RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label budidaya kentang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya kentang. Tampilkan semua postingan

Petani Sulit Tutupi Biaya Produksi

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,
















Akibat Importasi Kentang Tinggi

Medan. Semakin tingginya importasi kentang ke Sumatera Utara membuat petani semakin kesulitan untuk menutupi biaya produksi yang terus membengkak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut menunjukkan, volume importasi kentang ke Sumut 56,840 ton dengan nilai US$ 55,573. Importasi ini berasal dari China dan Bangladesh. Akibat tingginya volume impor ini membuat harga kentang khususnya di tingkat petani hanya sekitar Rp 2.200 per kg, jauh di bawah harga sekitar September 2011 yang mencapai Rp 5.500 per kg. "Harga ini sangat murah sehingga tidak bisa menutupi biaya produksi," ujar Kepala BBI Kuta Gading Karo, Akim Purba, di Medan, Jumat (9/3).

Ia mengatakan, luas tanam kentang di wilayah Karo yang merupakan sentra kentang di Sumut sekitar 1.100-an ha dengan produksi 18-20 ton per ha. "Produksi masih cukup bagus. Namun dengan harga yang sangat murah membuat petani selalu kesulitan untuk menutupi biaya produksi pada masa tanam berikutnya," katanya. Bahkan, sejumlah petani harus mencari pembiayaan untuk menutupi biaya produksi. Sebab petani tetap menanam kentang dengan volume yang sama setiap masa tanam.

Ia berharap, pemerintah membantu petani dengan membatasi impor sehingga akan membangkitkan sentra kentang untuk terus berproduksi. Apalagi, impor kentang yang banyak dari China dan Bangladesh ini bukan hanya beredar di kota-kota besar, namun juga hingga kota kecil yang notabene sebagai wilayah pertanian yang menghasilkan komoditas kentang.

BPS mencatat, total importasi sayur-sayuran yang didalamnya termasuk kentang mengalami peningkatan hingga 48,43% pada periode Januari hingga Desember 2011 dibandingkan tahun yang lalu dengan periode yang sama, di mana nilainya meningkat menjadi US$ 29,077 juta dibandingkan periode yang sama pada tahun 2010 sebesar US$ 14,995 juta.

Kasie Statistik Niaga dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Hafsyah Aprilia, mengungkapkan, komoditas sayur-sayuran impor sudah lama masuk di Sumut dan termasuk dari 25 golongan barang impor. Selain nilai impor, volume impor sayur-sayuran juga mengalami kenaikan dari 27.696 ton menjadi 36.378 ton di tahun ini. "Volumenya memang tetap tinggi.

Meski secara month to month (mtm) ada terjadi penurunan karena dipengaruhi harga," ucapnya.
Ia mengatakan, angka importasi kentang yang sangat besar ini harusnya menjadi perhatian semua pihak untuk mengendalikan peredaran sayur-sayuran khususnya kentang impor di Sumut.

Petani Kian Terpukul

Sementara itu, kalangan petani kentang di sejumlah sentra seperti di Kabupaten Karo dan Simalungun mengaku sangat terpukul dengan tingginya importasi kentang saat ini, sebab kentang produksi lokal harganya di pasaran menjadi anjlok.

"Tentu hal itu membawa dampak yang sangat buruk terhadap produktivitas kami," kata Anton Harahap, salah satu petani kentang di Berastagi saat dihubungi, Jumat (9/3).

Dikatakannya, saat ini sebagian besar petani kentang di sana mulai enggan meningkatkan angka produksi lantaran kentang lokal akan kalah saing dalam hal harga dengan kentang impor yang terus masuk. Percuma petani memproduksi kentang dalam jumlah banyak karena hasil akhirnya tak laku di pasaran karena lebih mahal dibanding harga kentang impor.

Saat ini, kata dia, rata-rata petani kentang di sana bisa menghasilkan kurang lebih 800 kg kentang per hektare. Angka tersebut masih tergolong cukup rendah lantaran petani belum bisa mendapatkan bibit unggul dalam jumlah banyak. Kalaupun ada, tambahnya, harga bibit unggul saat ini masih sangat mahal sehingga petani masih menggunakan bibit kualitas rendah yang harganya relatif lebih murah. Akibatnya, produktivitas rendah.

Selain itu, biaya operasional petani saat ini masih sangat tinggi karena petani kesulitan memperoleh pupuk yang harganya kian mahal dari waktu ke waktu. Alokasi pupuk bersubsidi untuk petani oleh pemerintahpun dinilai masih sangat minim.

Pantauan di sejumlah pasar di Medan, saat ini harga kentang cenderung mengalami penurunan seiring pasokan yang melimpah khususnya kentang impor. Kini, kentang impor dijual dengan harga Rp8.000 per kg sedangkan kentang lokal masih dipatok pada kisaran harga Rp9.000 hingga Rp10.000 per kg.

Rosmalia, salah satu pedagang di Pusat Pasar mengatakan, saat ini pihaknya terpaksa memasok kentang impor untuk memenuhi permintaan konsumen yang kian meningkat. "Pasokan kentang lokal masih sedikit, apalagi harganya lebih mahal sehingga kami lebih memilih menjual kentang impor untuk memenuhi permintaan konsumen," katanya

Kentang impor masuk, petani lokal terpuruk

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,






















Jakarta
. Anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar mengecam kebijakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan importasi berbagai komoditas pertanian, diantaranya impor kentang yang saat ini terjadi.

Harga jual kentang di tingkat petani anjlok hingga lima puluh persen akibat gencarnya impor kentang dari China.

"Kebijakan Kemendag memberikan izin terhadap importasi kentang, membuat petani kentang terpuruk dan tidak dapat menikmati harga yang optimum,"katanya.

Untuk kesekian kali Kementerian Perdagangan melegalisasi impor dan ini semakin menegaskan setiap kebijakan tidak berpihak kepada petani namun kepada pasar.

Impor hortikultura terus terjadi terjadi selama kurun waktu hampir 5 tahun terakhir. Kentang menjadi salah satu komoditas yang ikut serta di impor dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Harga kentang lokal mencapai Rp7000 hingga Rp8000 per kilogram, namun saat ini harga kentang lokal berkisar Rp4000-Rp4500 per kilogram.

Harga kentang anjlok di tingkat petani karena gencarnya impor kentang dari China. Kentang impor tersebut harganya hanya Rp2300-Rp2500 per kilogram. Padahal selama ini kentang menjadi komoditas hortikultura yang banyak menyumbang devisa negara.

"Mendag nampaknya tidak punya solusi lain dalam menstabilkan harga komoditas pertanian, selain dengan impor. Kebijakan perdagangan selalu dihiasi dengan impor,"ujarnya.

Impor kentang dilakukan bila kebutuhan tidak mencukupi

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

















Jakarta
. Walau Indonesia mengklaim diri sebagai negara agraris, nyatanya banyak komoditas pertanian diimpor. Argumen pemerintah sederhana saja, karena keperluan komoditas pertanian itu ada yang belum mencukupi keperluan domestik.

Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, mengatakan, semua keputusan impor terkait komoditas pertanian termasuk kentang seharusnya ditetapkan dalam rapat koordinasi atas permintaan kementerian teknis apabila kebutuhan dalam negeri belum mencukupi.

"Seharusnya khan Kementerian Pertanian bisa mengantisipasi itu. Karena prinsipnya selalu saya katakan setiap rakor pangan, seluruh pangan kita dari petani harus dibeli, didahulukan, tidak boleh tidak, kalau kurang baru impor," ujarnya di Jakarta, Selasa.

Hatta menegaskan keputusan untuk melakukan impor tidak boleh dilakukan secara sepihak, apalagi dengan ancaman krisis global, pasar domestik seharusnya lebih diutamakan dan dilindungi.

"Kita sedang menghadapi krisis, dimana saya sedang menjaga pasar domestik kita ini harus berkembang, tidak boleh yang namanya petani kita ini, industri kita dan sebagainya mati karena barang impor," ujarnya.

Hatta juga mengaku belum mendapatkan laporan resmi dari Menteri Perdagangan maupun Menteri Pertanian terkait impor kentang yang membuat harga jual di tingkat petani anjlok hingga 50 persen.

"Kita akan cek, apakah ini karena penyelundupan atau karena apa, kita belum tahu," katanya.

Sedangkan, Menteri Perdagangan, Mari Pangestu, belum dapat memberikan konfrimasi dan masih mempelajari mengenai impor kentang yang dimaksud, serta melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Pertanian.

"Kita akan pelajari, ini kan masalah kalau cukup maka tidak usah impor, jadi tidak bermasalah, tapi bagaimana produksi itu ditingkatkan itu kita koordinasikan dengan Kementerian Pertanian," ujarnya.

Sementara, Menteri Pertanian Suswono justru mengaku Kementerian Pertanian belum pernah mendapatkan data akurat mengenai seberapa banyak produksi kentang yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas komoditas ini.

"Sejauh ini hampir tidak pernah diajak bicara untuk berapa volume produksi sehingga bisa diketahui berapa kekurangannya. Sekarang faktanya banyak petani-petani kentang yang terpukul karena harga yang murah sehingga tidak membangkitkan semangat dia menanam kentang. Ini yang harus dihindari," ujarnya. (ant)

Berita Pertanian : Petani Kesulitan Bibit Kentang Berkualitas

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Medan. Berdasarkan angka sementara (asem) di Dinas Pertanian (Distan) Sumatera Utara (Sumut), pada semester I 2011 produksi kentang Sumut mencapai 53.966 ton, sedikit mengalami peningkatan jika dibanding dengan periode sama tahun lalu yang mencapai 51.542 ton. Kepala Seksi Data dan Perumusan Program Distan Sumut, Lusyantini, mengatakan, meski mengalami peningkatan, produksi kentang Sumut masih sangat rendah jika dibanding dengan daerah lain. "Rata-rata, daerah lain di Indonesia produksinya bisa mencapai 100.000 ton pada semester I," kata Lusi di Medan, Senin (26/9).

Menurutnya, produksi kentang Sumut rendah lantaran sebagian besar petani kentang masih kesulitan mendapat bibit kentang yang berkualitas. Sejauh ini petani hanya memakai bibit kualitas rendah sehingga produktivitas sangat rendah.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Hortikultura Distan Sumut, Yulizar membenarkan bahwa selama ini petani kentang di Sumut masih kesulitan memperoleh bibit kentang berkualitas. "Sebenarnya bibit itu ada, cuma harganya yang sangat mahal sehingga belum bisa dijangkau petani," kata Yulizar.

Di Sumut, kata dia, tersedia sejumlah komoditas bibit, seperti G1, G2, G3 hingga G4. Berdasarkan kualitasnya, G1 dinilai lebih berkualitas dan lebih produktif dibanding G4.

Sayang, karena keterbatasan dana, para petani kentang cenderung memilih bibit berkualitas rendah yaitu bibit G4. Harganya Rp9.000 per kg di tingkat penangkar. Bibit ini rata-rata memproduksi 18 ton hingga 20 ton per hektare tiap panen asalkan pengaturan masa tanam dan produksi petani terus dibina.

Untuk itu, kata dia, selama ini pihaknya bekerja sama dengan Balai Benih di tingkat kabupaten/kota yang ada di Sumut untuk terus mengembangkan bibit kentang yang berkualitas sehingga bisa menggenjot produktivitas kentang.

"Tentu dengan adanya kerja sama ini juga, diharapkan petani bisa menjangkau bibit berkualitas disamping kami memberi bantuan bibit kepada petani seperti di Simalungun dan Tanah Karo," pungkasnya.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul