| Minggu, 09 November 2008 | |
| Padang, Padek—Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit terus merosot, dari harga awalnya seharga Rp1.800 per kg, kini hanya Rp400 per kg. Kondisi itu membuat ribuan petani sawit di Sumbar pun menjerit. Tak terlintas dalam benak merekam bila krisis keuangan yang dialami Negara Amerika menghentakan nilai jual TBS petani. “Jangankan untuk mengambil keuntungan dari hasil panen, untuk membayar upah buruh memanen saja kami sudah tidak sanggup. Kami tidak tahu persoalan apa sebenarnya yang terjadi saat ini sehingga harga sawit begitu anjlok,” keluh Sri Noval Mulyadi (37) petani sawit di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) kepada Padang Ekspres, Sabtu (8/11). Noval menceritakan, selama ini dengan lahan sawit 2 hektare dan harga sawit Rp 1.800 per kg, maka setiap bulannya mampu menghasilkan uang minimal Rp5 juta per bulan. Namun dengan kondisi harga saat ini, setiap bulan hanya mampu menghasilkan Rp1,2 juta. “Harga Rp1,2 juta itu belum dipotong upah memanen dan mengangkut. Dua bulan bulan ini kita hanya mampu terima bersih maksimal Rp500 ribu. Kalau sudah begini kami mau makan apa lagi,” keluh Noval lagi. Bahkan dirinya juga mengaku, sudah mulai banyak petani sawit di daerahnya itu yang ingin menjual lahan sawitnya, lantaran anjloknya nilai jual TBS. Jangan Dijual S Budi Syukur, pengusaha Sumbar yang juga bergerak di bidang sawit, menilai aksi penjualan lahan yang dilakukan petani di Sumbar hendaknya jangan dilakukan. Petani jangan cepat terpengaruh atau gegabah untuk menjual lahan sawitnya, hanya gara-gara mendengarkan pasar dunia tidak lagi membeli sawit Indonesia. Menurut pengamatan Budi Syukur, krisis ekonomi global yang terjadi kini kemungkinan besar hanya berlangsung sesaat, tidak seperti krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997 lalu. “Diperkirakan krisis kali ini berlangsung sekitar 1 hingga 2 bulan saja. Setelah itu akan normal kembali dan daya beli pasar dunia berjalan seperti biasa,” katanya. Budi Syukur juga menyebutkan, kondisi sulit yang dirasakan petani sawit Indonesia khususnya Sumbar, juga disebabkan tidak adanya pabrik pengolahan untuk turunan buah sawit di negara kita. Kebanyakan yang ada berupa pabrik pembuat minyak sawit. Padahal, lanjutnya, untuk turunan sawit lainnya seperti cangkang, kulit dan batang sawit juga memiliki nilai ekonomi. Dengan begitu krisis yang terjadi tidak begitu mempengaruhi hasil panen sawit masyarakat. (*) |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
2011 News
AGRIBISNIS
APINDO
Africa
Agriculture Business
Agriculture Land
Argentina
Australia
Bangladesh
Berita
Berita Detikcom
Berita Info Jambi
Berita Kompas
Berita Padang Ekspres
Berita Riau Pos
Berita Riau Today
Berita Tempo
Berita riau terkini
Biodiesel
Bursa Malaysia
CPO Tender Summary
Cattle and Livestock
China
Cocoa
Company Profile
Corn
Cotton
Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO)
Dairy
Dairy Products
Edible Oil
Euorope
European Union (EU)
FDA and USDA
Fertilizer
Flood
Food Inflation
Food Security
Fruit
Futures
Futures Cocoa and Coffee
Futures Edible Oil
Futures Soybeans
Futures Wheat
Grain
HUKUM
India
Indonesia
Info Sawit
Investasi
Invitation
Jarak pagar
Kakao
Kapas
Karet
Kebun Sawit BUMN
Kebun Sawit Swasta
Kelapa sawit
Kopi
Law
Lowongan Kerja
MPOB
Malaysia
Meat
News
Nilam
Oil Palm
Oil Palm - Elaeis guineensis
PENGUPAHAN
PERDA
Pakistan
Palm Oil News
Panduan Pabrik Kelapa Sawit
Penawaran menarik
Pesticide and Herbicide
Poultry
REGULASI
RSPO
Rice
SAWIT
Serba-serbi
South America
Tebu
Technical Comment (CBOT Soyoil)
Technical Comment (DJI)
Technical Comment (FCPO)
Technical Comment (FKLI)
Technical Comment (KLSE)
Technical Comment (NYMEX Crude)
Technical Comment (SSE)
Technical Comment (USD/MYR)
Teknik Kimia
Thailand
Trader's Event
Trader's highlight
USA
Ukraine
Usaha benih
Vietnam
Wheat
benih bermutu
benih kakao
benih kelapa
benih palsu
benih sawit
benih sawit unggul
bibit sawit unggul
biofuel
biogas
budidaya sawit
corporation
palm oil
pembelian benih sawit
perburuhan
pertanian
soybean
umum
varietas unggul

0 comments:
Posting Komentar