RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label serangan ulat bulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serangan ulat bulu. Tampilkan semua postingan

Ulat Bulu Dengan Diameter Seukuran Kelingking Orang Dewasa di Padang

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,







PADANG. Ulat bulu dengan diameter seukuran kelingking orang dewasa, Minggu (26/6/2011), merambati dinding tiga rumah dan sekolah di kawasan Kubu Dalam, Kelurahan Parak Karakah, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat. Sejumlah warga mengatakan bahwa serangan ulat bulu itu sudah terjadi sejak empat hari terakhir dan belum kunjung berhenti.

Tiga rumah itu masing-masing ditempati Masni (51) berikut dua anggota keluarganya, Nurima (75) beserta lima anggota keluarga, serta Ani (54) dan tujuh anggota keluarganya. Selain rumah warga, ulat bulu juga mulai menyerang Sekolah Dasar Negeri 35 yang letaknya berseberangan.

Ulat-ulat bulu itu tampak merayapi dinding tembok dengan leluasa. Beberapa di antaranya bahkan bisa dengan tiba-tiba merayapi bagian tubuh orang, ini terbukti dengan sejumlah anak kecil yang merasakan dampak gatal-gatal.

Salah seorang warga, Defrizal (31), mengatakan, sejak empat hari lalu ulat bulu diketahui menyerang kawasan itu. "Tetapi yang parah terjadi dalam dua hari terakhir," katanya.

Ia menambahkan, serangan ulat bulu dalam jumlah banyak tersebut merupakan yang pertama kali terjadi sejak puluhan tahun terakhir. Defrizal mengatakan, ulat bulu dalam jumlah agak banyak sempat terlihat di kawasan itu sekitar dua bulan lalu.

Masni, warga yang lain, menuturkan, ulat-ulat bulu yang sempat masuk ke rumah warga itu pernah diberantas dengan racun semprot dan dibakar. "Sudah tiga kali dibakar dan disemprot oleh petugas dari kelurahan, tetapi tetap saja ulat bulu itu masih ada," ujarnya.

Metrizal (36), penjaga SDN 35, mengatakan, ulat-ulat bulu mulai memasuki ruang-ruang kelas pada Sabtu lalu. "Untungnya ulat-ulat bulu tersebut masuk setelah kegiatan bagi rapor selesai, setelah itu kan masuk musim liburan," katanya.

Serangan ulat bulu berasal dari lahan kosong yang ditumbuhi semak dan aneka pepohonan seperti mangga, durian, dan kwini. Lahan kosong yang mulai ada sejak dua tahun lalu tersebut memisahkan rumah-rumah warga dan bangunan belakang sekolah.

Dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang, Dr Yaherwandi, pada hari yang sama mengatakan bahwa ledakan populasi ulat bulu itu akan berhenti pada siklusnya. "Mungkin dikurangi saja dengan cara disemprot," ujarnya.

Menurutnya, upaya menghentikan serangan ulat bulu tidak bisa dilakukan dengan cara menebang pepohonan yang ada. "Karena dengan begitu, ulat-ulat akan masuk ke rumah-rumah karena mencari tempat yang teduh pada siang hari," ujar Yaherwandi.

Ia menambahkan, serangan ulat bulu terjadi menyusul perubahan alam akibat keadaan cuaca yang tidak menentu. "Semestinya hujan malah panas, dan sebaliknya," tutur Yaherwandi.

Perubahan alam itu lantas menyebabkan terjadinya perubahan sistem reproduksi. Menurut Yaherwandi, hal itu masih ditambah dengan berkurangnya sejumlah predator alami seperti burung dan semut.

Disemprotkan Cairan Cembunuh Ulat, Sempat Pingsan, Lalu Jalan Lagi

Rumah warga di RT 1 RW 8 Kubu Dalam, Kelurahan Parak Karakah, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (26/6/2011), diserang ulat bulu. Setidaknya tiga rumah di kawasan itu dirambati ulat bulu berwarna coklat dengan setrip hitam, putih, dan jingga.

Selain itu, bangunan SD Negeri 35 yang berada di depan rumah-rumah warga tersebut juga dirambati ulat bulu pada bagian dindingnya. Rumah-rumah warga dan sekolah itu dipisahkan sebuah lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar dan sejumlah pohon seperti pohon mangga, kuini, durian, dan rambutan.

Sejumlah warga mengatakan serangan ulat bulu terjadi mulai empat hari lalu. Sejumlah petugas juga telah menyemprotkan cairan pembunuh ulat, tetapi tidak ada hasilnya.

"Ulat bulu hanya terlihat agak semaput sebentar, setelah itu berjalan lagi," kata Masni (51), salah seorang warga. Upaya pembakaran semak-semak juga belum membuahkan hasil.

Invasi Ulat Bulu Suatu Musibah?

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Oleh Ronny Rachman Noor

Ada tanda tanya besar dalam diri saya menyaksikan hebohnya pemberitaan serangan ulat bulu di hampir semua media elektronik dan cetak.

Hampir semua kalangan menunjukkan reaksi yang sangat berlebihan, dari rakyat biasa sampai pejabat. Mereka menyikapi ulat bulu sebagai makhluk sampah yang harus dimusnahkan. Tidaklah mengherankan bila yang muncul adalah tindakan sadis dan reaktif: dari menyemprot dengan insektisida sampai membakarnya.

Zona homeostasis

Umumnya serangga mengalami siklus hidup, mulai dari telur, larva, pupa, hingga imago. Sebagai contoh, siklus hidup Cricula trifenestrata Helfer—lebih dikenal sebagai ulat avokad, ulat jambu mete, ulat kenari, dan ulat mangga—memiliki fase telur 7-11 hari. Ini diikuti siklus larva berupa instar I 5-6 hari, instar II 5-6 hari, instar III 4 hari, instar IV 4 hari, dan instar V 3-9 hari. Selanjutnya, fase pupa 17-21 hari dan fase imago (kupu dewasa) 4-11 hari. Total dalam satu siklus 43-58 hari (Suriana et al, 2011).

Umumnya serangga memerlukan kisaran suhu dan kelembaban udara yang memungkinkan siklus hidup di atas berlangsung baik. Inilah yang disebut zona homeostasis.

Fenomena yang biasa terjadi adalah jika suhu udara meningkat di atas ambang batas zona siklus hidup normal ulat, siklus hidup secara keseluruhan akan semakin cepat, kecuali pada fase pupa yang relatif lebih stabil. Sebaliknya, jika suhu lebih rendah dari ambang batas, siklus hidup menjadi lebih panjang dari siklus hidup normal.

Dalam entomologi, ada serangga yang hidupnya bergantung pada inang pohon tertentu, yang disebut serangga monofagus. Ada pula serangga yang hidupnya bergantung pada beberapa pohon, disebut serangga polifagus.

Secara alamiah dan naluriah serangga memiliki kepekaan terhadap perubahan lingkungan. Ketersediaan makanan dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan serangga. Serangga dapat mengatur waktu dan durasi pertumbuhannya, yang melibatkan hormon ekdison dan hormon-hormon lain.

Faktor ketersediaan makanan dan faktor eksternal lain, seperti perubahan iklim yang mengakibatkan perubahan suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan predator alami, akan sangat memengaruhi strategi fisiologi dan kelangsungan hidup serangga.

Dengan kata lain, serangga dapat mengatur berapa lama siklus hidupnya sesuai dengan kondisi lingkungan, termasuk mengatur jumlah telur yang dikeluarkan sang induk (Vanhanen et al, 2005; Gibert et al, 2005; Suriana et al, 2011).

Serangan ulat bulu yang akhir-akhir ini melanda sejumlah provinsi di Indonesia merupakan bentuk dari perubahan faktor eksternal dan internal yang memengaruhi siklus hidup serangga ini. Keseimbangan antara serangga dan inang telah berubah sehingga terjadi ledakan populasi.

Merugikan?

Sebagai awam, menyaksikan pohon mangga, jambu mete, avokad, dan jambu yang gundul memang sangat mengerikan, apalagi melihat ulat bulu dalam jumlah sangat banyak.

Aktivitas ulat menggunduli pohon adalah aktivitas alamiah karena daya dukung makanan tidak seimbang dengan jumlah ulat di satu pohon. Namun, secara alamiah aktivitas ulat ini tidak akan mematikan pohon.

Ada yang belum diungkap dalam kasus serangan ulat bulu ini, yaitu pohon yang gundul sebenarnya diuntungkan. Dari berbagai hasil studi, produktivitas tanaman yang mengalami stres ringan, seperti digunduli ulat, akan meningkat.

Dari hasil pengamatan di lapangan, serangan ulat pada avokad dan jambu mete akan menstimulasi pohon berdaun lebih lebat serta berproduksi lebih baik dengan kualitas dan kuantitas buah yang lebih baik pula (Suriana et al, 2011). Inilah yang dalam genetika ekologi dikenal sebagai ”kompensasi”, yaitu stres ringan dapat meningkatkan produktivitas.

Banyak di antara serangga tersebut, terutama dari famili Bombycoidae, justru menguntungkan karena kokonnya dapat dijadikan serat sutra alam, seperti Bombyx mori yang menjadi tulang punggung penghasil 99 persen sutra dunia.

Spesies ulat sutra liar dari famili Saturniidae menghasilkan serat sutra yang sangat indah dan khas. Sebagai contoh, benang sutra yang diproduksi dari kepompong ulat avokad, jambu mete, mangga, kayu manis, dan kenari, yaitu Cricula trifenestrata, seperti disinggung di atas sangat indah karena berwarna keemasan. Harga benang sutra emas ini Rp 1,5 juta-Rp 1,7 juta per kilogram. Harga kokonnya saja Rp 65.000-Rp 70.000 per kilogram.

Bertolak dari uraian di atas, semestinya ulat tidak semata-mata dipandang sebagai hama. Ulat bisa menyuburkan inangnya dan produksi kokonnya sangat berharga. Jika ulat dapat dikelola dengan baik, akan banyak sekali sisi positif yang dapat ditonjolkan dan dimanfaatkan.

Sejak pelaksanaan Jogja International Silk Exhibition and Conference di Yogyakarta tahun 2002 dan dilanjutkan dengan Yogya Expo Center, penggunaan sutra dari ulat sutra liar ini makin berkembang. Sejumlah desa, seperti Desa Karang Asem, Bantul, telah berubah menjadi tujuan wisata sutra liar. Daerah tersebut memanfaatkan lahan tandus sebagai tempat pengembangan ulat sutra liar dengan inang tanaman jambu mete, sirsak, dan mahoni.

Jadi, perlu ada pergeseran paradigma dari memandang ulat sebagai makhluk yang sangat mengerikan menjadi makhluk ciptaan Allah SWT yang bermanfaat jika dikelola dengan baik. Hikmah lain yang juga perlu direnungkan adalah hendaknya kita sadar untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu keseimbangan alam.

Ronny Rachman Noor Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Penelitian

Berita Pertanian : Ulat Bulu Rambah Yogya

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Pembasmian Efektif Dengan Penyemprotan

YOGYA.
Serangan hama ulat bulu yang menyerang berbagai daerah, akhirnya sampai di wilayah Yogya. Ribuan ulat bulu mulai terlihat di Kota Yogya, Sleman dan Bantul. Petugas dari instansi terkait langsung melakukan penyemprotan untuk mematikan pergerakan ulat bulu.
Di Kota Yogya, ribuan ulat bulu menyerang dua pohon kenanga di area zona tanaman Pasar Satwa dan tanaman Hias Yogyakarta/Pasty (eks Bursa Agro Jogja) Dongkelan Kota Yogya dalam seminggu ini.

Akibatnya kedua pohon itu tidak berdaun lagi dan membuat panik pedagang dan warga sekitar.
Serangan ulat bulu yang terjadi di dua pohon kenanga dan mulai menyebar ke pohon lain langsung ditangani petugas dari UPT Pasty dengan dibantu petugas Dinas Perindagkoptan Kota Yogya. Mereka menerjunkan beberapa petugas untuk menyemprotkan pestisida pembasmi serangga.

Kabid Pertanian Dinas Perindagkoptan Kota Yogya Ir Beny Nurhantoro menjelaskan, penyemprotan pestisida pembasmi serangga bertujuan untuk melokalisasi area serangan ulat bulu. Selain itu, mengendalikan area serangan ulat bulu agar tidak meluas ke pohon lain.

”Penyemprotan menggunakan mesin penyemprot dari Balai Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura DIY. Pestisida yang digunakan namanya Curacron dengan dosis penyemprotan 1 liter pestisida dicampur 500 liter air,” kata Beny, seraya menambahkan UGM juga telah mengambil sampel ulat untuk diteliti lebih lanjut.

Kepala UPT Pasty, Patmana menambahkan, serangan ulat bulu rutin tiap tahun terjadi di pohon kenanga. Meski demikian, jika jumlah ulat bulu yang menyerang saat ini cukup banyak.
Sedang di Sleman, serangan ulat bulu juga mulai terlihat meski jumlahnya belum seberapa. Laporan yang diterima Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman, ada dua wilayah yang terserang yakni Ambarketawang Gamping dan Sumberarum Moyudan. Namun ulat bulu tersebut telah dibasmi dengan penyemprotan decis.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman Ir Riyadi Martoyo mengungkapkan, tidak ada anggaran khusus untuk pembasmian ulat bulu. ”Masih cukuplah anggaran yang kita punya, apalagi ini adalah bagian dari kerja kita,” ujarnya di sela acara lomba ngluku di Dusun Getas Tlogoadi Mlati, kemarin. Untuk penanggulangan sementara telah disiapkan obat kimia dengan metode penyemprotan. Setiap ada laporan dari masyarakat mengenai keberadaan ulat bulu yang dianggap mengkhawatirkan, Dinas akan mengirim petugas untuk melakukan pembasmian.

Bentuk antisipasi yang disarankan oleh pemerintah, kata Riyadi, adalah melokalisasi ulat bulu dengan penyemprotan maupun pemeliharaan binatang predator. ”Penyemprotan menggunakan bahan kimia decis dilakukan dengan dosis yang tepat dan tidak berulang, karena sudah termasuk kuat,” katanya.

Sementara di Bantul, ratusan ulat bulu mendadak muncul dan menyerang pohon rambutan di halaman rumah Sudibyo (56) warga Dusun Cepor Lor Palbapang Bantul, Rabu (13/4) sore. Padahal sebelumnya pohon tersebut tidak pernah ada ulatnya. Karena merasa ketakutan, ratusan ulat bulu tersebut dibersihkan. Sementara ranting dan daunnya langsung dilakukan pemangkasan.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertahut) Bantul Ir Edy Suhariyanta MMA belum bisa memastikan apakah ada kesamaan ulat yang muncul di Bantul dengan merebaknya ulat bulu di daerah lain. Menurutnya, harus ada penelitian secara mendetail untuk memastikan katerkaitan kejadian itu.

Menurut Edy, kekhawatiran akan ancaman ulat bulu wajar, lantaran penyebarannya sangat cepat. Kalau memang wabah ulat bulu tersebut merambah Bantul sejumlah langkah disiapkan, salah satunya menginventarisasi jenis dan merek insektisida yang cocok untuk penyemprotan. ”Tidak kalah penting kami akan melakukan sosialisasi di masyarakat,” ujarnya.

Berita Pertanian : Ledakan Populasi Ulat Bulu Meluas

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Petugas Unit Pelaksana Teknis Pasar Satwa dan Tanaman Hias menyemprotkan insektisida untuk membasmi ulat bulu yang menyerang pohon kenanga di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta, Dongkelan, DI Yogyakarta, Rabu (13/4).

Jakarta. Ledakan populasi ulat bulu famili Lymantriidae di sejumlah wilayah di Indonesia terus meluas. Tanaman inang tempat tumbuh ulat pun kian beragam.

Terakhir kasus ulat bulu ditemukan di Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (13/4). Sebelumnya ulat bulu ditemukan di Bekasi, Jawa Barat, sejumlah kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan daerah lain. Penyebabnya diduga, antara lain, berkurangnya musuh alami di alam.

Di Tanjung Duren, tanaman inangnya berupa pohon cemara di tepi Kali Sekretaris dan bukan tanaman buah-buahan, seperti ditemukan di daerah lain.

”Makanan utama ulat bulu adalah dedaunan pada inang suku mangga-manggaan. Pertanyaannya, mengapa memilih inang cemara?” kata ahli serangga pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Roshicon Ubaidillah, di Tanjung Duren, kemarin.

Ulat bulu di sejumlah wilayah lain, seperti Probolinggo, Pasuruan, dan Kudus, umumnya menyerang pohon mangga. Ulat bulu menyerang pohon mindi di Banyuwangi dan pohon asem di Jombang. Di Bekasi, ulat bulu berkembang pada pohon avokad, sedangkan di Salatiga menyerang jambu air.

Di Kediri, ulat bulu juga menyerang pohon mindi yang dikenal pahit dan daunnya dijadikan obat gatal. ”Tanaman mangga, sengon, dan lainnya tak diserang. Entah kenapa,” kata Andrean, warga Desa Blaru, Kediri.

Berdasarkan hasil penelitian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ulat bulu yang berkembang di Jakarta berbeda dengan yang ada di Probolinggo. ”Kami mengambil sampel dan diidentifikasi di laboratorium. Secara fisik berbeda. Di Jakarta bulunya lebat, di Probolinggo tidak,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta Ipih Ruyani.

Temuan di Jakarta Barat, populasi ulat diperkirakan 1.800 ekor karena satu pohon rata-rata terdapat 60 ulat. Jumlah itu belum masuk status waspada tinggi. Status waspada tingkat tinggi kalau populasi per pohon mencapai 800 ulat.

Kepala Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian Haryono mengatakan, ledakan populasi ulat bulu pada dasarnya disebabkan berkurangnya musuh alami di alam, seperti burung pemangsa serangga, kepik, kumbang, dan lebah kecil (parasitoid) yang tumbuh di telur, kepompong, dan tubuh ulat bulu. ”Akhirnya terjadi ledakan seperti ini,” katanya.

Berkurangnya musuh alami, selain karena ulah manusia secara langsung, juga disokong faktor curah hujan tinggi yang menaikkan kelembaban. Kondisi lembab mendorong ledakan populasi ulat bulu karena metamorfosis siklus hidup ulat bulu makin cepat dibandingkan dengan kondisi normal, 4-5 minggu.

”Yang bisa dilakukan sekarang di antaranya penyemprotan insektisida,” ujarnya. Cara lain, mengambil kepompong atau ulat, lalu membakarnya.

Guru Besar Ilmu Hama Tanaman Institut Pertanian Bogor Aunu Rauf mengatakan, apabila perlu insektisida, sebaiknya menggunakan yang berbahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis. Insektisida ini aman terhadap lingkungan, hanya mematikan ulat, tetapi tidak musuh alaminya. Caranya, penyemprotan dilakukan saat ulat masih kecil. Insektisida yang disemprotkan akan menempel pada daun dan termakan ulat. Bakteri yang tertelan akan mengeluarkan racun dalam saluran pencernaan sehingga membunuh ulat bulu.

”Perlu diketahui, jangan semua ulat bulu dimusnahkan, hanya dikendalikan karena ulat bulu juga dibutuhkan tanaman tertentu untuk berkembang atau berbuah,” katanya.

Terus meneror warga

Ledakan populasi ulat di sejumlah daerah terus meneror warga. Di Madiun, misalnya, ulat bulu merayap di lantai dan dinding kamar mandi, juga di jemuran pakaian.

Di Kabupaten Buleleng dan Gianyar, Bali, ulat bulu memakan daun mangga, pisang, atau ubi jalar milik warga. Menurut penelitian sementara, ulat bulu itu adalah ulat lokal, bukan yang bermigrasi dari Pulau Jawa.

Berita Pertanian : BPTPH dan Distanla Medan Kendalikan Serangan Ulat Daun

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Medan. Sekitar 95 pohon jintungan yang merupakan tanaman lindung di sepanjang Jalan Kota Medan, banyak terserang hama ulat daun. Meski dalam fase larva, namun serangan tersebut dikhawatirkan akan menyebar karena dipengaruhi iklim yakni musim pengering dengan temperatur tinggi sehingga siklus perkembangan ulat menjadi pendek.

Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan (Distanla) Kota Medan, Wahid mengatakan, 95 pohon jintungan tersebut ada di Jalan Suprapto sebanyak 30 pohon, Jalan Sudirman 50 pohon dan Jalan Diponegoro sebanyak 15 pohon. Untuk pembasmian telah dilakukan sebanyak 40 pohon bekerjasama dengan Distanla, Dinas Pertamanan Medan dan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Dinas Pertanian Sumut.

"Sudah dua hari ini kita melakukan pengendalian dengan penyemprotan pestisida terhadap serangan ulat daun. Selanjutnya masih akan dilakukan terus di beberapa inti kota dimana pohon jintungan ada," ujar Wahid kepada wartawan, Rabu (13/4).

Dikatakannya, serangan ulat daun tersebut berbeda dengan ulat bulu yang banyak menyerang di Pulau Jawa. Namun, ulat daun masih memiliki ordo atau kelas spesies yang sama yakni Lepi Doptera. "Jenis ulat nya berbeda, tapi masih dalam satu ordo antara ulat daun ini yang berwarna merah dengan ulat bulu yang menyerang di Jawa memiliki warna putih kehitaman," jelasnya.

Kepala BPTPH, Gunawan Ajas menjelaskan, pembasmian serangan hama ulat daun tersebut harus segera dilakukan dalam tiga hari berturut-turut guna menghindari ulat menjadi fase penyengat. Karena jika sudah memasuki fase tersebut, ulat akan meninggalkan telurnya dibeberapa tempat sebelum induknya mati dalam 5 hari kemudian. "Fase yang berbahaya ini pada saat larva, karena ulat akan mengunyah pohon yang menjadi inang nya hingga daun menjadi gugur," ungkapnya.

Serangan ulat daun ini, ditambahkan Gunawan, didukung dengan iklim yang memasuki musim pengering dengan temperatur tinggi. Situasi tersebut mengakibatkan siklus hidup perubahan fase ulat menjadi pendek berkisar 18 hingga 28 hari dari biasanya mencapai 32 hingga 35 hari dan penyebaran ikut meningkat.

"Ulat daun ini aktif pada malam hari, dan dengan perubahan iklim siklus fase menjadi cepat ditambah lagi predator seperti burung juga sedikit sehingga penyebarannya menjadi banyak," ucapnya.

Namun, dikatakan Gunawan, dengan pembasmian yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut serangan ulat daun dapat dikendalikan. Obat insektisida sudah diberikan dibantu dengan pemangkasan daun-daun pada ranting pohon yang akan mempercepat pembasmian ulat hingga mati dan tidak menyebar ke tanaman lain. "Tiga hari bisa tuntas. 40 batang pohon telah disemprot dan ulat sudah tidak ada lagi. Tapi kita terus menyisir semua tanaman lindung jintungan ini di sepanjang jalan Kota Medan," pungkasnya. (MB)

Tips Ampuh : Tips Menghadapi Ulat Bulu

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

JAKARTA. Ulat bulu menjadi masalah di beberapa daerah di Pulau Jawa seperti di Probolinggo dan Jombang Jawa Timur, serta Kendal, Jawa Barat. Namun jangan takut, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian memberikan tips agar tetap aman dari ulat bulu.

Tips tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, Prof Tjandra Yoga Aditama, dalam keterangan tertulis, Jumat (8-4).

Tips yang dianjurkan pada masyarakat:

  1. Menghindari kontak langsung dengan ulat bulu
  2. Menutup makanan minuman dan membersihkan lingkungan
  3. Terus mengaktifkan CTPS ataus cuci tangan pakai sabun
  4. Bila ada gangguan kesehatan maka segera kontak ke Puskesmas dan fasilitas kesehatan terdekat.

"Dampak ulat bulu pada manusia pada dasarnya ringan, berupa gatal-gatal di kulit dan lain-lain," ucap Tjandra.

Terkait masalah ulat bulu, kedua kementerian telah melakukan 7 hal yakni berkoordinasi di tingkat pusat maupun daerah, surveillance kejadian penyakit melalui petugas surveilans kabupaten, melakukan penyuluhan kepada masyarakat, dan melakukan kewaspadaan dini petugas dan sarana kesehatan.

Selain itu telah dibentuk pos kesehatan, mengaktifkan Puskesmas agar tetap bersiaga jikalau ada pasien karena ulat bulu, dan memberikan surt edaran dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) ke Dinas Kesehatan.

Warga sejumlah daerah di Pulau Jawa melaporkan ulat bulu yang menyerang pepohonan. Tidak hanya itu, ulat bulu pun masuk ke rumah warga. Akibatnya sejumlah warga pun resah.

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul