RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label bisnis jamur tiram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis jamur tiram. Tampilkan semua postingan

Peluang Usaha Pertanian : Usaha pembuatan log jamur makin mengembang

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,


Makanan berbahan baku jamur makin diminati masyarakat. Itulah sebabnya pembudidaya jamur semakin berkembang, sehingga meningkatkan kebutuhan media tanam atau log jamur. Sejak awal tahun lalu, produsen log mengalami peningkatan 20% penjualan.

Semakin diminatinya makanan berbahan baku jamur membuat bisnis pembuatan media tanam jamur mengembang. Media tanam jamur atau sering disebut log dibuat dari bahan baku serbuk gergaji. Log nantinya menjadi tempat tumbuh bibit jamur yang dikenal dengan sebutan F1, F2 dan F3.

Salah satu tempat produksi log jamur ada di Cisarua, Jawa Barat. Log produksi Cisarua terkenal karena memiliki kualitas baik. "Kami menjaga kualitas sesuai standar dan steril sehingga jamur tumbuh tanpa cacat," terang Ujang, Staf Pemasaran Citi Mandiri Agritech yang memproduksi log jamur di Cisarua.

Setiap hari, Citi Mandiri Agritech yang memiliki 30 pegawai mampu membuat 4.000 log dengan tinggi 35 cm dan beratnya 1,8 kg. "Kira-kira beratnya 1 ton log tiap hari," terang Ujang. Tiap bungkus log dijual dengan harga Rp 2.500.

Selain Ujang, ada juga Masturi Ade yang pembuat log jamur perseorangan. Ia setiap hari mampu memproduksi sekitar 3 kuintal log jamur. Hasil produksinya kemudian dijual seharga Rp 2.000 per bungkus yang rata-rata memiliki berat 1,8 kg tiap satuannya.

Tak hanya untuk dijual, Masturi juga memakai log hasil buatannya untuk memproduksi jamur sendiri. "Saya juga petani jamur," katanya. Jumlah yang dijual hanya separuh produksi karena hampir separuhnya dipakai sendiri.

Baik Ujang maupun Masturi mengakui kalau sejak awal tahun permintaan log jamur mengalami peningkatan. "Peningkatan sekitar 20%. Banyak orang yang tertarik membudidayakan jamur," kata Ujang.

Setiap dua hari sekali ujang mengirimkan log ke Garut, Cipanas, Kuningan dan Cianjur. "Kalau ke Lampung, Dumai dan Kalimantan setiap sebulan sekali," tuturnya. Walau pesanan meningkat, namun karena terkendala tenaga kerja dan modal, pihaknya sampai saat ini belum akan meningkatkan produksi.

Untuk membuat log jamur, serbuk gergaji dicampur dengan jagung yang telah ditumbuk. Selain itu juga dicampurkan dedak, abu dengan tambahan air. Campuran itu kemudian diayak dan dibungkus dalam plastik.

Dalam proses pengepakan ini, harus benar-benar diperhatikan steril tidaknya kantong plastik. Jika tutup kantong plastik kurang rapat maka biasanya media tanam akan rusak dan tidak bisa ditumbuhi bibit jamur dengan baik.

Setelah dikemas, log kemudian dikukus selama 12 jam. Pengukusan dengan boiler mencapai suhu 90-100 derajat celcius. Itu dilakukan agar bakteri yang tak berguna mati.

Setelah dikukus, log kemudian didinginkan. Cara mendinginkannya dengan mengangin-anginkan dalam ruang tertutup berventilasi udara.

Setelah didinginkan satu hari, barulah log siap diberi bibit F1, F2 dan F3. "Semua proses harus steril," tambah Ujang. Agar sterilisasi bisa terjaga, pekerja dibagi tiap bagian meliputi pengadukan, pengukusan hingga pembibitan.

Menurut Masturi untuk mendapatkan log berkualitas juga tergantung dari cuaca dan iklim. "Kalau cuaca tak menentu seperti ini, log yang kami buat sering rusak," terangnya. Perlu cuaca yang mendukung agar bisa membuat log yang bagus, yakni cuaca tidak boleh terlalu panas dan terlalu dingin.(kontan)

Peluang Usaha Pertanian : Budidaya Jamur Tiram Tak Butuh Perawatan Khusus

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Medan. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendongkrak pendapatan. Seperti yang dilakukan M Iskandar Pasaribu seorang guru yang membudidayakan jamur tiram di pekarangan rumahnya.
Usaha budidaya jamur yang dilakoninya ini berawal karena sederhananya pengembangan jamur. "Waktu itu saya melihat budidaya jamur yang dilakukan adik saya ini tak ada perawatan khusus, simpel, dan nggak ada risikonya, sepulang dari situ, saya tertarik ingin mencobanya," kata Iskandar yang ditemui, Senin (2/5) di rumahnya Jalan Lukah Blok V Ujung No 65B Komplek Astra Medan Amplas.

Setelah memperbincangkan ide untuk pengembangan jamur tiram kepada sang istri, Iskandar kemudian memutuskan untuk memulai, dan membangun ruang tertutup berukuran 9 x 16 meter per segi sebagai tempat pembiakan jamur. "Untuk modal awal habislah sekira Rp 42 juta, untuk modal bangunan fisik dan 4.000 baglog (bonggol) yang jadi medium jamur," ujarnya.

Setelah berjalan tak kurang dari setahun, bisnis yang dilakoninya mulai menuai hasil. Setiap hari sedikitnya 10 kg- 15 kg jamur tiram siap dipanen yang dijual Rp 20.000 per kg. "Kalau yang beli biasanya datang langsung ke kita, mereka umumnya yang menjual jamur crispy," katanya.

Untuk perawatan, Iskandar yang dibantu seorang pekerjanya mengaku pengembangan jamur tidaklah membutuhkan perawatan yang special. Baglog yang dibeli Rp 4.000 per buah cukup diberikan air secukupnya selama 3 kali sehari, dan tidak boleh terkena langsung cahaya matahari. Untuk suhu yang baik dijaga pada kisaran 25-27 derajat Celsius. "Kalau itu sudah bisa dijaga, jamur pasti berkembang cepat. Untuk baglog yang dijadikan medium jamur bisa bertahan 4-6 bulan," ujarnya.

Dikatakannya, selain untuk meningkatkan pendapatannya, pengembangan jamur yang diusahakannya kini juga dicita-citakannya agar mampu membuka lapangan kerja. "Alhamdulillah, paling tidak lepas untuk uang jajan anak-anak. Ke depan saya ingin lebih serius mengembangkan ini. Rencananya dalam waktu dekat kita mau buat koperasi pengembang jamur," kata bapak 3 anak yang hobi membaca ini.

Diakuinya, kendala yang dihadapinya dalam menggeluti bisnis ini adalah pemasaran produksinya yang masih sedikit. Karena jamur belum cukup banyak dikenal luas sebagai makanan yang enak dan bergizi bagi kesehatan. "Untuk pemasaran, kita sangat mengharapkan pemerintah berperan aktif utamanya dalam membantu pengenalan jamur kepada masyarakat luas," katanya berharap.

Meski begitu, ia mengaku cukup optimis untuk serius mengembangkan jamur ke depan. "Kalau bicara peluang, 3-5 tahun kedepan saya masih cukup yakin, karena sekarang ini baru mungkin 30 persen masyarakat mengenal dan mengonsumsi jamur, di situ peluang bisnisnya. Asal memang kita giat memperkenalkannya," tukasnya.(MB)

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Burger Jamur

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Bisnis jamur olahan kian menjamur. Ceruk pasarnya pun masih cukup besar. Jika selama ini bisnis ini lebih banyak di dataran tinggi seperti, Bogor, Bandung dan Bantul Jogjakarta, kini secara perlahan merambah ke kota-kota di Jatim, di antaranya Surabaya, Sidarjo dan sekitarnya.

Bikin Burger Jamur, Bidik Vegetarian

Bagi Fachri Munif Lahdji, jamur olah memiliki nilai jual jauh lebih tinggi ketimbang menjual jamur mentah kering maupun basah.
“Perhatikan, lima tahun lalu makanan dari bahan dasar jamur belum banyak di Surabaya. sekarang di mal-mal, restoran vegetarian, serta pinggir jalan, mulai banyak yang jual. Masyarakat semakin sadar tentang makanan sehat,” kata Fachri, ditemui di tempat produksinya di Tanjung Sadari Colombo, Surabaya, Kamis (7/4).

Fachri (21) bersama kawannya, Syarif, memproduksi jamur olah yang dibikin serupa daging untuk bahan isi burger dan kebab. Ia menyuplai ke beberapa resto vegetarian, penjual burger dan kebab jamur di pinggir jalan. Agennya saat ini tercatat ada delapan, yang tersebar tidak hanya di Surabaya, tetapi juga hingga Jakarta, Solo, dan Pekalongan.
“Saya sengaja tidak menjual burger jamur di toko-toko moderen dan mal karena cost-nya tinggi, sistem keagenan lebih menguntungkan. Untuk menjadi agen minimal harus beli 20 kilogram (kg), tanpa dikenai biaya apapun,” kata arek Suroboyo kelahiran 26 Juni 1990 ini.
Jamur olah yang ia jual dikemas serupa daging burger Bernardi, dengan tiap kemasan seberat 500 gram. Ia menjual dengan merek dagang Bano seharga Rp 25.000 per pack, harga grosir dengan pemesanan lebih dari 20 kg akan diberikan lebih murah.

“Saya memulai bisnis ini awal 2009, sebetulnya sejak di bangku kuliah di Jurusan International Business Management Universitas Ciputra, tiap mahasiswa harus bikin project wirausaha. Waktu itu saya bikin project trading rempah-rempah tetapi nggak bertahan lama. Akhirnya setelah kenalan dengan petani jamur, saya terinspirasi bikin daging burger jamur dan kebab ini,” jelas anak kedua dari empat bersaudara putra pasangan Munif Lahdji dan Jamilah Bawazeer, pemilik perusahaan pasta gigi dan lotion Siwak-F.
Sebagian ia produksi di Surabaya dan sebagian lagi di Bangil, Pasuruan. Untuk pemasaran, ia mempercayakan pada kawan sebayanya Syarif Husin Baridwan yang juga karib semasa SMP dan SMA di Al Hikmah.

“Saat ini, saya masih promosikan secara online di jejaring sosial dan jejaring social commerce seperti kaskus.com,” ujar Syarif menambahkan.
Sistem pemasarannya bisa pesan antar gratis untuk wilayah Surabaya saja, dengan sistem minimum order. Kini, setiap minggunya rata-rata ia bisa menjual 75 pack.

“Kalau omzetnya masih kecil, tiap minggu Rp 2–2,5 juta tetapi kadang juga tak ada pembeli sama sekali. Belum balik modal sih, karena dulu beli mesin olahnya lumayan mahal Rp 20 jutaan, semua pakai modal pribadi. Tetapi yang namanya bisnis memang harus telaten,” sambung Fachri lagi, yang berniat membuat rombong sendiri untuk mengembangkan bisnisnya.
Ia berkiblat terhadap bisnis pasta gigi milik kedua orangtuanya yang dibangun sejak 1994, baru bisa terasa hasilnya setelah 10 tahun. “Yang penting ada kemauan dan tetap inovatif menangkap selera konsumen,” akunya.

Gampang Dibuat, Bahan Baku Berlimpah

Bisnis makanan memang tak pernah ada matinya. Ketimbang bisnis garmen dan aksesoris, makanan kategori produk yang fast moving.
“Kalau niat berbisnis, cari yang bahan bakunya melimpah dan murah. Jamur tergolong komoditi yang harganya cukup terjangkau, budidayanya juga mudah. Tidak harus di dataran tinggi karena sudah bisa direkayasa,” jelas Fachri.

Untuk membuat daging burger jamur, caranya tak terlalu sulit. Jamur kancing (champignon) basah diblender jadi satu, lalu dicampur bahan pembunuh bakteri, diamkan selama satu hari. Setelah itu aduk dengan tepung gluten basah, tepung tapioka, minyak dan ragam bumbu penyedap rasa. Gulung adonan, lalu masukkan dalam mesin kukus.
“Setelah berwarna kecoklatan, angkat lalu diiris tipis menggunakan mesin potong khusus. Daging burger jamur siap dimasukkan plastik dan divakum,” urainya.
Jika dimasukkan freezer, lanjut Fachri, bisa bertahan sampai satu tahun. Namun jika dimasukkan lemari es hanya bisa bertahan satu bulan. Sementara, burger jamur yang disimpan dalam suhu ruangan hanya bisa bertahan 30 jam.

“Modalnya bisa berapa saja, pakai cara manual juga bisa. Tapi kalau produksinya sudah besar tentu penggunaan mesin-mesin khusus akan sangat membantu. Misalnya mesin blender, mesin kukus dan mesin potong,” jelasnya.
Menurut Fachri, jika ingin produk burger jamur ini cepat diserap pasar, tinggal menggali pasar dan bikin inovasi. Inovasi bisa terletak pada rasa, kemasan hingga merek dagang yang eye catching.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul