RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label General. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label General. Tampilkan semua postingan

Perlukah dan Amankah PLTN di Indonesia?

Posted by Flora Sawita Labels:

“Hal ini tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa kita telah memasuki era baru. Sekitar 60 negara sedang mempertimbangkan memperkenalkan energi nuklir." Kalimat ini diucapkan oleh Dirjen International Atomic Energy Agency (IAEA) pada 20 September 2010. Kalimat ini disusul oleh pernyataan Barack Obama di bulan Januari 2011 dengan mengatakan bahwa pada tahun 2035, 80% penggunaan energi di Amerika Serikat harus bersih (termasuk energi nuklir).

Dua kalimat yang diucapkan oleh kedua tokoh penting ini menandakan bahwa tahap energi memasuki suatu era yang baru. Bahan bakar fosil akan mengakhiri era kejayaannya. Biro kerja hukum dan humas BATAN Dr. Ferhat Aziz menyebutkan bahwa bahan bakar fosil—terutama minyak—akan menjadi legenda sekitar 100-200 tahun lagi.
Energi Alternatif

Energi baru yang bersih dan terbarukan akan muncul ke permukaan menggantikan bahan bakar fosil tersebut. Bahan bakar fosil yang dituduh menjadi aktor dalam bencana pemanasan global turut mendorong penggunaan energi terbarukan. Namun, energi terbarukan mana yang sanggup mencukupi energi seluruh Indonesia?

Energi Surya dapat menjadi salah satu alternatif energi. Namun, energi surya di Indonesia bukanlah energi yang cukup kuat—dibanding dengan kawasan ASEAN lain seperti Myanmar. Pemakaiannya cukup terbatas mengingat matahari tidak muncul setiap saat dan tidak dapat dipaksa muncul. Pemakaiannya juga tidak efisien dan mahal.

Sama halnya dengan energi angin. Energi angin tidak bisa diharapkan cukup banyak sebab Indonesia termasuk kawasan yang laju anginnya rendah. Faktor klimatologis menjadi isu yang sangat mencolok dalam pemakaian angin sebagai sumber energi.

Pemakaian energi Bio juga sering terbentur dengan kebutuhan manusia. Antara kebutuhan untuk makanan dengan kebutuhan untuk bahan bakar menjadikan energi bio sulit terealisasi menjadi energi utama.

Bagaimana dengan Geotermal yang Indonesia memiliki 40% potensi Geotermal dunia? Pemanfaatan Geotermal masih sangat rendah (sekitar 5%). Memang, Geotermal harus tetap dikembangkan untuk mendukung pemasok energi Indonesia. Namun, realistis hingga beberapa puluh tahun ke depan, Geotermal belumlah cukup menjadi energi utama di Indonesia.

Namun, pemakaian seluruh energi terbarukan memang perlu untuk menjawab kelangkaan energi saat ini serta memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat.

Nuklir merupakan salah satu jawaban energi yang cukup realistis saat ini. Hanya butuh 21 ton Uranium, nuklir dapat menghasilkan energi listrik sebesar 1GWe. Bandingkan dengan gas alam (970 ton), minyak (1310 ton), dan batu bara (2360 ton)! Itulah sebabnya nuklir dapat menghasilkan listrik dengan harga yang lebih murah dari yang lainnya.
Namun, nuklir sering dikecam dengan masalah keselamatannya. Namun, tahukah kita seberapa aman nuklir itu?


Pada pembangkit listrik, nuklir dipasang di boiler yang akan memanaskan air menjadi uap untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Siklusnya berlangsung tertutup dan pecahan nuklir akan tetap tertahan di matriksnya. Nuklir sendiri terdapat dalam pelet yang dilindungi dengan fuel cladding, pressure vessel, steel containment, dan shield building. Keamanannya bahkan melebihi tabung elpiji yang sering kita gunakan atau mancis yang sering ditaruh di saku celana. Dapat dikatakan, nuklir benar-benar sangat aman. Selain itu, PLTN juga membuat lingkungan sekitar tetap bersih (tidak seperti PLTU).

Chernobyl


Sampai saat ini pun, jumlah kecelakaan akibat nuklir jauh sedikit dibanding dengan pembangkit listrik lainnya—Pembangkit listrik tenaga air dan batu bara penyumbang korban terbanyak. Bila ada kejadian Chernobyl—pada 1986 yang sampai melibatkan ribuan penduduk dan sering dibuat contoh betapa tidak amannya nuklir—perlu dilirik konteksnya.

Chernobyl dikembangkan bukan dengan maksud damai. Di sana, nuklir dikembangkan untuk senjata perang. Keselamatan dalam pembangunan nuklir tersebut benar-benar diabaikan. Lalu, ada kesalahan desain yang amat parah, yaitu: tidak ada pengungkung dan koefisien reaktus positif sehingga mudah terjadi pelelehan. Desain modern sekarang sudah aman. Kenaikan temperatur yang tinggi telah diantisipasi.
Limbah radioaktif


Limbah radioaktif sendiri tetap tersimpan di PLTN. Bila tidak ada kesengajaan untuk membocorkan, limbah tersebut tidak akan berbahaya. Pengaruh radiasi PLTN terhadap manusia juga sangat rendah. Di banding dengan kontaminasi alami yang mencapai 3 %, X-ray 0,4 %, nuklir hanyalah 0.0002%. Hal ini membuat radiasi nuklir hampir tidak memiliki pengaruh terhadap manusia.

Jadi apa yang ditakutkan dan apa lagi yang perlu ditunggu? Pemerintah yang bertindak lambat mengembangkan nuklir di Indonesia akan terlambat berkembang secara teknologi juga. Sekitar 30% rakyat Indonesia tidak merasakan listrik dalam rumahnya. Selebihnya pun menikmati listrik secara subsidi. Kenapa lagi harus ditunda lama bila nuklir dapat menghasilkan listrik secara lebih besar, aman, murah, dan terjamin?

Tentang Tsunami

Posted by Flora Sawita Labels:






Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.
Teks-teks geologi, geografi, dan oseanografi di masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut seismik".

Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya beberapa meter diatas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.

Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia. Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa megatsunami mungkin saja terjadi, yang menyebabkan beberapa pulau dapat tenggelam






Penyebab Terjadinya Tsunami
----------------------------------
Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.
Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.

Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.

Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.
Gempa yang menyebabkan tsunami
Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km)
Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter
Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

Masalah Lingkungan Yang Berkaitan Dengan Penggunaan Plastik

Posted by Flora Sawita Labels:

Tidak seperti bahan-bahan alam lainnya, plastik bersifat non-biodegradable. Berdasarkan informasi, 30% volume sampah di Amerika Serikat terdiri dari plastik. Bagaimana di negara kita, Indonesia? Umumnya sampah plastik ditangani dengan cara dikubur atau dibakar dalam incinerator. Namun, kedua cara tersebut belum menyelesaikan masalah. Plastik yang dikubur tidak akan membusuk sementara lahan tempat mengubur plastik semakin sulit. Pembakaran plastik akan menyebabkan polusi. Misalnya, pembakaran PVC menghasilkan gas hidrogen klorida (HCl) atau gas klorin (Cl2). Berikut beberapa cara yang dipertimbangkan untuk menangani plastik.
a. Daur ulang
Plastik termoplas dapat dibentuk ulang melalui pemanasan. Dapat juga didepolimerisasi sehingga diperoleh kembali monomernya. Akan tetapi, sulit sekali memilah sampah plastik menurut jenisnya. Sampah plastik seringkali merupakan campuran dari berbagai jenis. Dengan demikian juga mengandung plasticiser, pigmen warna, dan campuran bahan lainnya. Akibatnya, hasil daur ulangnya paling merupakan plastik dengan mutu yang lebih rendah dan kurang nilai ekonomisnya.
Di negara maju yang penduduknya sadar lingkungan, produsen mencantumkan kode yang menyatakan jenis plastik. Lalu di tempat­tempat umum disediakan tempat sampah dengan berbagai kode, sehingga masyarakat dapat membuang sampah plastik menurut jenisnya. Dapatkah Anda mengelompokkan bahan-bahan plastik yang telah Anda pakai berdasarkan jenis plastik?
b. Membuat plastik yang biodegradable
Dengan membuat plastik yang biodegradable, maka plastik akan hancur dalam beberapa tahun.
c. Pirolisis
Apabila plastik dipanaskan hingga 7000C tanpa udara, maka molekul plastik akan terurai membentuk molekul-molekul sederhana. Campuran plastik yang biasa, seperti politena, polipropilena atau polistirena, ketika dipirolisis akan menghasilkan hidrokarbon sederhana serti etena atau propena atau benzena. Senyawa tersebut dapat dipisahkan melalui destilasi bertingkat. Hasilnya kemudian dapat digunakan untuk membuat berbagai bahan kimia termasuk plastik. Untuk sekarang ini, pirolisis dinilai tidak ekonomis, karena masih tersedia bahan baku yang lebih murah, yaitu dari minyak bumi dan gas alam.
Keuntungan yang diperoleh dari cara pirolisis, salah satunya adalah kita dapat menyortir limbah plastik menurut jenisnya.

Specific Gravity

Posted by Flora Sawita Labels:

Specific Gravity is defined as the ratio of the density of a given substance to the density of water, when both are at the same temperature, it is therefore a dimensionless quantity (see below). Substances with a specific gravity greater than one are denser than water (and so will sink in it), and those with a specific gravity of less than one are less dense than water (and so will float in it). Specific gravity is a special case of, or in some usages synonymous with, relative density, with the latter term often preferred in modern scientific writing.
The use of specific gravity is discouraged in technical use in scientific fields requiring high precision — actual density (in dimensions of mass per unit volume) is preferred.
Specific gravity, SG, is expressed mathematically as:
\mbox{SG} = \frac{\rho_\mathrm{substance}}{\rho_{\mathrm{H}_2\mathrm{O}}}
where \rho_\mathrm{substance}\, is the density of the substance, and \rho_{\mathrm{H}_2\mathrm{O}} is the density of water. (By convention ρ, the Greek letter rho, denotes density.) The density of water varies with temperature and pressure, and it is usual to refer specific gravity to the density at 4°C (39.2°F) and a normal pressure of 1 atm. In this case \rho_{\mathrm{H}_2\mathrm{O}} is equal to 1000 kg·m−3 in SI units (or 62.43 lb·ft−3 in United States customary units).
Given the specific gravity of a substance, its actual density can be calculated by inverting the above formula:
{\rho_\mathrm{substance}} = \mbox{SG} \times \rho_{\mathrm{H}_2\mathrm{O}}
Occasionally a reference substance other than water is specified (for example, air), in which case specific gravity means density relative to that reference.
Specific gravity is by definition dimensionless and therefore not dependent on the system of units used (e.g. slugs·ft−3 or kg·m−3). However, the two densities must of course be converted to the same units before carrying out the numerical ratio calculation.

Mendaur Ulang Air Untuk Kebutuhan Penyiraman Taman

Posted by Flora Sawita Labels:



Kita sering mendengar teknologi daur ulang air sehingga bisa digunakan kembali untuk kebutuhan lainnya, seperti penyiraman toilet, cuci mobil dan menyiram kebun.

Kali ini, perusahaan BioKube membuat suatu teknologi daur ulang yang pasti dianggap sebagian orang sangat amat menjijikan yaitu mendaur ulang air yang berasal dari septic tank.

Pada septic tank ini, limbah berbentuk padat (solid) akan sendirinya tenggelam karena gravitasi dan air yang ada akan masuk ke sebuah tangki dengan bakteria dan bioblocks yang akan memfilter air limbah tersebut menjadi air bersih.

Tentu saja air bersih yang kami maksud bukan digunakan untuk kebutuhan minum atau cuci piring/ pakaian, melainkan dapat kita gunakan untuk menyiram kebuh atau taman.

Dengan teknologi ini, diharapkan septic tank ini dapat menghemat air sekitar 15.000 gallons (setara dengan 56.781 liter) dimana jumlah tersebut adalah jumlah air yang digunakan warga Amerika untuk menyirami kebun mereka selama setahun.

Menurut BioKube, ukuran septic tank dengan tinggi 1,8 meter dapat memproduksi air bersih sebanyak 7,5 liter per 15 menit.

BP, Chevy and GE

Posted by Flora Sawita Labels: , , , , , , , ,

Further exploring the concept of greenwashing, I decided to take a look at some of the biggest companies around the world and see how they go about giving their image a "green" vibe. Obviously, design plays a large role in this, plenty of earthy tones: greens, blues, browns, etc.,. Clean, simple designs, and (undoubtedly absurdly expensive) television advertisements with top-notch production quality. Here are three big ones that impact your everyday life:

At one time known as British Petroleum, BP is the third largest global oil company and is one of the so-called "Big oil" companies, a term often invoked in political contexts. As can be easily seen from this logo at the left, BP has rather successfully cast itself as a enviro-friendly company. A green and yellow starburst vaguely resembling a flower or the sun certainly gives the impression of a "green" company. BP, now dubbing itself "Better Petroleum" has given to producing animated television spots featuring Charlie Brown looking characters who find BP stations as wonderful, exciting oases in a sea of oil drudge. Here are a couple:


Additionally, you can see the BP website here to experience all the greenwashing for yourself.

Next up is Chevrolet. Chevrolet is of course not strictly run independently, but rather, is run by General Motors, the world's fourth largest automobile manufacture. But Chevrolet specifically has gone to great lengths to seem environmentally friendly. Below is an image capture from their website:
As you can see, Chevy prides themselves on being anywhere from "Gas-friendly to gas-free." This from a company whose cars boast up to 35 mpg (source, GM), when there are other cars on the road that can get up to 50 mpg and cars in the European market that can exceed that. Additionally, Chevy features a commercial with the Jonas Brothers, a rock band for the Disney market, where the Brothers demand that they're ride to a gig be in a "green" vehicle. Let's watch:

The car featured is the 2008 Chevy Tahoe Hybrid, and while the hybrid technology is a plus, the vehicle still only gets 20 mpg.

The third and final big company on this list is General Electric. With their slogan, "imagination at work" GE has made a commitment to environmental friendliness called ecomagination. The ecomagination website features press releases, downloads and commercials for GE. GE, begun by Thomas Edison himself, is the third largest company in the world, owning subsidiary technology companies, as well as 80% of NBC Universal (one of the largest media companies in the world). This image is from the GE website:
GE has a horrible environmental record, once being titled the fourth largest corporate producer of pollution in the United States. And of course, the shameless greenwashed commercials:


Although, I've got to hand it to them, they do produce very charming commercials, if only they spent that money on developing those resources...

Posted by Jeff Hammond

Visit our website:

http://sites.google.com/site/ecomerge2008/

Label

2011 News AGRIBISNIS APINDO Africa Agriculture Business Agriculture Land Argentina Australia Bangladesh Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita Riau Today Berita Tempo Berita riau terkini Biodiesel Bursa Malaysia CPO Tender Summary Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn Cotton Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja MPOB Malaysia Meat News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis PENGUPAHAN PERDA Pakistan Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit Penawaran menarik Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI RSPO Rice SAWIT Serba-serbi South America Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight USA Ukraine Usaha benih Vietnam Wheat benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul bibit sawit unggul biofuel biogas budidaya sawit corporation palm oil pembelian benih sawit perburuhan pertanian soybean umum varietas unggul