RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label jangkrik peluang usaha pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jangkrik peluang usaha pertanian. Tampilkan semua postingan

Peluang Usaha Pertanian : BISNIS KULINER MAKANAN BAYI

Posted by Flora Sawita Labels: , ,













Sajikan makanan segar agar si kecil tetap bugar

Bisnis kuliner tak harus menyasar segmen pembeli dewasa. Bisnis kuliner bisa menyasar segmen bayi seperti yang dilakukan produsen makanan bayi segar (baby fresh food). Bisnis kuliner untuk bayi itu ternyata juga mampu mengundang omzet hingga puluhan juta rupiah.

Banyak orang tua ingin putra-putri mereka mendapatkan asupan gizi yang terbaik. Terutama orangtua yang memiliki putra-putri yang masih berusia enam bulan hingga tiga tahun.

Untuk mendapatkan asupan makanan yang terbaik bisa dilakukan dengan cara membuat makanan bayi sendiri hingga dengan membeli. Sayangnya, makanan bayi di pasaran banyak yang cepat saji.

Kekosongan makanan bayi yang dalam kondisi segar itulah yang dilirik produsen makanan bayi segar (baby fresh food), Yuli Herlina.

Pemilik Baby Bar di Jakarta ini menawarkan makanan bayi segar sejak Januari 2011. Lewat bisnis makanan bayi itulah ia mampu meraup omzet Rp 50 juta per bulan.

Omzet ini datang dari penjualan aneka menu makanan bayi. Ia mengklaim, setiap menu dan makanan bayi itu mengandung asupan gizi dan higienis. "Sekarang jumlah menu kami berjumlah ratusan agar bayi tak bosan untuk memakannya," ujarnya.

Yuli menekuni bisnis makanan bayi saat melihat banyak orang tua bayi yang sibuk bekerja. Ia khawatir, kesibukan orang tua bayi itu berimbas pada asupan gizi dan makanan bayinya. "Khususnya ibu muda yang bekerja, jangan sampai asupan gizi bayi berkurang gara-gara sibuk kerja," terang Yuli yang mendirikan usaha itu bersama dua orang sahabatnya.

Untuk membuat asupan bergizi, Yuli membuat makanan bayi dari produk segar seperti buah, ikan, dan sayuran organik. Dari ratusan menu yang ada, yang terlarisnya adalah apple herbal soup, steamed fish cake, dan Broccoli & Banana Oat. "Selain menu utama kami juga punya camilan untuk bayi," terang Yuli yang menjual produknya itu lewat dunia maya.

Untuk pemesanan, Yuli menawarkan sistem pesan antar ke pelanggan yang berdomisili di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Harga makanan bayi itu mulai dari Rp 20.000 per paket hingga Rp 50.000 per paket. "Harga tergantung bahan makanan," jelas Yuli.

Berkat bisnis makanan bayi segar itu, setiap bulan Yuli dan dua rekannya mampu mendulang laba 30% dari total omzet.

Menurut Yuli, usaha makanan segar ini punya peluang bisnis yang ciamik. Apalagi, pemain bisnis ini jumlahnya juga relatif sedikit.

"Produk makanan bayi banyak tetapi mayoritas dalam bentuk instan," jelas Yuli yang punya 15.000 follower di dunia maya itu.

Pemain lain yang menekuni penjualan makanan bayi segar itu adalah Neura Azzahra di Bintaro, Tangerang.

Neura merintis usaha bisnis ini sejak tahun lalu. Sama dengan Yuli, ia merintis usaha makanan bayi karena melihat banyak bayi ditinggal orang tuanya bekerja.

Ada 12 varian menu makanan bayi dalam bentuk segar dan beku yang ditawarkan Neura. Untuk makanan bayi segar, ia menjualnya dengan cara katering. Untuk katering selama lima hari, Neura mengenakan tarif Rp 235.000, khusus wilayah Bintaro.

Adapun untuk makanan bayi beku, Neura melayani pembelian satuan kemasan yang dijual mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 38.000, tergantung bahan. "Dalam sebulan omzet saya bisa Rp 10 juta," jelas Neura.

Saat memulai usaha makanan bayi itu, Neura merogoh modal usaha senilai Rp 3 juta. Uang itu untuk membeli aneka peralatan memasak dan juga untuk membeli kemasan.

Peluang Usaha Pertanian : Emping berkembang berkat usaha Sumini

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,













SENTRA EMPING MELINJO, KLATEN


Desa Kuncen di Kabupaten Klaten adalah salah satu sentra produksi emping melinjo. Lebih dari 100 perajin memproduksi emping melinjo dengan peralatan yang masih sederhana. Marak sejak 1980-an, Sumini membawa keberhasilan usaha emping melinjo sehingga ditiru penduduk desa.

Klaten adalah salah satu kabupaten yang terletak di antara Yogyakarta dan Surakarta atau Solo. Selain terkenal sebagai salah satu lumbung padi di Provinsi Jawa Tengah, Klaten juga memiliki produk unggulan lain, yaitu emping melinjo.

Sentra produksi emping melinjo di Klaten terletak di Desa Kuncen, Kecamatan Ceper. Dari ibu kota kabupaten, Kuncen berada sekitar 10 kilometer ke arah Solo. Cukup mudah untuk menemukan lokasi sentra pembuatan emping melinjo ini, letaknya cukup strategis berada di pinggir sebelah kiri Jalan Raya Yogya-Solo.

Di Desa Kuncen, kurang lebih ada 100 perajin emping melinjo. Mereka memproduksi emping di rumahnya masing-masing dengan menggunakan peralatan tradisional dan sederhana.

Walau menjadi sentra industri emping melinjo, kondisi Desa Kuncen tak jauh beda dibandingkan dengan desa lain di Jawa Tengah. Hanya saja, di rumah-rumah penduduk biasanya memiliki bagian lain untuk memproduksi emping melinjo.

Tempat produksi tersebut dibuat semi permanen dari anyaman bambu serta berlantai tanah. "Membuat emping melinjo menjadi kegiatan sehari-hari," kata Tri Wijilestari, salah satu perajin emping, sambil terus sibuk menjemur emping basah di atas anjang atau anyaman bambu.

Hampir di seluruh pinggir jalan Desa Kuncen, berjejer anjang berukuran 1 meter (m) x 1 m. Anjang tersebut dipakai untuk menjemur melinjo yang sudah digepengkan. Kegiatan produksi emping melinjo di sentra ini memang masih dilakukan secara rumahan atau home industry. Para perajin masih mengandalkan anggota keluarga inti untuk membuat emping. Kalau pun mempekerjakan karyawan, biasanya mereka hanya merekrut tetangga sendiri.

Seperti keempat karyawan Tri yang semuanya masih tetangga dekat. Mereka memproduksi rata-rata 30 kg emping melinjo tiap hari. Dengan harga jual per kilogram mencapai Rp 28.000 sampai Rp 29.000, menurut Tri, perajin emping di Desa Kuncen rata-rata bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 20 juta setiap bulan.

Omzet yang diraih para perajin cukup membantu ekonomi masyarakat yang kebanyakan bergantung pada pertanian. "Usaha ini bisa dikerjakan di sela-sela kesibukan bertani," ujar Tri. Bahkan untuk mendukung perkembangan usaha pembuatan emping melinjo, saat ini para perajin emping melinjo mendirikan kelompok usaha emping melinjo bernama Mekar Sari.

Tri menceritakan, usaha pembuatan emping melinjo Desa Kuncen mulai marak tahun 1980-an. Saat itu ada salah satu warga yang berhasil berbisnis emping melinjo, namanya Sumini. Sebelum mendirikan usaha sendiri, Sumini dulunya merupakan karyawan pabrik pembuatan emping di Solo. "Saya capek jadi pekerja, akhirnya saya putuskan berhenti dan membuat emping sendiri," ujar Sumini.

Sumini mengajak para tetangganya untuk membantu membuat emping. Melihat keberhasilan Sumini membuat dan memasarkan emping melinjo sendiri, banyak masyarakat desa mengikuti.

Karena itulah kebanyakan perajin emping melinjo Desa Kuncen dulunya adalah pekerja Ibu Sumini. "Saya dulunya juga hanya pekerja biasa," kata Inuk Saminem, salah satu perajin di Desa Kuncen. Ia memutuskan untuk memulai usaha sendiri setelah beberapa tahun berselang bekerja di Ibu Sumini.

Walaupun jumlah pengusaha emping melinjo di Desa Kuncen semakin bertambah, namun tiap perajin memiliki pangsa pasar sendiri-sendiri. Contohnya Tri, setiap satu minggu sekali ia mengirim emping melinjo mentah ke pasar-pasar di Klaten. Ada 10 pelanggan yang siap untuk menampung produksi emping Tri dengan permintaan bervariasi mulai 10 kg hingga 40 kg. "Kita tidak ada rebutan lahan," ungkapnya.

Bahkan menurut Tri, jika ada warga yang produksinya berlebih, antar perajin saling bantu penjualan. Sebab, dengan jumlah produksi yang terbatas, permintaan permintaan di pasaran banyak.


Jaga stok bahan baku agar laba tidak layu

Dengan harga jual cuma Rp 28.000-Rp 29.000 per kilogram (kg), perajin hanya bisa memetik laba Rp 4.000 per kg. Namun, keuntungan yang tak seberapa itu bakal terkikis habis bila perajin tak pandai-pandai menyediakan stok bahan baku di saat paceklik biji melinjo.

Menjadi perajin emping melinjo merupakan pekerjaan sambilan yang bisa menjadi tumpuan penghasilan bagi warga di Dukuh Metukan, Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dan kebanyakan perajin emping melinjo itu adalah ibu rumah tangga.

Di sana, para ibu rumah tangga mengolah biji melinjo menjadi emping seusai membantu sang suami menggarap sawah. Meski pekerjaan sambilan, ibu-ibu ini tampak serius menggarap emping melinjo. Lihat saja, agar pekerjaan lebih fokus, mereka sengaja mendirikan bilik kecil dari bambu sebagai "pabrik" pengolahan melinjo.

Seperti yang dilakukan Tri Wijilestari. Perajin emping melinjo asal Kuncen ini membuat bilik persis di sebelah rumahnya. Tujuan Tri membuat bilik agar lebih konsentrasi dalam memproduksi emping. "Kalau ada tempat sendiri, kami juga bisa lebih fokus bekerja," terang Tri.

Dengan modal Rp 1 juta, Tri membangun bilik sederhana itu. Di bilik itulah Tri memproduksi emping dibantu beberapa pekerja yang masih tetangganya sendiri.

Nah, agar kerja mereka lebih efektif, Tri pun membuat pembagian tugas, yakni ada pekerja yang khusus mengupas kulit melinjo, menyangrai melinjo, hingga menggeprak hasil sangraian melinjo itu menjadi emping.

Untuk memproduksi emping melinjo terbilang sederhana. Biji melinjo harus disangrai terlebih dahulu dengan menggunakan pasir agar kulit arinya terkelupas. Setelah itu, biji melinjo dibentuk menjadi emping dengan cara digeprak hingga pipih. "Mengepreknya butuh alat bantu," kata Inuk Saminem yang juga perajin emping melinjo di Kuncen.

Alat bantu mengeprek biji melinjo itu terbuat dari besi berbentuk alu yang beratnya 3 kilogram (kg)- 3,5 kg.

Setelah biji melinjo digeprak, selanjutnya di jemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Setelah itu baru dikemas dalam plastik dan dipasarkan.

Ketekunan perajin membuat emping melinjo itu sempat dilirik pemerintah. Sebagian perajin pernah mencicipi bantuan pemerintah berupa kompor, wajan serta anyaman bambu berbentuk kotak berukuran 1 meter 2. "Bantuan modal yang belum ada," ungkap Tri.

Sama dengan bisnis lainnya, perajin emping melinjo juga mengalami masa susah. Terutama saat pasokan biji melinjo menipis sehingga membuat harga bahan baku membubung. Agar tetap bisa produksi, biasanya perajin harus selalu siap dengan stok bahan baku. Kalau tidak punya stok, perajin tentu harus keluar ongkos lebih besar untuk membeli biji melinjo.

Padahal, harga emping melinjo cuma Rp 28.000-Rp 29.000 per kg. Setelah dikurangi ongkos produksi, perajin biasanya mengantongi laba bersih sebesar Rp 4.000 per kg.

Namun saat harga biji melinjo melejit, keuntungan yang diperoleh perajin menipis. Bahkan, sebagian perajin pernah merugi karena biaya produksi tak sepadan dengan harga jual. "Kami sulit naikkan harga karena pembeli sudah langganan," ujar Tri.


Bentuk paguyuban untuk perkuat modal



Para perajin emping itu tak cuma rajin menggeprak buah melinjo. Sebagian dari mereka juga aktif berorganisasi dengan membentuk paguyuban Mekar Sari. Sayang, dari 100 perajin emping, hanya 25 orang saja yang ikut bergabung dalam paguyuban Mekar Sari.

Seiring makin banyaknya jumlah perajin emping melinjo di Dukuh Metukan, Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, perajin pun berinisiatif membentuk organisasi pada 2001 lalu. Organisasi perajin ini mereka beri nama paguyuban Mekar Sari.

Dengan paguyuban ini, para perajin emping ini terbantu dari sisi permodalan. "Kalau ada anggota yang membutuhkan dana, paguyuban siap membantu," kata Sumini, Ketua Paguyuban Mekar Sari.

Namun, lebih penting dari soal modal adalah rasa persaudaraan di antara perajin terpelihara dengan adanya paguyuban ini. Sayangnya, dari sekitar 100 warga yang memproduksi emping melinjo, hanya 25 orang saja yang ikut bergabung.

Inuk Saminem, salah satu anggota paguyuban Mekar Sari ini menilai, dengan adanya paguyuban koordinasi lebih mudah. Alhasil, jika ada bantuan, sasarannya pun lebih jelas.

Paguyuban ini tidak mengikat anggota soal jumlah produksi atau penyeragaman harga. "Susah kalau dibatasi seperti itu," terang Inuk.

Seminggu sekali, para perajin ini selalu mengadakan pertemuan. Mereka juga dikutip iuran wajib sebesar Rp 2.000 per minggu, untuk kas organisasi.

Dari uang kas inilah, bantuan permodalan mengalir. Tentunya nilainya juga tak seberapa. Tetapi setidaknya mengurangi kesulitan perajin memperoleh modal.

Masalahnya, bantuan modal dari paguyuban itu tak pernah cukup bisa perajin sedang menghadapi kurangnya pasokan bahan baku.

Meski populasi tanaman melinjo di Klaten masih tinggi, namun tetap belum bisa mengimbangi permintaan industri emping. "Produksi emping lokal sangat terbatas, sehingga kami sering membeli melinjo dari Banten," ujar Tri Wiji Lestarai, perajin emping.

Kondisi inilah yang memberatkan para produsen emping ini. Jika harga biji melinjo asli Klaten hanya Rp 9.000 per kilogram (kg), harga biji melinjo dari Banten bisa lebih mahal Rp 3.000.

Pasokan bahan mentah dan sulitnya permodalan, sejatinya memang kendala utama para perajin itu. Padahal industri rumahan emping melinjo ini adalah pekerjaan yang banyak menyerap tenaga kerja. Lihat saja, mulai dari panen melinjo, pengupasan kulit buah, proses pembuatan emping, pemasakan (oven) dan pengemasan hingga pemasaran, semuanya memerlukan tenaga kerja dalam jumlah yang tidak sedikit.

Itulah sebabnya, petani berharap, pemerintah mau campur tangan membentu kesulitan para perajin emping ini. Selain bantuan teknis berupa cara memproduksi emping yang lebih baik dan lebih higienis, para perajin itu jelas membutuhkan bantuan permodalan. Setidaknya ada petunjuk bagaimana cara memperoleh modal kerja itu.

Tanpa modal yang memadai, perajin jelas bakal kesulitan mengembangkan usaha. "Seperti saya yang membutuhkan modal tambahan untuk mengantisipasi kenaikan harga biji melinjo," keluh Tri.

Ya, begitulah nasib perajin di negeri ini.

Peluang Usaha Pertanian : Meneguk laba dari minuman sari wortel

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,

Pola hidup sehat adalah sebuah kebutuhan. Nah, agar hidup kita tetap sehat, tentu banyak caranya. Yang sudah kita kenal adalah berolah raga teratur dan mengudap makanan bergizi. Tetapi, olah raga dan asupan makanan saja belum cukup. Minuman yang sehat dan penuh vitamin juga perlu untuk menyempurnakan kebutuhan gizi di badan kita.

Itulah sebabnya banyak produsen makanan dan minuman berlomba-lomba membuat minuman nikmat namun tetap kaya gizi dan vitamin. Salah satunya adalah Guntoro Joko Santoso.

Pria asal Kediri, Jawa Timur, ini mempunyai produk minuman bernama Mr Carrot. Menilik namanya, kita bisa menduga, minuman ini berbahan baku wortel (Daucus carota).

Menurut Guntoro, selain dijual di gerai Mr Carrot, minuman wortel itu juga dikemas dalam bentuk bubuk instan yang dijual di beberapa apotek atau melalui sistem kemitraan. Walaupun baru berdiri tahun ini, Mr Carrot sudah mendapatkan dua mitra di Madiun dan Surabaya. Guntoro sendiri memasarkan produknya ini di pusat perbelanjaan Ramayana di Kediri dan di Paragon, Semarang.

Guntoro mengungkapkan, dia membuat Mr Carrot itu karena minuman berbahan baku sayuran belum banyak dijajakan. "Saya melihat minuman dari wortel itu belum ada," kata Guntoro.

Karena berbahan baku wortel, dia mengklaim bahwa Mr Carrot mengandung banyak vitamin A. "Survei kami menyebutkan, minuman wortel dikonsumsi oleh mereka yang sadar kesehatan, seperti dokter," klaim Guntoro.

Untuk memproduksi Mr Carrot dalam bentuk instan, Guntoro bekerja sama dengan pabrik jamu. Karena itu, dia mengemas bubuk instan Mr Carrot sesuai dengan standar industri jamu.

Guntoro menjual Mr Carrot di rentang harga Rp 3.500 hingga Rp 5.000 per gelas. Mr Carrot sendiri mempunyai tiga varian, yakni wortel polos, wortel campur jeruk, dan wortel dengan tambahan jeli.

Untuk investasi kemitraan, Guntoro menawarkan investasi terendah sebesar Rp 7,5 juta. Dengan investasi sebesar ini, mitra akan mendapatkan booth, seragam, banner, pemanas, blender, bahan baku, dan perlengkapan kerja plus biaya pelatihan karyawan.

Selain itu, Guntoro menyediakan paket investasi Rp 40 juta. Dengan paket ini, mitra mendapat lima booth, pemanas, seragam, banner, blender, bahan baku serta perlengkapan kerja. Investasi sebesar itu sudah termasuk biaya pelatihan bagi para calon karyawan. Agar mitra lebih tertarik, Guntoro membebaskan mitra dari kewajiban membayar royalty fee.

Guntoro bilang, setiap booth bisa menjual 40 gelas sehari. Jika harga segelasnya hanya Rp 5.000, dalam sebulan omzet booth minuman ini bisa mencapai paling tidak Rp 6 juta.

Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia, Amir Karamoy, menilai positif kemitraan minuman berbahan sayuran ini. Ia bilang, minuman berbahan sayuran boleh dikatakan belum ada. "Kalau minuman yang menggunakan bahan baku buah sudah banyak, namun dari wortel belum ada," kata dia.

Namun demikian Amir mengingatkan, karena usaha ini pionir, ia meminta calon mitra harus hati-hati melihat segmen pasar. "Lihat dahulu pasarnya bagaimana, apakah ada peminat atau tidak? Walau investasinya murah tetap sayang kalau usaha kita merugi," ujar Amir.(KONTAN)

Bambang, dari Pengelola Hotel Jadi Petani Kopi

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , , ,












Bermodalkan hanya kebun seluas dua hektar, dan pengetahuan dari pelatihan, maka jadilah Bambang Sriono menjadi salah satu dari 14 pengusaha kopi bubuk di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, yang terus bertahan hingga kini.

Bambang, yang juga Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Bondowoso, menyebutkan menjadi petani merupakan pekerjaan yang mendatangkan kesejahteraan dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya. Ia sempat menjadi sales bahan bangunan, hingga pengelola hotel. "Jadi, kalau dilihat dari latar belakang pendidikan itu nggak ada. (Pendidikan) saya dari teknik kimia. Sekarang petani kopi," ungkapnya sembari tertawa kecil, kepada Kompas.com, usai menghadiri peluncuran perdana kopi hasil perkebunan rakyat ke Swiss, di Bondowoso, 10 Juni 2011 lalu.

"Jadi ilmu saya yang saya dapat dari Puslit, saya terapkan. Ya, jadi modalnya kemauan," sebutnya.

Menurutnya ilmu dan tanah, juga kemauan tersebut menjadi modal awalnya baginya, sehingga ia merasa tidak terkendala oleh dana. Bahkan saat ini, lembaga perbankan ramai menawarkan bantuan dana. "Seperti Bank Indonesia ini lewat CSR (Corporate Social Responsbility)-nya. Terus, dari Puslit, ilmu dan teknologinya," ungkapnya.

Ia pun mulai bertani sejak tahun 2000 . Selang enam tahun kemudian, ( 2006 ), ia pun mulai menelurkan merek Rajawali, untuk kopi bubuk arabika dan robusta. "Cuma waktu itu kemasannya pakai seperti itu (kemasan plastik biasa)," ungkapnya. Akhirnya kemasan pun berubah seiring dengan masukan dari Bupati setempat.

Saat itu, ia mematok harga produknya hanya Rp 3.500 per 200 gram. Kini harganya mencapai Rp 8000 per 160 gram untuk robusta, Rp 15.000 untuk arabika dengan satuan berat yang sama.

Ia mengaku bahwa dialah petani yang mengawali memanen kopi dengan "petik merah," dan proses menggunakan proses basah (wet process), di Bondowoso. Apa maksudnya petik merah? Ia menyebutkan selama ini panen yang dilakukan petani di wilayah tersebut, masih mencampur antara biji kopi yang berwarna merah, kuning, dan hijau pada saat panen. "Nah, kalau kami sudah petik merah dari 2005 . Jadi khusus yang buah merah segar dan sehat (BMSS), sebagai syarat untuk mendapatkan mutu berkualitas ekspor," tambahnya.

Petik merah baru dilakukan di lima kelompok tani, atau sekitar 152 petani kopi, mulai tahun 2011 ini, setelah mendapatkan binaan langsung dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. "Jadi saya yang pertama kali melakukan itu di tingkat petani di Bondowoso," sebutnya.

Menurut dia, sebenarnya pada pelatihan yang dikirim oleh Dinas Perkebunan dan Kehutanan Bondowoso tersebut, ada beberapa petani yang juga dikirim selain dirinya. Tetapi hanya dia yang mengaplikasikannya sendiri.

Adapun proses basah adalah pengolahan pasca-panen dengan menggunakan air. Media ini digunakan untuk memisahkan biji yang bagus untuk diolah lebih lanjut dengan biji yang tidak bagus. "Selama ini petani kan pakai dry process (DP). Begitu dapat dari kebun langsung dijemur dengan kulitnya," ungkapnya.

Cara pengerjaan ini memang terbilang repot, dan butuh ketelatenan. Oleh karena itu, ia menyebutkan, mungkin ini menjadi alasan dari petani yang juga ikut dikirim bersama dengan dia, tidak menerapkannya. Sekarang banyak yang tertarik ikut melakukan proses ini, setelah melihat harga yang didapat lumayan besar.

"Kalau sekarang ini dengan didampingi Puslit (Kopi dan Kakao), terus ada BI (Bank Indonesia), terus semuanya komponen ada. Rupanya kita jadi tahu pasarnya. Jadi lewat eksportir, kita sudah tahu harganya dan jelas pasarnya," ungkapnya.

Sekarang memang sudah dibangun kluster kopi di Bondowoso, oleh sejumlah pihak seperti Pemerintah Daerah Kabupaten Bondosowoso, Bank Indonesia, Bank Jatim, ADN Perhutani, eksportir, serta APEKI, untuk mengembangkan produk.

Saat ini, ia pun mempunyai lima pekerja dalam mengolah kopi bubuknya, dan mengelola kebunnya yang seluas dua hektar. "Jadi sebelum dikemas, kita perlu uji dulu cita rasa dan timbangannya," tuturnya, yang merupakan bagian dari pekerjaannya selain mengawasi kebun dan pengolahan.

Pada tahun 2007 , produk kopi bubuk Rajawali, baik arabika dan robusta, dipasarkan ke Sumatera, termasuk Jakarta, Semarang, dan Malang. Namun, pemasaran ke kota-kota tersebut masih kecil, dengan 10-20 kilogram per bulannya. Awalnya pemasaran ke kota-kota tersebut, tidak dilakukan secara resmi. "Dititipkan lewat saudara-saudara, baru kemudian berkembang," ungkapnya.

Saat ini, ekspor produk Rajawali ini pun belum dilakukan. Ekspor masih dalam bentuk biji bersama dengan kelompok tani lainnya, yang melakukan pemasaran internasional secara perdana ke Swiss pada November nanti, sebanyak 1 kontainer atau sekitar 18 ton.

Lagipula, lanjut dia, produksi kopi ini pun masih terbatas. Sehingga memenuhi permintaan pasar masih sering kewalahan. Apalagi menjelang Hari Raya Lebaran, di mana banyak pesanan parcel diisi dengan produk kopinya.

Rencana ke depan, ia berkeinginan untuk memperluas lahannya. "Kalau mau mencermati nggak ada sejarahnya kopi bubuk itu harganya turun," sebutnya. Maka ia pun heran, kalau ada pelaku usaha kopi bubuk yang kurang menekuni usahanya.

Selain perluasan lahan, Bambang, yang juga Ketua Forum 'Ahli' Pertanian Madani (Rumah Tani) Bondowoso, pun akan mencoba diversifikasi produk kopi, seperti buat dodol kopi, dan permen rasa kopi.

Terung Ungu, Tanaman Sela Menguntungkan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,


Sembari menunggu tanaman kelapa sawitnya dapat berproduksi, Muhammad Abidin tidak mau menyia-nyiakan lahan seluas tujuh rantenya tersebut, dengan menanam terung ungu. Mendapatkan Rp 8,5 juta dalam waktu empat bulan masa panen, ditambah lagi dengan keuntungan Rp 5,5 juta dari menanam timun di luas lahan lainnya 2,5 rante, ia bersama istrinya bisa menabung untuk mempersiapkan hadirnya sang buah hati yang dinantikan.

Dengan asyiknya mengutip buah terung ungu yang ditanam di belakang rumah di Dusun Belimbing Pasar V Desa Melati II Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai, laki-laki berusia 23 tahun ini tidak menghiraukan panasnya terik matahari di siang hari hingga azan zuhur menyadarkannya untuk menyelesaikan pekerjaan dan melaksanakan kewajiban ibadah.

Diceritakan Abidin, yang baru dua tahun menikah ini, menanam terung ungu memang baru dikembangkannya pertama kali dan baru memasuki panen dengan hasil yang dicapai 120 kg pada kutipan kedua. Dengan harga jual Rp 1.500 perkg, terung ungu itu gampang dipasarkan kepada agen.

“Modal tanaman terung ungu ini tidak terlalu banyak, berbeda dengan timun. Maka itu saya tertarik mengembangkannya sekarang sebagai tanaman tumpang sari dengan kelapa sawit yang masih muda sekitar 50 pokok,” ujarnya kepada MedanBisnis.

Kalau tanaman kelapa sawit ini nantinya sudah berumur tiga tahun, dikatakan Abidin, kemungkinan ia akan menggantikan tanaman lain yang tidak mengganggu perkembangan kelapa sawit tersebut. “Kemungkinan tanaman coklat, tapi kita lihat nanti. Kalau untuk terung ini bisa dikembangkan lagi di lahan lain yang sekarang sedang menanam timun,” ucapnya.

Diakuinya, menanam terung ungu tidaklah terlalu sulit, hanya membutuhkan bibit berkualitas seperti yang dipakainya bibit Antaboga dan penggunaan pupuk yang tepat serta perawatan, maka hasil terung ungu menjadi terbaik dengan ukuran per buahnya panjang dan bulat.

Memang saat ini menanam terung ungu masih merupakan dengan pola tumpang sari, sehingga produktivitas yang diperoleh sekadar saja. Padahal budidaya terung ungu sebetulnya cukup menjanjikan secara ekonomis. Karena permintaan pasar terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Penjualan terung ungu sangat gampang, meski harganya masih tergantung pasar sehingga petani tidak begitu bergairah mengembangkannya seperti jenis tanaman hortikultura lain,” akunya.

Terung ungu dapat mudah ditanam di mana saja, terlebih untuk wilayah yang berada di dataran tinggi. Tanaman terung ungu atau dengan istilah Solanum Melongena dapat tumbuh dengan baik pada suhu udara 22 hingga 30 derajat Celsius. Terung ini dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Dalam pertumbuhannya, terung ungu juga membutuhkan pencahayaan yang cukup.

Umur masa panen, sekitar empat bulan 4 bulan atau 90 hari sejak semai. Selanjutnya selang seminggu sekali, buah terung dapat dipanen sampai usia tanaman mencapai 9 bulan dengan 20 kutipan yang dilakukan dalam dua kali dalam seminggu.

“Pada kutipan pertama saya dapat terung ungu nya sebanyak 50 kg dan kutipan kedua sekitar 120 kg. Puncak produksi terbanyak itu biasanya pada kutipan ke sembilan dengan hasil bisa mencapai 600 kg. Berarti nanti hingga selesai panen akhir hasil terung yang didapat bisa mencapai sekitar 7 ton dengan harga jual Rp 15.00/kg,” ungkapnya.

Harga jual yang mencapai sekitar Rp 1.300per kg hingga Rp 1.500 per kg ini memang lumayan bagus dibandingkan harga jual timun yang kemarin sempat mencapai Rp 700-1.000 per kg.

Dengan modal yang mencapai Rp 1,5 juta untuk tanaman di luas lahan 2,5 rante tersebut, membuat Abidin mengalami kerugian. “Kalau sekarang memang harga timun sudah sekitar Rp 2.200 perkg. Kalau dengan harga ini memang masih bisa untung. Tapi dibandingkan dengan terung ungu yang modalnya tidak banyak dan gampang, maka masih bisa diandalkan pendapatan yang lebih dari si terung berwarna ungu ini,” pungkasnya.

Serangan Hama Dapat Dikendalikan
Selain tanaman yang gampang dengan modal sedikit, Abidin semakin menyukai mengembangkan tanaman terung ungu ini karena serangan hama dan penyakit pun tidak sulit untuk dikendalikan. Hanya menggunakan bibit yang baik, pupuk tepat guna dan perawatan, maka serangan hama tidak menjadi hal yang menakutkan sehingga keuntungan bisa diperoleh dengan utuh.

“Selain menggunakan pupuk urea dan kcl, saya juga memakai pupuk Ramah Lingkungan (Ramling) yang selalu berikan pada tanaman seminggu sekali. Bukan hanya tanaman yang menjadi subur dengan hasil buah menjadi bagus, tapi juga terhindar dari serangan hama dan penyakit sehingga tidak perlu mengeluarkan lagi biaya membeli obat pestisida,” katanya dengan bangga.

Penggunaan pupuk Ramling memang menjadi pilihan utamanya, karena serangan hama dan penyakit yang biasa ada pada tanaman terung ungu kini sudah dapat dikendalikan. Hama yang ada pada tanaman terung ungu yakni kutu kebol, ulat daun, ulat batang yang bukan saja membuat tanaman rusak, tapi hasil buah tidak bagus bahkan bisa gagal panen.

“Sebenarnya hama dan penyakit ini dapat dikendalikan dengan perlakuan tanah, antara lain fumigasi, drainase yang baik, dan rotasi tanaman serta penggunaan pupuk yang tepat,” imbuhnya. Pupuk Ramling yang merupakan pupuk cair ini, dikatakan Abidin, memiliki komposisi N sebanyak 3%, P 0,50% dan unsur K sebanyak 2% ditambah mikroorganisme. Pupuk bisa digunakan untuk semua jenis tanaman dari sayuran, pangan dan palawija serta tanaman perkebunan.

“Dalam satu liter pupuk ini, dapat untuk dua rante padi sampai panen. Berarti bisa menghemat 50% penggunaan pupuk kimia, pestisida dan hasil produksi meningkat,” ucapnya.

Tanaman yang terserang virus itu akan menunjukkan gejala bercak kuning di atas permukaan daun dan perlahan-lahan meluas hingga seluruh permukaan daun menguning. “Hama ini masih menjadi momok menakutkan karena memang belum ada obat yang ampuh untuk membasminya. Tapi dengan Ramling dapat menahan perkembangan siklus hama sehingga tanaman bisa lebih tumbuh dengan baik,” tuturnya.

Pupuk Ramling yang digunakannya memiliki kegunaan positif bagi tanaman karena dapat merangsang tumbuhnya daun dan meningkatkan jumlah daun serta tunas. Kemudian merangsang pembungaan, buah menjadi besar, menggemburkan tanah dan dapat menyediakan hara bagi tanaman. Pupuk juga dapat memperanjang umur tanaman dan produksi serta juga mengusir organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama kutu kebul.

“Ada Ramling bisa membantu semua jenis tanaman menghasilkan produksi yang banyak dan terhindar dari serangan hama serta penyakit. Dengan pemakaian ramling ini juga dapat menghemat biaya produksi tanaman sehingga hasil jual panen dapat dinikmati menyeluruh setelah dipotong modal pertama,” katanya.

Pedoman Budidaya

Benih terung sebaiknya disemaikan dulu sebelum ditanam pada lahan yang tetap. Pembuatan bedengan dan cara penyemaian terung tidaklah berbeda seperti perlakuan pada tomat. Untuk luas lahan 7 rante, Abidin menggunakan 3 bungkus bibit yang berukuran 20 gram yang dibeli dengan harga Rp 26.000. Setelah itu bibit terung sudah siap untuk dipindahkan di lahan penanaman.

Penanaman lahan disiapkan dan diolah terlebih dahulu, kemudian dibentuk bedengan. Di antara bedengan, haruslah dibuat parit yang berfungsi sebagai jalan dan pembuangan air saat musim hujan. Hal ini penting dilakukan karena terung tidak tahan genangan air. Setelah lahan disiapkan, sebaiknya bibit yang telah siap tanam dimasukkan secara tegak lurus ke dalam lubang tanam. Kemudian di sekitar lubang tanam disirami air agar tanah cukup lembap, tetapi tidak sampai tergenang.

Setelah tanam, penyiraman dilakukan kembali setiap 3 hari sekali hingga saat berbunga. Ketika masa berbunga, penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Namun, apabila penanaman dilakukan pada daerah kering, maka penyiraman dapat dilakukan lebih sering agar tanaman tidak layu kekeringan.

Warnanya yang menarik bisa menambah selera buat memakan si terung ungu ini, terung ungu sering kali diolah dalam bentuk sayuran matang. Namun sebenarnya apa manfaat tersembunyi di balik warna ungunya yang menarik. Warna ungu pada terung terbentuk karena andil dari zat antosianin yang merupakan pigmen pemberi warna ungu. Terung ungu kaya akan zat antosianin, sehingga warna ungunya cukup mendominasi pada terung.

Zat antosianin buat tubuh mampu berperan dalam menghambat oksidasi dari toksin dan juga mampu menghambat sel tumor. Bahkan dalam zat antosianin terdapat 2 komponen yaitu sianidin dan delphinidin yang bermanfaat mampu mencegah pertumbuhan sel kanker. Selain zat antosiadin dalam sayuran berwarna ungu termasuk terung ungu juga terdapat ellagic acid, di mana komponen tersebut bermanfaat untuk mencegah penggumpalan darah dan mencegah tumbuhnya beberapa jenis tumor dan kanker seperti kanker kulit, kanker pankreas, kanker payudara, kanker pencernaan dan kanker kolon.

Bahkan berdasarkan pengobatan tradisional terung ungu juga dipercayai dapat memelihara sel-sel tubuh dari kerapuhan, sehingga pembuluh darah tetap lentur atau elastis, menjaga pecahnya pembuluh darah serta meningkatkan gairah seksual dengan cara terung ungu dibersihkan, dicuci tanpa dibuang kulitnya diberi bumbu sesuai selera kemudian digoreng.

Seluruh bagian tanaman terung dapat dimanfaatkan sebagai obat; baik bunga, buah, tangkai, daun maupun akarnya. Terung mengandung gizi yang sangat tinggi dan berguna bagi kesehatan tubuh serta berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Terung mengandung air, protein, lemak, karbohidrat, kalori, serat kasar, abu, kalsium, besi, pospor, karotin, vitamin B1, B2, C dan P, asam nikotinat serta mengandung 750 mg vitamin P dalam setiap 100 gr berfungsi mengurangi kerapuhan pembuluh darah dan infiltrasinya.

Akar, daun dan buah serta bunga terung berkhasiat melancarkan peredaran darah, menghentikan pendarahan, menghilangkan rasa sakit, mengatasi batuk darah, rematik, buang air kecil dan besar berdarah, anggota tubuh kesemutan, beri-beri, sakit gigi, pendarahan usus,penebalan dinding pembuluh darah, serta mencerdaskan pikiran, dan bisa juga menghilangkan jerawat.

“Tidak hanya menguntungkan, ternyata terung pun membawa khasiat yang banyak sehingga permintaan dari masyarakat terus ada. Bukan hanya sebagai sayuran saja, tapi terung juga dicari untuk pengobatan yang memang sangat baik untuk kesehatan,” pungkas Abidin.

Peluang Usaha Pertanian : Jualan makanan di dunia maya, penghasilan tetap nyata

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,


Media online tak hanya cocok untuk bisnis busana atau elektronik. Usaha makanan basah, seperti siomay dan pempek pun bisa menuai sukses dipasarkan lewat dunia maya. Bahkan, hasilnya bisa lebih menggiurkan daripada gerai sungguhan.

Bisnis secara online memang terlihat mudah. Tinggal duduk manis di depan komputer atau memantau telepon genggam yang terkoneksi internet, bisnis pun bisa berjalan.

Meski begitu, tak sedikit yang gagal. Mungkin saja, itu karena barang yang dijual kurang menarik atau memang sang pedagang online tidak fokus menjalankan bisnisnya. Tapi, tak sedikit pula yang berhasil. Misalnya, Akung Krisna, si pemilik Siomay Onlen, dan Anton Huang, juragan Pempeklenjer.com.

Peluang bisnis online sangatlah terbuka lebar. Masyarakat semakin teredukasi dengan kemajuan teknologi dan mulai melek internet. Pemilik telepon seluler yang mampu terkoneksi dengan internet pun tambah banyak karena harga ponsel dan ongkos internet yang semakin terjangkau. “Dengan media online, jangkauan konsumen lebih luas. Yang dari Bekasi atau Bintaro tetap bisa terjangkau meski saya di Kebayoran Lama,” tutur Akung.

Berkat keseriusan dalam menjalankan usaha ala online ini, omzet yang didapat juga cukup besar. Anton, yang mulai menawarkan pempeknya secara online pada 2008, bisa menuai omzet Rp 15 juta per bulan. Awal berbisnis, omzet yang didapat hanya Rp 4 juta–Rp 5 juta per bulan. “Sekarang per hari minimal dapat Rp 500.000,” ungkap Anton. Pempek Anton dijual Rp 60.000 per kilogram.

Sementara itu, Akung, yang baru memulai berjualan siomay secara online setahun lalu, mampu meraih omzet Rp 14 juta per bulan. Akung beruntung karena dalam dua minggu pertama berjualan ia sudah bisa mendapat order 1.500 porsi siomay. Akung menjual siomaynya Rp 7.000 per porsi. Seperti usaha makanan lainnya, margin keuntungan yang didapat dari usaha siomay dan pempek ini lebih dari 50%.


Modal minim

Apakah Anda termasuk orang yang ingin punya usaha tapi modal minim? Jika ya, usaha online seperti Akung dan Anton bisa jadi solusi. Cukup memiliki komputer yang terkoneksi internet, alat transportasi, dan alat telekomunikasi, Anda sudah bisa menjalankan usaha ini. Untuk membeli barang-barang tersebut, paling-paling, Anda hanya menghabiskan sekitar Rp 20 juta. “Tapi biasanya, barang-barang itu kan sudah ada di rumah,” kata Akung.

Selain itu, modal awal untuk pembelian bahan baku yang harus disiapkan hanya sekitar Rp 2,5 juta–Rp 5 juta. Oh, iya, bila yang dijual adalah makanan basah, seperti siomay atau pempek, Anda harus memiliki freezer yang bisa dibeli dengan harga sekitar Rp 3 juta.

Anton menilai, usaha ini sangat cocok buat calon pengusaha yang bermodal kecil dan takut risiko. Modal bisa kecil karena ada banyak biaya yang dipangkas. Misalnya, Anda tak perlu susah-susah menyewa lokasi atau menanggung biaya merenovasi tempat usaha. “Kalau usaha via website cukup siapkan Rp 350.000 saja untuk sewa hosting (sewa ruang penyimpanan data) per tahun,” katanya. Itu bisa saja sudah termasuk uang sewa nama situs (nama domain) setahun. Sementara itu, kini, biaya pembuatan situs juga sangat murah, bisa hanya sekitar Rp 1 juta sampai Rp 2 juta.

Bandingkan seandainya harus menyewa tempat usaha. Harga sewa satu lokasi ukuran 35 meter persegi (m²) di daerah Slipi, Jakarta, saja bisa mencapai Rp 35 juta setahun. Ini belum termasuk biaya renovasi, dan gerobak. “Gerobak siomay kita, ya, komputer dan telepon genggam saja,” jelas Akung.

Biaya lain yang bisa dipangkas adalah biaya pembelian peralatan dan perlengkapan gerai. Andaikan ada warung nyata, Anda harus membeli peralatan, seperti piring, gelas, dan sendok, untuk penyajian makanan. Plus, harus ada meja kursi untuk konsumen. Setidaknya, untuk biaya peralatan dan perlengkapan ini, Anda bisa irit Rp 7 juta-Rp 10 juta. “Tapi, omzet yang dihasilkan bisa lebih besar dibandingkan dengan warung offline. Balik modalnya juga lebih cepat bisnis online,” ujar Akung.


Persiapan usaha

Untuk memulai bisnis online tentu Anda harus tahu bagaimana mengoperasikan komputer dan ponsel. Tapi, itu gampang. “Tak ada keahlian khusus yang harus dipelajari soal komputer. Kalau mau jual via jejaring sosial, ya, paling tidak harus tahu bagaimana menggunakannya,” papar Akung.

Konsultan bisnis online dari Success Professional Learning Center Andhika Wijaya Kurniawan mengingatkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan calon pengusaha online. Pertama, soal produk yang akan dijual. “Jangan menjual makanan yang cepat basi. Kalaupun makanan basah dan ada risiko basi harus dibatasi wilayah pengirimannya,” ujar Andhika. Selain itu, berikan juga petunjuk kepada konsumen tentang bagaimana menyajikan makanan setelah sampai tujuan bila melalui proses pengiriman yang memakan waktu lebih dari satu hari.

Kedua, tentukan media yang akan digunakan, apakah menggunakan jejaring sosial Facebook, Twitter, atau menggunakan website. “Kalau perlu, ketiganya dipakai semua, jadi bisa maksimal. Dengan Facebook, kita bisa menjaring komunitas lebih banyak yang kemudian diarahkan ke website untuk melihat profil dan informasi yang lebih banyak tentang produk yang ditawarkan,” jelasnya. Menurut Andhika, tampilan foto produk yang menarik di website akan sangat membantu meyakinkan calon konsumen.

Namun, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Bila kapasitas produksi belum memadai, jangan memanfaatkan semua media tersebut. Pilih salah satu saja supaya pesanan tidak overload dan bisa mengakibatkan konsumen kecewa. “Saya sendiri hanya pakai satu media, yaitu Facebook. Selain produksi masih terbatas, tenaga kerjanya juga masih terbatas,” kata Akung, yang hanya mempunyai dua karyawan. Dengan fokus pada satu media, pemantauan bisnis lebih mudah. Jangan lupa berikan data lengkap toko online Anda, seperti nomor telepon dan alamat.

Untuk memperkenalkan usaha yang dilakoni, Anda bisa menggaet kolega terlebih dari dulu. Dengan cara itu, satu per satu, calon konsumen akan terkumpul. Tidak menutup kemungkinan, kolega itu akan jadi sumber informasi dari mulut ke mulut sehingga usaha online Anda akan semakin dikenal.
Ketiga, bangun kredibilitas. Ini penting demi kepuasan dan demi untuk mempertahankan pelanggan. “Pengiriman barang harus tepat waktu dan jaga kemasan tidak rusak,” kata Andhika. Andhika bilang, bila jangkauan pengiriman barang sudah intens ke luar kota, ada baiknya, Anda bekerjasama dengan jasa ekspedisi pengiriman barang. Tujuannya, dengan menjadi pelanggan pengiriman, tenaga ekspedisi akan datang ke rumah.

Keempat, bangun komunikasi dengan pelanggan. Misalnya hubungi mereka dan pastikan barang sudah sampai. Selain itu, bila sudah mendapatkan konsumen jangan dilepas begitu saja. Bangun silaturahmi.

Harap dicatat, usaha makanan basah lewat online berbeda dengan bisnis baju atau elektronik secara online. Makanan basah bisa basi, sedang baju atau elektronik tidak. Untuk itu, Anda perlu mempertimbangkan jangkauan pemasaran makanan yang dijual. “Pesanan pempek saya ada dari Jayapura dan Aceh, tapi karena waktu pengiriman yang panjang, yang memungkinkan pempek basi pas di tempat tujuan, pesanan itu saya tolak,” ujar Anton.

Patut Anda perhitungkan apakah makanan yang Anda siapkan itu selalu ada atau Anda hanya berproduksi ketika ada pesanan. Ini penting supaya konsumen bisa memaklumi bila pesanannya itu tidak bisa datang pada hari itu juga. “Kami produksi kalau ada order saja. Pesan hari ini, akan kami antar sesuai pesanan tapi tidak bisa hari itu juga,” kata Akung.

Akung bilang, bila ada pesanan di luar rute yang dilalui, ia akan mengenakan ongkos kirim. Misalnya, hari ini, rute yang dilalui daerah Bekasi, Cibitung, dan Cikarang, maka pesanan di Bintaro akan dikenai ongkos kirim. “Ongkir (ongkos kirim) ini harus didiskusikan dengan konsumen. Seandainya cocok baru diorder,” ujarnya. Akung mengaku, dengan media online ini, jangkauan konsumen menjadi lebih luas. Bahkan, ada pesanan dari Jepang dan Qatar. Tapi pesanannya tidak untuk dikirim ke negara tersebut, melainkan dikirim ke sanak saudara di Jakarta dan sekitarnya.


Risiko dan tantangan

Kini, penggiat usaha makanan online memang kian banyak. Namun, asal bisa memberikan kepuasan pelanggan, Anda tetap akan jadi pilihan utama pelanggan. Akung selalu memperhatikan betul kepercayaan pelanggan dan citarasa siomaynya. Akung sendiri terbilang cukup berani untuk tidak mematok uang muka dalam pembelian siomaynya. Padahal, bisnis online sarat dengan penipuan.

Akung hanya meminta alamat jelas dari di pemesan siomay. “Biasanya memang dibayar waktu ada transaksi karena kebetulan jangkauan kita masih di dalam kota, jadi bisa diantar karyawan,” ujarnya. Nyatanya, dengan sistem itu, Akung belum pernah mengalami pengalaman buruk seperti penipuan.

Sementara, karena paling banyak mengirim keluar kota, Anton menerapkan sistem bayar di muka, baru barang dikirim. “Kadang usaha online sendiri banyak penipuan. Untuk menyakinkan konsumen bahwa kami benar-benar ada, kami minta pelanggan menyampaikan testimoninya di website kami,” ujarnya.

Tak lupa pula, pertahankan citarasa. Akung menyadari makanan itu soal selera, jadi dia sendiri tidak pernah bilang kepada konsumennya bahwa siomaynya paling enak. Yang harus diperhatikan adalah konsistensi takaran bahan ikan dan tepung saja sehingga tidak mengubah citarasa. “Soal rasa serahkan pada konsumen. Toh, mereka akan komentar sendiri di dinding FB (Facebook),” ujarnya.

Persaingan bisnis ini cukup sengit. Gerai riil siomay atau pempek cukup banyak. Jadi, harus ada kelebihan produk Anda yang Anda tonjolkan. “Kami mencoba tampil beda dengan pempek lain. Isi pempek kapal selam kami dari telur bebek sehingga lebih gurih, tapi harga terjangkau,” ujar Anton.

Anton yakin, karena jenis makanan yang dijualnya merupakan makanan khas, potensi pasarnya masih besar. Sasarannya, kan, memang di luar kota Palembang,” katanya. Pemesan pempek Anton dari Jakarta cukup banyak. Sementara, kebanyakan pelanggan Akung adalah para pegawai kantoran di Jakarta dan sekitarnya.

Tentu saja, Anda harus perhatikan harga untuk mengantisipasi persaingan. Bisa jadi, harga siomay Akung lebih mahal dibandingkan siomay gerobak dorong. Tapi dengan harga Rp 7.000 itu, sudah bebas ongkos kirim. Si konsumen juga tidak perlu meninggalkan pekerjaannya untuk makan.

Peluang Usaha Pertanian : Budidaya Jamur Tiram, Modal Cekak Laba Menggiurkan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Budidaya jamur tiram bukanlah hal yang baru di Sumatera Utara (Sumut). Banyak yang sudah membudidayakan makanan kaya gizi tersebut. Apalagi permintaan jamur akhir-akhir ini kian meningkat. Itu karena tumbuhan yang tidak memerlukan media tanah sebagai pertumbuhannya ini dapat diolah sebagai makanan ringan seperti krispi selain diolah sebagai bahan campuran makanan lain. Tingginya permintaan akan jamur tersebut membuat Supriadi melakukan pembudidayaan jamur. Tidak hanya itu, ia juga menyediakan media tumbuh atau baglog serta memproduksi bibit jamur tiram.

Supriadi, termasuk pemasok terbesar jamur tiram di Sumut khususnya di Kota Medan. Tiap hari, ia bisa memasarkan sebanyak 50 kg jamur tiram segar dengan harga jual Rp 20.000 per kg yang dikemasnya dalam kemasan plastik ukuran 200 gram per bungkusnya.

“Biasanya agen yang datang langsung ke lokasi pembudidayaan jamur kita,” kata Supriadi saat berkunjung ke lokasi pembudidayaan jamur tiramnya di Desa Nagarejo/Nagatimbul, Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang belum lama ini.

Jamur tiram segar yang dijual itu dipanennya dari rumah jamur atau kumbung (tempat pembudidayaan jamur –red) miliknya seluas 7 x 12 meter per segi. Dari penjualan itu, Supraidi bisa mengantongi sedikitnya Rp 1 juta setiap harinya. Dan, itu masih dari penjualan jamur tiram segar belum lagi dari penjualan media tumbuh jamur tiram (baglog) serta bibit jamur tiram.
Bahkan, dari ketiga jenis produk yang diproduksi Supriadi permintaan baglog paling tinggi, mencapai 20.000 baglog per bulan dengan harga jual Rp 3.000 per baglog.

Baglog yang dijual tersebut sudah diisi bibit jamur tiram dengan posisi mycelium di atas 50%. Sedangkan untuk permintaan bibit jamur tiram sendiri rata-rata berkisar 250 botol per bulan dengan harga jual Rp 30.000 per botol. “Jadi, laba yang kita peroleh dari usaha jamur tiram ini lumayan banyak. Sementara biaya produksi tidak terlalu besar, hanya berkisar Rp 6,5 jutaan. Itu juga sudah termasuk biaya untuk pembuatan kumbung atau rumah jamur.

Pria berusia 42 tahun tersebut mengaku, permintaan jamur tiram sebenarnya sangat tinggi, tidak hanya untuk pasar lokal tapi di luar Sumut juga seperti Aceh dan Batam, Kepulauan Riau. Bahkan dari Singapura juga sudah ada yang memesan sebanyak 500 kg per hari. Namun, permintaan tersebut belum dapat terpenuhi karena produksi jamur tiramnya masih sedikit.

“Tadinya, saya sudah sempat mengirim ke Aceh dan Batam, namun karena permintaan di Medan juga tinggi jadinya terpaksa saya hentikan dan kami fokus untuk mengisi pasaran di Medan. Ya, kami terkendala dalam produksi yang masih terbatas,” katanya lagi.

Ketertarikan Supriadi dalam melakukan pembudidayaan jamur tiram karena prospek dan peluang yang dijanjikan dari usaha ini masih sangat besar. Apalagi bahan baku yang digunakan sebagai media tumbuh jamur diperoleh dari limbah gergajian yang banyak ditemukan di sekitar usaha.
Tidak hanya itu, pesaing juga masih sedikit. “Kita tidak khawatir terhadap gempuran produk sejenis dari luar daerah maupun luar negeri. Karena jamur tiram lebih enak diolah dalam bentuk segar,” sebutnya sambil tersenyum.

Budidaya jamur tiram yang dilakukan Supriadi berada di bawah naungan Jamur Lestari Medan dan Manajemen Agromakmur Organik Sejahtera (AOS). Menurut bapak satu putra dan satu putri ini, budidaya jamur tiram umumnya dilakukan di daerah bersuhu dingin.

Tetapi dengan penelitian dan percobaan yang dilakukan secara terus menerus oleh Jamur Lestari maka jamur tiram dapat ditumbuhkan di daerah dataran rendah, yang bersuhu relatif panas, seperti di Medan dan sekitarnya. Ini dilakukan dengan melakukan modifikasi iklim mikro seperti suhu dan kelembaban rumah jamur (kumbung) sedemikian rupa sehingga sesuai dengan syarat tumbuh jamur tiram.

Hanya saja, masalah yang sering timbul dalam budidaya jamur tiram di dataran rendah adalah serangan hama terutama ulat. Begitupun, untuk mengatasi serangan tersebut pihaknya (Jamur Lestari Medan-red) mengembangkan cara pengendalian terpadu.

Namun yang perlu menjadi catatan penting bagi pembudidaya jamur tiram menurut Supriadi adalah bibit. Bibit memegang peranan penting dalam keberhasilan budidaya jamur. “Bibit yang baik akan menghasilkan jamur yang baik pula. Dan, saat ini Jamur Lestari Medan didukung oleh Kantor Pusat Jamur Lestari Solo telah mengembangkan bibit jamur tiram yang lebih adaptif untuk daerah dataran rendah yang lebih panas,” jelasnya.

Di Desa Nagarejo/Nagatimbul, Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang itu, Supriadi mengembangkan budidaya jamur tiram. Dari dalam kumbung berukuran 7 x 12 meter per segi itulah ia memanen rupiah tiap harinya. “Kapasitas kumbung ini bisa mencapai 10.000 log (baglog),” akunya , belum lama ini di lokasi pembudidayaan jamur tiramnya.

Menurut Supriadi, budidaya jamur tiram tidak terlalu sulit. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kelembaban dan temperatur budidaya. Namun, bibit yang digunakan juga memiliki peranan penting dalam menghasilkan jamur tiram segar yang berkualitas. “Untuk bibit, kami juga sudah membuatnya sendiri dari jamur segar. Dan, perbanyakan bibit kami lakukan dengan sistem kultur jaringan,” jelasnya.

Dalam pembuatan baglog, bahan utama yang digunakan Supriadi adalah serbuk gergaji. Serbuk gergaji tersebut dicampur dengan bahan lain seperti dedak dan kapur. Kemudian diaduk rata dan dimasukkan ke dalam plastik dengan berat 1,2 kg per log. Setelah itu disterilisasi selama enam jam dengan suhu 100 derajat celcius. Sterilisasi ini dimaksudkan untuk membunuh jamur-jamur liar atau mikroorganisme lain yang kemungkinan menempel pada bahan. Selanjutnya, didinginkan selama 12 jam dan diberi bibit jamur tiram. “Untuk satu botol bibit bisa digunakan untuk 20 baglog,” sebut Supriadi.

Langkah selanjutnya, adalah melakukan inkubasi selama kurang lebih 15 hari dengan menyusunnya di rak-rak dalam kumbung. “Jamur akan tumbuh 45 hari setelah bibit ditanam,” jelasnya.

Yang utama diperhatikan menurut dia adalah suhu dalam ruangan atau kumbung harus di bawah 30 derajat Celcius dengan kelembaban di atas 80%.

“Untuk budidaya jamur tiram dataran rendah, masalah utama yang muncul adalah hama ulat. Namun, itu dapat diatasi dengan pemberian larutan yang berasal dari bahan organik yang dikembangkan oleh Jamur Lestari Medan,” kata Supriadi.

Sedangkan untuk panen, disebutkannya, panen perdana dapat dilakukan setelah 45 hari dengan jumlah produksi berkisar 250 gram per baglog. Dengan kata lain, total produksi yang dapat diperoleh dari satu baglog adalah 60% dari berat baglog atau sekitar 700 gram per baglog.

“Jamur yang dipanen adalah tiga hari setelah jamur mulai tumbuh dengan diameter jamur kurang lebih 9 cm. Kalau panen kita lakukan terlalu lama atau hari keempat dengan diameter lebih dari 9 cm, jamur sudah tua. Dan, itu ditandai dengan jamur melekuk ke bawah. Jadi, tidak kembang lagi,” ujarnya.

Lebih jauh dijelaskannya, tanda-tanda jamur tumbuh dengan baik, micellium tumbuh tebal, merata dan benang-benang micelliumnya segar.

Dalam pengembangan bisnis jamur tiram, Supriadi tidak hanya menjual baglog, bibit dan jamur tiram segar saja. Tapi ia juga membangun pola kemitraan bagi pelaku-pelaku usaha jamur tiram khususnya bagi pemula. Bahkan saat ini, mitra binaannya sudah berkisar 100-an orang yang tersebar di beberapa daerah di Sumatera Utara (Sumut), seperti Tebingtinggi, Deliserdang serta Aceh dan Riau.

Hal ini dilakukannya untuk mengajak masyarakat bersama-sama mengembangkan jamur tiram mengingat permintaan akan komoditas tersebut sangat tinggi. Sementara produksi yang ada saat ini masih sedikit, sehingga belum mampu memenuhi permintaan tersebut. “Untuk pembuatan krispi saja masih sangat kurang, belum lagi untuk kebutuhan rumah makan, hotel dan restoran-restoran yang ada di Sumatera Utara,” akunya.

Dalam membangun kemitraan, kata dia, mitra usaha akan diberikan pelatihan gratis di dalam managemen budidaya dan juga akan dibantu dalam pengembangan pemasaran. Misalnya, apabila ada konsumen yang berada di daerah Tembung mencari jamur tiram segar, akan diarahkan ke mitra binaan yang berada di daerah tersebut. Begitu juga untuk daerah-daerah lainnya.

“Jadi, mereka langsung yang melakukan pemasaran hanya saja kita yang menginfokan lokasi atau daerah di mana konsumen akan mendapatkanya. Tentunya, daerah yang terdekat dengan konsumen dan si pembudidaya,” kata Supriadi sembari menambahkan dengan cara kemitraan seperti ini diharapkan budidaya jamur tiram di Sumut khususnya di Kota Medan dapat berkembang.

Sistem atau pola kemitraan yang ditawarkan Jamur Lestari Medan menurutnya adalah dengan menawarkan paket kemitraan. Dengan investasi Rp 3 juta per paket, maka mitra akan mendapatkan baglog jamur tiram sebanyak 1.000 log dengan berat masing-masing log 1,2 kg dengan komposisi micellium sekitar 50%.

Kemudian gratis pelatihan managemen kumbung untuk dua orang, gratis konsultasi selama menjadi mitra serta bantuan informasi distribusi pemasaran. “Ini dilakukan karena kami melihat masyarakat yang mencoba budidaya jamur tiram banyak yang kecewa. Banyak pembuat dan penjual baglog hanya menjual baglog tanpa diikuti dengan transfer teknologi budidaya jamur tiram,” jelasnya.

Akibatnya, apabila si pembeli baglog mengalami masalah dibudidayanya seperti baglog yang tidak tumbuh, adanya serangan hama dan penyakit maka mereka tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Sehingga banyak yang kecewa dan tidak mau menanam jamur lagi. “Kumbung yang sudah dibuat menjadi mubazir, tidak terpakai lagi,” aku Supriadi yang pernah mengalami kegagalan dalam budidaya jamur tiram saat pertama kali melakukannya.

Belajar dari pengalaman itulah, Supriadi menawarkan kemitraan bagi masyarakat yang ingin mencoba terjun dalam bisnis jamur tiram tersebut.
Modal Cekak

Dalam budidaya jamur tiram, Supriadi mengatakan, modal awal yang dibutuhkan relatif kecil. Di luar dari lahan, investasi awal yang dibutuhkan hanya berkisar Rp 6,5 juta. Modal tersebut untuk pembuatan rumah jamur atau kumbung ukuran 4 x 6 meter per segi sekitar Rp 2,5 juta, pembelian baglog Rp 3.750.000 dengan asumsi jumlah baglog sebanyak 1.250 x harga baglog Rp 3.000 per log dan biaya lain-lain Rp 250 ribu.

Sementara produksi jamur tiram yang dapat diperoleh dari jumlah baglog yang dikembangkan tersebut berkisar 5 kg per hari selama lima bulan, dengan harga jual jamur tiram segar Rp 20.000 per kg, maka omset yang diperoleh mencapai Rp 15 juta. Dengan asumsi 5 kg x 30 hari x 5 bulan atau 750 kg x Rp 20.000 per kg = Rp 15 juta.

Dikurang biaya produksi Rp 6,5 juta maka laba yang diperoleh berkisar 8,5 juta untuk waktu lima bulan atau berkisar Rp 1,7 juta per bulan. “Itu, hanya dari penjualan jamur segar saja. Belum lagi kalau kita sudah bisa memproduksi baglog sendiri. Dan, laba yang diperoleh itu akan bertambah lagi setelah panenan pada musim tanam kedua. Karena kita tidak lagi mengikutkan biaya pembuatan kumbung. Kumbung dapat bertahan atau dipakai untuk waktu empat tahun (10 kali periode produksi),” jelasnya.

“Untuk panenan periode pertama, selain modal kembali, kita juga sudah dapat memetik laba. Jadi, kita tidak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk kembali modal seperti budidaya jenis tanaman lain. Inilah kelebihan dari budidaya jamur tiram yang kami tawarkan,” katanya lagi.

Sedikitnya modal yang ditawarkan Supriadi kepada pembudidaya pemula, tak lain untuk merangsang masyarakat tertarik mengembangkan bisnis tersebut. Selain itu, juga karena bibit jamur tiram yang dipasarkannya tidak dipasok dari Jawa atau luar Sumut melainkan diproduksi sendiri dengan sistem kultur jaringan sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah.

“Kalau, bibitnya kita pasok dari luar Sumut, jelas investasinya akan lebih mahal. Sementara baglog yang kami tawarkan sudah berisi bibit jamur. Dengan begitu konsumen tidak lagi bersusah payah memasok bibit dari luar. Inilah kelebihan yang kami tawarkan kepada masyarakat yang tertarik untuk mengembangkan jamur tiram segar,” katanya lagi.(MB)

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Olahan Durian Raup Omzet Rp1 Juta/Hari

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,

Foto: Yuni Astutik/okezone

King Of Fruit atau Durian termasuk salah satu buah yang banyak penggemarnya. Entah itu mulai dari anak-anak maupun orang dewasa. Durian nampaknya tidak hanya dimakan sebagai buah, namun juga nikmat disantap sebagai kudapan lain yang berbeda.

Hal ini menginspirasi Ammy Syamsudin (60 tahun) untuk membuat sesuatu yang berasal dari durian. Berawal dari hanya menjual macam-macam minuman seperti es koktail dan es kelapa, dirinya mencoba membuat sesuatu yang berbeda dari buah durian.

Warung tempatnya berjualan pun terbilang cukup sederhana. Ditandai dengan menumpuknya buah durian di depan pintu masuk. Es durian BBT sendiri sudah melegenda sejak 1970-an.

"BBT diambil dari Baba Tong, nama kakek dari Ibu saya (Ammy Syamsudin). Jadinya disingkat BBT," ungkap Anak dari pemilik warung, Feri Gunawan saat ditemui okezone di warungnya.

Diceritakannya, dahulu warung yang sudah berdiri sejak 1978 tersebut hanya menjual dua macam minuman. Yaitu es koktail atau es buah dan es kelapa. Namun, ketika disadari banyak buah durian yang tersedia di pasaran, Ibu Ammy mencoba membuat es durian.

"Awalnya memang coba-coba. Kalaupun enggak laku juga enggak masalah. Karena saat itu Ibu saya suka juga makan durian," kisahnya.

Awal menjual es durian, sehari Ibu Ammy hanya mampu menghabiskan lima buah durian sebagai bahan olahan es durian. Modalnya kala itu masih terbilang kecil yakni sekira Rp200 ribu. "Dulu pertama jual paling laku lima buah durian. tapi sekarang bisa habis sampai 50 buah durian," paparnya.

Warung yang pada awalnya hanya mampu meraih omzet Rp3 ribu per hari, saat ini sudah semakin berkembang. Ini terbukti dari penghasilan kotor yang saat ini diperoleh bisa menembus angka Rp1 juta per harinya. Atau jika dengan hitungan berapa banyak pengunjung yang datang bisa mencapai 100 pengunjung per harinya.

Sabtu dan Minggu pun menjadi hari yang dikunjungi banyak pembeli. Meskipun banyak menu es durian lain seperti durian kopyor, durian campur, durian nangka maupun durian alpukat, namun rata-rata para pembeli lebih banyak memesan es durian.

"Untuk es durian yang lain itu, pelanggan yang meminta. Mereka yang menelurkan ide, dan menu itu baru setahun terakhir, belum lama," terangnya.

Es durian yang dijual memang sederhana, daging buah durian dicampur dengan sedikit es serut, kemudian ditambahkan sedikit susu kental manis. Jadilah es durian khas BBT.

Diceritakannya pula, es durian BBT mempunyai ciri khas yang membuatnya berbeda dari es durian yang lain yaitu daging durian yang digunakan asli, tidak ada campuran apapun. Selain es serut yang digunakan sedikit, daging duriannya juga lebih banyak, sehingga tekstur buah durian lebih terasa.

Lelaki kelahiran 25 Desember 1976 ini menjelaskan jika sudah ada beberapa cabang es durian BBT. Di antaranya di Blok M plaza, dan Taman Ubud Lestari Tangerang. Namun menurutnya, kedua cabang tersebut tidak seramai warung yang terletak di jalan Matraman raya persis di samping sekolah Marsudirini.

"Kalau saya lihat, tempat menentukan sekali. Di mal mungkin orang mikirnya sudah biasa es durian. Omzet di mal kecil, paling hanya Rp200 ribu. Orang sepertinya lebih suka makan di pinggir jalan seperti ini," ungkapnya lagi.

Menurutnya, musim hujan tidak menjadi kendala dalam menjajakan es duriannya tersebut. Karena, menikmati es durian tidak hanya pas saat panas ataupun hujan. Buah durian ternyata mampu juga memberikan efek hangat pada tubuh, sehingga tidak masalah untuk menyantapnya kapan saja.

Namun demikian, bukan berarti dirinya tidak mempunyai kendala dalam berjualan es durian. Kendala yang dialami selama berjualan berasal dari buah durian itu sendiri, yang biasanya berasal dari lokal seperti Sumatera, dan Jawa. Namun jika ternyata stok dalam negeri habis atau kurang bagus, Feri menggunakan buah dari Thailand.

"Kalau lokal enggak ada, biasanya kita ambil dari Thailand. Masalah harga relatif sama. Lagi pula saat ini di supermarket sudah banyak yang jual buah durian, jadi tidak terlalu khawatir akan kehabisan stok durian," tambahnya.

Harga es yang ditawarkan warung yang buka dari pukul 07.00 WIB hingga 19.00 relatif terjangkau. Dengan hanya bermodal Rp12 ribu kita sudah bisa menikmati legitnya daging durian. Atau jika ingin sesuatu yang berbeda, coba alpukat campur durian yang rasanya tidak kalah segarnya.

Peluang Usaha Pertanian : Utju melawan tengkulak dengan integrasikan pertanian padi organik dan peternakan

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,


Utju Suiatna tak pernah menyangka perkenalannya dengan padi organik membuatnya memiliki tekad untuk melatih petani agar lebih sejahtera. Lulusan teknik fisika ITB ini tidak mau para petani Indonesia terjerat tengkulak. Dengan pelatihan dan integrasi pertanian organik, perikanan dan peternakan, dia memberi pengetahuan agar petani lebih maju.

Tengkulak menjadi musuh bagi kesejahteraan petani. Musuh ini pula yang coba dilawan oleh Utju Suiatna dengan melakukan program pemberdayaan petani terutama dengan mengajari mereka cara bertanam beras organik.

Sebenarnya, niat membantu petani di daerah Bandung, tempat dia tinggal, datang tanpa sengaja. Sebab, pertama kali mengenal beras organik, dia hanya berusaha membantu teman teman alumni semasa kuliah di Jurusan Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kesulitan mendapatkan beras organik.

Dari perkenalan itu, Utju yang kala itu menjabat Ketua Pemberdayaan UKM alumni ITB Jawa Barat bersama rekannya Amar Rasyad mendirikan Ganesha organik (GO) SRI pada tahun 2007. Dengan wadah organisasi GO SRI, Utju saat ini terlibat dalam program pemberdayaan petani di Indonesia tak hanya di Bandung, Jawa Barat.

Tak hanya mengajarkan cara bertanam organik yang baik, Utju juga mengajarkan bagaimana petani bisa hidup mandiri dan sejahtera. Dia merasa perlu terjun dalam pemberdayaan petani, sebab dia melihat kenyataan menyedihkan yang dialami petani Indonesia.

"Banyak petani dengan lahan sempit semakin menderita karena harus meminjam dana dari tengkulak untuk membeli pupuk dan benih," katanya. Oleh karena itu, pada saat panen mereka harus menjual hasil pertaniannya pada tengkulak dengan harga murah, lalu uangnya digunakan untuk membeli beras lagi.

Dia bertanya-tanya kenapa petani Indonesia tidak bisa hidup makmur seperti para petani di Australia. Padahal, "Indonesia memiliki tanah yang lebih subur," katanya.

Dengan pengetahuannya, pada tahun 2008 Utju melakukan pelatihan di lahan padi organik miliknya yang terletak di kecamatan Cijambe, Subang. Di tempat tersebut, para petani bisa datang untuk belajar. Namun, cara itu dianggapnya kurang efektif sebab petani di daerah tidak bisa belajar seperti yang bisa didapatkan oleh petani yang ada di Subang.

Oleh karena itu, dia berinisiatif mengadakan kerjasama dengan beberapa perusahaan seperti PT Rekayasa Industri, PLN 3 B Divre Jawa Barat, PT Pupuk Iskandar Muda dan lain-lain melalui program corporate social Rresponsibility (CSR)-nya.

Dengan bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan itu, dia mampu melatih petani di Lhoksumawe, NAD, Lampung Utara, dan beberapa kota di Jawa Barat seperti Pandeglang, Cianjur juga Garut. Utju tidak mengambil keuntungan dari pelatihan yang dilakukannya, namun keuntungan didapat dari hasil menjual beras petani.

Dia membeli beras organik yang dihasilkan dari pelatihannya dengan harga Rp 8.000 per kilogram (kg). Harga yang diberikannya tentu lebih tinggi dibanding harga pasar yang ada.

Utju kemudian mengemas beras yang dia beli dari petani itu dengan merek Ciung Wanara. Dia pun menjualnya melalui saluran alumni ITB dengan harga
Rp 10.000 per kg. Sedangkan jika dia menjual langsung, harganya bisa Rp 14.000 per kg.

Selain mengajarkan pertanian organik, Utju juga mengajarkan cara membuat pupuk kompos dari kambing dan sapi peliharaan sendiri. Para petani juga mendapat pelatihan bertanam jamur, agar mereka tidak tergantung pada panen padi saja.

Selain jamur, dia juga mengajarkan teknik pemeliharaan ikan di sawah seperti ikan nila, termasuk pemeliharaan kambing. "Jamur bisa menjadi tambahan harian sedangkan nila untuk penghasilan bulanan," katanya.

Integrasi antara pertanian dan perikanan dan peternakan diharapkan akan menambah penghasilan petani, sehingga diharapkan kesejahteraan akan meningkat. Pelatihan juga menyasar pemuda desa untuk bisa memasarkan hasil panen, sehingga tengkulak tidak dapat bermain.

Menurut Utju, kendala yang sering kali ditemui pertama kali adalah sikap antipati para petani dengan program pelatihan. Sebab, banyak petani yang merasa dibohongi pihak yang mengaku ingin memberikan pelatihan namun ujung-ujungnya malah mencari keuntungan sendiri.

Oleh karena itu, biasanya GO SRI melakukan survei dan diskusi dengan petani sebelum benar-benar memutuskan untuk mengadakan pelatihan selama tiga hari. “Kami yang memilih bukan perkumpulan petani, itu untuk menghindari petani yang datang hanya mengincar uang transport," katanya.

Utju yang pada Februari lalu merilis buku berjudul Bertani dengan Akal dan Nurani, tidak memaksa petani menggunakan sistem organik untuk padinya. Bagi petani yang ragu disarankan mencoba 10% atau 20% dari lahan mereka. Menurutnya, setelah berhasil, maka akhirnya banyak petani lain mau mencobanya.

Kendala lain adalah sikap petani sendiri yang seperti robot. Sebab, petani datang jika ada pelatihan, mempratikkan, namun saat program berhenti mereka juga ikut berhenti dan menunggu program selanjutnya.

Tidak hanya petani yang meminta pelatihan, ada pensiunan Semen Gresik yang datang untuk minta pelajarannya. Bahkan, pada tahun 2010 lalu, rombongan mahasiswa S-3 dari Cornel Institute of Food and Agriculture datang ke tempat Utju di Subang untuk melihat cara budi daya padi organik.

Peluang Usaha pertanian : Manisnya Laba dari Ternak Jangkrik

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,



Tak usah banyak-banyak, hanya dengan memiliki sepuluh kotak saja dengan masing-masing kotak bisa menghasilkan lima hingga tujuh kilogram jangkrik, Tama bisa mengantongi laba sebanyak Rp 3,5 juta dalam sekali panen. Dengan asumsi harga jual jangkrik antara Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogramnya. Laba yang luar biasa dari binatang kecil yang selama ini nyaris tak tersentuh pebisnis.
Ribuan jangkrik muda berlompatan di kandangnya. Hewan yang kini banyak dikembangkan ini saling berebut sayuran sawi hijau yang diberikan si peternak.

"Sebagian jangkrik ini baru menetas dari telurnya dan dalam usia 40 hari ke depan siap untuk panen dan dipasarkan," ujar Tama, peternak jangkrik mengawali obrolannya dengan MedanBisnis, di lokasi peternakan jangkriknya di Jalan Beringin Desa Tembung Kabupaten Deliserdang.

Bagi pria yang baru berusia 20 tahun ini, awalnya beternak jangkrik merupakan kegiatan selingan untuk mencari kesibukan lain di rumah. Namun, dengan keuntungan yang lumayan besar, ia yang baru memulai membudidayakan jangkrik dalam empat bulan terakhir ini merasa tertantang untuk lebih serius menekuninya hingga mengembangkan lebih besar lagi.

Bayangkan saja, dengan memiliki sepuluh kotak dengan masing-masing kotak bisa menghasilkan lima hingga tujuh kilogram, dengan harga jual jangkrik Rp 45.000 hingga Rp 50.000 perkg nya, Tama bisa mengantongi uang sebanyak Rp 3.500.000 dalam sekali panen untuk semua kotak jangkrik.

"Untungnya sih lumayan juga. Masa panen jangkrik 40 hari dan bisa langsung dijual. Bahkan telur pun sangat banyak diminati dengan harga jual Rp 50.000 per ons nya," jelas Tama.

Sedangkan biaya produksi yang harus dikeluarkan dalam membudidayakan jangkrik atau dengan nama latinnya dikenal Liogryllus bimaculatus itu, dikatakan Tama tidaklah terlalu besar. Awalnya perlu membeli bibit jangkrik seharga Rp 500.000 perkg. Namun, untuk ukuran kotak yang dimilikinya yakni berukuran 2,40 meter x 60 meter, bibit yang digunakan hanya berkisar 2,5 ons. Dan kotak ukuran kecil 1,20 meter x 60 meter bibit hanya berkisar 1,5 ons saja.

Kemudian, peternak harus membuat kotak berbahan triplek yakni dengan biaya Rp 300.000 per kotak untuk ukuran besar dan setengah harga kotak ukuran kecil. Sarang atau kertas telur juga harus disiapkan yang digunakan sebagai tempat bersembunyinya jangkrik di dalam kotak. Kertas telur biasa yang dibeli di warung-warung atau grosir dengan harga Rp 100 per lembar.

Biasanya kertas telur yang digunakan sebanyak 48 lembar untuk kotak ukuran kecil. "Setelah kotak, kertas telur dan bibit disiapkan, kita juga harus menyediakan pakan jangkrik berupa sayur-sayuran hijau yang bisa dibeli di pasaran dalam 3 hari sekali dengan harga Rp 10.000 perkg nya. Sayuran yang biasa dibeli adalah sayuran yang tidak lagi laku dijual lagi. Tapi sebelum diberi pada jangkrik, sayur harus dicuci bersih agar terhindar dari sisa obat-obatan pestisida yang menempel pada sayur sehingga jangkrik dapat hidup sehat dan memiliki ketahanan tubuh lebih lama," ungkapnya.

Secara rinci, modal yang harus dikeluarkan bagi peternak jangkrik pemula seperti Tama dengan hanya memiliki 10 kotak, yang terdiri dari 3 kotak ukuran besar dan selebihnya ukuran kecil, hanya memerlukan biaya sebesar Rp 5 juta. Namun, selanjutnya jika sudah memiliki kotak, biaya produksi persekali panen dalam 40 hari, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu saja. "Modal tidak terlalu besar, ya pasti cara perawatan harus baik agar jangkrik mau berkembang dan bertelur sehat," ungkapnya.

Beternak jangkrik sangatlah mudah, sebab jangkrik hanya memakan sayur-sayuran juga pur. Jangkrik pun tumbuh besar dengan sendirinya, tinggal diletakkan di dalam kotak. Untuk melakukan panen 40 hari sekali. "Jika terlalu lama membiarkan jangkrik sampai besar, harga jual tidak ada. Biasanya jangkrik-jangkrik tersebut dijual untuk makanan burung, ikan arwana dan lain-lain. Untuk burung, suara kicauan burung bisa merdu setelah makan jangkrik, sebab jangkrik mengandung banyak protein," akunya.

Untuk pemasaran jangkriknya selama ini, Tama mengatakan permintaan sudah meluas baik dari Kota Medan, Sibolga, Siantar hingga ke Aceh. Permintaan jangkrik memang banyak, tapi bagi Tama dan teman-teman peternak lainnya yang tergabung dalam satu kelompok terdiri dari 10 peternak hanya dapat menghasilkan jangkri sebanyak 30 kg perminggu.

"Kalau diikuti permintaan bisa sampai 100 kg perhari, tapi kita tidak bisa kirim seharian. Kerja sama kita per kelompok dan jadwal angkut dan panen juga tidak bersamaan agar produksi tidak banjir. Ini cara agar harga jual tidak jatuh," pungkasnya.

Kesuksesan Tama membudidayakan jangkrik ini, juga diikuti oleh Putra. Pria berusia 33 tahun ini mulai mengembangkan usaha ternak jangkrik di Jalan Amal Gang Bersama Desa Tembung Kabupaten Deliserdang. Dengan memiliki 11 kotak, ia berencana akan memperbesar usahanya menambah menjadi 25 kotak untuk beternak jangkrik.

"Saya baru satu bulan ini membudidayakan jangkrik. Jadi belum ada yang panen. Pekerjaan iseng, tapi sepertinya menguntungkan. Lagian cara perawatan tidak sulit dan modal juga tidak terlalu besar," tuturnya.

Dikatakannya, usaha budidaya jangkrik bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan, baik sebagai usaha sampingan maupun usaha berskala besar. Apalagi setelah ditemukan adanya kandungan zat-zat penting yang sangat bermanfaat. Tidak hanya sebagai pakan burung kicauan dan ikan, tetapi juga sebagai bahan baku industri.

"Di samping itu, beternak jangkrik bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Semua orang bisa dengan mudah belajar beternak jangkrik," kata Putra.

Jangkrik merupakan serangga yang berkerabat dekat dengan belalang, memiliki tubuh rata dan antena panjang. Jangkrik adalah omnivora, dikenal dengan suaranya yang hanya dihasilkan oleh cengkerik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak jantan lainnya.
Suara cengkerik ini semakin keras dengan naiknya suhu sekitar. Di dunia dikenal sekitar 900 spesies cengkerik, termasuk di dalamnya adalah gangsir. Untuk jenis jangkrik, diketahui ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus. Keduanya untuk pakan ikan dan burung.

Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, di mana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek di samping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.

Hewan bernama jangkrik ini lebih banyak sebagai salah satu bahan pakan ayam atau burung. Namun, banyak penelitian menyebutkan bahwa kandungan gizi dalam daging jangkrik ternyata bermanfaat bagi manusia. Kandungan proteinnya tiga kali lipat kandungan daging ayam, sapi dan udang.

Jangkrik juga mengandung protein omega 3, omega 6 dan omega 9 yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Selain itu, konsumsi jangkrik dipercaya dapat menambah stamina tubuh, menambah gairah seksual, serta mampu menunda menopause bagi wanita.

Berdasarkan penelitian Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, kandungan proteinnya yang mencapai 57,32% (sesuai) membuat jangkrik layak untuk dikonsumsi manusia.

Jangkrik mengandung 105,49 ppm hormon progesteron dan 259,535 hormon esterogen. hormon itu diketahui baik untuk membangun vitalitas perempuan. Misalnya, bermanfaat untuk pertumbuhan sekunder serta kesuburan, di samping bisa mengurangi rasa nyeri saat menopause dan membuat siklus menstruasi lancar.

Jangkrik juga menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram, jauh di atas bahan makanan lainnya. Data penelitian menyebutkan jangkrik memiliki senyawa kimia seperti asam amino yang dibutuhkan untuk proses pembentukan sel. Selain itu, jangkrik juga mengandung glutation (GSH) dan berfungsi sebagai antioksidan alami pada tubuh manusia.

Tak heran jika jangkrik kemudian marak dibudidayakan. Apalagi pada tahun 1998 ketika budidaya jangkrik dan cacing sedang booming. Saat ini, sebagian besar hasil budidaya jangkrik untuk pasokan pakan ternak.

Jangkrik adalah serangga kecil yang rajin bernyanyi, terutama pada malam hari sehabis hujan. Suaranya yang nyaring menimbulkan sensasi. Suara jangkrik akan semakin keras dengan naiknya suhu di sekitarnya.

Seiring dengan bertambahnya waktu, keberadaan jangkrik semakin terdesak dan sulit didapat karena habitat hidupnya semakin sempit. Saat ini orang ramai memelihara jangkrik bukan saja untuk didengarkan keindahan suaranya tetapi untuk keperluan ekonomi, karena harga jualnya yang semakin meningkat.

Tama yang sedang asyik membersihkan pasir sebagai wadah jangkrik bertelur ini, mengungkapkan membudidayakan binatang ini tidaklah terlalu sulit. Ada dua cara, yakni dari telur atau bibit indukan.
Untuk budidaya dari bibit telur, peternak bisa membelinya dari pedagang jangkrik. Namun memang tidak ada jaminan telur menetas semua, paling 70%, atau bahkan tidak menetas. Telur yang bagus berwarna putih atau kekuning-kuningan, tak ada flek hitam di tengah (tanda telur mati). Yang bengkok atau hitam semua, jelek. Kalau hitamnya hanya di ujung, telur itu sudah tua, mau menetas.

"Telurnya saja dijual dengan harga Rp 50.000 per ons. Kalau memang tidak mau terlalu sulit mengembangkannya dari indukan, dengan bibit telur juga sudah bisa menjadi pilihan membudidayakan jangkrik ini," katanya.

Dalam masa penetasan, telur yang sudah dibersihkan dari bak pasir, diletakkan pada kain lembab atau pelepah pisang. Telur menetas kurang lebih 8 hingga 10 hari sejak dipanen.

"Kelembaban udara sangat perlu diperhatikan. Kalau terlalu tinggi, telur bisa mati atau busuk karena terkena jamur. Demikian juga halnya jika kelembababan terlampau kering," katanya.

Untuk sarang bertelur, dalam kandang disediakan media pasir halus dalam wadah ceper (tatakan cangkir) dengan kedalaman 1,5 - 2 cm. Pasir dicuci bersih atau disangrai dulu. Jangkrik akan menusukkan "jarumnya" berulang-ulang ke dalam media pasir. Jumlah telur kira-kira 150 - 300 butir per ekor.

Setelah bertelur, jangkrik betina kehabisan energi dan 15 - 30 hari kemudian mati. Ada juga jangkrik betina yang kuat dan dapat kawin lagi setelah periode bertelur pertama. Hanya saja mutu telurnya kurang bagus.

"Dalam memanen telur dalam media pasir, perlu diayak dan telur akan tertinggal di ayakan," jelasnya sambil mencontohkan.

Anak-anak jangkrik yang baru menetas berwarna terang dan berubah menjadi hitam atau kecoklatan beberapa jam kemudian. Tunggu sampai 2 hingga 4 hari setelah menetas. Kalau telur belum juga habis, mungkin masih ada telur yang belum saatnya menetas, telur mati atau busuk.
Telur-telur yang sudah menetas, dapat langsung diberikan pakan yang di letak pada kotak.

Pakannya berupa sayuran-sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung dan lainnya. Untuk anak jangkrik muda, pakan diberikan sehari sekali, pagi atau sore. Sebelum dikasih pakan baru, sisa pakan sebelumnya diangkat dulu.

Umur 30 - 40 hari, anak jangkrik tumbuh menjadi clondo atau dogolan (jangkrik muda). Clondo bisa dipanen dan dijual sebagai pakan burung dan ikan arwana. Kalau belum ingin menjual, clondo bisa terus dipelihara untuk dijadikan indukan. Kira-kira berumur 2 hingga 4 bulan. Indukan ini bisa dijual atau dijadikan bibit untuk menghasilkan telur.

"Kalau menjadi indukan, semuanya harus lengkap mulai dari antena, sayap dan tubuh tampak kuat. Selain itu bibit indukan yang bagus berpantat panjang, hitam atau coklat kehitaman, dan "jarumnya" juga sudah hitam," pungkasnya.

Sementara serangan hama dan penyakit pada jangkrik, dilanjutkan Tama, sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular.

Cara pencegahan serangan hama dan penyakit ini, dapat melakukannya dengan menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan minyak gemuk pada kaki kandang. "Karena hama dan penyakit dapat diatasi secara preventif, maka penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin," tutur Tama

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul