Bali tidak hanya terkenal dengan tempat wisatanya namun juga dengan kopinya yang bercita rasa. Setidaknya hal ini dibuktikan dari kopi Kintamani yang telah menembus pasar Ekspor.
Menurut Kadis Perkebunan Prov Bali, disela pertemuan koordinasi DPRD dengan Dirjen Perkebunan di Jakarta (21/4) menyebutkan jika kopi Bali khususnya asal Kintamani sudah dikontrak eksportir. Menariknya, mereka membeli kopi Bali tersebut sebelum panen berlangsung, seharga Rp. 35.000/kg. Biji kopi pilihan tersebut akan dikirim ke Jepang.
Setiap tahunnya produksi kopi Kintamani di Pulau Bali mencapai 3.200 ton. Namun tahun ini produksinya kemungkinan merosot menjadi 2.500 ton akibat anomaly cuaca. Demikian ditambahkannya
Kopi arabika ini disukai tidak lepas dari rasa dan aromannya yang khas. Kopi Kintamani merupakan kopi specialty yang biji digunakan menghasilkan seduhan kopi eksklusif di café-café lux di mancanegara.
Untuk bibit, menurut Kadisbun Prov Bali, di Pulau Dewata tersebut terdapat 10 ha KI. Bagi yang berminat mendapatkan benih unggul Kopi Kintamani bisa memperolehnya dari sumber benih tersebut
Bali tidak hanya terkenal dengan tempat wisatanya namun juga dengan kopinya yang bercita rasa. Setidaknya hal ini dibuktikan dari kopi Kintamani yang telah menembus pasar Ekspor.
Menurut Kadis Perkebunan Prov Bali, disela pertemuan koordinasi DPRD dengan Dirjen Perkebunan di Jakarta (21/4) menyebutkan jika kopi Bali khususnya asal Kintamani sudah dikontrak eksportir. Menariknya, mereka membeli kopi Bali tersebut sebelum panen berlangsung, seharga Rp. 35.000/kg. Biji kopi pilihan tersebut akan dikirim ke Jepang.
Setiap tahunnya produksi kopi Kintamani di Pulau Bali mencapai 3.200 ton. Namun tahun ini produksinya kemungkinan merosot menjadi 2.500 ton akibat anomaly cuaca. Demikian ditambahkannya
Kopi arabika ini disukai tidak lepas dari rasa dan aromannya yang khas. Kopi Kintamani merupakan kopi specialty yang biji digunakan menghasilkan seduhan kopi eksklusif di café-café lux di mancanegara.
Untuk bibit, menurut Kadisbun Prov Bali, di Pulau Dewata tersebut terdapat 10 ha KI. Bagi yang berminat mendapatkan benih unggul Kopi Kintamani bisa memperolehnya dari sumber benih tersebut

Menarik juga mengikuti jejak kopi excelsa asal Jambi ini. Mengapa tidak? Kopi yang tadinya tidak begitu dilirik karena dari segi rasa masih kalah dengan kopi unggulan asal Kerinci, mendadak naik pamor. Pasalnya kopi ini ternyata menjadi incaran pembeli asal Malaysia.
Hebatnya kopi ini dibandrol dengan harga di atas kopi robusta. Hampir seluruh Beras kopi excelsa ditampung (tanpa grading) pedagang di Kuala Tungkal untuk selanjutnya diekspor ke Malaysia. Dan digunakan untuk apa? Tidak ada yang tahu.
Kopi ini sendiri sudah ditanam masyarakat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sejak 50 tahun yang lalu. Hebatnya kopi biasa ditanam di daerah gambut. Cukup menunggu 3,5 tahun, tanaman ini sudah mulai menghasilkan dengan potensi produksi antara 800 dan 1200 kg beras kopi per ha.
Oleh sebab itu menarik untuk melacak jejak kopi lokal ini. Siapa tahu ternyata excelsa asal Tanjung Jabung ternyata dioleh untuk sajian eksklusif para pengkopi berkocek tebal di luar negeri.

Menarik juga mengikuti jejak kopi excelsa asal Jambi ini. Mengapa tidak? Kopi yang tadinya tidak begitu dilirik karena dari segi rasa masih kalah dengan kopi unggulan asal Kerinci, mendadak naik pamor. Pasalnya kopi ini ternyata menjadi incaran pembeli asal Malaysia.
Hebatnya kopi ini dibandrol dengan harga di atas kopi robusta. Hampir seluruh Beras kopi excelsa ditampung (tanpa grading) pedagang di Kuala Tungkal untuk selanjutnya diekspor ke Malaysia. Dan digunakan untuk apa? Tidak ada yang tahu.
Kopi ini sendiri sudah ditanam masyarakat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sejak 50 tahun yang lalu. Hebatnya kopi biasa ditanam di daerah gambut. Cukup menunggu 3,5 tahun, tanaman ini sudah mulai menghasilkan dengan potensi produksi antara 800 dan 1200 kg beras kopi per ha.
Oleh sebab itu menarik untuk melacak jejak kopi lokal ini. Siapa tahu ternyata excelsa asal Tanjung Jabung ternyata dioleh untuk sajian eksklusif para pengkopi berkocek tebal di luar negeri.

Saat ini kopi excelsa mendadak naik daun. Pasalnya permintaan dari Negara jiran untuk kopi jenis ini cukup tinggi. Dan memiliki berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan kopi robusta.
Hal ini disimpulkan dari hasil observasi tenaga Ahli Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, Dr. Rasidin Azwar, di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi (9/1/2010).
Adapun Peninjauan ke lapangan ini adalah tindak lanjut laporan Kelapa Dinas Perkebunan Kabupaten Tanjung Jabung Barat tentang prospek kopi Exelsa, pada Pertemuan Dirjen dengan Jajaran Dinas Perkebunan lingkup Propinsi Jambi di Hotel Abadi, Kota Jambi.
Harga beras kopi excelsa/kg pernah mencapai Rp 21.000 pada saat robusta masih sekitar Rp 11.000 di Kabupaten Tanjung Jabung. Namun dari hasil oberservasi Dr Rasidin, keunggulan kopi excelsa tidak hanya dari aspek harga. Dilihat dari buah, ukuran Excelsa lebih besar dan produktivitas lebih tinggi dibandingkan robusta.
Kopi unggul tersebut bisa berbuah sepanjang tahun dengan panen sekali sebulan Kopi exelsa beradaptasi dengan baik pada agroekosistem setempat dan tidak ada gangguan hama dan penyakit yang serius. Dari temuan di lapangan, kopi jenis ini umumnya ditanam di lahan gambut yang sudah matang.
Gambar. Perbedaan Fisik Tanaman Kopi Excelsa dengan Robusta
Bibit diperoleh dari anakan yang terdapat di bawah pohon dewasa. Petani biasanya menanam dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m.
Kopi Excelsa berbuah umur 3.5 tahun Kopi excelsa berbuah sepanjang tahun dengan 2 puncak produksi. Panen besar di musim kemarau (400 kg/ha) dan panen kecil di musim hujan (200 kg/ha)Nilai usaha tani cukup tinggi dan petaninya cukup sejahtera.
Dari hasil observasi di lapangan juga ditemui beberapa populasi pohon kopi yang hasilnya cukup baik sehingga layak digunakan sebagai sumber benih. Ke depan kumpulan tanaman tersebut akan dievaluasi lebih lanjut untuk menetapkan penetapan blok pengasil tinggi. Serta juga akan dilakukan eksplorasi untuk menemukan varietas unggul dari kopi jenis ecelsa.
Kopi excelsa adalah jenis kopi yang pengembangannya terbatas di Indonesia. Namun di Propinsi Jambi, kopi ini sudah dikenal sejak 50 tahun yang lalu. Kopi ini diperkirakan berasal dari wilayah sekitar Danau Chad di Afrika.
Tanamannya bisa mencapai 9 meter dan mirip dengan kopi liberika. Beberapa perusahaan kopi terkemuka di Indonesia telah menggunakan kopi ini sebagai bahan baku.
Sumber: Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi

Saat ini kopi excelsa mendadak naik daun. Pasalnya permintaan dari Negara jiran untuk kopi jenis ini cukup tinggi. Dan memiliki berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan kopi robusta.
Hal ini disimpulkan dari hasil observasi tenaga Ahli Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, Dr. Rasidin Azwar, di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi (9/1/2010).
Adapun Peninjauan ke lapangan ini adalah tindak lanjut laporan Kelapa Dinas Perkebunan Kabupaten Tanjung Jabung Barat tentang prospek kopi Exelsa, pada Pertemuan Dirjen dengan Jajaran Dinas Perkebunan lingkup Propinsi Jambi di Hotel Abadi, Kota Jambi.
Harga beras kopi excelsa/kg pernah mencapai Rp 21.000 pada saat robusta masih sekitar Rp 11.000 di Kabupaten Tanjung Jabung. Namun dari hasil oberservasi Dr Rasidin, keunggulan kopi excelsa tidak hanya dari aspek harga. Dilihat dari buah, ukuran Excelsa lebih besar dan produktivitas lebih tinggi dibandingkan robusta.
Kopi unggul tersebut bisa berbuah sepanjang tahun dengan panen sekali sebulan Kopi exelsa beradaptasi dengan baik pada agroekosistem setempat dan tidak ada gangguan hama dan penyakit yang serius. Dari temuan di lapangan, kopi jenis ini umumnya ditanam di lahan gambut yang sudah matang.
Gambar. Perbedaan Fisik Tanaman Kopi Excelsa dengan Robusta
Bibit diperoleh dari anakan yang terdapat di bawah pohon dewasa. Petani biasanya menanam dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m.
Kopi Excelsa berbuah umur 3.5 tahun Kopi excelsa berbuah sepanjang tahun dengan 2 puncak produksi. Panen besar di musim kemarau (400 kg/ha) dan panen kecil di musim hujan (200 kg/ha)Nilai usaha tani cukup tinggi dan petaninya cukup sejahtera.
Dari hasil observasi di lapangan juga ditemui beberapa populasi pohon kopi yang hasilnya cukup baik sehingga layak digunakan sebagai sumber benih. Ke depan kumpulan tanaman tersebut akan dievaluasi lebih lanjut untuk menetapkan penetapan blok pengasil tinggi. Serta juga akan dilakukan eksplorasi untuk menemukan varietas unggul dari kopi jenis ecelsa.
Kopi excelsa adalah jenis kopi yang pengembangannya terbatas di Indonesia. Namun di Propinsi Jambi, kopi ini sudah dikenal sejak 50 tahun yang lalu. Kopi ini diperkirakan berasal dari wilayah sekitar Danau Chad di Afrika.
Tanamannya bisa mencapai 9 meter dan mirip dengan kopi liberika. Beberapa perusahaan kopi terkemuka di Indonesia telah menggunakan kopi ini sebagai bahan baku.
Sumber: Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi
