BUDIDAYA JAGUNG (Zea mays L.)
Posted by1. Syarat Tumbuh
Tanaman jagung dapat tumbuh pada ketinggian 50 sampai 1.800 m dpl, dengan ketinggian, optimal 50 sampai 600 mdpl. Untuk dapat berproduksi optimal, jagung membutuhkan tanah yang gembur, subur dan kaya akan unsur hara, aerase dan drainase yang baik, kaya bahan organik, keasaman tanah (pH) antara 5,6 sampai 7,5. Intensitas curah hujan yang dikehendaki adalah 1.000 sampai 2.500 mm per tahun, dengan curah hujan ideal sekitar 85 sampai 200 mm per bulan, saat penyinaran matahari penuh. Suhu udara yang dikehendaki antara 21 sampai 34 derajad Celsius, tetapi untuk pertumbuhan optimum, tanaman jagung membutuhkan suhu 23 sampai 27 derajad Celsius.
2. Varietas Unggul
Pemerintah hingga saat ini telah melepas beberapa varietas unggul jagung. Varietas jagung terbagi atas golongan bersari bebas, yang diperoleh dengan seleksi masa panjang sehingga diperoleh varietas unggul yang diinginkan. Untuk varietas hibrida diperoleh dengan cara menyilangkan dua atau lebih parental yang bersifat unggul. Beberapa dari varietas unggul jagung adalah :
Kalingga : Umur panen 96 hari, produksi 5,4 – 7,0 ton/ha & tahan terhadap penyakit bulai.
Wiyasa : Umur panen 96 hari, produksi 7,0 ton/ha dan tahan terhadap penyakit bulai & karat daun.
Arjuna : Umur panen 85 – 90 hari, produksi 5,0 – 6,0 ton/ha, tahan terhadap bulai & karat daun.
Nakula : Umur panen 85 hari, produksi 3,6 ton/ha dan tahan terhadap bulai & karat daun.
Sadewa : Umur panen 86 hari, produksi 3,0 – 7,0 ton/ha dan tahan terhadap bulai & karat daun.
Sukmaraga : Masak fisiologis pada 105 s/d 110 hari, produksi 8,5 ton/ha, akar dalam serta kuat dan agak tahan rebah.
Cpl 1 : Umur panen pada 100 hari, produksi 6,2 ton/ha, agak tahan thd penyakit bulai.
C-1 : Umur panen pada 95 – 100 hari, dengan produksi 5,8 ton/ha, agak tahan bulai.
Palakka : Masak fisiologis 97 hari, produksi 8,0 ton/ha pipilan kering, tahan terhadap rebah, bulai, karat daun, toleran terhadap kekeringan.
Bisi–18 : Umur masak pada 100 hari (dataran rendah) & 125 hari (dataran tinggi), dg potensi produksi 12 ton/ha, karat daun, hawar, seragam, juga tahan rebah, akar baik, batang besar, kokoh & tegak.
PB : Umur masak pada 100 hari (dataran rendah) & 118 hari (dataran tinggi), dg potensi produksi 10 s/d 11,96 ton/ha, & tahan karat daun.
P9 : Umur panen pada 100 hari (dataran rendah) & 113 hari (dataran tinggi), dg potensi produksi 10 – 11,71 ton/ ha, tahan karat daun & tahan busuk tongkol.
Srikandi : Umur panen 97 hari, produksi 8,0 ton/ha utk pipilan kering, tahan thd rebah, bulai, & busuk tongkol, karat daun, toleran thd kekeringan.
Pioner–2 : Umur panen 100 hari, produksi 6,3 – 10,0 ton/ha dan agak tahan terhadap penyakit bulai.
Pioner–1 : Umur panen 100 hari, produksi 5,0 – 6,0 ton/ha dan agak tahan terhadap penyakit bulai.
3. Penyiapan Benih dan Lahan
Penyiapan Benih
Jagung dibudidayakan oleh petani dengan benih (biji). Mengingat jagung seringkali menyerbuk silang, terlebih benih dari berbagai varietas, maka untuk mendapatkan hasil yang optimal benih yang ditanam hendaknya memiliki sifat genetif yang benar (unggul). Tidak dianjurkan untuk menanam turunan hibrida (F2) karena jagung tersebut tidak hibrida lagi.
Dianjurkan untuk menggunakan benih bersertifikat, atau bisa juga secara konvensional dengan cara dengan melihat kondisi fisik, sehat, berbobot dan matang fisiologis dari benih yang akan ditanam. Benih yang baik adalah yang memiliki daya tumbuh 90 persen, dimana untuk kebutuhan benih jagung diperlukan sekitar 20 sampai 30 kg per hektar.
Penyiapan Lahan
Tahap penyiapan lahan: sanitasi lahan dari gulma maupun sisa tanaman perlu dilakukan, lalu tanah diolah berkedalaman sekitar 15 sampai 20 cm lalu diratakan. Bagi lahan berkandungan liat tinggi maka perlu dibuatkan saluran pembuangan (drainase) agar tidak terjadi penggenangan air. Pada setiap jarak sekitar 3 meter dibuatkan saluran sepanjang barisan tanaman atau jagung ditanam diatas gludan. Untuk tanah yang bereaksi asam (pH kurang 5) tanah diberi kapur dengan dosis 300 kg per ha untuk 1 bulan sebelum dilakukan penanaman secara merata pada barisan tanaman.
4. Penanaman
Pola Penanaman
Beberapa jenis pola tanam yang biasa diterapkan pada budidaya jagung yaitu : secara monokultur, tumpang sari, tumpang gilir, tanaman bersisipan dan tanaman campuran. Pola tanam ini dapat dipilih berdasarkan keinginan dan kepentingan petani, serta tujuan dari penanaman jagung.
Waktu dan Cara Tanam
Umumnya jagung ditanam pada awal musim hujan/menjelang musim kemarau. Ini dilakukan untuk memudahkan ketersediaan air bagi tanaman. Jumlah populasi tanaman 60.000 sampai dengan 70.000 tanaman per hektar, tergantung pada varietas yang ditanam. Jika jagung yang di tanam adalah jenis genjah lokal, maka populasi bisa mencapai sekitar 100.000 tanaman per hektar. Jarak tanam yang dianjurkan antar barisan 75 atau 80 cm, dan antar jarak tanam 20 sampai dengan 25 cm. Pembuatan lubang tanam dibuat sedalam 3 sampai 5 cm dengan cara ditugal. Tiap lubang ditanami 1 sampai 2 benih jagung per lubang tanam.
5. Pemeliharaan Tanaman
Pemupukan Tanaman
Tanaman jagung termasuk tanaman yang peka pada kekurangan Nitrogen. Kebutuhan N (urea) mencapai 250 sampai 300 kg per hektar. Urea diberikan 1/3 dosis pada saat tanam dan saat tanaman berumur 3 sampai 4 minggu setelah tanam. Pemupukan dengan SP–36 berdosis 200 kg per hektar dan KCl 75 sampai 100 kg per hektar, yang masing – masing diberi pada saat tanam. Dosis ini merupakan anjuran umum, namun dianjurkan kepada petani/kelompok tani untuk meminta bantuan kepada PPL/PPS setempat, atau untuk daerah spesifik maka dianjurkan untuk mengikuti anjuran lokal. Pemberian pupuk dilakukan secara larikan berjarak 7 sampai 8 cm dari lajur lubang tanaman dengan kedalaman 8 sampai 10 centimeter.
Penjarangan dan Penyulaman
Dalam pertumbuhannya seringkali ditemukan adanya tanaman yang tumbuhnya abnormal atau menyimpang. Untuk tanaman yang abnormal pertumbuhannya bisa dipotong pada bagian pangkal dekat tanah, kemudian dilakukan penyulaman pada saat umur 7 sampai 10 hari sesudah tanam.
Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dari gulma dan pembumbunan dapat dilakukan bersamaan, yaitu dilakukan 2 minggu sekali. Tujuan dari pembumbunan ini adalah untuk menguatkan batang agar tidak mudah rebah dan menutup akar yang muncul di permukaan tanah sebab pengaruh aerase. Kegiatan ini dilaku kan pada saat tanaman jagung berumur 4 sampai 6 minggu setelah tanam, yang dilakukan pada waktu dilakukan pemupukan. Di kiri dan kanan barisan tanaman jagung diurug dengan cangkul dan dibentuk gludan tanaman.
Pengairan dan Penyiraman
Jagung yang ditanam di akhir musim penghujan, atau awal musim kemarau, seringkali devisit pasokan air. Untuk itu lakukan penyiraman secukupnya pada benih jagung yang telah ditanam. Pada saat tanaman menjelang berbunga dibutuhkan air dalam jumlah besar. Sehingga jika tidak hujan maka perlu dibuat parit diantara bumbunan tanaman jagung.
6. Hama dan Penyakit
H a m a
Beberapa jenis hama seringkali ditemui pada pertanaman jagung, diantaranya adalah:
a) Lalat Bibit (Atherigona exigua Stein)
Kerusakan: daun nampak kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, kerdil atau mati. Pengendalian: penanaman serempak dan pergiliran tanam, tanaman yang terserang dicabut dan dimusnahkan, giatkan sanitasi kebun dan aplikasi pestisida.
b) Ulat Pemotong (Agrotis ipsilon, Spodoptera litura, Ostrinia furnacalis, Helicoverpa armigera)
Kerusakan : tanaman muda terpotong beberapa centimeter dari permukaan tanah, Hal ini ditandai dengan adanya bekas gigitan dari batang tanaman, akibatnya tanaman yang masih muda menjadi roboh dan mati. Pengendalian: tanam dengan serempak dan pergiliran tanam dengan tanaman lain seperti : kacang – kacangan, pada saat dilakukan pendangiran maka cari dan bunuh ulat (biasanya berlindung di dalam tanah), dan aplikasi pestisida.
c) Hama Uret (Phyllopaga–Lachnosterna, Holotrichi - Helleri)
Kerusakan: larva memakan akar jagung sehingga menjadikan tanaman menjadi lemah, daun nampak kekuningan, tanaman jadi kerdil dan akhirnya mati; kalaupun tanaman tidak mati maka tongkol yang dihasilkan sangat sedikit. Pengendalian: dilakukan saat pengolahan tanah, larva dan kumbang usahakan ditangkap dan dibunuh, bisa dengan cara menggenangi lahan yang akan di tanami jagung sebelumnya namun cara ini relatif agak sulit terlebih pada daerah – daerah yang air tidalam keadaan yang melimpah, penggunaan musuh alami berupa parasitoid, dan Furadan 3G pada barisan yang akan ditanami.
d) Ulat Grayak (Leucania unipunctata)
Kerusakan: bagian hama yang merusak adalah larva star awal, yaitu dengan memakan tepi daun sedangkan larva dewasa akan memakan seluruh daun. Tanaman jagung akan gundul dan akhirnya mati. Pengendalian: larva biasanya berkelompok pada bagian pucuk daun oleh karena itu larva di tangkap lalu memencet, bisa juga dengan menggunakan musuh alami seperti: burung, katak, jamur patogen, serangga dan aplikasi pestisida.
Penyakit
Sebagaimana serangan hama, jagung juga tidak sepi dari serangan penyakit, khususnya penyakit yang menyerang pada musim penghujan/cuaca lembab. Beberapa jenis penyakit jagung yang biasa dijumpai di lapangan, diantaranya :
a) Penyakit Bulai (Downy mildew)
Kerusakan: pada saat tanaman jagung berumur 2 sampai 3 minggu daun menjadi runcing, kecil, kaku dan pertumbuhan batang terhambat, warna daun dan batang menguning, pada sisi bawah daun terdapat spora warna putih; pada saat tanaman berumur 3 sampai 5 minggu tanaman akan mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; setelah tanaman jadi dewasa maka terdapat garis – garis kecoklatan pada daun tua.
Pengendalian : lakukan penanaman pada awal musim hujan, pengaturan pola tanam dan pergiliran tanaman perlu dilakukan untuk memutus siklus hidup penyakit ini, penanaman varietas tahan juga dapat dilakukan, demikian juga tanaman yang ditemukan memiliki gejala tersebut diatas agar dicabut dan musnahkan, penggunaan GLIO pada awal tanam dilakukan untuk menekan muncul nya penyakit ini.
b) Penyakit Bercak Daun (Leaf bligh)
Kerusakan: pada daun nampaj adanya bercak yang memanjang dan teratur berwarna kuning yang dikelilingi warna coklat. Selanjutnya bercak meluas dari ujung hingga pada pangkal daun; semula bercak nampak basah, kemudian berubah corak menjadi coklat yang kekuningan dan akhirnya menjadi coklat tua, lalu seluruh permukaan daun bercorak coklat tua. Pengendalian : lakukan pergiliran tanaman, mengatur kondisi lahan agar tidak lembab, penggunaan GLIO diawal tanam.
c) Penyakit Karat (Rust), cendawan Puccinia sorghi dan Puccinia polypora.
Kerusakan: pada tanaman dewasa terlihat adanya karat dan serbuk kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini selanjutnya akan berkembang dan mejadi panjang. Pengendalian: mengatur kelembaban lahan, dan gunakan varietas tahan, sanitasi kebun serta semprotan GLIO.

0 comments:
Posting Komentar