RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label budidaya cabai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya cabai. Tampilkan semua postingan

Berita Pertanian : Antracnose, Penyakit Utama pada Cabai

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Medan. Penyakit Antracnose yang juga dikenal dengan istilah "pathek" merupakan penyakit tanaman yang hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani cabai. Buah yang menunggu panen dalam beberapa waktu bisa berubah menjadi busuk oleh penyakit ini.



Demikian dikatakan Siti Suryani, Staf Penyuluhan BPTP Sumut, Senin (8/8).

Siti mengatakan, gejala awal dari serangan penyakit ini adalah bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair, buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk. Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan. Penyebab penyakit ini adalah jamur carnifora capsici.



Sedangkan untuk mencegah penyakit tersebut, ia mengaku pengendalian dengan membersihkan tanaman yang terserang agar tidak menyebar. Dan saat pemilihan benih harus dilakukan secara selektif, agar benih cabai yang ditanam memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek. Secara kimia, disemprot dengan fungisida sistemik berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP.



Jika tanaman cabai layu, penyakit ini disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum. Gejalanya tanaman yang sehat tiba-tiba saja layu yang dalam waktu tidak sampai 3 hari tanaman mati. Bakteri ini ditularkan melalui tanah, benih, bibit, sisa tanaman, pengairan, nematoda atau alat-alat pertanian.



Pengendalian untuk mengatasi penyakit tersebut yakni dengan membuang tanaman yang terserang, tetap menjaga bedengan tanaman selalu dalam kondisi kering, rotasi tanaman. Secara kimiawi, semprot dengan larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 - 10 gr per liter pada lubang tanam sebanyak 200 ml per tanaman interval 10 - 14 hari dan dimulai saat tanaman mulai berbunga.

Selamat Datang Cabai Keriting Besar, Panjang dan Pedas

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

BESAR, panjang, dan pedas. Itulah cabai yang diimpikan para pekebun di Pulau Sumatera. Hal itu dikatakan Muhamad Syukur dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB.

Impian itu terwujud setelah IPB memproduksi cabai dengan kulit bergelombang persis cabai keriting, tetapi panjangnya 15 cm dan diameter mencapai 1,3 cm layaknya cabai besar. "Pedasnya menyamai cabai keriting," kata Muhamad Syukur.

Cabai itu hasil persilangan dari tetua betina keriting IPB C110 dan jantan besar IPB C5. Galur cabai yang belum diberi nama itu akan segera diusulkan menjadi varietas unggul nasional.

Syukur menggunakan tetua betina IPB C110 karena memiliki keunggulan: buah banyak, tahan penyakit, dan rasa pedas. Keunggulan ukuran buah yang besar, genjah (cepat berbunga) didapat dari tetua jantan. Hasilnya varietas baru berumur genjah, buah besar, tahan terhadap hama penyakit penting, pedas, kulit merah mengilap, dan produksi tinggi.

Adaptif Lahan Basah

Syukur juga berhasil menciptakan cabai besar yang pedas. Cabai hasil persilangan betina IPB C19 dan jantan IPB C9 berukuran besar, diameter 1,8 cm, dan panjang 10 cm. "Rasanya hampir sepedas cabai keriting," ujar Syukur. Perakitannya sudah dilakukan sejak 2008 dan kini mulai pengujian produksi musim ketiga tanam.

Varietas keriting yang panjang dan pedas dirilis East West Seed Indonesia: tanamo dan kastilo. Tanamo memiliki keunggulan produksi tinggi dan tahan Phytopthora capsici. Panjang buah dari pangkal sampai ujung 17 cm. Penampilan kulit buah merah cerah dan licin. Ia adaptif di lahan basah seperti sawah.

Kastilo selain tahan Phytopthora capsici juga layu bakteri, dan penyakit ujung buah menguning karena kurang serapan kalsium. Varietas yang memiliki panjang buah mencapai 16 cm itu berdaya simpan lebih lama, hingga 7 hari sehingga cocok untuk distribusi jarak jauh. Firhat, petani cabai di Lampung sudah 3 musim menanam kastilo. Hasilnya dari 8.000 batang dipanen 12 ton atau 1,5 kg/tanaman.

Tahan Kering

Sementara cabai besar yang dikeluarkan East West Seed Indonesia adalah gada MK, pilar, dan panex. Ketiganya memiliki rasa pedas. Nama gada MK diambil berdasarkan bentuk buah menyerupai varietas gada, pendahulunya yang lazim dipakai sebagai bahan saus sambal. Kelebihan gada MK antara lain sangat tahan terhadap kekeringan sehingga mampu ditanam di musim kemarau.

Pilar tahan layu bakteri Pseudomonas solanacearum dan Phytophthora capsici. Pilar cocok ditanam di dataran menengah sampai tinggi. Namun, cabai yang memiliki rasa pedas medium itu mampu beradaptasi di dataran rendah terutama untuk daerah Sulawesi dan Kalimantan.

Petani yang menginginkan panen cabai serempak bisa menggunakan panex. Keunggulannya, umur genjah dan berbuah serempak. Panex berasal dari kata panen express yang menggambarkan umur panen yang cepat dan sekali panen langsung banyak. Petani yang biasa memanen cabai hijau cocok menanam panex karena ukuran buah sudah besar saat dipanen muda.

East West Seed Indonesia membutuhkan waktu 5—7 tahun untuk menghasilkan varietas-varietas itu. Kini pengembangannya hingga ke daerah timur Indonesia sehingga pertanaman cabai tidak terkonsentrasi di daerah barat. Syukur juga menginginkan petani dapat menghasilkan sendiri benihnya sehingga dua calon varietas yang akan dirilis itu bersari bebas dan telah mantap sifatnya. Benih dapat diambil dari pertanaman sebelumnya. "Mengapa harus bersari bebas? Karena sasarannya petani-petani kecil yang tidak mampu membeli benih mahal dan benih hasil panen bisa ditanam kembali untuk kebutuhan sendiri," kata Syukur. (TRUBUS)

Tips Ampuh : Cara Jitu Tanaman Cabai Bebas Penyakit

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,



KEBUTUHAN cabai merah di Indonesia meningkat 7,5% setiap tahun. Sayangnya hal itu tidak diimbangi laju produktivitas yang tinggi. Saat ini produksi per ha berkisar 6—7 ton dari semestinya 12—15 ton. Banyak sebab yang membuat produktivitas anjlok: pengolahan lahan yang tidak tepat, pemakaian benih rentan hama penyakit, serta perawatan yang kurang pas.

Di sisi lain penanaman cabai pada hamparan luas dan waktu tidak serempak rentan menuai masalah. Tanaman yang ditanam terus-menerus membuat keragaman komponen biotik pada ekosistem alami di lokasi budi daya menjadi rendah. Alhasil, organisme pengganggu cabai leluasa berkembang dan merugikan pekebun. Supaya pekebun terhindar dari beragam masalah, perlu melakukan berbagai tindakan mulai dari pemilihan benih, persemaian, pengolahan lahan, hingga panen.

Berawal dari Benih

Untuk benih, misalnya, pilih varietas yang cocok dengan lokasi setempat. Para pekebun di Pantai Utara, Jawa Tengah, sebagai contoh bisa menggunakan varietas Tanjung. Varietas ini selain cocok tumbuh di dataran rendah juga tahan terhadap penyakit virus kuning. Sementara itu, di dataran tinggi, pilih cabai hibrida bersertifikat yang terjamin kualitasnya, sebagai contoh Lembang-1.

Ketika benih disemai, gunakan media campuran 1 bagian pupuk kandang matang dan 1 bagian tanah subsoil yang diambil dari tanah sedalam 20 cm. Sebelum biji disebar, tanah disiram air hingga rata terlebih dulu. Untuk menghindari penyakit yang terbawa dalam benih, rendam dalam air panas bersuhu 50 derajat Celsius hingga air dingin. Bisa pula merendam dalam fungisida berbahan aktif propamokarb hidroklorida dosis 1 ml/1 liter air. Setelah direndam selama 1 jam, benih ditiriskan.

Lahan persemaian sebaiknya diberi naungan plastik tembus cahaya atau naungan atap permanen dengan ketinggian 1,5 m agar sinar matahari bisa menerobos masuk. Untuk menghindari infeksi virus pada bibit di persemaian, tutup persemaian dengan kasa agar serangga vektor tidak bisa masuk. Kasa berkerapatan 50 mesh dapat menahan kutu daun dan kutu kebul.

Sebelum dipindahtanamkan, olah tanah dengan dicangkul sedalam 30—35 cm dan di balik 2—3 kali. Setiap pembalikan tanah biarkan selama 1 minggu. Tujuannya agar mikroba patogen tanah terbunuh sinar matahari. Serasah dari pertanaman sebelumnya harus dikumpulkan dan dimusnahkan dengan jalan dibakar karena menjadi sarang ulat tanah.

Pemberian nematisida berbahan aktif karbofuran dosis 1—3 kg/ha mutlak jika ditemukan akar gulma membengkak akibat serangan nematoda atau ditemukan 300 ekor nematoda puru akar dalam 1 kg tanah. Nematisida diberikan berbarengan dengan aplikasi pupuk kandang.

Agar cabai tahan terhadap serangan virus gemini, bibit di persemaian disemprot ekstrak bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) berkadar 25%. Lakukan 5 hari sebelum bibit dipindah ke lahan. Untuk virus mosaik dapat diinduksi vaksin carna-5 10% dengan jalan dioleskan pada daun saat umur 14 hari sebelum tanam. Tujuan induksi merangsang cabai untuk membentuk ketahanan sistemik terhadap virus.

Setelah cabai ditanam di lahan, gangguan hama, dan penyakit tetap mengancam, contohnya hama pengisap daun. Untuk mengatasinya gunakan perangkap berupa kertas kuning berukuran 20 cm x 30 cm, dibungkus kantung plastik bening. Bagian terbuka menghadap ke bawah. Olesi bagian luar kantung plastik dengan minyak atau oli bekas agar hama pengisap daun menempel. Perangkap ini diganti setiap 10—14 hari.

Sementara itu, untuk menahan atau mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dari luar kebun bisa dimanfaatkan tanaman jagung. Tanam jagung di sekeliling kebun 3—4 minggu sebelum bibit cabai dipindahtanamkan. Jagung ditanam 6 baris dengan jarak rapat 30 cm x 15 cm. Masukkan benih jagung 1 butir per lubang tanam. Jika jarak tanam 30 cm x 20 cm, setiap lubang diisi 2 butir benih jagung. Sebaiknya pilih jagung manis yang bernilai ekonomi tinggi supaya bisa menambah pendapatan.

Selain jagung, tanaman sela lain yang bisa dimanfaatkan mengurangi serangan OPT adalah tomat dan kubis. Kedua tanaman itu bisa ditanam di antara cabai atau di pinggir bedengan. Tomat ditanam 2 minggu setelah cabai, kubis sebulan pascatanam cabai.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul