RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan

Cara Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: , , , ,

Pohon Sawit Tumbang akibat Busuk Pangkal Batang
Cara Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit

Busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit dapat dikendalikan dengan menggunakan biofungisida Marfu-P. Hasil uji aplikasi Marfu-P menunjukkan bahwa satu bulan setelah perlakuan masih dijumpai adanya Ganoderma dan Trichoderma pada potongan akar yang sama. Ganoderma pada akar kelapa sawit dan pada potongan akar karet sudah melapuk setelah 3 bulan perlakuan Trichoderma
Bahan aktif yang digunakan untuk biofungisida Marfu-P adalah sporakonidia dan klamidospora jamur Trichoderma koningii (isolat MR 14).

Kandungan dan Bahan Aktif
Biofungisida Marfu-P   merupakan produk yang mengandung campuran dari beberapa jenis jamur tanah yang menguntungkan, AMF yang telah terisolasi secara lokal dari berbagai seri tanah. Mycorrhiza adalah bawaan asli jamur yang telah di ketahui dan mempunyai dapat membentuk hubungan simbiotik yang bersentuhan dengan akar tanaman. Dan dalam setiap bungkus Biofungisida Marfu-P  berisi Mycorrhizal hyphae, akar bit terinfeksi dan spora hidup dan pasir steril sebagai media pembawa. Berisi 95% spora endo mycorrhiza dan 5% bahan tambahan yang membantu dalam memperpanjang kehidupan mycorrhiza di Biofungisida Marfu-P , aditif ini juga membantu dalam meningkatkan efisiensi Biofungisida Marfu-P  di areal lahan perkebunan.
Bahan bahan aktif Endomycorrhizal spores (4 genus)
  • Aculospora
  • Gigaspora
  • Giomus
  • Scutellospora
Bahan Non Aktif
  • Sterillzed Sand
  • Vermiculite

Cara Kerja Produk
Biofungisida Marfu-P  Memastikan infektifitas dan fungsi dari tanaman di berbagai jenis tanah hingga 90% jamur yang membantu mendorong pembentukan akar yang lebih baik, pertumbuhan dan massa yang diterjemahkan menjadi efisiensi asupan gizi  yang lebih tinggi dan mengurangi kehilangan pupuk penyiraman. Pembentukan mycorrhizal hyphae juga menciptakan luas permukaan yang lebih tinggi untuk penyerapan air  dan nutrisi oleh akar, sementara itu juga membantu dalam mendorong lingkungan yang kondusif di rhizosphere akar seperti perubahan ph aerasi tanah, kelembabab dan nutrisi cadangan
Efektifitas jangkitan Biofungisida Marfu-P  di dalam tanah mampu mencapai 90% dalam kondisi unsur tanah yang berbeda, jangkitan Biofungisida Marfu-P  ini mendukung dan meningkatkan pertumbuhan serta jumlah akar, terutama akar serabut, selanjutnya Biofungisida Marfu-P  meningkatkan kemampuan pengambilan nutrisi dan mengurangi kehilangan pupuk melalui proses peresapan. Biofungisida Marfu-P  meningkatkan daya kekuatan tanaman terhadap serangan jamur, patogen, nemetoda dan penyakit dari tanah, dan mampu mewujudkan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan akar seperti perubahan pada ph tanah, sirkulasi udara kelembabab dan cadangan nutrisi, disamping itu juga Biofungisida Marfu-P  mampu meningkatkan penyerapan unsur unsur P, CU, Zn dan Mg sebanyak 60% dibandingkan dengan pohon tanpa Biofungisida Marfu-P  melalui penukaran unsur unsur tersebut dalam bentuk larutan.

Kapan Biofungisida Marfu-P  Digunakan
Biofungisida Marfu-P   sebagai produk yang ramah lingkungan serta mendukung pemulihan tanaman juga mampu meningkatkan effisiensi penyerapan pupuk serta mengurangi unsur resapan, serta dapat memanjangkan waktu pengeluaran dan jangka waktu pohon yang terjanglit genoderma, juga dapat meningkatkan potensi tanaman di daerah yang bermasalah dan mempu meningkatkan rehabilitasi dan kesuburan tanah.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan pengeluaran biaya yang ekonomis dalam aplikasi Biofungisida Marfu-P  di lapangan sebaiknya dan di anjurkan dipakai pada tingkat persemaian (nursery dan pemindahan dari nurseri ke lapangan, berikut diagramnya

Aplikasi di Lapangan
Pada Tingat Pembibitan/Nursery
Letakkan 30 – 50 gr Biofungisida Marfu-P  di sekililing akar, pastikan akar bibit bersentuhan dengan Biofungisida Marfu-P  sebelum di tutup dengan tanah
Pemindahan ke kebun/Transplanting
Masukkan 250 500 gr Biofungisida Marfu-P  ke lubang tanam, catatan apabila pada tingkat nursery telah diperlakukan dengan memakai Biofungisida Marfu-P , maka pemakaian Biofungisida Marfu-P  hanya membutuhkan 50 gr pada lubang tanam
Tanaman kurang dari 5 tahun
Untuk Tanaman yang ber usia kurang dari 5 tahun pemakaian Biofungisida Marfu-P  pada kisaran 500 – 1 kg per pohon dengan membuat dua buah lubang di sekililing pohon, dan pastikan akar pohon bersinggungan dengan Biofungisida Marfu-P  untuk mendapatkan hasil yang maksimal
Tanaman Lebih dari 5 tahun
Untuk Tanaman yang telah berusia lebih dari 5 tahun aplikasi penggunaan Biofungisida Marfu-P  antara 1 kg – 2 Kg  perpohon dengan tata cara sama dengan aplikasi pada tanaman kurang dari 5 tahun.
Daerah serangan Genoderma
Aplikasi di lapangan dengan memberikan Biofungisida Marfu-P   1 kg per pohon dengan tata cara seperti pada pemberian pada tanaman kurang dari 5 tahun
Daerah Serangan Genoderma Parah
Aplikasi di lapangan dengan memberikan Biofungisida Marfu-P   2 Kg per pohon dengan tata cara seperti pada pemberian pada tanaman kurang dari 5 tahun.
Keuntungan Menggunakan Produk Biofungisida Marfu-P
  • Meningkatkan pengembangan dan pembentukan akar dan tunas
  • Meningkatkan effisiensi serapan unsur hara dan air pada tanaman
  • Selektif dalam penyerapan zat gizi seperti P. CU dan Zn diluar penepisan zona akar
  • Meningkatkan perlawanan terhadap kekeringan
  • Membantu mengurangi Asupan pupuk organik dalam jangka panjang
  • Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap patogen terutama patogen perusak tanah dan hama (Phytium sp,.Rhizoctonia sp., Phytopthora sp., dan nematoda)


Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit | Penyebab | Gejala

Posted by Flora Sawita Labels: , , ,

Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit
Penyakit Busuk Pangkal Batang Sawit

Penyebab Penyakit
Sejak 1920 patogen penyebab BPB di Afrika Barat telah diidentifikasi berasal dari genus Ganoderma. Spesies Ganoderma yang menyebabkan penyakit BPB dilaporkan berbeda-beda di setiap negara (Ariffin et al. 2000). Di Indonesia
diketahui penyebab BPB adalah spesies Ganoderma boninense. Hasil penelitian Abadi (1987) menunjukkan, bahwa penyebab BPB pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara adalah G. boninense, walaupun diketahui terdapat bentuk basidiokarp yang bervariasi dari seluruh basidiokarp yang dikumpulkan. Moncalvo (2000), memasukkan G. boninense ke dalam grup cendawan yang menyerang tanaman palem-paleman. Grup ini dibagi dalam tiga kelompok besar
dan ada kelompok yang tidak masuk dalam klasifikasi. Pengelompokkan ini berhubungan dengan daerah asal dimana spesies Ganoderma ditemukan.

Ganoderma boninense dinyatakan berasal dari Asia Tenggara, Jepang, dan Kawasan Pasifik Australia, selain itu G. boninense diketahui memiliki kategori penyebaran geografik yang meliputi wilayah Jepang, Indonesia, Asia Tenggara,
 
Papua New Guinea, dan Australia, dengan inang sebagian besar adalah tanaman palem-paleman. Cendawan G. boninense termasuk salah satu kelompok jamur kayu filum Basidiomycota, Ordo Aphyllophorales, dan famili Ganodermataceae dahulu disebut Polyporaceae (Alexopoulus et al. 1996). Cendawan G. boninense memiliki morfologi basidiokarp yang sangat bervariasi; ada yang bertangkai atau tidak, tumbuh horizontal atau vertikal, ada yang rata atau mengembung, dan ada yang terbentuk lingkaran konsentris. Semangun (2000) mengemukakan, bahwa basidiokarp G. boninense awalnya tampak sebagai bongkol kecil berwarna putih yang berkembang membentuk piringan menyerupai kipas tebal (console bracket like). Basidiokarp yang dibentuk seringkali berdekatan, bersambungan, dan saling menutupi sehingga menjadi suatu susunan yang besar. Konveks atau bagian atas permukaan basidiokarp memiliki warna yang bervariasi, coklat muda hingga  coklat tua, tampak mengkilap khususnya pada basidiokarp muda, memiliki zonazona,dan kurang rata. Permukaan bawah basidiokarp berwarna putih pucat, memiliki lapisan pori yang merupakan tempat pembentukan basidium dan basidiospora.

Hasil penelitian Abadi (1987) menunjukkan, bahwa basidiokarp Ganoderma boninense yang ditemukan di Sumatera Utara memiliki lapisan kutis (atas) yang terdiri dari sel-sel berukuran 20-30 μm x 4-10 μm dengan ketebalan 0,1 mm. Diameter pori 150-400 μm, dengan disepimen (jaringan antara) sebesar 30-60 μm. Basidiospora berbentuk bulat panjang, berwarna keemasan, bagian atas kurang rata, berduri, terkadang memiliki vakuola. Cendawan G. boninense memiliki pemanjangan basidiospora dan keseragaman konteks warna coklat.
 
Basidiospora yang dibentuk mencapai 9-13 μm x 5-7 μm. Basidiospora umumnya digunakan untuk perbanyakan secara seksual, dibentuk di dalam basidia yang berada pada pori-pori bagian bawah tubuh buah. Masing-masing basidium akan
menghasilkan empat jenis basidiospora yang memiliki genotip beragam (Seo &Kirk 2000). Sebaran dan Arti Penting Penyakit BPB Penyakit BPB pertama kali dideskripsikan pada tahun 1911 di Republik Kongo, Afrika Barat. Pada tahun 1931 di Malaysia dilaporkan penyakit BPB menyerang tanaman kelapa sawit berumur 25 tahun pada perkebunan yang telah diremajakan, tetapi tidak sampai menimbulkan kerugian secara ekonomi.
 
Pembudidayaan kelapa sawit secara besar-besaran pada akhir tahun 1960 menyebabkan perkembangan BPB meningkat dan mampu menyerang tanaman kelapa sawit yang lebih muda berumur 10 hingga 15 tahun. Patogen penyebab penyakit BPB dapat menginfeksi tanaman kelapa sawit lebih cepat 12 hingga 24 bulan setelah tanam dengan tingkat serangan yang lebih berat pada tanaman berumur 4 hingga 5 tahun terutama pada lahan generasi kedua dan ketiga (Ariffin et al. 2000).
Di Indonesia serangan BPB awalnya rendah pada tanaman kelapa sawit berumur 7 tahun, selanjutnya serangan meningkat sebesar 40% ketika tanaman kelapa sawit mencapai usia 12 tahun (Ariffin et al. 2000). 
Pada lahan generasi keempat serangan BPB terjadi lebih awal dan menyerang tanaman berumur 1 hingga 2 tahun (Sinaga et al. 2003). Susanto (2002) menyatakan bahwa penyakit BPB dapat menyerang bibit-bibit kelapa sawit sejak di persemaian. Hal ini diduga karena patogen penyebab BPB semakin menyebar pada lahan yang sering diremajakan. Pernyataan ini diperkuat oleh Subronto et al. (2003) bahwa pada lahan generasi pertama serangan penyakit ini sangat rendah, dengan bertambahnya generasi tanam berikutnya maka persentase serangan akan semakin tinggi, dan gejala penyakit sudah dapat terlihat pada awal pertumbuhan tanaman.
 
Sinaga et al. (2003) mengemukakan, bahwa penyakit BPB ini sudah merupakan ancaman bagi berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia, terutama pada kebun yang telah mengalami peremajaan berulang, bahkan pada kebun yang telah mengalami peremajaan tiga kali dengan tanaman belum menghasilkan (TBM), kejadian penyakit sudah terjadi hingga 11%. Hasil penelitiannya menunjukkan, semakin sering kebun sawit mengalami peremajaan atau pada areal pertanaman kelapa sawit sebelumnya ditanami dengan kopi, karet atau tanaman lain, maka semakin rendah keragaman, kelimpahan, dan pemerataan agens biokontrol yang ditemukan. Berkurangnya keberadaan, keragaman, dan kelimpahan agens antagonis (kurang dari 105 cfu/g tanah) akan menyebabkan tingginya kejadian penyakit BPB. Penyakit BPB dapat menyebabkan kehilangan hasil secara langsung  erhadap minyak sawit dan penurunan bobot tandan buah segar (fresh bunch fruit)  Susanto et al. 2005). Kerusakan yang ditimbulkan dapat mencapai 80% (Yulianti 001) hingga 100%, bahkan dapat menyebabkan kematian pada tanaman yang terserang (Abadi 1987).

Gejala
Pada tanaman yang terserang, belum tentu ditemukan tubuh buah Ganoderma boninense pada bagian pangkal batang, namun kita dapat  pengidentifikasi serangan lewat daun tombak yang tidak terbuka sebanyak ± 3 daun. Basidiokarp yang dibentuk awalnya berukuran kecil, bulat, berwarna putih, dengan pertumbuhan yang cepat hingga membentuk basidiokarp dewasa yang memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang variatif. Umumnya basidiokarp berkembang sedikit di atas dan mengelilingi bagian pangkal batang yang sakit. Ukuran basidiokarp yang bertambah besar menunjukkan perkembangan penyakit semakin lanjut dan akhirnya menyebabkan kematian pada tanaman (Ariffin et al. 2000).
 
Pada tanaman muda gejala eksternal ditandai dengan menguningnya sebagian besar daun atau pola belang di beberapa bagian daun yang diikuti klorotik. Daun kuncup yang belum membuka ukurannya lebih kecil daripada daun normal dan mengalami nekrotik pada bagian ujungnya. Selain itu tanaman yang terserang juga kelihatan lebih pucat dari tanaman lain yang ada disekitarnya (Ariffin et al. 2000; Sinaga et al. 2003; Yanti & Susanto 2004), pertumbuhannya terhambat dan memiliki daun pedang (spear leaves) yang tidak membuka. Gejala pada tingkat serangan lanjut adalah selain adanya daun tombak yang tidak terbuka yaitu adanya nekrosis pada daun tua dimulai dari bagian bawah. Daun-daun tua yang mengalami nekrosis selanjutnya patah dan tetap menggantung pada pohon. Pada akhirnya tanaman akan mati dan tumbang. Gejala yang tampak pada daun menandakan bahwa penampang pangkal batang telah mengalami pembusukan
sebesar 50% atau lebih. Gejala yang khas sebelum tubuh buah terbentuk adalah terjadi pembusukan pada pangkal batang. Pada jaringan batang yang busuk, lesio tampak sebagai daerah berwarna coklat muda disertai adanya daerah berwarna gelap berbentuk pita tidak beraturan (Ariffin et al. 2000; Susanto 2002). 
Serangan lebih lanjut dapat mengakibatkan tanaman kelapa sawit tumbang, karena jaringan kayu pada bagian pangkal batang mengalami pelapukan (Yanti & Susanto 2004).
Secara mikroskopis gejala internal akar sakit mirip seperti batang yang terinfeksi. Jaringan korteks akar yang sakit berubah warna dari putih menjadi coklat (Susanto 2002). Jaringan kortikel berwarna coklat dan mudah untuk didisintegrasikan, selain itu stele menjadi kehitaman. Pada akar tanaman tua bagian permukaan sebelah dalam eksodermis ditemukan tanda penyakit berupa hifa berwarna keputihan (Ariffin et al. 2000). Pada serangan yang sudah lanjut,  jaringan korteks rapuh dan mudah hancur. Hifa biasanya terdapat di jaringan korteks, endodermis, xylem, dan floem (Ariffin et al. 2000; Susanto 2002).

Patogenesitas Ganoderma
Ganoderma boninense adalah kelompok cendawan busuk putih (white rot fungi), cendawan ini bersifat lignolitik (Susanto 2002; Paterson 2007). Oleh sebab itu, cendawan ini mempunyai aktivitas yang lebih tinggi dalam mendegradasi lignin dibandingkan kelompok lain. Komponen penyusun dinding sel tanaman adalah lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Cendawan G. boninense memperoleh energi utama dari selulosa, setelah lignin berhasil didegradasi, selain itu karbohidrat seperti zat pati dan pektin, diperoleh meskipun dalam jumlah kecil (Paterson 2007). Selulosa merupakan bagian terbesar yang terdapat dalam dinding sel tanaman, yaitu berkisar antara 39-55 persen, kemudian lignin 18-33 persen, dan hemiselulosa 21-24 persen (Martawijaya et al. 2005). Dengan demikian, untuk dapat menyerang tanaman, cendawan tersebut harus mampu mendegradasi ketiga komponen tersebut (bahan-bahan berligno-selulosa). Lignin merupakan polimer senyawa aromatik yang membungkus komponen polisakarida (selulosa dan hemiselulosa) dinding kayu baik secara fisik maupun secara kimiawi, sehingga akan meningkatkan ketahanan kayu sebagai material komposit yang resisten terhadap serangan mikroorganisme. Lignin tersusun melalui stuktur kompleks polimer yang menghubungkan tiga unit monomerik dengan ikatan karbonkarbon dan aril eter. Unit monomerik lignin terdiri dari koniferil, sinapil, dan ρ-kumaril alkohol. Lignoselulosa pada kelapa sawit sama halnya seperti selulosa dan hemiselulosa yang berasosiasi dengan lignin, memiliki kemampuan untuk melindungi tanaman dari serangan mikroorganisme, meningkatkan ketahanan tanaman, dan memberikan perlindungan terhadap dinding sel dan jaringan xylem tanaman.

Cendawan Ganoderma memiliki kemampuan untuk mengurai lignin menjadi karbon dioksida dan air dengan cara memutus struktur cincin monomer dari lignin, sehingga memudahkan untuk akses energi melalui selulosa. Enzim yang digunakan untuk memutus struktur monomer lignin adalah lignolitik. Enzim ini diklasifikasikan menjadi dua bagian, ligninolitik yang dapat mendegradasi dengan cepat termasuk manganase peroksidase (MnP), lakase, dan lignin peroksidase (LIP). Cendawan busuk putih juga menghasilkan ligninolitik yang tidak diklasifikasikan bergantung dari peroksidase dan lakase (fenol oksidase, LAC) yang mengalami proses oksidase. Enzim peroksidase yang terkandung dalam ligninolitik memerlukan peroksida untuk dapat bekerja dengan baik. Lakase mengoksidasi fenol dalam lignin menjadi radikal fenoksi yang dapat didegradasi lebih lanjut menjadi struktur lain. Lakase berperan dalam degradasi lignin melalui oksidasi gugus fenol menjadi quinon, pengoksidasinya melalui proses dimetilasi yang akan mengubah metoksi menjadi metanol (Susanto 2002; Paterson 2007). Delignifikasi dapat berupa proses perombakan lignin atau pelepasan lignin dari ikatannya dengan selulosa. LIP dapat menyerang tanaman dengan cara mendegradasi lignin terkadang juga selulosa (Seo & Kirk 2000).
 
Selulosa merupakan polimer dari 800−12.000 unit glukosa yang dihubungkan oleh ikatan β-1,4 glikosidik. Rantai komponen glukosa cukup panjang sehingga harus dipecah satu persatu. Komponen ini terdiri dari kristal selulosa, selulosa amorfik, selulosa rantai pendek, selobiose, dan glukosa (Paterson 2007). Di alam molekul glukosa tersusun dalam bentuk fibril yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen. Fibril tersebut sebagian bersifat kristalin dan pada kayu dibungkus oleh lignin yang berperan sebagai pelindung selulosa terhadap enzim pemecah selulosa. Selulosa dapat dihidrolisis oleh enzim kelompok endo β-glukanase, ekso β-glukanase, dan β-glukosidase (Susanto 2002; Paterson 2007).
 
Hemiselulosa pada kayu tersusun dari galaktomanan, glukomanan, arabinogalaktan, dan xilan. Galaktomanan, manan, dan fragmen oligosakarida rentan terhadap enzim α-D-galaktosidase, endo β-D-manase, ekso β-D-manase dan ekso β-D-manan manobiohidrolase (Susanto 2002; Paterson 2007). Patogenisitas Ganoderma tidak hanya terjadi pada tanaman tua, tetapi dapat terjadi pada planlet dan bibit kelapa sawit (Susanto 2002; Franqueville 2004), tetapi untuk dapat menimbulkan penyakit, cendawan ini membutuhkan inokulum yang cukup besar. Keistimewaan Ganoderma adalah mampu bertahan pada jaringan kayu tua atau sisa-sisa tanaman di dalam tanah, sehingga menyebabkan sumber penyakit bersifat persisten di lapang. Pada tanaman tahunan infeksi Ganoderma pada jaringan kayu akan berkembang perlahan dan meluas pada kondisi yang mendukung perkembangannya. Material tanaman yang sudah tertulari Ganoderma dapat menjadi sumber inokulum potensial, dan dapat menulari tanah selama beberapa bulan, sehingga patogen dapat melakukan invasi ke bagian tanaman lain pada saat mulai menanam (Flood et al. 2000).

Epidemi Penyakit Busuk Pangkal Batang
Spesies Ganoderma yang patogenik pada kelapa sawit mempunyai kisaran  nang yang luas. Pada habitat alami di hutan, cendawan ini dapat menyerang tanaman berkayu. Selain menyerang kelapa sawit, spesies Ganoderma dapat menyerang tanaman perkebunan lain seperti kelapa, karet, teh, kakao, serta berbagai macam jenis pohon tanaman hutan seperti Acacia, Populus, dan Macadamia (Ariffin et al. 2000).
Penularan penyakit BPB terutama terjadi melalui kontak akar tanaman sehat dengan sumber inokulum yang dapat berupa akar dan batang sakit. Akarakar  anaman kelapa sawit muda, tertarik kepada tunggul yang membusuk yang mengandung banyak hara dan kelembaban tinggi. Agar dapat menginfeksi akar tanaman sehat, cendawan harus mempunyai bekal makanan (food base) yang cukup (Semangun 2000). Kejadian penyakit BPB pada kelapa sawit meningkat pada kebun yang sebelumnya atau ditanam bersamaan dengan kelapa, terutama pada kebun yang terdapat sisa-sisa tunggul kelapa yang terbenam di dalam tanah. Ganoderma menginfeksi tanaman lebih awal 12 hingga 24 bulan pada tanaman kelapa sawit berumur 4 hingga 5 tahun yang ditanam bersamaan dengan tanaman kelapa. Daur penyakit meningkat 40% hingga 50% setelah tanaman berumur 15 tahun. Situasi seperti inipun terjadi pada kebun kelapa sawit yang telah diremajakan (Ariffin et  l. 2000). Menurut pengamatan Susanto (2002); Sinaga et al. (2003)

Ganoderma dapat hidup pada tunggul kayu karet dan kakao. Kebun yang banyak mempunyai tunggul karet, kelapa sawit, kelapa atau tanaman hutan lain akan cenderung mempunyai penyakit yang tinggi. Tunggul-tunggul itu berfungsi sebagai sumber inokulum potensial Ganodema. Oleh karena itu disarankan pada waktu tanam ulang, sisa-sisa tanaman itu dimusnahkan. Infeksi oleh Ganoderma dimulai ketika Ganoderma melakukan kontak dengan akar tanaman. Sumber-sumber inokulum seperti akar dan batang sakit berpotensi untuk menularkan penyakit BPB. Sisa-sisa tanaman sakit yang kontak dengan akar tanaman sehat dapat meningkatkan penyebaran penyakit meskipun tidak melibatkan basidiospora. Di lain pihak ada yang menyatakan bahwa penyebaran penyakit selain melalui kontak akar sakit dengan akar sehat,
basidiospora yang disebarkan oleh angin berpotensi menularkan penyakit. Peranan basidiospora dalam distribusi penyakit BPB hingga saat ini masih menjadi kontra, karena untuk dapat menimbulkan penyakit BPB, basidiospora membutuhkan miselium yang memiliki tipe mating sama, sehingga dapat membentuk miselium sekunder dan tubuh buah. Susanto (2002) memperkuat pernyataan tersebut bahwa penyakit yang disebabkan oleh kontak akar harus berasal dari spesies Ganoderma yang sama.

Studi yang dilakukan di Malaysia menunjukkan bahwa Ganoderma yang ada di areal kebun, tidak berasal dari penyebaran basidiospora dari satu kebun ke kebun yang lain. Basidiospora yang dihasilkan tubuh buah tidak dapat menyebabkan terjadinya infeksi langsung pada tanaman kelapa sawit sehat, tetapi mempunyai kemampuan saprofitik untuk mengkoloni substrat dan membangun inokulum yang berpotensi untuk menginfeksi tanaman sehat (Paterson 2007). Basidiospora berpengaruh secara nyata terhadap epidemiologi penyakit, tetapi tidak meningkatkan kejadian penyakit. Basidiospora dibebaskan dan disebarkan oleh bantuan angin. Penyebaran spora juga dibantu oleh kumbang Oryctes rhinoceros yang
larvanya banyak ditemukan pada batang kelapa sawit yang membusuk. Terdapat beberapa faktor krusial yang dapat mempengaruhi perkembangan penyakit BPB antara lain umur tanaman, jenis tanah, status hara, teknik penanaman, dan tanaman yang ditanam sebelum pembukaan lahan baru. Penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit awalnya menyerang tanaman tua berumur lebih dari 25 tahun, tetapi sekarang ini dapat menyerang tanaman yang berumur 5-15 tahun (Ariffin et  l. 2000). Serangan Ganoderma pada kelapa sawit meningkat sejalan dengan semakin tuanya umur tanaman. Hal ini menunjukkan kecenderungan bahwa umur tanaman mempengaruhi tingkat perkembangan penyakit. Umur tanaman yang semakin dewasa, akan membuat sistem perakarannya semakin panjang sehingga tingkat probabilitas terjadinya inokulasi dengan inokulum semakin tinggi (Susanto 2002). Selain itu kerusakan tanaman akibat serangan patogen akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya daur pertanaman dalam suatu kebun. Hal ini terjadi karena substrat bagi Ganoderma akan semakin tersedia atau inokulum semakin tinggi populasinya. Letak kebun tidak terlalu berpengaruh sebab penyakit ini banyak ditemui di daerah pantai maupun daerah pedalaman. Laporan awal menyebutkan bahwa penyakit BPB banyak terjadi pada daerah pantai, tetapi laporan terakhir menyebutkan bahwa BPB banyak terjadi di daerah pantai maupun daerah pedalaman. Demikian juga untuk jenis tanah, laporan awal menyatakan bahwa penyakit BPB jarang ditemukan di tanah gambut dan serangan berat banyak terjadi pada tanah laterit. Namun sekarang, serangan Ganoderma dapat terjadi pada semua jenis tanah antara lain: podsolik, hidromorfik, alluvial, dan tanah gambut.

Luka pada tanaman berperan sebagai titik mula atau membantu tempat masuknya Ganoderma ke tanaman. Luka pada tanaman ini dapat disebabkan oleh faktor biologis misalnya gigitan tikus, tupai, babi hutan, dan serangga. Faktor yang kedua adalah luka mekanis, misalnya akibat parang, cangkul ataupun alat berat. Tanaman yang lemah akan mudah terserang patogen. Lemahnya tanaman ini dapat disebabkan karena kurangnya hara bagi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebun yang dipupuk dengan unsur hara makro seperti nitrogen (N), potassium (P), dan kalium (K) dapat meningkatkan kesehatan tanaman. Akan tetapi kekurangan akan unsur hara mikro seperti boron (B) dan tembaga (Cu) serta magnesium (Mg) dapat meningkatkan kejadian penyakit (Ariffin et al. 2000).
Literatur dari : PROGRAM STUDI HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR, BOGOR 2008 Sumber : DEDE RISANDA

Sumber : http://www.antakowisena.com/artikel/penyakit-busuk-pangkal-batang-kelapa-sawit.html

Hama dan Penyakit Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: ,

Pengendalian hama dan penyakit tanaman  Kelapa Sawit

A. Penyakit
1. Penyakit Akar (Blast disease)
Gejala serangan :
- Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
- Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
Penyebab : Jamur (Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.)
Cara pengendalian :
- Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
- Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman

2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)
Gejala serangan:
- Daun berwarna hijau pucat
- Jamur yang terbentuk sedikit
- Daun tua menjadi layu dan patah
- Dari tempat yang terinfeksi keluar getah
Penyebab : Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum.
Cara pengendalian  dan pencegahan :
- Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
- Melakukan pembumbunan tanaman

3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)
Gejala serangan:
- Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
- Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
- Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan
Penyebab :
Jamur Fomex noxius.
Cara pengendalian :
- Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian tanaman yang terserang
- Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka 

4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang  (Dry basal rot)
Gejala serangan :
Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.
Penyebab :
Jamur Ceratocytis paradoxa.
Cara pengendalian : Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.

5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)
Gejala serangan:
Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.
Penyebab :
Belum diketahui dengan pasti.
Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang

6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)
Gejala serangan :
- Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
- Aroma kuncup yang terserang berbau busuk
Penyebab : Bakteri Erwinia.
Cara pengendalian : Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.

7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)
Gejala serangan:
Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian tengahnya berwarna cokelat.
Penyebab : Jamur Fusarium oxysporum
Cara pengendalian : Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda.  Hal ini bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang.

8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)
Gejala serangan : 
- Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
- Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
- Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang
Penyebab :   Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia palmarum.
Cara pengendalian :
- Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan berimbang
- Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.
- Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.

9. Penyakit Tajuk (Crown disease)
Gejala serangan : 
Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.
Penyebab: Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
Cara pengendalian : Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini.

10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)
Gejala serangan:
Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah daun.
Penyebab : Jamur Marasmius palmivorus.
Cara pengendalian : Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama pada musim hujan. Pengaplikasian difolatan 0,2 %.

B. Hama

1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
Gejala serangan :
- Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak
- Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.
Cara pengendalian:
- Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar
- Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit

2. Tungau (Oligonychus sp.)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat (bronz).
Cara pengendalian : Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l.

3. Pimelephila ghesquierei
Gejala serangan : 
Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang patah.
Cara pengendalian :   
- Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang
- Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.

4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya  daun hanya tersisa tulang daunnya saja.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 g/l.

5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa pendula)
Gejala serangan:
- Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi
- Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha. 6.  Belalang Valanga nigricornis dan Gastrimargus marmoratus
Gejala serangan:
Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.
Cara pengendalian :   Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burung pemangsanya.

7. Kumbang Oryctes rhinoceros
Gejala serangan :
Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang.
Cara pengendalian :
Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.
Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.

8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)
Gejala serangan:
Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.
Cara pengendalian : Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau andosulfan 350 g/l.

9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.)          
Gejala serangan:
- Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal
- Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.
Cara pengendalian : Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus, seperti kucing, ular dan burung hantu.

Dok: PPKS MARIHAT
By:Hasmar lubis

Mengenal Hama dan Penyakit Tanaman Jeruk

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , ,






Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi jeruk baik kualitas maupun kuantitas. Pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit mutlak diperlukan untuk menekan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya.

Strategi pengendalian dan pengelolaan hama dan penyakit tanaman jeruk yang tepat perlu diterapkan baik pada pembibitan dan tanaman dewasa dilapangan.

Bibit bebas penyakit yang dibudidayakan bukanlah berarti bibit yang tahan terhadap penyakit. Kondisi lingkungan dimana bibit ini dibudidayakan sangat mempengaruhi bibit ini untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu upaya pengendalian hama dan penyakit mutlak dilakukan agar bibit yang bebas penyakit ini dapat berproduksi sesuai dengan yang diharapkan.

Pengenalan hama dan penyakit serta gejala serangannya adalah sangat penting untuk menentukan strategi pengendaliannya yang tepat. Kekeliruan identifikasi jenis OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang menyerang tanaman jeruk serta pengenalan gejala serangan berakit pada kekeliruan strategi pengendalian sehingga akan berdampak negatif.

Berikut adalah beberapa jenis hama dan penyakit tanaman jeruk, bagian tanaman jeruk yang diserang beserta gejala setelah diserang hama penyakit dan cara mengendalikannya.

Hama dan Penyakit Jeruk

Hama Tanaman Jeruk


a. Kutu loncat (Diaphorina citri.)

Bagian diserang : tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.
Gejala: tunas keriting, tanaman mati.
Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR. Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, buang bagian yang terserang.

b. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian diserang : tunas muda dan bunga.
Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.
Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR.

c. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
Bagian diserang : daun muda.
Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok.
Pengendalian: semprotkan dengan PESTONA. Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.

d. Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
Bagian diserang : tangkai, daun dan buah.
Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
Pengendalian: semprotkan PESTONA atau Natural BVR.
e. Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)
Bagian diserang : buah.
Gejala: lubang gerekan buah keluar getah.
Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi, disemprot PESTONA pada buah berumur 2-5 minggu.


f. Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)
Bagian diserang : tunas, daun muda dan pentil.
Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis.
Pengendalian: semprotkan PESTONA


g. Thrips (Scirtotfrips citri.)
Bagian diserang : tangkai dan daun muda.
Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis.
Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan PESTONA atau Natural BVR.

h. Kutu dompolon (Planococcus citri.)
Bagian diserang : tangkai buah.
Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur.
Pengendalian: gunakan PESTONA. atau Natural BVR. Cegah datangnya semut sebagai vektor kutu.

i. Lalat buah (Dacus sp.)
Bagian diserang : buah yang hampir masak.
Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
Pengendalian: gunakan Perangkap lalat Buah.


Penyakit Tanaman Jeruk
a. CVPD
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri.
Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang.
Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.
Pengendalian: gunakan bibit tanaman bebas CVPD. Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan Pestona atau Natural BVR untuk mengendalikan vektor.

b. Blendok
Penyebab: jamur Diplodia natalensis.
Bagian diserang : batang atau cabang.
Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.
Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi. Bekas potongan diolesi POC NASA + Hormonik + Natural GLIO. POC NASA dan Hormonik bukan berfungsi mengendalikan Blendok, namun dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit.
c. Embun tepung
Penyebab: jamur Oidium tingitanium.
Bagian diserang : daun dan tangkai muda.
Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.
Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.

d. Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti.
Bagian diserang : daun, tangkai atau buah.
Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
Pengendalian: pemangkasan teratur, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
e. Busuk buah
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae.
Bagian diserang : buah.
Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, gunakan Natural GLIO awal tanam
f. Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur Phyrophthora nicotianae.
Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung.
Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering.
Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah. gunakan Natural GLIO pada awal tanam g. Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp.
Bagian yang diserang: buah dan bunga.
Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur.
Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
h. Jamur upas
Penyebab: Upasia salmonicolor.
Bagian diserang : batang.
Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan diolesi fungisida yang mengandung tembaga atau belerang, kemudian potong cabang yang terinfeksi.

(Tulisan didapat dari beberapa sumber)

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul