RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label perkebunan kelapa sawit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkebunan kelapa sawit. Tampilkan semua postingan

Gajah di Perkebunan Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , ,

Harus disadari bahwa gajah tidak termasuk hama utama kelapa sawit, karena hewan ini termasuk salah satu satwa dilindungi oleh Undang-undang Pelestarian Alam. Masalah yang utama sebenarnya adalah berkurangnya daya dukung hutan sebagai habitat gajah akibat pembukaan hutan menjadi lahan perkebunan, perladangan dan pemukiman.

Gajah merusak tanaman kelapa sawit dengan cara mencabut bonggol dan memakan umbut kelapa sawit. Gajah menjadi hama karena habitatnya sudah terdesak oleh perkebunan kelapa sawit sehingga gajah sering merusak tanaman kelapa sawit di daerah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Pengendalian gajah termasuk sulit karena hewan ini termasuk yang dilindungi. Pengendalian yang sering dilakukan adalah dengan membangun parit isolasi sedalam 3 meter dengan lebar 2,5 meter yang mengelilingi kebun, dan membuat kawat beraliran listrik (electric fencing) dengan voltase rendah.

Upaya melindungi tanaman kelapa sawit terhadap serangan gajah adalah dengan menghalau gajah sehingga tidak memasuki areal perkebunan. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara (Sudharto dan Desmier de Chanon 1997; Purba, 2004; Susanto dan Purba,2005) sebagai berikut:

Menggunakan electric-fence dengan ketinggian kawat teratas 1,5 m, dengan 4 kawat, sekaligus untuk mencegah babi hutan. Cara ini efektif jika dibarengi dengan membuat barier terbuka tanpa pohon selebar 7,5 – 10 m antara kawat dan tepi hutan, mengikuti sepanjang jalur kawat. Listrik dengan tegangan 50 – 100 volt diaktifkan mulai jam 17.00 hingga 06.00. Cara ini cukup efektif menghalau gajah dan babi hutan di kebun percobaan PPKS di Padang Mandarsah.
Membangun parit isolasi selebar 3 m dan dalamnya 2,5 m di sepanjang perbatasan areal kebun dengan hutan. Tanah galian ditempatkan di bagian dalam kebun. Kegiatan ini dapat dilakukan menggunakan alat berat seperti back hoe atau ekskavator. Hasil yang lebih baik jika cara ini dikombinasikan dengan cara a di atas.
Menggunakan gajah terlatih dengan pawangnya untuk menghalau gajah liar, dan mengiringnya kembali ke habitatnya di hutan lindung. Cara ini telah dilakukan dengan hasil baik dalam Operasi Ganesha di Lampung/Sumatera Selatan beberapa tahun yang lalu.
Menembak dengan peluru bius, selanjutnya gajah dipindahkan ke habitat atau ke penangkarannya.
Memasang api unggun pada malam hari pada beberapa titik dengan jarak tertentu di tepi areal tanaman yang berbatasan dengan hutan.

Cara-cara tersebut efektif, namun memerlukan biaya cukup besar. Cara terbaik adalah menyediakan kawasan hutan yang cukup dan mengembalikan-meningkatkan daya dukungnya mendekati keadaan semula. Dalam hal ini, peraturan perundang-undangan yang baik dapat berhasil guna jika dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Berita Pertanian : Riau Stop Ekspansi Kebun Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Pekanbaru. Dinas Perkebunan (Disbun) Propinsi Riau berkomitmen untuk tidak merekomendasikan perluasan kebun kelapa sawit skala besar, selama rencana tata ruang wilayah (RTRW) Riau belum rampung. Hingga saat ini, belum ada penambahan luas kebun sawit dari perusahaan negara dan swasta yang direkomendasikan selama belum ada kepastian.

Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Riau, Ferry HC mengatakan, proses perizinan pembukaan maupun perluasan area perkebunan skala besar diawali dari pemerintah kabupaten dan kota. Namun, Dinas Perkebunan Riau memiliki wewenang tidak memberikan rekomendasi ke pemerintah pusat seperti untuk penerbitan Hak Guna Usaha (HGU).

"Hingga saat ini proses paduserasi kawasan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dengan RTRW Provinsi Riau belum rampung dalam pembahasan di pemerintah pusat. Penghentian ekspansi area kebun kelapa sawit itu, lanjutnya, merupakan salah satu cara dalam perencanaan sektor perkebunan yang lestari," ujarnya di Pekanbaru, Rabu (25/1).

Selama ini, katanya, komoditas kelapa sawit di Riau sangat rentan terhadap gempuran kampanye aktivis lingkungan karena dinilai tidak ramah lingkungan. Dampaknya, produk turunan sawit dari Riau sempat kehilangan pasar di perdagangan global dan harga tandan buah segar sawit anjlok hingga Rp 400 per kg.

Berdasarkan data Disbun Riau, luas perkebunan sawit di Riau tidak bertambah sejak 2010, yakni sekitar 2,1 juta ha. Dari luas tersebut, kebun sawit rakyat paling luas yakni mencapai 51% lebih.
Sedangkan luas lahan perkebunan perusahaan negara mencapai 79.546 ha, luas perkebunan swasta mencapai 906.978 ha. Adapun produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang mampu diproduksi dari Riau per tahun mencapai sekitar 7 juta ton. (ant)

Berita Petanian : Sinar Mas Gunakan Pesawat Pupuk Tanaman Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Labuhanbatu Utara. Untuk mengoptimalkan pemeliharaan tanaman kelapa sawit dalam bidang pemupukan, PT Sinar Mas menggunakan beberapa metode, di antaranya sistem manual, mdexs yang digerakkan dengan alat tractor dan penaburan pupuk pada tanaman inti menggunakan pesawat jenis fokker. Manager PT Smart Tbk kebun unit Pernantian Sukemi melalui staf agronomi Andi Marsono saat ditemui, Rabu (9/11) mengatakan, penggunaan pesawat dalam program pemupukan dianggap lebih efektif dibanding dengan metode lain.

"Alasan itu yang menjadi pertimbangan pihak managemen Sinar Mas melakukan pemupukan dengan pesawat. Jadi, semua kebun unit menggunakan pesawat dalam pemupukan tanaman,” jelasnya.

Sementara Jemi Arzah, salah seorang senior staf agronomi yang juga ikut dalam pengawasan pemupukan tersebut mengatakan, program pemupukan dengan pesawat dianggap lebih optimal, selain lebih cepat serta dapat menekan tingkat kehilangan pupuk yang diakibatkan oleh faktor manusia maupun lainnya.

Memang, kata dia, pemupukan dengan menggunakan pesawat lebih mahal biayanya bisa mencapai Rp 750 ribu per hektare. Namun hal ini lebih optimal dan sangat efektif. "Semua cara sudah kami coba tetapi hasil yang sangat efektif adalah menggunakan pesawat. Tidak mungkinlah perusahaan mengeluarkan biaya besar tanpa memperhitungkan manfaat yang diperoleh," jelasnya.

Berita Pertanian : Pemerintah Tak Berpihak pada Petani Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Medan. Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) sangat menyayangkan sikap pemerintah yang sama sekali tidak berpihak pada industri perkelapasawitan di Indonesia. Betapa tidak, jangankan mengakomodir keluhan para petani kelapa sawit agar kebijakan bea keluar (BK) crude palm oil (CPO) dihapuskan atau setidaknya ditetapkan flat, namun malah produk turunan CPO pun kini dikenakan BK. "Kita menilai kebijakan pemerintah sangat tidak memihak pada petani dan dunia perkelapasawitan di Indonesia. Ini bisa dilihat dengan kebijakan penerapan bea keluar yang tak hanya diterapkan pada CPO saja, namun juga pada produk-produk turunan CPO. Kebijakan ini pastinya akan semakin menyengsarakan petani sawit, sebab yang paling merasakan dari penerapan BK itu adalah petani dengan terus anjloknya harga tandan buah segar (TBS)," ujar Ketua Umum Apkasindo, Anizar Simanjuntak kepada wartawan, Senin (12/9).

Dikatakannya, sejak 16 September ini, pemerintah akan memungut BK tak hanya pada CPO, namun juga pada tandan buah segar (TBS) dan produk-produk turunan CPO seperti Palm Kernel Meal (PKE) atau ampas sawit dan crude palm kernel oil (CPKO).

Melalui kebijakan yang baru ini, pemerintah melalui Kementrian Perdagangan menerapkan BK pada TBS dan PK mencapai 40% dengan pajak ekspor US$ 167,20/metrik ton. Untuk BK PKE sebelumnya 0% menjadi 20% dengan pajak ekspor US$25/MT dan BK CPO serta CPKO ditetapkan 16,50% dengan pajak ekspor US$ 167,15/MT dan US$ 218,79/MT.

Padahal untuk PKE, kebutuhan di dalam negeri hanya mencapai 15.000 ton perbulan dari produksi sebanyak 60.000 ton/bulan. Jadi dengan adanya BK, kemungkinan sisa produksi akan dibuang karena pelaku usaha keberatan membayar pajak ekspor yang terlalu tinggi.

Pemerintah, katanya, tidak pernah mendengar keluhan dari petani dan pengusaha yang sangat keberatan dengan sadanya BK dan meminta sebagian dana hasil pungutan BK itu dikembalikan ke daerah penghasil guna membangun peningkatan produktivitas dan infrastruktur. "Tapi sekali lagi, bukannya permintaan kita itu didengar, tapi kini pungutan BK pada produk kelapa sawit dan turunannya malah semakin diperluas dan lebih memberatkan. Sedangkan dana yang diambil pemerintah sedikitpun tidak ada dikembalikan untuk industri hilir dan lainnya," ucap Anizar.

Seharusnya, pemerintah dalam menerapkan BK harus ditentukan berapa jumlah yang dibutuhkan dalam menyelamatkan industri yang ada di dalam negeri. "Tapi sekarang pemerintah tidak pernah tahu berapa jumlah yang dibutuhkan, tapi terus saja mengambil uang dari petani dan pengusaha dengan penetapan BK ini," tuturnya.

Penetapan BK CPO itu tidak beralasan untuk mengamankan kebutuhan di dalam negeri. Karena dari 22 juta ton per tahun produksi TBS, hanya sekitar 6,7 juta ton CPO saja yang bisa diolah di dalam negeri sedang selebihnya harus diekspor untuk memenuhi permintaan pasar luar.
"Permintaan CPO terus meningkat seiring dengan produksinya. Jadi BK tidak berpengaruh pada ekspor, pemerintah hanya mau menikmati keuntungan saja tanpa perlu bekerja apa-apa," ucapnya.

Meskipun ada BK, lanjut Anizar, seharusnya pemerintah dapat mengatur penetapannya secara flat atau tetap dan dibawah kisaran 10% sehingga harga TBS di tingkat petani dapat menembus diatas Rp1.700/kg. Tidak seperti saat ini, harga TBS ditingkat petani terus anjlok karena harus menanggung beban BK. "Seperti di Langkat, saat ini harga TBS petani anjlok menjadi hanya berkisar Rp1.000 per kg, demikian juga disejumlah daerah lainnya, harga TBS semakin menurun. Jadi yang sengsara itu kan petani," katanya.

Kondisi harga dan penetapan BK ini, tambah Anizar, juga membuat kalangan pengusaha masih wait and see dalam melakukan kontrak penjualan baru ke luar negeri.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Pusat, Fadil Hasan di Medan mengatakan, dengan penetapan BK itu, menjadikan petani dan pengusaha kelapa sawit yang membiayai anggaran pemerintah. Karena pendapatan pemerintah dari BK pada 2008 mencapai Rp13,5 triliun. Dan dengan BK 20% pada Juni 2011 diperkirakan pemerintah memperoleh pendapatan tanpa bekerja sebesar Rp17 triliun. "Nilai itu hampir sama dengan anggaran Deptan sebesar Rp16,8 triliun pada tahun ini," imbuhnya.

Seluruh pendapatan dari BK tersebut, lanjut dia, sebagian besar atau 38% diperoleh dari petani kelapa sawit. Sebab 38% dari produksi dan 40% dari areal lahan sawit adalah milik perkebunan rakyat. Sementara pemerintah hanya menyiapkan skema dan pemanfaatannya, tetapi tidak ada program yang disiapkan untuk pengembangan perkelapasawitan di Indonesia. "Petani yang dipaksa membiayai program pemerintah. Sementara sampai sekarang belum ada tampak program sebagai bentuk pengembalian BK CPO itu," pungkasnya.

Tanaman Sawit Jadi Andalan Petani di Bengkulu

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Bengkulu. Komoditas kelapa sawit sampai saat ini tetap menjadi andalan petani di Propinsi Bengkulu, meskipun harganya berfluktuasi namun petani berupaya memperluas areal tanaman.
Hal itu terbukti lahan tidur milik masyarakat dan bahkan areal persawahan dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit, kata Ketua Persatuan Perkebunan Bengkulu Ir Holman Situmpul, Selasa (6/9).

Ia mengatakan, sebelum komoditas kelapa sawit menjadi andalan petani Bengkulu, warga memilih tanaman karet, kopi dan coklat, namun sejak sepuluh tahun silam kelapa sawit menjadi andalan utama setelah karet.

Petani Bengkulu mulai cerdik dalam menghitung keuntungan, dengan menanam komoditas lain karena tanaman kelapa sawit bisa menghasilkan dua kali dalam sebulan dan tergantung pemeliharaan dan pemupukan.

Sedangkan harganya hingga saat ini tetap berpluktuasi dan tergantung pasaran minyak kelapa sawit dunia dan terakhir harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ditingkat petani berkisar antara Rp1.250 hingga Rp1.300 per kilogram.

Awalnya petani kelapa sawit masih didominasi plasma perkebunan besar, namun akhir-akhir ini berkembang menjadi kebun pribadi dan justru lebih luas dari areal tanaman kebun perusahaan besar.

Ia menjelaskan, keuntungan menanam kelapa sawit setiap hetare bisa menghasilkan buah segar berkisar tiga hingga lima ton dan dua kali panen, bila dijual dengan harga Rp1.300 per kilogram, petani menghasilkan Rp6 juta per bulan.

Kalau menanam padi sawah tadah hujan setiap panen paling tinggi menghasilkan gabah kering panen dua ton, dengan harga Rp3.000 atau mendapatkan uang Rp900 ribu pertiga bulan.

Dengan perhitungan tersebut, maka petani lebih memilih menanam kelapa sawit meskipun lahannya hanya satu hektare, bila dibandingkan menanam padi sawah tadah hujan, ujarnya.

Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Bengkulu Ir Riky Gunarwan mengatakan, komoditas kayu manis sebagian besar dihasilkan petani di Kabupaten Lebong, Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko.

Luas areal perkebunan pinang di Propinsi Bengkulu mencapai 1.514 hektare dengan produksi mencapai 789.74 ton per tahun dan daerah sentra perkebunan pinang antara lain Kabupaten Bengkulu Utara dengan luas 355 hektare, Seluma 446 hektare dan Kaur 168 hektare.

Sedangkan tanaman kayu manis luas seluruhnya tercatat 1.105 hektare dengan produksi sekitar 678,51 ton kulit kering per tahun, dengan jumlah petani sebanyak 2.019 kepala keluarga (KK).

Luas perkebunan sawit rakyat dan perkebunan besar di daerah ini mencapai 212.727 hektare dengan produksi 2,3 juta ton TBS per tahun. Sentra perkebunan sawit di Bengkulu, terdapat di Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Utara, Kota Bengkulu, Seluma, Kaur dan Kabupaten Mukomuko.

Seorang petani kelapa sawit di Bengkulu Utara Sudirman mengatakan, sejak akhir bulan lalu mereka bergairah merawat tanamannya karena harga pada tingkat pedagang pengumpul naik menjadi Rp1.300 dari sebelumnya bertahan Rp1.000 per kilogram.

"Perasaan putus asa kami dalam memelihara tanaman kelapa sawit kembali segar setelah harga naik pekan ini dan mudah-mudahan terus berlanjut," katanya.

Pedagang pengumpul membeli buah kelapa sawit petani sebelumnya bertahan rendah, dengan alasan harga pada tingkat pabrik juga turun, sedangkan produksi buah kelapa sawit petani sedang panen raya.

"Bila harga terus bertahan Rp1.000 petani akan kesulitan memelihara kebun sawitnya dan berdampak terhadap produksi ke depan, terlebih kelapa sawit tanaman tua sangat membutuhkan pupuk," ujarnya.

Idealnya harga buah kelapa sawit pada tingkat petani berkisar antara Rp1.400 sampai Rp1.450 per kilogram, dengan harga itu sudah bisa mengimbangi pengeluaran perawatan dan pemupukan. (ant)

Berita Pertanian : Bea Keluar tidak Akan Dorong Hilirisasi Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,












JAKARTA
. Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor Hermanto Siregar mengatakan penetapan barang ekspor yang dikenakan Bea Keluar (BK) dan tarif BK tidak akan mampu mendorong pengembangan industri hilir kelapa sawit.

Pelaku industri tidak akan langsung mengembangkan produk-produk turunan Crude Palm Oil (CPO) karena buruknya infrastruktur di Indonesia.

Pelaku usaha masih menggunakan truk-truk besar untuk mengangkut hasil sawit dari sejumlah perkebunan. Sementara, proses angkut itu terkendala oleh rusaknya kondisi jalan di sejumlah daerah perkebunan. Ini akan menjadi beban bagi industri.

"Pemerintah seharusnya memperbaiki infrastruktur jalan, kemudian beri insentif produk hilir, dan keringanan lainnya seperti keringanan pajak, bukan dengan merevisi kebijakan BK ini," ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (7/9).

Apalagi, kata Hermanto, BK dilaksanakan di tengah ketiadaan strategi dan roadmap pengembangan industri CPO dan turunannya.

"Jika tidak jelas industri roadmap-nya, industri mana yang mau dikembangkan dari 100 jenis produk hilir. Pemerintah akan membuang produksi CPO dan pangsa pasar kita akan diisi oleh negara lain," klaimnya.

Saat ini, Indonesia menghasilkan sekitar 23 juta ton CPO dengan total kebutuhan dalam negeri hanya sekitar 6 juta ton.

Berita Pertanian : Tarif BK Olahan Kelapa Sawit Berlaku Bulan Depan

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Jakarta. Pemerintah akan memberlakukan bea keluar pada beberapa olahan kelapa sawit pertengahan September ini. Menurut Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, pada 15 Agustus lalu Menteri Keuangan telah menandatangani Peraturan Menteri Keuangan Nomor 128/PMK.01/2011 tentang perubahan atas PMK 67 Tahun 2010 tentang penetapan bea keluar dan tarif bea keluar.



"Aturan ini guna mendorong hilirisasi industri kelapa sawit," kata dia ketika berbincang dengan wartawan di ruang kerjanya, Kamis 25 Agustus 2011. Aturan ini berlaku sebulan usai ditandatangani.



Bayu menyatakan baik PMK 67 maupun PMK 128 bertujuan untuk stabilisasi harga minyak goreng. Pada saat PMK 67 dibuat isu utama yang dihadapi adalah stabiitas harga minyak dalam negeri.



Menurutnya, selain mempertahankan kebijakan stabilitas harga minyak goreng, PMK 128 ini juga untuk mendorong hilirisasi industri sawit. Perubahan yang konkret dalam aturan baru ini adalah semakin hilir produknya, bea keluarnya semakin rendah.



Bayu mencontohkan, pada PMK 67 bungkil alias ampas perasan kelapa sawit tidak masuk daftar barang ekspor yang kena bea keluar. "Namun pada PMK 128 kena bea keluar sebesar 20 %," ujarnya. "Walaupun bahan mentah, bungkil sebenarnya bisa dikembangkan untuk industri hilir atau untuk energi."



Dalam PMK 128 Kementerian tetap berpihak pada produk yang dalam kemasan bermerek sampai batas kurang dari 20 kilogram masih tetap dapat bea keluar yang lebih rendah. "Ini untuk mempromosikan produk Indonesia,"" kata dia.



Pada pengelompokan produk sawit, menurut Bayu, hampir seluruhnya konsiten pada hilirisasi. Semua produk dalam bentuk crude (kasar) dalam satu kelompok. Sedangkan yang lebih halus (sudah diolah), bea keluarnya akan lebih rendah. Untuk batasan tarif, pada PMK 67 jika harga CPO mencapai US$ 700 per ton bea keluar baru berlaku. Sedangkan pada PMK 128 bea keluar berlaku jika harga CPO US$ 750 per ton. Tiap harga CPO naik US$ 50, bea keluar naik 1,5 %. Batas atas bea keluar adalah 22,5 % di harga US$ 1.250.



Misalnya bea keluar produk hilir RBD (refine bleach deodorise) palm oil sebelumnya maksimum mencapai 25 %, pada PMK 128 maksimum hanya 10 %. Untuk CPO, aturan lama mengenakan bea keluar 25 %, yang baru 22,5 %.



Kebijakan ini, kata Bayu, menunjukkan kebijakan lebih pro pada hilirisasi. Bayu akan mendorong agar nilai tambah itu banyak diperoleh dalam negeri. "Kalaupun diekspor, produknya lebih hilir lagi," kata dia.



Saat ini produksi CPO Indonesia mencapai 20 juta ton lebih. Menurut beberapa lembaga internasional tahun ini Indonesia akan memproduksi 24 juta ton dan mengekspor 18 juta ton di antaranya. Bayu sendiri memperkirakan angka produksi CPO mendekati 22,5-23 juta ton mengekspor 17 juta ton.



Saat ini hasil CPO lebih banyak diekspor ketimbang diolah dalam negeri. Jika produksi kita 20 juta ton saja, yang diolah di dalam negeri untuk minyak goreng sekitar 6-7 juta ton, diolah untuk chemical dan biofuel sekitar 1,5-2 juta ton. "Sisanya masih dijual dalam bentuk CPO," kata dia.

Pasar ekspor CPO terbesar terdapat di India, Cina, dan Eropa. Setelah ada PMK 28 ini industri diharapkan terdorong untuk mengolah CPO lebih lanjut menjadi produk-produk industri daripada mengekspor dalam bentuk CPO.



Kebijakan ini, kata Bayu, tidak bertujuan mematikan ekspor CPO. "Pasarnya ada," kata dia. Perusahaan Indonesia, kata dia, banyak memiliki perusahaan di luar negeri yang menyiasati perbedaan bea masuk itu terhadap harga dunia. Misalnya India memberlakukan bea masuk yang lebih tinggi pada prodk hilir dibanding CPO. Maka pengusaha Indonesia membangun pabrik di India.

Berita Pertanian : BK CPO Picu Penurunan Harga TBS Petani

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , ,

Medan. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Sumatera Utara kembali meminta pemerintah mencabut kebijakan bea keluar minyak sawit mentah yang akan dinaikan besarannya menjadi 20 persen untuk pengriman Juli 2011, karena selalu menyebabkan harga tandan buah segar petani tetap murah.

"Ini saja dengan rencana kenaikan BK (bea keluar) menjadi 20 persen mulai Juli, harga TBS (tandan buah segar) sawit petani sudah turun hingga Rp200 per kg," kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPW) Apkasindo Sumut H Ahmad Gunari, di Medan, Minggu (26/6).

Apkasindo Sumut meminta pemerintah mencabut BK CPO (crude palm oil) atau minyak sawit mentah, ujarnya.

Apkasindo Sumut bersamaan pelantikan pengurus melaksanakan seminar nasional petani kelapa sawit dalam pembangunan industri Indonesia dan Raker DPW/DPD Apkasindo se-Sumatera Utara yang dijadwalkan dibuka Plt Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho.

Dalam seminar dan rapat kerja Apkasindo itu antara lain akan membahas soal nasib petani sawit yang tidak pernah menikmati seutuhnya kenaikan harga ekspor karena selalu dibebani dengan berbagai pungutan baik langsung atau tidak langsung seperti BK CPO.

Akibat mau dinaikkannya BK CPO, harga TBS di Labuhan Batu akhir pekan ini tinggal Rp1.530 - Rp 1.681 per kg dari sebelumnya Rp1.700 - Rp1.800 per kg.

Harga diperkirakan akan turun lagi kalau nyatanya ekspor tertekan, padahal seharusnya saat musim trek atau kering seperti dewasa ini yang membuat produksi menurun, harga TBS mahal.

BK CPO yang dibebankan kepada pengusaha, kata dia, berimbas langsung ke petani karena pengusaha juga menurunkan harga belinya.

Sementara, dana BK yang dikutip pemerintah itu, nyatanya tidak juga bisa dinikmati petani atau pemerintah daerah penghasil sawit tersebut yang ditandai infrastruktur seperti jalan yang sangat jelek dari dan ke daerah sentra produksi sawit.

Sekretaris Umum Apkasindo Sumut, Gus Dalhari Harahap, menambahkan, harga sawit petani semakin murah karena biaya produksi seperti ongkos angkut menjadi lebih mahal.

Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksamana Adiyaksa, mengatakan, Gapki menilai kenaikan BK CPO menjadi 20 persen untuk pengiriman Juli mendatang tidak fair.

Keberatan itu juga, kata dia, sudah dilontarkan Gapki Pusat. Pemerintah, kata dia, selalu berpatokan hanya pada kenaikan harga sawit di pasar internasional dan langsung menaikkan BK dengan struktur yang progresif pula. (Ant)

SPKS Cetak Guru Kebun Sawit di Labura

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

AekKanopan. Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS ) yang konsen mengadvokasi petani kelapa sawit dengan mencetak ‘Guru Kebun ‘ kelapa sawit di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura ) melalui pelatihan Training Of Trainers (TOT) Manajemen Kebun Kelapa Sawit, Senin (6/6) di Hotel Aek Kanopan, Labura.

Pelatihan TOT yang dilaksanakan selama tiga hari (6 - 8 Juni) dibuka oleh Bupati Labura, H Kharuddin Syah Sitorus, juga menghadirkan seorang fasilitator dari Bogor (Jawa Barat), Imam Safii dan Koordinator Forum Nasional SPKS, Darto. Pelatihan tersebut diikuti 30 peserta yang terdiri dari petani kelapa sawit dari delapan kecamatan yang ada di kabupaten Labura.

Bupati mengatakan, pada tahun 2010, Kabupaten Labura memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 120.968,92 hektare, yang terdiri dari swasta nasional dengan luas 49.774,16 hektare, BUMN 8.454,76 dan perkebunan rakyat 62.740.00 hektare.

Itu berarti, perkebunan rakyat memiliki luas yang terbesar di Kabupaten Labura. Karena itu penting agar petani kelapa sawit diberdayakan kemampuannya sehingga mendapatkan kualitas pengelolaan kebun yang lebih baik. “Perkebunan rakyat di Labura merupakan tulang punggung ekonomi rakyat yang harus ditopang dengan dukungan kebijakan pemerintah. Apalagi, produktivitas perkebunan rakyat tidak sebanding dengan produktivitas perkebunan besar yang ada di Labura. Karena itu produktivitas perkebunan rakyat harus ditingkatkan,”kata Kharuddin.

Dikatakannya, hal yang perlu diwujudkan untuk para petani sawit adalah kemampuan dalam pengelolaan kebun. “Pemerintah memiliki tugas berat untuk melaksanakan program ini karena perkebunan rakyat begitu luas,” katanya.

Pelatihan kata Bupati, sangat penting bagi petani sawit khususnya dari sisi ekonomi, karena dengan pelatihan para petani dapat meningkatkan produksi tandan buah segar sawitnya.

Sementara itu, Fasilitator dari Bogor Imam Safii mengatakan, selama ini petani sawit di Indonesia mengalami kendala dalam meningkatkan produktivitas hasil kebunnya. Hal ini karena minimnya sumber daya manusia yang ada. “Lewat TOT yang materinya terdiri dari tahap perencanaan pembukaan perkebunan, pemeliharaan, pemanenan hingga peremajaan (replanting) diharapkan dapat mengatasi permasalahan petani sawit di Kabupaten Labura ini,” jelas staf ahli Depnakertrans ini.

Sekkretaris Jenderal SPKS Kabupaten Labura, Maruli Sitorus mengatakan, tujuan TOT ini adalah untuk mencetak banyak guru kebun. “Dalam istilah pemerintah PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) yang berfungsi untuk memberdayakan petani agar mampu membangun kebun yang sesuai standard,” jelasnya.

Dikatakannya, guru Kebun penting untuk terus diorganisir agar bisa melakukan praktek terbaik bagi petani kelapa sawit di seluruh Indonesia khususnya di Labura.

Maruli mengatakan, pelatihan ini di lengkapi dengan modul manajemen kebun yang dapat dibaca para petani dan juga VCD film manajemen kebun yang di buat oleh SPKS. “Harapannya, perkebunan rakyat di Labura bisa menjadi contoh terbaik dari seluruh model perkebunan yang ada. Sekaligus juga menjadi modal untuk kemandirian, kedaulatan dan kesehateraan petani sawit.

Kegiatan ini akan di tindak lanjuti dengan pelatihan di desa-desa yang akan dilatih para peserta yang ikut dalam pelatihan TOT ini,” terang Maruli.

Upaya Penanganan Perbenihan Kelapa Sawit Indonesia ke Depan

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,


Dolok Masihul. Ketersediaan produksi benih kelapa sawit unggul dan berkualitas dalam negeri relatif stabil dan terus meningkat semenjak tahun 2008. Diperkirakan terus meningkat dan bahkan berlebih dalam beberapa tahun ke depan, sehingga saat ini pemerintah sedang mengkaji untuk tidak melakukan importasi atau tidak membuka keran impor.

Apalagi saat ini permintaan atau kebutuhan benih dalam negeri jauh berada di bawah kapasitas produksi yang ada. Saat ini kapasitas produksi benih dalam negeri mencapai 205 juta, rencana produksi 143.5 juta butir dan kebutuhan dalam negeri diperkirakan 111.5 juta.

Demikian Dirjen Perkebunan, Gamal Nashir kepada wartawan didampingi Seed Production Manager PT. Socfindo, Indra Syahputra dan Seed Sales & Marketing Manager Eko Dermawan, saat mengunjungi pembenihan kecambah yang telah diproses di laboratorium produksi kecambah di Pusat Seleksi Bangun Bandar (PSBB) Socfindo Dolok Masihul, Serdang Bedagai, Sumatra Utara, Rabu (25/05).

Penurunan permintaan tersebut terjadi sejak triwulan ke 3 tahun 2008 dan sangat erat kaitannya dengan adanya krisis keuangan global, di samping adanaya permasalahan status tata ruang lahan di daerah pengembangan perkebunan kelapa sawit dan adanya permasalahan sosial yang terus terjadi hingga saat ini.

Indonesia adalah produsen, sekaligus konsumen benih kelapa sawit terbesar di dunia. Sebagai gambaran produksi benih kelapa sawit dunia ini pemerintah mengantisipasi maraknya penyaluran bibit kecambah palsu yang beredar di masyarakat.

Lebih Lanjut Ditjenbun Gamal Nasir menjelaskan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan benih tersebut, mulai 2009 pemerintah dalam jangka pendek akan mendorong peningkatkan kapasitas produksi benih kelapa sawit di dalam negeri .

Peningkatan produksi benih ini melalui penambahan pohon induk aktif oleh beberapa perusahaan produsen benih antara lain PT. Socfindo yang memiliki kebun induk, dan pusat produksi kecambah yang seluruh kegiatan berkaitan dengan produksi di pusatkan di Bangun Bandar Deli Serdang.

Hal Senada juga disampaikan Seed Producyion Meneger Socfindo, Indra Syaputra, produksi kecambah yang dihasilkan Bangun Bandar merupakan produksi hasil persilangan 5.020 pohon induk dari 24.000 sementara luas tetuajantan dengan populasi 8.000 pohon yang diaktifkan sebanyak 387 pohon disamping itu juga populasi induk sebanyak 1.876 yang berada di Aek Loba.

Dari keseluruhan pohon induk yang selektif bertujuan mendapatkan benih kelapa sawit yang memiliki potensi dengan kualitas terbaik sesuai karakter yang diharaapkan . Hingga saat ini PSBB pembenihan mampu meproduksi benih DxP unggul Socfindo sebanyak 35 hingga 40 juta butir pertahun.

Selanjutnya, dalam jangka panjang sedang dilakukan upaya-upaya penambahan jumlah sumber benih baru, penanganan benih kelapa sawit ilegal (palsu).

Cegah

Untuk mencegah beredarnya benih kelapa sawit palsu di tengah masyarakat, pemerintah menurut Dirjen akan mewajibkan perusahaan produsen benih untuk mengalokasikan minimal 30 persen dari total produksi benihnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik yang didanai pemerintah maupun swadaya masyarakat.

Pemerintah juga akan memberikan kemudahan bagi masyarakat, untuk mendapatkan benih kelapa sawit secara langsung ke sumber benih untuk pesanan di bawah 5000 butir dengan persyaratan hanya cukup membawa keterangan dari kepala desa setempat, yang menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah benar-benar petani kelapa sawit.

Untuk diketahui dalam rangka menghindari pemalsuan benih, maka untuk pemesanan benih dipersyaratkan adanya Surat Persertujuan Permohonan Benih Kelapa Sawit (SP2BKS) yang dikeluarkan oleh Dinas yang membidangi Perkebunan di Kabupaten maupun di Propinsi.

Berita Pertanian : Petani Sawit Pasrah Izin Baru Lahan Sawit Distop

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

JAKARTA. Para petani kelapa sawit akhirnya pasrah menerima ketentuan Instruksi Presiden (Inpres) No 10 Tahun 2011 tentang moratorium (penundaan) Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Asmar Arsjad mengaku sudah sejak awal menolak adanya moratorium. Selain akan menurunkan produksi sawit dalam negeri, kebijakan ini juga simbol intervensi asing kepada Indonesia.

"Dari awal kita memang sudah tak setuju, kalau memang pemeritah seperti itu silahkan saja," katanya, Minggu (22-5).

Ia menegaskan penolakan petani sawit terhadap inpres ini bukan berarti petani tak mau mendukung terhadap masalah lingkungan. Menurut Asmar regulasi yang ada saat ini terhadap pemeliharaan dan pengawasan pengelolaan hutan di Indonesia sudah cukup baik.

"Indonesia punya regulasi dan inpres, tentang tata cara pengelolaan hutan, kenapa orang Eropa yang mengobok-mengobok Indonesia. Tapi kita tak ingin melawan pemerintah," katanya.

Dikatakannya komitmen kucuran dana oleh Norwegia ke Indonesia sebesar US$ 1 miliar belum tentu akan dicairkan penuh. Menurutnya hal itu bisa saja terjadi dengan berbagai alasan.

"Belum tentu mereka bayar, Brasil sampai sekarang belum dibayar. Eropa mengobok-obok Indonesia kenapa kita mau," katanya.

Bagi petani sawit adanya moratorium juga akan berpengaruh pada upaya ekspansi lahan. Saat ini 3,8 juta hektar lahan sawit merupakan lahan rakyat menyumbang porsi lahan sawit hingga 48% sementara para BUMN sawit hanya 617.000 hektar setara 8% dan sisanya swasta atau pemain besar mencapai 3,2 juta ton atau setara 45%.

"Kalau perkebunan sawit rakyat menambah lahannya memang sedikit-sedikit, tapi dalam beberapa tahun tumbuh signifikan pada 2008 hanya 3,2 juta hektar sekarang 3,8," imbuhnya.

Asmar mengaku tingkat perhatian pemerintah terhadap petani sawit belum penuh. Bahkan ia sempat kecewa dengan Presiden SBY yang pernah membatalkan pertemuan dengan asosiasi petani kelapa sawit beberapa tahun lalu saat periode pertama Presiden SBY tahun 2008.

"Kita pernah diundang datang ke Istana, kita sempet menginap di hotel Sriwijaya (dekat istana), pakai baju batik, dengan jalan kaki. Waktu itu hari Jumat dijadwalkan bertemu Jam 8.00, kita sempat nunggu, lalu tiba-tiba datang ajudannya yang bilang mohon maaf Pak SBY sedang sakit gigi ke dokter. Coba bayangkan kita sudah buang uang dan tenaga," kenang Asmar.

Mengenal Penyakit Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,



Busuk Pangkal Tandan dan Busuk Batang Atas

Perkebunan kelapa sawit adalah perkebunan relatif muda. Meskipun mulai diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan abad ke- 19, namun tanaman ini baru diperkenalkan di Sumatera Utara (dului disebut Sumatera Timur) pada tahun 1971.

Areal kelapa sawit Indonesia meningkat dengan pesat, khususnya sesudah tahun 1970-an. Kebun kelapa sawit harus diremajakan setiap 25 tahun.

Di Sumsel (Muba, Banyuasin, OKU, Muaraenim, Mura, OKI, OI, OKU Timur, Lahat dan Prabumulih), tanaman ini menjadi primadona setelah padi, karet dan kopi. Begitu juga disebagian besar daerah Indonesia terutama di Kalimantan dan Sumatera.

Tak heran jika banyak masyarakat daerah Indonesia terutama yang bermodal besar, bukan cekak, berbondong-bondong terjun ke bisnis sawit.

Selain menguntungkan, menanam investasi di lahan sawit tergolong susah-susah gampang. Tergantung maunya kita alias mana yang kita pilih.

Beli sudah jadi dengan sistem paket, setengah jadi atau menggarap lahan baru. Paling tidak terserap banyak tenaga kerja baru dari warga setempat.

Busuk pangkal batang, kata Haryono Semangun dalam bukunya Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia (basal stem rot) adalah penyakit yang terpenting dalam perkebunan kelapa sawit dewasa ini.

Penyakit busuk pangkal batang dapat diketahui dari mahkota pohon-pohon yang sakit, ujar Haryono, mempunyai janur (daun yang belum membuka, spear leaves) lebih banyak daripada biasa.

Daun-daun berwarna hijau pucat. Daun-daun tua layu, patah pada pelepahnya dan menggantung di sekitar batang.

Gejala yang khas, sebelum terbentuknya badan buah janur adalah adanya pembusukan pada pangkal batang.

Menyebabkan busuk kering pada jaringan dalam, pada penampangnya bagian batang yang terserang ini berwarna cokelat muda dengan jalur-jalur tidak teratur yang berwarna gelap.

Jalur-jalur gelap ini yang disebut zone-zone reaksi, adalah tempat tertimbunnya blendok (gom gum). Di tepi daerah yang terinfeksi terdapat zone tidak teratur yang berwarna kuning.

Zone yang berbau seperti minyak sawit yang mengalami fermentasi ini akibat dari mekanisme perlawanan tanaman.

Pada waktu gejala daun mulai banyak, biasanya lebih dari separo penampang pangkal batang sudah membusuk. Dalam keadaan demikian tanaman sudah tidak dapat ditolong lagi.

Penyakit busuk pangkal batang (ganoderma spp), demikian Haryono Semangun, lebih banyak terdapat di dekat pantai. Hal ini dikarenakan kebun-kebun kelapa sawit di dekat pantai banyak yang dibuat di bekas-bekas pertanaman kelapa.

Di kebun-kebun kelapa sawit yang dibuat di bekas hutan atau tanaman karet biasanya penyakit baru terjangkit setelah tanaman berumur 15-20 tahun.

Tetapi di kebun-kebun peremajaan (bekas kelapa sawit) penyakit sudah mulai tampak pada tahun ke 10. Bahkan kebun kelapa sawit generasi ketiga gejala penyakit sudah mulai tampak pada tahun ke-3.

Untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang, Haryono Semangun memberi beberapa tips berikut ini:

· Membersihkan sumber infeksi sebelum penanaman. Yakni membersihkan batang dan tunggul kelapa atau kelapa sawit merupakan satu-satunya cara untuk menghindarkan suatu kebun baru dari ganoderma.

Rumpang-rumpang (tempat kosong) diteliti, tunggul-tunggul dan gumpalan akar sekitar tunggul digali, untuk kemudian dikumpulkan dan dibakar.

Lalu batang-batang pohon tua dipotong-potong, dikumpulkan dengan traktor, ditumpuk dengan baik untuk selanjutnya dibakar dengan minyak dan daun-daun.

Jika pembakaran tak mungkin dilakukan, batang-batang yang ditumpuk di antara calon-calon barisan dibiarkan membusuk dan tertutup oleh tanaman penutup tanah kacangan yang menjalar (legume creeping cover).

Peracunan tanaman sebelum dibongkar dengan alat besar akan mempercepat dekomposisi batang dan tunggul, Racun ditempatkan di bagian pangkal batang yang masih sehat (bukan di bagian yang membusuk) agar dapat terangkut ke bagian-bagian lain,

Pembongkaran pohon dilakukan setelah daun-daun menjadi cokelat, biasanya 2-3 minggu setelah peracunan,

Pembusukan tunggul dan gumpalan akar dapat dipercepat dengan pemberian urea (kristal) sebanyak 1 kg setiap pohon.

· Mencegah menularnya penyakit dalam kebun. Jika pembusukan pada pangkal batang dapat diketahui secara dini, pohon masih dapat ditolong dengan pembedahan (surgery).

Bagian dalam pohon yang busuk dipotong, termasuk bagian yang berwarna kuning dengan semacam alat pemanen buah. Luka potongan ditutup dengan obat penutup luka (protectant). Dapat digunakan terarang karena efektif dan cukup murah.

Perlu ada regu penyelamat, yang sesuai dengan kebutuhan, mengadakan pengamatan busuk pangkal batang 1-3 kali setahun, sehingga pembusukan dapat diketahui dari luar dengan memukul-mukul pangkal batang.

Selain busuk pangkal batang, ada penyakit lain bernama upper stem rot (busuk batang atas). Biasanya penyakit ini timbul pada tanaman yang berumur lebih dari 10 tahun, meskipun yang lebih muda bisa terjangkit pula.

Gejalanya antara lain batang patah pada tinggi 1 meter atau lebih dari permukaan tanah, Pada bagian yang patah ini batang ternyata busuk.

Pada penyakit ini jaringan yang busuk berwarna cokelat tua, sering dengan zone-zone yang lebih gelap dan tampak seperti sarang lebah karena mempunyai banyak lubang.

Pada pangkal pelapah daun dapat terbentuk badan buah fomes, seringkali bersama-sama dengan badan buah ganoderma. Fomes membentuk badan buah yang melekat mendatar (resupinate) pada puntung pelepah daun.

Badan buah berbentuk kerak berwarna cokelat kelabu penuh dengan lubang-lubang halus (pori). Bagian tepinya lebih tebal dan warnanya lebih muda.

Tepi atas kerak kadang-kadang tumbuh keluar dan membentuk badan buah yang menyerupai kipas tebal. Pada tajuk tanaman sakit terlihat gejala yang mirip dengan gejala penyakit busuk pangkal batang.

Penyakit ini disebabkan oleh jamur fomes noxius corner yang juga disebut phellinus noxius (corner) G.H. Cunn. Jamur ini lebih dikenal sebagai jamur akar cokelat pada karet, teh dan kopi.

Basidiospora fomes dipancarkan oleh angin dan dapat mengadakan infeksi pada batang kelapa sawit, Infeksi ini bukan berasal dari akar, karena jaringan di bawah bagian yang busuk sama sekali tidak sehat.

Permulaan pembusukan dapat diketahui dengan memukul puntung-puntung pelepah daun dengan tongkat kayu. Suara yang seram menunjukkan adanya pembususukan di dalam batang. Jika penyakit diketahui secara dini maka pohon dapat ditolong dengan pembedahan.

Tapi jika tidak dapat ditolong lagi harus dibongkar. Pangkal batang beserta gumpalan akar digali sehingga terjadi lubang yang panjang, lebar dan dalamnya 60 centimeter.

Bagian-bagian tanaman yang sakit ini cukup ditaruh di antara barisan-barisan tanaman agar membusuk dan jangan dipendam seperti yang pernah dianjurkan.


Busuk Tandan dan Daun Bibit Muda

Selanjutnya penyakit busuk tandan (bunch rot). Gejalanya dimulai dengan benang-benang jamur yang berwarna putih mengkilat mulus di permukaan tandan basah.

Pada tingkatan ini jamur belum menimbulkan kerugian pada tandan. Miselium lebih banyak terdapat di pangkal tandan yang melekat pada pangkal pelepah daun yang mendukungnya.

Baru pada tingkatan berikutnya miselium yang berada di permukaan buah itu mengadakan penetrasi ke dalam daging buah (mesocarp) yang menyebabkan buah basah.

Buah berwarna cokelat muda berbeda dari buah yang sehat. Jika buah yang sakit tidak diambil, miselium dapat meluas dalam tajuk (mahkota) tanaman, sehingga semua tandan yang berkembang akan terserang.

Penyakit disebabkan oleh jamur marasmius palmivorus sharples, suatu jamur saprofit yang umum terdapat pada bermacam-macam bahan mati.

Miselium jamur dapat membentuk rizomorf yang dapat terurai seperti kipas, seringkali berwarna putih, namun adakalanya juga berwarna merah jambu.

Badan buah jamur dibentuk dalam jumlah yang besar pada tandan-tandan yang terserang berat, berbentuk payungm dengan garis tudung 2,5-75 centimeter yang tepinya membalik ke atas bila masak benar.

Pada sisi bawah tudung ini terdapat banyak bilah (gill) yang masing-masing membawa banyak basidium yang menghasilkan badiospora. Tangkai badan buah mempunyai panjang 2,5 -3,3 cm dengan pangkal yang agak membengkak.

Dalam cuaca lembab badan buah berwarna putih, tetapi dalam cuaca yang lebih kering badan buah berwarna merah jambu dan garis tengah tudungnya hanya 1-2 cm.

Penyakit busuk tandan lebih banyak terdapat di kebun yang berumur 3-9 tahun, khususnya dalam kebun-kebun yang tanamannya baru mulai berbuah.

Pengendalian bunch rot dengan mengurangi kelembaban kebun, antara lain dengan menanam dengan jarak tanam yang sesuai, tidak terlambat memangkas dan lain-lain.

Tandan yang lewat masak jangan dibiarkan tetap berada di pohon. Tandan-tandan yang belum mencapai ukuran tertentu dipotong dengan teratur. Kastrasi dilakukan dengan tepat. Meskipun pabrik belum siap, tandan-tandan buah yang masak harus siap dipotong.

Bahan-bahan tersebut boleh dibiarkan membusuk di kebun, tak perlu diangkut keluar kebun, dibakar ataupun diobati dengan fungisida.

Jika langkah-langkah tersebut tidak dapat menekan penyakit, penyemprotan fungisida terpaksa dilakukan. Obat yang umum dipakai adalah Antimucin WBR (Fenilmerkuri Asetat) ditambah dengan Prata, Actidione (Sikloheximid) dan Difolatan (Kaptapol).

Ketika menyemporit dengan fungisida merkuri organik anjuran-anjran pengamanan yang diberikan oleh pembuat obat harus diperhatikan benar-benar.

Bagaimana dengan early leaf disease? Gejalanya, menurut Haryono Semangun, dimulai dari bagian ujung daun. Mula-mula terjadi becak kecil yang terang, becak membesar, warnanya menjadi cokelat tua, dikelilingi oleh halur (halo) cokelat pucat yang di luarnya terdapat zone kekuningan. Becak-becak terus meluas dan bersatu, sehingga seluruh ujung daun mengering.

Bagian tengah dari becak menjadi seperti kertas, berwarna kelabu atau kelabu kecokelatan. Pada pusat becak yang kering itu terdapat banyak titik hitam. Titik-titik ini adalah badan buah (piknidium) jamur.

Selain botryodiplodia, gejala penyakit kedua dari penyakit daun bibit muda adalah melanconium. Mula-mula penyakit membentuk becak-becak kecil yang jernih, yang dengan cepat warnanya berubah menjadi cokelat muda dan tampak kebasah-basahan.

Setelah jaringan yang terinfeksi mati, terjadilah tepi cokelat pucat di sekeliling bagian yang terserang.

Biasanya, jelas Haryono, becak melanconium berbatas lebih tajam akhirnya becak tertutup oleh titik-titik hitam yang terdiri dari badan buah (aservulus) jamur.

Lalu gejala karena glomerella. Tulang-tulang daun dapat menghambat meluasnya becak. Mula-mula di antara tulang dan daun terjadi becak-becak kecil, cokelat kebasahan, yang meluas menjadi jalur yang memanjang.

Warna becak cokelat atau hitam dan dibatasi oleh halo kuning pucat. Akhirnya jaringan di pusat becak mati, mengering dan rapuh. Pada jaringan yang mati jamur membentuk banyak aservulus yang tampak sebagai titik-titik hitam.

Setelah masak, badan buah ini membentuk banyak konidium yang tampak seperti massa berlendir dengan warna merah jambu.

Spesies jamur botryodiplodia adalah B. Thebromae Pat dan B.Palmarum. Jamur membentuk spora (konidium) di dalam piknidium.

Semula spora ini tidak berwarna, tidak bersekat, ukuran 18 x 10 mikrometer. Pada waktu keluar spora sudah bersekat dan berwarna cokelat.

Sedangkan spesies melanconium adalah melanconium sp. Jamur ini mempunyai spora bulat, b ergaris tengah 10 mikrometer. Mula-mula tidak berwarna, tapi akhirnya berwarna cokelat tua dengan isi gramuler dinding yang tebal.

Sementara spesies jamur glomerella adalah G. Cingulata (Stonem) Spauld.ct Schrenk, Colletotrichum Gloeosporiodes. Spora glomerella berdinding tebal dengan ukuran 12 x 6 mikrometer.

Pada tingkatan yang lanjut jamur membentuk peritesium seperti botol dengan leher sempit, askus mempunyai lubang, berisi 8 askospora yang mudah berkecambah.

Dengan melaksanakan pembibitan secara tepat, biasanya usaha khusus untuk mengendalikan penyakit ini tidak diperlukan. Jika gejala terdapat di sana-sini, untuk mengurangi sumber infeksi, sebaiknya daun-daun yang sakit digunting. Bibit yang terserang berat disingkirkan dari pembibitan.

Jika terjadi epidemi, bibit perlu dilindungi dengan penyemperotan fungisida. Dapat digunakan Ziram atau Captan, Thiram dan Thiabendazole yang harus selalu ditambah dengan Adjuvan.

Jika fungisida yang dianjurkan tidak tersedia, kita dapat memakai fungisida lain yang sekiranya sesuai, tetapi terlebih dahulu harus dilakukan percobaan skala kecil untuk mengetahui fitotoksisitas fungisida yang bersangkutan.

Potensi Energi Limbah Kelapa Sawit di Sumatera Utara

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , , ,

Oleh : Idham Kamil,ST.MT

Dengan semakin meningkatnya populasi penduduk maka sejalan dengan itu kebutuhan akan energi khususnya energi listrik semakin meningkat pula.

Sedangkan sumber energi minyak bumi yang merupakan sebagai salah satu sumber energi terbesar saat ini yang digunakan sudah tidak akan bertambah lagi dan semakin hari semakin menipis.

Visi Sektor Ketenagalistrikan

Pemerintah melalui Kementrian ESDM melalui Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor : 2682 K/21/MEM/2008. Visi sektor ketenagalistrikan adalah dapat melistriki seluruh rumah tangga, desa serta memenuhi kebutuhan industri yang berkembang cepat dalam jumlah yang cukup, transparan, efisien, andal, aman dan akrab lingkungan untuk mendukung pertumbuhan perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Pemerintah sangat jelas menginginkan tersedianya kebutuhan energi listrik yang aman lingkungan hal ini juga sejalan dengan kesepakatan Negara-negara Maju pada Kyoto Protocol khususnya dalam proyek pengembangan CDM (Clean Development Mechanism).

Dari berbagai sumber energi tersebut salah satu sumber energi yang masih belum dimanfaatkan secara masal dan komersial adalah energi limbah kelapa sawit.

Potensi Energi Limbah Kelapa Sawit

Proses pengolahan tandan buah segar (TBS = fresh fruit bunches) menjadi crude palm oil (CPO) dan seluruh aktifitas produksi pabrik kelapa sawit (PKS) menghasilkan biomassa produk samping, baik limbah padat maupun cair, dalam volume sangat besar. Itu sebabnya, peningkatan volume limbah merupakan konsekuensi tak terpisahkan dari peningkatan industri minyak kelapa sawit.

Secara umum, limbah PKS dikelompokkan menjadi limbah padat dan limbah cair (Palm Oil Mill Effluent / POME).

Untuk tiap ton TBS yang diolah dalam PKS diperlukan antara 1 - 2 ton air. Pasok air biasa diambil dari lingkungan sekitar, misal sungai.

Limbah cair yang dihasilkan sekitar 550 kg per ton TBS yang diolah, dengan berat jenis antara 1,05 hingga 1,1 g/cm3 ,diperoleh limbah cair mencapai 40%– 70% TBS yang diolah. Kisaran volume tersebut tergantung juga pada sistem pengolahan limbah pabrik.

Limbah padat PKS dikelompokkan menjadi dua, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan dan yang berasal dari basis pengolahan limbah cair. Limbah padat yang berasal dari proses pengolahan berupa tandan buah kosong (TBK = empty fruit bunch) yang terbuang dari penebah setelah tandan rebus dipisahkan dari buahnya, cangkang atau tempurung (palm shell), dan serabut atau serat (fiber). Sedangkan limbah padat yang berasal dari pengolahan limbah cair berupa lumpur aktif yang terbawa oleh hasil pengolahan air limbah .

Pemanfaatan dalam Bentuk Bahan Bakar

Pada dasarnya semua limbah padat PKS dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam PKS, yaitu sebagai bahan bakar ketel uap untuk memasok kebutuhan uap panas dan pembangkitan listrik. Limbah padat seperti serabut dan cangkang dapat dipakai langsung begitu keluar dari proses produksi sebagai bahan bakar. Tergantung pada rancangannya,

Untuk mengoperasikan ketel uap dapat memanfaatkan 100% cangkang, 100% serabut atau kombinasi antara keduanya.

Pemanfaatan dalam Bentuk Briket Arang

Selain untuk bahan bakar padat, alternatif lain yang relatif sederhana untuk mendapatkan manfaat energi limbah padat kelapa sawit adalah dengan terlebih dahulu mengolah limbah tersebut menjadi briket arang.

Tandan kosong sawit memiliki kandungan air yang tinggi. Ini membuat efisiensi termal TBK rendah dan lagi pembakarannya secara langsung akan menimbulkan polusi asap yang cukup mengganggu. Karena itu pemanfaatan TBK (Tandan Buah Kosong) sebagai bahan bakar harus melewati pengolahan terlebih dahulu. Briket arang menjadi bentuk alternatif.

Pemanfaatan limbah tersebut dapat meminimalisasi beban pencemaran terhadap lingkungan, sekaligus menghasilkan manfaat, antara lain dalam bentuk energi. Potensi output energi tersebut lebih tinggi dari kebutuhan energi PKS itu sendiri.

Pemanfaatan dalam Bentuk Biogas

Energi yang cukup besar dapat diperoleh pula dari pengolahan limbah cair. Pengolahan limbah cair dilakukan dengan proses bertingkat yang memanfaatkan kolam-kolam terbuka. Untuk PKS kapasitas sampai kira-kira 80 ton TBS per jam, dibutuhkan kolam-kolam dengan luas belasan hektar.

Inti proses tersebut adalah biodegradasi komponen organik limbah tersebut. Dekomposisi anaerobik meliputi penguraian bahan organik majemuk menjadi senyawa asam-asam organik dan selanjutnya diurai menjadi gas-gas dan air.

Gas metana akan terbentuk selama limbah cair diolah dalam kolam terbuka tersebut.

Gas metana yang dihasilkan proses tersebut merupakan komponen terbesar biogas. Ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi jika diolah dalam sistem digester anaerob.

Pada pabrik kelapa sawit yang mengolah 40 ton TBS/jam akan dihasilkan limbah cair sebanyak 20 m3/jam Jika pabrik bekerja selama 20 jam/hari, maka akan dihasilkan limbah cair sebanyak 400 m3 per hari. Dengan perhitungan karakteristik limbah cari untuk sebuah PKS dengan asumsi kapasitas 100 ribu ton TBS per tahun, dengan memasukkan perhitungan rentang nilai kalor maka bisa diperoleh energi antara 1,38 – 2,52 GW(e)h.***

Penulis adalah Staff Pengajar Politeknik Negeri Medan.

Berita Pertanian : Dampak Kemarau, Panen Sawit Turun 50%

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Jambi. Musim kemarau di kawasan transmigrasi kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muarojambi, berakibat turunnya produksi panen Tandan Buah Segar (TBS) sawit bahkan sampai 50%. "Dampak kemarau sudah semakin terasa, bencana kekeringan semakin nyata mengancam. Meski baru dua pekan, musim kemarau dimulai tersebut sudah berakibat pada menurunnya panen TBS masyarakat hingga 50 persen," kata Sekretaris desa Unit 13 desa Transmigrasi Sungai Bahar M Yani, saat dihubungi di Jambi, Senin (4/4).

Lebih jauh, Yani merinci, produksi TBS yang dipanen masyarakat dalam musim panen selama dua minggu terakhir turun drastis antara 50-60 persen. "Biasanya untuk lahan satu hektare masyarakat bisa memanen satu ton. Saat ini hanya bisa menghasilkan lima kwintal, jadi sangat drastis sekali menurunnya. Para petani mulai resah karena kuwatir akan terjadi gagal panen besar-besaran dalam bulan-bulan ke depannya," terang Yani.

Bencana kekeringan diakuinya pada 2011 ini mengintai perkebunan sawit menyusul terjadinya perubahan cuaca ekstrim yang diprediksi para ahli iklim dan cuaca terjadi pada 2011-2012.

Kondisi tersebut jelas meresahkan masyarakat karena tanaman sawit sangat rawan terhadap ketersediaan air. TinPanen Sawitgkat konsumsi air pohon-pohon sait memang sangat besar, sebatang sawit sedikitnya membutuhkan 2000 liter air setiap harinya.

"Saat ini, warga masyarakat kita beri penyuluhan untuk bersabar dan bersiap diri menghadapi terbesar dari kemungkinan terjadinya musim kemarau paling ekstrim pada tahun ini. Kita hanya bisa meminta warga untuk berhemat atau tidak hidup boros,"" kata Yani.

Pasalnya, tambahnya, selama ini semenjak semakin berkembangnya sawit di pasaran kehidupan para petani pun berubah drastis karena peningkatan perekonomian dan kesejahteraan yang terus meningkat.

Tanda-tanda akan dimulainya musim paceklik kekeringan tersebut kini sudah semakin jelas terlihat. Kanal-kanal air dalam areal perkebunan yang menjadi sumber air cadangan bagi tanaman sawit selama ini kini sudah kering, debit air sungai semkin menyusut, sumur-sumur di rumah warga pun sudah mengering.

Selain itu, satwa-satwa air pun seperti ikan-ikan ditemukan banyak yang mati terdampar di pinggir sungai. Burung-burung belukar pun banyak yang ditemukan mati di semak-semak."Kita sudah mengingatkan kalau musim kemarau ini berlangsung terus menerus dalam dua bulan ke depan, maka bukan tidak mungkin seluruh kawasan Transmigrasi di Sungaibahar akan mengalami bencana kekeringan paling hebat dalam tahun ini. Kita juga mengharapkan pemerintah juga bisa secepatnya bergerak mengantisipasi kondisi yang bisa memicu konflik sosial tersebut sedini mungkin," tandasnya. (ant)

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul