal sebagai jamu yang ampuh untuk mengatasi sebah perut atau penyakit kuning (lever-Red).

Pengalaman dr. Melly Budhirman, seorang psikiater di Jakarta, sebagaimana diungkapkan dalam Intisari (September 1996), berawal dari gejala-gejala cepat lelah, nafsu makan menurun drastis kadang-kadang sampai muntah, dan bola mata kekuningan. Dari hasil pemeriksaan, ternyata terserang virus hepatitis B, yang kemungkinan ditularkan melalui jarum suntik yang tercemar virus.

Dalam perkembangannya, berdasarkan pemeriksaan lengkap melalui scanning dan biopsy dinyatakan menderita hepatitis kronis aktif, kemudian berkembang menjadi sirosis hepatitis. Satu-satunya obat yang diberikan, kortikosteroid dengan dosis cukup tinggi 4 x 10 mg. Namun ternyata menimbulkan efek samping berupa bengkak-bengkak pada tubuh, dan pemeriksaan fungsi hati menunjukkan hasil yang buruk.

Setelah memperoleh informasi menyangkut khasiat temulawak, dr.Melly lantas mengkonsumsi sari temulawak (rebusan temulawak) selama empat bulan berturut-turut. Hasil biopsy oleh Dr.Sadikin Darmawan, seorang patolog senior, menyatakan bahwa kondisi hati dr.Melly sehat.

Pengalaman serupa juga diungkapkan oleh seorang ibu di Bandung, setelah menempuh pengobatan alternatif di Garut selama lebih dari setahun (menggunakan ramuan tradisional, dengan bahan utama temulawak), penyakit hepatitisnya dinyatakan sembuh.

Secara medis modern, temulawak memang belum direkomendasikan sebagai obat. Namun secara empiris, khasiat temulawak yang luar biasa itu sudah terbukti nyata, bahkan diakui dunia. Hal itu tentu membuka lebar peluang berbisnis temulawak.
Sari Temulawak

Sejak zaman dulu kala, negeri ini sudah dikenal memiliki kekayaan dan keanekaragaman flora. Termasuk, beragam tanaman herbal yang bisa dimanfaatkan sebagai obat. Salah satu tanaman yang cukup populer dan punya khasiat ampuh sebagai penyembuh penyakit adalah temulawak. Tanaman ini merupakan famili Zingiberaceae, yang awalnya banyak ditemukan di hutan.

Sebagai salah satu herbal, temulawak dipercaya bisa mengatasi berbagai penyakit. Seperti, gangguan lever, mencegah hepatitis, meningkatkan produksi cairan empedu, membantu pencernaan, mengatasi radang lambung dan gangguan ginjal.

Dulu, nenek atau kakek kita biasa menyerap sari temulawak dengan cara merebusnya lalu meminum airnya. Kini, ada cara mengonsumsi temulawak yang lebih praktis. Yakni, temulawak instan. Salah satunya, temulawak instan produksi UD Sidariz di Blora, Jawa Tengah.

Karjan, pembina UD Sidariz, mengatakan, kelompok binaannya memproduksi temulawak instan sejak 2006. Mereka menjual temulawak instan dalam tiga kemasan, Yang pertama, kemasan saset berisi bubuk. Harganya Rp 10.000 per pak isi 10 saset. Kemudian, kemasan gelas plastik siap minum yang dijual seharga Rp 1.500 per kemasan. Dan yang ketiga, kemasan botol ukuran 650 ml dengan harga Rp 20.000 per botol.

Untuk menjaga pasokan temulawak, kelompok usaha itu memiliki lahan temulawak seluas 32,75 hektare. Ini adalah wilayah hutan rakyat yang dikelola bersama Perhutani. “Temulawak ditanam di sela-sela pohon jati,” kata Karjan. Dalam sebulan, kelompok usaha ini mengolah 5 kuintal temulawak. “Omzetnya masih kecil,” imbuhnya.

Pengenalan produk dan cara pemasaran merupakan salah satu kendala yang dihadapi kelompok usaha ini. Padahal, menurut Karjan, prospek minuman temulawak instan ini sangat bagus. Buktinya, salah satu perusahaan jamu berniat membeli produknya. “Jika spesifikasi yang diminta bisa kami penuhi maka kami akan memasok ke sana,” katanya.

Keyakinan akan cerahnya prospek bisnis ini pula yang membuat Lilik Indrawati menekuni bisnis temulawak instan. “Banyaknya orang beralih ke obat-obatan herbal ini, menyebabkan permintaan temulawak berdatangan,” ujarnya.

Lilik memasarkan temulawak instan dengan merek Temulawak Prima Herba, yang diproduksinya di Solo. Ia memasarkan produknya lewat internet, sehingga jangkauan pasarnya cukup luas. “Permintaan datang hampir dari seluruh Indonesia,” katanya. Tak heran, saban bulan Lilik mampu meraup omzet Rp 30 juta-Rp 40 juta dari bisnis ini.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul