Buah dengan nama Latin Garcinia mangostana L. ini termasuk famili Guttiferae dan merupakan spesies terbaik dari genus Garcinia. Manggis termasuk buah eksotik yang sangat digemari oleh konsumen, baik di dalam maupun luar negeri, karena rasanya yang lezat, bentuk buah yang indah, dan tekstur daging buah yang putih halus. Bahkan manggis mendapat julukan Queen of tropical fruit (ratu buah – buahan tropika). Sayangnya karena penanganan teknis budidaya yang kurang baik, sehingga menyebabkan buah manggis yang diproduksi bermutu rendah dan beragam. Akibatnya, impor manggis Indonesia terhadap pasaran dunia hanya 1 persen yang ditujukan untuk memenuhi pasaran Asia, sebagian besar dilempar ke pasaran lokal. Pada hal bila menilik dari intensitasnya maka produksi manggis tahun 2007 mencapai 112.722 ton dengan sentra produksi yang tersebar dari Sumatra hingga ke Nusa Tenggara.
Pada umumnya masyarakat memanfaatkan tanaman manggis karena buahnya yang menyegarkan dan mengandung gula sakarosa, dekstrosa, dan levulosa. Komposisi bagian buah yang dimakan per 100 gram meliputi 79,2 gram air, 0,5 gram protein, 19,8 gram karbohidrat, 0,3 gram serat, 11 mg kalsium, 17 mg fosfor, 0,9 mg besi, 14 IU vitamin A, 66 mg vitamin C, vitamin B (tiamin) 0,09 mg, vitamin B2 (riboflavin) 0,06 mg, dan vitamin B5 (niasin) 0,1 mg. Kebanyakan buah manggis dikonsumsi dalam keadaan segar, karena olahan awetannya kurang digemari oleh masyarakat.
Pengenalan masyarakat Indonesia terhadap buah manggis baru sebatas hidangan meja yang disajikan selepas menu utama, atau sebagai buah segar yang enak dimakan di siang hari. Jarang sekali ditemukan hasil olahan buah manggis, sebab kurang diminati oleh konsumen. Pada hal dibeberapa negara, buah manggis sudah sejak lama dijadikan obat atau bahan terapi, utama nya pada bagian kulit buah. Kulit buah manggis mengandung kadar air 62,05 persen, abu 1,01 persen, lemak 0,63 persen, protein 0,71 persen, total gula 1,17 persen, dan karbohidrat 35,61 persen. Disamping itu juga kulit buah manggis kaya akan anti oksidan, utamanya antosianin, tanin, xanthone, dan asam fenolat.
Xanthone adalah kadar antioksidan tinggi di kulit buah manggis. Dari 14 jenis senyawa xanthone yang telah diidentifiksi maka yang paling banyak adalah alfa – mangostin yang mampu menekan pembentukan senyawa karsinogen pada kolon. Senyawa xanthone memiliki sifat anti diabetes, anti kanker, anti peradagangan, hepato-protektif, meningkatkan daya kekebalan tubuh, aromatase inhibitor, antibakteri, antifungi, antiplasmodial, dan antisitotoksik.
Antosianin tergolong turunan benzopiran adalah pigmen pewarna pada kulit manggis, demikian juga pada beberapa jenis buah dan sayuran. Senyawa antosianin ini berperan sebagai antioksidan dan mampu mencegah penyakit neuronal, kardiovaskuler, kanker dan diabetes. Dari dua puluh jenis senyawa antosinin, hanya ada enam yang memiliki peran penting dalam bahan pangan sedangkan yang lain jarang ditemukan. Keenam dari senyawa tersebut adalah pelargo nidin, sianidin, delfinidin, peonidin, petunidin, dan malvidin.
Ketika kita makan buah manggis, dan tanpa terasa mengunyah kulitnya maka kulit buahnya terasa sepat di lidah. Penyebabnya karena kulit buah manggis mengandung senyawa tannin. Senyawa tanin ini mampu membentuk ikatan yang kuat dengan protein sehingga dapat menghambat penyerapan protein dalam pencernaan. Tanin adalah kumpulan asam fenolat yang biasa digunakan dalam menyamak kulit. Beberapa senyawa tanin juga memiliki kemampuan sebagai antioksidan, dapat menghambat pertumbuhan tumor, dan menghambat enzim seperti reserve transkriptase dan DNA topoisemerase, antidiare, hemostatik, dan antihemeroid.
Asia dan Afrika telah memanfaatkan kulit buah manggis sebagai obat tradisional untuk diare, disentri dan infeksi. Di Amerika dan Eropa kulit buah manggis telah diekstrak sedemikian rupa menjadi jus, konsentrat, atau suplemen makanan. Jus, konsentrat dan bukuk manggis utuh dicampur dengan bahan pangan lainnya dan telah dipatenkan. Sedangkan di Indonesia, telah diproduksi sari buah manggis dari buah manggis segar. Demikian juga Malaysia yang telah memproduksi suplemen makanan dari buah mangis segar dan mengekspornya keberbagai Negara, terutama Amerika.
Kelemahan dari buah manggis segar lantaran hanya tersedia 3 sampai 4 bulan dalam setahun, sedangkan pengawetan buah segar dalam kondisi dingin memerlukan biaya yang relative besar, itupun hanya mampu menambah umur simpan selama 3 minggu. Disamping itu tingginya kadar air akan mudah merusak senyawa antioksidan. Oleh karenanya maka untuk menyikapi kekurangan tersebut, maka tahun 2009 telah diproduksi tepung kulit buah manggis, hasil olahan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian. Tepung ini mengandung kadar air 5,87 persen, abu 2,17 persen, lemak 6,45 persen, protein 3,02 persen, total gula 2,10 persen, dan karbohidrat 82,50 persen.
Keuntungan yang diperoleh dari tepung kulit buah manggis ini adalah umur simpan yang lama, mudah disimpan dan distribusikan, serta menjaga ketersedian stok bahan baku. Dampak yang bisa dirasakan oleh petani maupun gapoktan adalah, lantaran untuk memproduksi tepung ini hanya menggunakan alat sederhana (teknologi tepat guna) dan modal relative kecil. Sehingga diharapkan bahwa penerapan teknologi pasca panen manggis di tingkat petani akan memberikan tambahan penghasilan bagi kelompok tani dan gapoktan dari hasil olahan kulit buah manggis.
Menurut Dr. Ir. Warid Ali Qosim, M.S., Dosen Jurusan Budi Daya Pertanian dan Tim Ahli Divisi TTG Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Unpad Bandung, untuk mengobati disentri digunakan kulit dari buah manggis, dicuci dan di potong – potong, direbus dengan 4 gelas air sampai volume tinggal setengah gelas, setelah dingin disaring lalu diminum dengan madu bila perlu (2 kali sehari 3/4 gelas); Untuk mengobati mencret digunakan kulit dari 2 buah manggis yang masak, dicuci dan dipotong – potong direbus dengan 3 gelas sampai air sampai volume tinggal setengahnya, setelah dingin disaring kemudian diminum dengan madu bila perlu (2 kali sehari 3/4 gelas); sedangkan untuk mengobati sariawan digunakan kulit dari 2 buah manggis yang masak, dicuci, dan dipotong – potong direbus dengan 3 gelas sampai air sampai volume tinggal setengahnya, setelah dingin disaring kemudian dikumur dan terus diminum (3 sampai 6 kali sehari 2 sendok makan).
-------------------------------
Disadur dari : Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32 No. 2/2010.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
2011 News
AGRIBISNIS
APINDO
Africa
Agriculture Business
Agriculture Land
Argentina
Australia
Bangladesh
Berita
Berita Detikcom
Berita Info Jambi
Berita Kompas
Berita Padang Ekspres
Berita Riau Pos
Berita Riau Today
Berita Tempo
Berita riau terkini
Biodiesel
Bursa Malaysia
CPO Tender Summary
Cattle and Livestock
China
Cocoa
Company Profile
Corn
Cotton
Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO)
Dairy
Dairy Products
Edible Oil
Euorope
European Union (EU)
FDA and USDA
Fertilizer
Flood
Food Inflation
Food Security
Fruit
Futures
Futures Cocoa and Coffee
Futures Edible Oil
Futures Soybeans
Futures Wheat
Grain
HUKUM
India
Indonesia
Info Sawit
Investasi
Invitation
Jarak pagar
Kakao
Kapas
Karet
Kebun Sawit BUMN
Kebun Sawit Swasta
Kelapa sawit
Kopi
Law
Lowongan Kerja
MPOB
Malaysia
Meat
News
Nilam
Oil Palm
Oil Palm - Elaeis guineensis
PENGUPAHAN
PERDA
Pakistan
Palm Oil News
Panduan Pabrik Kelapa Sawit
Penawaran menarik
Pesticide and Herbicide
Poultry
REGULASI
RSPO
Rice
SAWIT
Serba-serbi
South America
Tebu
Technical Comment (CBOT Soyoil)
Technical Comment (DJI)
Technical Comment (FCPO)
Technical Comment (FKLI)
Technical Comment (KLSE)
Technical Comment (NYMEX Crude)
Technical Comment (SSE)
Technical Comment (USD/MYR)
Teknik Kimia
Thailand
Trader's Event
Trader's highlight
USA
Ukraine
Usaha benih
Vietnam
Wheat
benih bermutu
benih kakao
benih kelapa
benih palsu
benih sawit
benih sawit unggul
bibit sawit unggul
biofuel
biogas
budidaya sawit
corporation
palm oil
pembelian benih sawit
perburuhan
pertanian
soybean
umum
varietas unggul

0 comments:
Posting Komentar