RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label Teh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teh. Tampilkan semua postingan

Gawat, Teh Indonesia Terus Merosot!

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Oleh : Dedy Hutajulu.

Gawat! Ironi teh di negeri rempah-rempah ternyata masih terus berlanjut. Kompas edisi14 Januari 2012 menurunkan ulasan di halaman utama tentang nasib teh di tanah air yang terus terpuruk, mulai dari segi budidaya, volume produksi yang dipengaruhi semakin menyempitnya lahan areal perkebunan teh akibat dipinggirkan oleh sawit dan sayuran, sampai daya saing ekspor teh yang kian rendah.
Padahal diakui, peranan komoditas teh dalam perekonomian Indonesia sangatlah strategis. Di zaman penjajahan kolonial Belanda saja, industri teh ini mampu menyerap 1,5 juta tenaga kerja dan menghidupi sekitar 6 juta jiwa. Tentu, setelah lepas dari jerat perbudakan dan penindasan dipastikan industri teh akan mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi berjuta-juta orang dan menghidupi berlipat-ganda dari masa sebelumnya.

Selain itu, teh telah menyumbang devisa bersih sekitar 178 juta Dolar AS pada tahun 2010. Sedang rentang tahun 1997 sampai 2001, industri teh menyumbang sekitar 110 juta dolar AS per tahun. Ini menandakan bahwa tak terbantahkan bahwa teh sudah menjadi pilar ekonomi sekaligus bagian budaya bangsa ini selama berpuluh-puluh tahun.

Sedikit informasi, cerita teh di Indonesia berawal dari Andreas Cleyer. Tahun 1648, ia membawanya ke Indonesia sebagai tanaman hias di daerah Batavia (sekarang disebut Jakarta). Lalu, berpuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1728, perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), membawa biji teh dan buruh China ke Pulau Jawa.

Tahun 1828, Jacobson membawa benih teh dari Jepang ke tanah air dan membudidayakannya. Sejak itu, usaha perkebunan teh mulai berkembang pesat. Apalagi karena memberi keuntungan besar bagi pemerintahan Hindia Belanda. Sampai-sampai Gubernur Van Den Bosch menetapkan tanaman teh sebagai salah satu komoditas sistem cultuur stelsel (tanam paksa). Sejak itu pula bisnis teh di tanah air yang dikuasai Belanda merajai pangsa pasar dunia karena teh dari Hindia Belanda dikenal memiliki keistimewaan dan keunggulan.

Kondisi geografis tanah Jawa Barat yang subur begitu mendukung perkembangan usaha perkebunan teh. Maka, pada tahun 1936 tercatat dari 293 perkebunan teh di Indonesia, 247 perkebunan di antaranya berada di Jabar. Sayangnya, dalam 10 tahun terakhir, agrobisnis teh mengalami penurunan luas areal dan volume produksi.

Padahal, tahun 2003 produksi teh nasional bisa mencapai 169.000 ton tetapi tahun 2010 turun menjadi 129.200 ton. Penurunan produksi terjadi karena konversi lahan teh ke lahan sawit dan sayuran. Luas areal tanam juga turun dari 157.000 hektar tahun 1998 menjadi 124.400 hektar tahun 2010 (Kompas, 14/1). Ini sangat disayangkan!

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian pada tahun 2002 menunjukkan bahwa luas areal kebun teh di Indonesia sudah mencapai 157.000 hektar yang terdiri atas perkebunan teh milik BUMN sekitar 49.000 hektar, swasta 43.000 hektar, dan petani 66.000 hektar. Sekitar 70 persen perkebunan teh berada di Jawa Barat, tanah Pasundan.

Sedangkan tahun 2009, dari 123.506 hektar kebun teh di Indonesia sebesar 78,2 persen atau 96.652 hektar di antaranya berada di Jawa Barat. Produksi teh Jabar mencapai 111.721 ton atau 71,2 persen produksi teh Indonesia yang mencapai 156.901 ton. Luas kebun teh rakyat di Jabar tercatat 49.651 hektar atau 51,3 persen dari total kebun teh di Jabar, 31 persen PTPN, dan sisanya perkebunan swasta.

Dari sini kelihatan jelas bahwa teh merupakan komoditas ekspor Indonesia andalan dari Jawa Barat. Sayangnya, kita belum piawai menguasai pangsa pasar dunia. Pangsa nilai ekspor teh Indonesia dari seluruh jenis teh pada tahun 2001 mencapai 3,9 persen. Dari data penguasaan pangsa nilai ekspor seluruh jenis teh tersebut, Indonesia merupakan negara pengekspor teh terbesar pada urutan keenam di dunia setelah India (18,9%), China (17,1%), Kenya (7,9%), Inggris (7,9%), dan Uni Emirat Arab (4%). Dengan harapan, sedikit kerja keras lagi akan menaikkan posisi tawar Indonesia lebih maju di tahun berikutnya.

Sayangnya, antara harapan dan kenyataan terpaut jauh. Kita tak konsisten memajukan industri teh tanah air. Pemerintah tak mendukung sepenuhnya kerja keras para pekebun teh di Jabar. Akibatnya, pangsa nilai ekspor teh Indonesia menurun drastis. Jika dibandingkan dengan tahun 1997 yaitu mencapai 5,4 persen. Terpaut jauh di tahun 2001 yang hanya mencapai skor 3,9.

Periode 2002 sampai 2010 jelas makin menurun seiring menyempitnya areal perkebunan, melemahnya semangat budidaya, dan lemahnya distribusi serta daya saing ekspor di dunia. Indonesia tertinggal dari Sri Lanka yang mampu mencapai skor 14 (tahun 1997) dan skor 15 (tahun 2001) atas pangsa nilai ekspor dari seluruh total jenis teh. Padahal, Sri Lanka tidaklah lebih subur dari tanah kita.

Yang lebih menyedihkan, pertumbuhan ekspor teh Indonesia jauh di bawah pertumbuhan ekspor teh dunia, bahkan mengalami pertumbuhan negatif (-0,0259), komposisi produk (-0,032), distribusi (-0,045), dan daya saing teh sangat lemah yang tercermin dari angka faktor persaingan yang negatif (-0,211). Ini mengerikan sekali. Angka-angka semakin bernilai negatif semakin buruk sementara pertumbuhan ekspor teh dunia standarnya: 0,029. (Jurnal Agro Ekonomi, Volume 23 No.1, Mei 2005: 1-29).

Fluktuasi volume ekspor dan harga teh kita yang selalu lebih rendah. Dan rendahnya harga itu jauh dari apa yang dicapai Sri Lanka. Persoalannya bukan hanya terletak pada aspek budidaya, tetapi pengabaian pemerintah dalam membangun masyarakat pertehan Indonesia. Pemerintah selama ini tidak sepenuh hati menyokong masyarakat pertehan, khususnya Jawa Barat.

Apabila kemerosotan ini terus terjadi, dan tak segera cermat diresponi, buntutnya bisa berujung kehancuran teh Indonesia. Tentu, dampaknya akan sangat besar. Bukan hanya ribuan petani kehilangan pekerjaan, atau jutaan pekerja perkebunan kehilangan penghasilan, tetapi negara secara keseluruhan juga akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Ini harus diwaspadai. Teh tidak melulu soal tanaman untuk diminum. Tidak juga soal budidaya. Tetapi ini soal pewarisan semangat. Sebagai bagian dari budaya dimana kita pernah berjaya dalam industri perkebunan teh. Kalau kelak punah apa yang akan kita ceritakan kepada generasi kita? Apa lagi gunanya disebut negeri rempah-rempah tapi keok di teh? Kemana muka bangsa ini disembunyikan?

Penulis aktif di Perkamen.

PTPN4 Harus Hentikan Konversi Teh ke Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , ,

Medan-. Sekretaris Fraksi PAN DPRD Propinsi Sumatera Utara (Sumut), Irwansyah Damanik mengingatkan PTPN4 segera menghentikan konversi teh ke sawit di Kebun Sidamanik, Kecamatan Marjanji, Kebupaten Simalungun. Pasalnya, rencana konversi tahap II itu telah memicu keresahan masyarakat di daerah itu.
Sejumlah masyarakat Sidamanik, berulangkali menyampaikan
penolakannya terhadap rencana konversi lahan teh seluas 1.300 hektare itu kepada Irwansyah Damanik, baik saat reses maupun langsung disampaikan ke DPRD Sumut.

"Karenanya, demi kepentingan masyarakat, konversi itu harus segera dihentikan," tegas Wakil Ketua Balegda DPRD Sumut ini kepada wartawan, Rabu (23/11).

Dikatakan, masyarakat menolak karena di sekitar kebun teh itu banyak persawahan penduduk, yang terancam mengalami kekeringan. Konversi itu juga mengakibatkan terjadinya banjir.

Konversi tahap I sudah memberikan bukti, terjadinya banjir setiap hujan turun, akibat konversi tersebut. "Konversi juga memicu keresahan masyarakat setempat, karena kebijakan itu kemudian disertai dengan terjadinya PHK ratusan karyawan pabrik. Hal ini sangat memprihatinkan dan potensial memicu kemarahan masyarakat di sana," katanya.

Selain itu, kata Irwansyah, hasil diskusinya dengan Kepala Bappeda Kota Siantar Heroin Sinaga, dampak negatif pelaksanaan konversi itu juga telah dirasakan hingga ke Kota Siantar. PDAM Tirta Uli misalnya, sudah menerima dampaknya, debit airnya semakin surut.

Dikatakan, jika pihak PTPN4 memang bersikeras hendak melaksanakan konversi teh ke sawit, hendaknya dilakukan terlebih dahulu penanaman ribuan pohon, sebagai antisipasi terjadinya ancaman kekeringan dan banjir. "Jika tidak mau melakukan hal itu, konversi harus dibatalkan," tegasnya.

Dia menambahkan, keberadaan Teh Hitam Sidamanik, sudah melegenda dan sangat dikenal citarasanya. Produksi teh hitam ini, dulu pernah mengharumkan nama Simalungun khususnya dan Sumut pada umumnya. "Tidak sepatutnya pabrik teh yang bernilai historis ini, ditutup begitu saja, hanya karena kepentingan ekspansi PTPN4, yang justru bisa berdampak pada timbulnya kerusakan ekosistem," ujarnya.

Lebih jauh Irwansyah mengatakan, penolakan masyarakat Sidamanik terhadap rencana konversi tahap II yang digulirkan PTPN4 juga akan dibawanya menjadi pembahasan nasional pada pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Amanat Nasional (PAN) 10-11 Desember di Jakarta.

Rakernas itu akan dihadiri Meneg BUMN Dahlan Iskan dan Menteri Kehutanan RI Zulkifi Hasan. "Saya akan menyampaikan langsung permasalahan prinsipil dan vital bagi masyarakat Simalungun ini, kepada kedua menteri yang berkompeten itu," ujarnya.

Sebelumnya, dalam kapasitasnya sebagai anggota Komisi B DPRD Sumut, Irwansyah Damanik juga telah menyampaikan permasalahan tersebut ke Meneg BUMN, yang diterima Kepala Biro Hukum Herman Hidayat dan Staf Ahli Menteri, Bagus.

Pada kesempatan itu, Herman Hidayat menyatakan, setuju dengan usulan Irwansyah, agar pelaksanaan konversi tersebut dihentikan, karena dapat berdampak pada kelestarian lingkungan alam di sekitar Simalungun. "Terbukti, Kota Siantar yang dulunya dikenal berhawa dingin, mulai terasa panas akibat konversi tahap I yang telah dilaksanakan PTPN4," tambahnya.(n benny pasaribu)

PTPN IV :Hanya 800 Hektare yang Dikonversi

Posted by Flora Sawita Labels: , ,

Simalungun-. Ternyata pihak PTPN 4 masih ingin memelihara keunikan perusahaan perkebunan BUMN itu. Meski tetap akan melakukan konversi, namun tidak semua areal perkebunan teh itu diganti ke tanaman sawit.
Saat dihubungi MedanBisnis, Rabu (23/11), Humas PTPN 4 Medan, Lidang Panggabean, mengatakan, pihaknya akan tetap mempertahankan 3.000 hektare dari puluhan hektare kebun teh yang ada . “Tahun ini kita hanya mengkonversi 800 hektare saja,” katanya.

Seperti diketahui,
pengelolaan atas areal perkebunan teh di Kebun Sidamanik merupakan salah satu ciri khas khusus yang dimiliki PTPN 4. Keberadaan kebun teh ini menjadi keunggulan Sumut di mana ada kebun teh yang lebih di kenal dengan Teh Sidamanik.

PTPN 4 praktis hanya memiliki kebun teh di Sidamanik. Sebelumnya, ada teh di kebun Marjandi dan Bah Birung Ulu juga di Kabupaten Simalungun. Dengan alasan lebih bernilai bisnis, seluruh tanaman di kedua kebun ini sudah dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit.

Menurut Lidang, alasan konversi sebagian kebun teh ini semata-mata untuk kepentingan bisnis. “Sebagai perusahaan, para pemegang saham menekankan kita supaya beruntung,” tambahnya.

Masyarakat sekitar Lokasi Pabrik Teh Kebun Sidamanik, Simalungun, menyesalkan kebijakan PTPN 4 menutup pabrik teh Sidamanik. Pasalnya, selain merupakan tempat masyarakat mencari nafkah, pabrik juga merupakan warisan sejarah perkebunan nasional yang ada di Simalungun.

Salah seorang tokoh masyarakat, Viktor Sagala, menjelaskan pabrik teh di Sidamanik merupakan salah satu peninggalan sejarah dibangun tahun 1920 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Berarti saat ini umur pabrik tersebut sudah 85 tahun. Menurut UU Tentang Bangunan Cagar Budaya, bangunan seusia ini seharusnya dilestarikan.

Menurut Viktor, tahun 1972 Pangeran Berhard dan Ratu Juliana dari Belanda pernah berkunjung ke perkebunan teh Sidamanik khusus mellihat tanaman teh peninggalan zaman Belanda.

Baru-baru ini, saat mengunjungi Sidamanik, mantan Menteri Pertanian RI, Bungaran Saragih terkejut mendengar pabrik teh Sidamanik ditutup dan lahannya dialihkan ke tanaman kelapa sawit. Waktu itu, Bungaran mengatakan jika tanaman teh merugi lebih baik pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat. “Seharusnya dicari akar permasalahan apa sebab terus merugi.

Kenapa kebun teh di Bandung tidak rugi, tanaman teh Sidamanik mempunyai ciri khas yang cukup terkenal di luar dan dalam negeri,” kata Bungaran saat itu kepada wartawan. ( jannes silaban)/MB

Tips Ampuh : Teh atau Kopi, Mana yang Terbaik ?

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , , ,







Secangkir minuman panas yang beruap selalu terdengar menyenangkan di pagi hari. Namun yang mana, kopi atau teh?

Baik kopi atau teh mengandung banyak antioksidan, oleh sebab itu, tidak masalah meminum keduanya dalam porsi kecil. Namun fakta dibawah ini juga mungkin akan menggoyahkan keputusan Anda: di dalam teh terkandung sesuatu yang dapat melawan infeksi buruk.

Kandungan yang dimaksud adalah L-theanine, sebuah asam amino yang mendorong respons kekebalan tubuh terhadap bakteri, termasuk satu yang menyebabkan keracunan makanan. Kopi, yang tidak mengandung L-theanine, menunjukkan tidak ada aktivitas antibakteri dalam penelitiannya.

Baik teh hitam, hijau, atau oolong, semuanya membuktikan memiliki dosis yang tepat dalam menggagalkan pengelompokkan bakteri. Dan wangi seduhan teh dapat memberikan Anda keuntungan kesehatan lainnya, juga, membantu jantung Anda terhindar dari resiko kanker (khususnya pada wanita). Dan walaupun teh memiliki kandungan kafein yang lebih rendah dari kopi, teh tetap membuktikan mengenai kesegarannya sama seperti soda. Oleh sebab itu, ambillah secangkir teh!

PERBANYAKAN TANAMAN TEH

Posted by Flora Sawita Labels:


Sebagian besar klon teh yang ada merupakan hasil seleksi pohon induk di berbagai lokasi perkebunan teh di Indonesia di antaranya adalah dari KP. Pasir Sarongge (PS) dan perkebunan teh di daerah Pangalengan. Hasil seleksi pohon induk di KP. Pasir Sarongge diantaranya adalah PS 1, PS 87, PS 125, PS 324 dan PS 354. Klon yang terkenal dari KP. Pasir Sarongge adalah PS 1 yang merupakan salah satu tetua dari klon-klon seri GMB, dari pengamatan peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung ternyata ada 3 macam klon PS 1, yaitu PS 1a, PS 1b dan PS 1c.

Klon PS 1a merupakan klon PS 1 asli yang merupakan klon anjuran sejak tahun 1955 dan sampai saat ini banyak ditanam pekebun. Klon ini merupakan salah satu tetua dari klon seri GMB yang memiliki ciri bentuk daun lonjong, warna daun hijau muda, permukaan daun kasar bergelombang posisi daun agak tegak, daun tebal, internodia sedang, bentuk peko tegak, bulu daun pada peko banyak. Klon ini mempunyai persentase peko banyak, percabangan baik, batang keras, pertumbuhan setelah pangkas sedang, mudah dipetik (empuk), sangat tahan terhadap penyakit cacar teh.

Klon lain yang terkenal dari KP. Pasir Sarongge adalah PS 324 yang merupakan salah satu tetua dari klon GMB 6 dan GMB 8. PS 324 merupakan klon anjuran tahun 1955 dengan produktivitas yang tinggi akan tetapi mempunyai sifat rentan terhadap serangan penyakit cacar, dari daerah Pangalengan diantaranya telah ditemukan klon Kiara 8, KP 4, Mal 2, Mal 4, Mal 9, Mal 11 dan Cin 143.

Klon Kiara 8 bertipe sinensis, kedudukan daun tegak, warna daun hijau muda, permukaan daun sedikit melengkung, pucuk kecil ringan, klon ini mempunyai sifat pertumbuhan yang cepat, tetapi percabangan yang banyak dan kecil-kecil menyebabkan sulit dipangkas, pada umur pangkas ketiga cenderung membentuk pucuk burung, rentang terhadap penyakit cacar dan mati ujung. Pada kondisi tanah yang kurang subur Kiara 8 cenderung membentuk bunga.

Klon seri GMB merupakan klon generasi kedua karena klon klon ini diperoleh dari seleksi tanaman F1 hasil persilangan yang melibatkan tetua klon generasi pertama, yaitu Cin 143, GP 3, GP 8, KP 4, Mal4, Mal15, PS 1, Kiara 8 dan PS 324, persilangan buatan dilakukan pada tahun 1972. Pada tahun 1974, tanaman F1 dari 47 kombinasi persilangan ditanam dilapangan, setelah dilakukan pembetukan bidang memiliki potensi hasil tinggi dan pada tahun 1979 terpilih 20 perdu yang selanjutnya diperbanyak secara vegatatif.

Pada tahun 1985 mulai dilakukan pengujian multilokasi di 12 lokasi perkebunan di Indonesia, dari pengamatan potensi hasil, kualitas, daya adaptasi dan ketahanan terhadap penyakit cacar terpilih klon Gambung (GMB) 1 sampai dengan GMB 11, klon GMB 1 sampai GMB 5 dilepas pada tanggal 21 April tahun 1988 dengan nomor SK. 260, 267, 266, 265 dan 264 oleh Menteri Pertanian, karena memiliki potensi hasil yang tinggi dan mulai dapat dipetik pada umur 18 bulan.

Klon GMB 6 sampai dengan GMB 11 dilepas pada tanggal 9 Oktober tahun 1998 dengan nomor SK. 684, 684a, 684b, 684c, 684d dan 684e sebagai klon unggul karena mempunyai potensi hasil tinggi, kualitas baik, tahan terhada penyakit cacar.

Klon sari GMB mempunyai tetua yang sama yaitu PS 1 GMB,yaitu GMB 4,GMB 5, GMB 7,GMB10 dan GMB11. merupakan klon-klon yang memiliki hubungan kekerabatan dekat karena berasal dari persilangan Mal2 x PS 1, sehingga memiliki banyak kemiripan yang dapat menyulitkan dalam identivikasi klon. Untuk membedakan antara klon seri GMB dalam pelepasan setiap klon dilengkapi dengan diskripsi.

Perbanyakan dan distribusi bahan tanaman teh bahan tanaman teh unggul dapat berupa ranting stek, stek satu daun dan bibit. Untuk memproduksi bahan tanaman tersebut perlu disediakan kebun induk perbanyakan (mother vegetative) dari setiap klon yang terjamin kemurnianya. Areal kebun yang akan dijadikan kebun induk perbanyakan benih harus diperiksa dahulu untuk menjamin kemurnian klon.

Proses perbanyakan benih dimulai dengan pemangkasan empat bulan sebelum penanaman benih pemeliharaan dimulai dari penyiangan, pemupukan dengan dosis 9092 +15 gr TSP + 45 gr KCC per pohon pertahun, pengendahan hama dan penyakit, penyemprotan Zing Sulfat dengan konsentrasi 1% pada satu bahan sebelum pengambilan ranting stek dan pembuangan peko satu minggusebelum pengembilan ranting stek.

Ranting stek mulai dapat diambil bila 10 cm pangkalnya berwarna coklat. Pengambilan ranting stek dilakukan secara selektif dan bertahap dengan memotong 15 cm diatas bidang pangkas atau dibawah perbatasan ranting yang berwarna coklat dengan hijau kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik ukuran 80 x 50 cm yang tebalnya 0,1mm dan dibawa ketempat yang teduh.

Stek dengan satu daun yang prima adalah stek yang ada dibagian tengah ranting stek dengan warna hijau tua.

Stek yang berwarna coklat dibagian pangkal dan hijau muda dibagian ujung harus dibuang. Pemotongan stek dilakukan 0,5 cm diatas ruas daun dan 5 cm dibawah ruas daun dengan kemiringan 450 . Mata tunas yang lebih dari 5 cm harus dipotong. Stek yang telah dipotong langsung dimasukan kedalam air bersih selama 30 menit dan segera direndam dalam larutan pungisida selama 1 menit.

Selama pemotongan stek hendaknya hanya satu klon agar tidak ada off-tipe. Stek selanjutnya siap ditanam dipembibitan atau dikemas potensi stek setiap perdu adalah tergantung umur pohon induk perbanyakannya.

Untuk pengangkutan yang memerlukan waktu 7 hari, stek dimasukan dalam kantong plastik ukuran 40 x 50 cm yang diberi kapas basah dan diatur setiap kantong berisi 50 stek.setelah diberi label kantong di tutup rapat. Kantong plastik kemudian disusun dalam peti tripleks ukuran 50 x 50 x 40 cm setiap peti dapat berisi 3.000 stek.

Untuk pengangkutan sampai 2 hari stek yang telah dipotong dan direndam fungisida dimasukan dalam kantong plastik ukuran 50 x 50 cm yang diberi kapas 25 gr. Setiap kantong dapat berisi 2.000 stek. Selama pengangkutan kantong plastik dibiarkan terbuka dan tidak ditumpuk.

Proses perbanyakan bibit dapat dilakukan oleh puslit atau penangkaran benih swasta yang dibimbing puslit. Secara teknis pembibitan teh stek satu daun mudah dilaksanakan karena teknologi ini cukup lama dan telah disosialisasikan lewat pertemuan maupun pelatihan. Namun banyak masalah timbul akibat tercampurnya antar klon di pembibitan mulai dari penanaman stek, seleksi bibit, pengangkutan kelapangan sampai penanaman.

Untuk menjamin mutu bibit sebaiknya penangkaran menggunakan tenaga puslit dan agar terjamin tersedianya bibit tepat waktu hendaknya pemesanan telah dilakukan 1 tahun sebelum penanaman.

Kriteria bibit teh siap tanam sebagai dasar penentuan mutu bibit adalah a) keseragaman bibit 30 cm atau jumlah daun minimal 5 helai pada umur 10 bulan b) bibit tumbuh sehat kekar dan berdaun normal c) sistem perakaran baik dan tidak berkalus d) bibit tidak beradaptasi selama 1 bulan.

PERBANYAKAN TANAMAN TEH

Posted by Flora Sawita Labels:


Sebagian besar klon teh yang ada merupakan hasil seleksi pohon induk di berbagai lokasi perkebunan teh di Indonesia di antaranya adalah dari KP. Pasir Sarongge (PS) dan perkebunan teh di daerah Pangalengan. Hasil seleksi pohon induk di KP. Pasir Sarongge diantaranya adalah PS 1, PS 87, PS 125, PS 324 dan PS 354. Klon yang terkenal dari KP. Pasir Sarongge adalah PS 1 yang merupakan salah satu tetua dari klon-klon seri GMB, dari pengamatan peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung ternyata ada 3 macam klon PS 1, yaitu PS 1a, PS 1b dan PS 1c.

Klon PS 1a merupakan klon PS 1 asli yang merupakan klon anjuran sejak tahun 1955 dan sampai saat ini banyak ditanam pekebun. Klon ini merupakan salah satu tetua dari klon seri GMB yang memiliki ciri bentuk daun lonjong, warna daun hijau muda, permukaan daun kasar bergelombang posisi daun agak tegak, daun tebal, internodia sedang, bentuk peko tegak, bulu daun pada peko banyak. Klon ini mempunyai persentase peko banyak, percabangan baik, batang keras, pertumbuhan setelah pangkas sedang, mudah dipetik (empuk), sangat tahan terhadap penyakit cacar teh.

Klon lain yang terkenal dari KP. Pasir Sarongge adalah PS 324 yang merupakan salah satu tetua dari klon GMB 6 dan GMB 8. PS 324 merupakan klon anjuran tahun 1955 dengan produktivitas yang tinggi akan tetapi mempunyai sifat rentan terhadap serangan penyakit cacar, dari daerah Pangalengan diantaranya telah ditemukan klon Kiara 8, KP 4, Mal 2, Mal 4, Mal 9, Mal 11 dan Cin 143.

Klon Kiara 8 bertipe sinensis, kedudukan daun tegak, warna daun hijau muda, permukaan daun sedikit melengkung, pucuk kecil ringan, klon ini mempunyai sifat pertumbuhan yang cepat, tetapi percabangan yang banyak dan kecil-kecil menyebabkan sulit dipangkas, pada umur pangkas ketiga cenderung membentuk pucuk burung, rentang terhadap penyakit cacar dan mati ujung. Pada kondisi tanah yang kurang subur Kiara 8 cenderung membentuk bunga.

Klon seri GMB merupakan klon generasi kedua karena klon klon ini diperoleh dari seleksi tanaman F1 hasil persilangan yang melibatkan tetua klon generasi pertama, yaitu Cin 143, GP 3, GP 8, KP 4, Mal4, Mal15, PS 1, Kiara 8 dan PS 324, persilangan buatan dilakukan pada tahun 1972. Pada tahun 1974, tanaman F1 dari 47 kombinasi persilangan ditanam dilapangan, setelah dilakukan pembetukan bidang memiliki potensi hasil tinggi dan pada tahun 1979 terpilih 20 perdu yang selanjutnya diperbanyak secara vegatatif.

Pada tahun 1985 mulai dilakukan pengujian multilokasi di 12 lokasi perkebunan di Indonesia, dari pengamatan potensi hasil, kualitas, daya adaptasi dan ketahanan terhadap penyakit cacar terpilih klon Gambung (GMB) 1 sampai dengan GMB 11, klon GMB 1 sampai GMB 5 dilepas pada tanggal 21 April tahun 1988 dengan nomor SK. 260, 267, 266, 265 dan 264 oleh Menteri Pertanian, karena memiliki potensi hasil yang tinggi dan mulai dapat dipetik pada umur 18 bulan.

Klon GMB 6 sampai dengan GMB 11 dilepas pada tanggal 9 Oktober tahun 1998 dengan nomor SK. 684, 684a, 684b, 684c, 684d dan 684e sebagai klon unggul karena mempunyai potensi hasil tinggi, kualitas baik, tahan terhada penyakit cacar.

Klon sari GMB mempunyai tetua yang sama yaitu PS 1 GMB,yaitu GMB 4,GMB 5, GMB 7,GMB10 dan GMB11. merupakan klon-klon yang memiliki hubungan kekerabatan dekat karena berasal dari persilangan Mal2 x PS 1, sehingga memiliki banyak kemiripan yang dapat menyulitkan dalam identivikasi klon. Untuk membedakan antara klon seri GMB dalam pelepasan setiap klon dilengkapi dengan diskripsi.

Perbanyakan dan distribusi bahan tanaman teh bahan tanaman teh unggul dapat berupa ranting stek, stek satu daun dan bibit. Untuk memproduksi bahan tanaman tersebut perlu disediakan kebun induk perbanyakan (mother vegetative) dari setiap klon yang terjamin kemurnianya. Areal kebun yang akan dijadikan kebun induk perbanyakan benih harus diperiksa dahulu untuk menjamin kemurnian klon.

Proses perbanyakan benih dimulai dengan pemangkasan empat bulan sebelum penanaman benih pemeliharaan dimulai dari penyiangan, pemupukan dengan dosis 9092 +15 gr TSP + 45 gr KCC per pohon pertahun, pengendahan hama dan penyakit, penyemprotan Zing Sulfat dengan konsentrasi 1% pada satu bahan sebelum pengambilan ranting stek dan pembuangan peko satu minggusebelum pengembilan ranting stek.

Ranting stek mulai dapat diambil bila 10 cm pangkalnya berwarna coklat. Pengambilan ranting stek dilakukan secara selektif dan bertahap dengan memotong 15 cm diatas bidang pangkas atau dibawah perbatasan ranting yang berwarna coklat dengan hijau kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik ukuran 80 x 50 cm yang tebalnya 0,1mm dan dibawa ketempat yang teduh.

Stek dengan satu daun yang prima adalah stek yang ada dibagian tengah ranting stek dengan warna hijau tua.

Stek yang berwarna coklat dibagian pangkal dan hijau muda dibagian ujung harus dibuang. Pemotongan stek dilakukan 0,5 cm diatas ruas daun dan 5 cm dibawah ruas daun dengan kemiringan 450 . Mata tunas yang lebih dari 5 cm harus dipotong. Stek yang telah dipotong langsung dimasukan kedalam air bersih selama 30 menit dan segera direndam dalam larutan pungisida selama 1 menit.

Selama pemotongan stek hendaknya hanya satu klon agar tidak ada off-tipe. Stek selanjutnya siap ditanam dipembibitan atau dikemas potensi stek setiap perdu adalah tergantung umur pohon induk perbanyakannya.

Untuk pengangkutan yang memerlukan waktu 7 hari, stek dimasukan dalam kantong plastik ukuran 40 x 50 cm yang diberi kapas basah dan diatur setiap kantong berisi 50 stek.setelah diberi label kantong di tutup rapat. Kantong plastik kemudian disusun dalam peti tripleks ukuran 50 x 50 x 40 cm setiap peti dapat berisi 3.000 stek.

Untuk pengangkutan sampai 2 hari stek yang telah dipotong dan direndam fungisida dimasukan dalam kantong plastik ukuran 50 x 50 cm yang diberi kapas 25 gr. Setiap kantong dapat berisi 2.000 stek. Selama pengangkutan kantong plastik dibiarkan terbuka dan tidak ditumpuk.

Proses perbanyakan bibit dapat dilakukan oleh puslit atau penangkaran benih swasta yang dibimbing puslit. Secara teknis pembibitan teh stek satu daun mudah dilaksanakan karena teknologi ini cukup lama dan telah disosialisasikan lewat pertemuan maupun pelatihan. Namun banyak masalah timbul akibat tercampurnya antar klon di pembibitan mulai dari penanaman stek, seleksi bibit, pengangkutan kelapangan sampai penanaman.

Untuk menjamin mutu bibit sebaiknya penangkaran menggunakan tenaga puslit dan agar terjamin tersedianya bibit tepat waktu hendaknya pemesanan telah dilakukan 1 tahun sebelum penanaman.

Kriteria bibit teh siap tanam sebagai dasar penentuan mutu bibit adalah a) keseragaman bibit 30 cm atau jumlah daun minimal 5 helai pada umur 10 bulan b) bibit tumbuh sehat kekar dan berdaun normal c) sistem perakaran baik dan tidak berkalus d) bibit tidak beradaptasi selama 1 bulan.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul